Pendidikan dan Perbaikan Ekonomi

Biasanya tingkat pendidikan dianggap sebagai salah satu cara untuk memperbaiki kondisi ekonomi karena dengan ijazah dari lembaga pendidikan formal akan meningkatkan kesempatan kerja di suatu lembaga yang juga mapan dari sisi keuangan. Saya pernah ngobrol dengan seorang mahasiswa S2 di IPB dan memperkenalkan suatu LSM lokal di Sumatera Utara. Saya merasa dia cocok untuk bekerja di LSM ini, apalagi dia juga tinggal di sekitar Medan. Pertanyaan yang muncul adalah “keamanan ekonomi” alias jumlah gaji yang diterima, tunjangan, keamanan kerja, dll. LSM lokal ini tentu tidak dapat memberikan apa yang diinginkan teman saya.

Keinginan untuk mendapatkan keamanan kerja dari sisi ekonomi dan aman secara fisik dan psikis sangat wajar dan dapat dipahami. Sebagian besar teman saya yang bersekolah di S2 mengandalkan dana mandiri baik dari tabungan kerja atau dari orang tua. Tidak heran jika ada tuntutan dari diri sendiri dan orang tua agar dana yang sudah dikeluarkan dapat kembali dalam jangka pendek atau jangka panjang. Saat ini biaya SPP pascasarjana magister di S2 antara 9 juta sampai 13 juta per semester. Bisa dihitung sendiri pengorbanan waktu, tenaga, dan dana yang harus dikeluarkan untuk mendapatkan gelar magister. Salah satu harapan dari penyandang magister ini adalah ilmu mereka dapat dihargai dengan pantas oleh industri, lembaga sosial, dan pemerintah.

Tempat kerja yang biasanya mampu memberikan “kepantasan” tersebut adalah perusahaan skala besar atau lembaga sosial internasional. Jadilah berbondong-bondong anak muda dengan pendidikan akademik tinggi ikut menghampiri “gula-gula” berupa lembaga dengan modal besar. Tidak ada yang salah dengan itu. Beberapa teman di lembaga sosial lokal merisaukan hal ini tapi cukup berdamai dengan mengatakan bahwa untuk melakukan pendampingan di akar rumput tidak semata-mata mengandalkan kemampuan akademik, tetapi juga aspek lain seperti kemauan mengambil risiko, keberpihakan, kepekaan terhadap masalah sosial, dan lain-lain.

Teori tentang pendampingan, penyuluhan, pemberdayaan, dan segala macam yang sudah diujikan di dalam kelas akan diuji kembali di lapangan. Masyarakat yang akan menilai kapasitas pendamping, bukan dosen atau komisi pembimbing. Bagi saya sendiri, keamanan ekonomi perlu diciptakan dan dikelola oleh diri sendiri. Pada posisi saya sekarang, riskan jika mengandalkan penghasilan hanya dari satu sumber. Apalagi saya tidak mendapatkan pensiun. Artinya saya harus menciptakan “sistem pensiun” bagi diri saya sendiri. Saya perlu pekerjaan yang dapat saya kelola dengan leluasa dan mengoptimalkan seluruh potensi yang saya miliki.

Pendidikan memang mahal tapi cara berpikir tentang keamanan ekonomi dan berstrategi untuk mengatasinya secara cermat jauh “lebih mahal”. Artinya mahalnya biaya pendidikan jangan sampai membuat orang berpendidikan memiliki ketergantungan tinggi terhadap pihak lain yang tidak berpihak pada kesejahteraan kita untuk jangka panjang.

Bogor, 29 November 2017.

Advertisements

Gengsi tidak berujung

Memang ada perasaan gengsi dengan status sebagai mahasiswa doktor, tetapi sejak awal saya paham bahwa saya tidak akan (mampu) menggunakan gengsi dan gelar doktor nantinya untuk mencari pekerjaan atau penghasilan. Saya terlanjur menyukai pekerjaan tanpa ikatan dalam jangka waktu yang panjang, saya senang dapat mengendalikan ritme kerja, saya senang merasa kekurangan dari segi inovasi dan penghasilan.

Saya senang dengan kekuasaan untuk dapat memilih dan kekuasaan untuk tidak sewenang-wenang atas orang lain. Saya menyadari bahwa hal itu pilihan, tergantung pada cara saya melihat kepemimpinan dan jenjang pendidikan. Semakin tinggi pendidikan, semakin bijak bahwa ilmu yang saya kuasai sangat terbatas. Di masyarakat mungkin pemahaman sebaliknya yang dimaklumi. Biasanya semakin tinggi pendidikan, seseorang dianggap lebih pintar dan lebih tahu segala. Meskipun doktor bidang penyuluhan, harus tahu tentang isu energi berkelanjutan. Waaa, enggak segitunya juga. Miminal seseorang memiliki alat analisis dalam melihat berbagai isu sosial dan bagaimana ilmunya memandang isu sosial tersebut. Tapi tidak pernah ada kata purna dalam keilmuan.

Saya ingat sekali pertama kali pindah bekerja di Medan, Sumatera Utara. Saya menginap di kantor PESADA di Jamin Ginting dan menemukan ruang baca kecil. Saya menemukan buku tentang entrepreneurship sosial dan langsung “mencaploknya”. Perlahan bacaan itu mengubah banyak hal tentang cara saya melihat isu kesehatan, ekonomi, inovasi, dan berbagai hal lain.

Tersadarkan terus-menerus adalah gengsi tidak berujung dari proses belajar. Bukan berarti tergopoh dan terpaksa mengikuti hal yang baru tetapi mampu mengemas ulang dan memanfaatkannya sesuai dengan kebutuhan. Tidak ada ketergesaan atau kedaruratan untuk menyesuaikan diri. Ini yang menjadi keistimewaan karena tidak semua orang ternyata mampu melakukan dan menghadapi perubahan dengan elegan.

Bogor, 18 November 2017

Masih perlukah pameran komputer?

Tanggal 2 November yang lalu saya mengunjungi BRI Indocomtech di JCC Senayan. Ini adalah kali pertama sejak 2011 saya mengunjungi pameran komputer di JCC. Terakhir kali menghadiri pameran komputer di JCC adalah tahun 2010. Waktu itu pameran diadakan awal tahun. Saya ingat sekali karena waktu itu saya baru menikah bulan Februari 2010 lalu 2011 pindah ke Malang sehingga tidak pernah lagi ikut pameran komputer. Di pameran 7 tahun yang lalu itu, suami membeli netbook Zyrex yang dia pakai sampai sekitar 2015.

Saya merasakan ada banyak perbedaan dengan pameran komputer tahun ini. Pertama, dari sisi tiket masuk. Kali ini pengunjung harus menggunakan Brizzi dari BRI untuk masuk ke pameran. Otomatis pengunjung yang tidak punya Brizzi harus membelinya. Harganya lumayan untuk tingkat siswa SMP-SMA yang berkantong pas-pasan. Ketika datang ke pameran, ada dua siswa laki-laki di depan saya yang ragu-ragu untuk masuk dan menimang-nimang uang 50 ribu di tangannya. Biaya masuknya juga lumayan mahal yaitu 20 ribu untuk hari biasa dan 30 ribu untuk akhir pekan.

Perbedaan kedua, dari sisi jumlah tenant atau penjual yang jauh berkurang dibanding tahun 2010. Jumlah peserta (toko) yang berkurang memengaruhi daya tarik Indocomtech karena biasanya penjual eceran atau toko yang banyak memberi gimmick, hadiah atau berbagai diskon kepada calon pembeli. Entah karena saya berkunjung pada hari kerja, tapi pengunjung yang datang ke Indocomtech tanggal 2 November tidak banyak. Ruangan terasa lengang dan tidak berdesak-desakkan. Saya sih suka karena lebih nyaman untuk melihat-lihat barang dan tidak tubruk sana-sini. Bahkan saya berkeliling 4 kali sampai pusing sendiri.

Perbedaan ketiga, dari segi harga. Terus terang, harga yang ditawarkan toko kurang bersaing dibanding toko online. Memang sepertinya toko online/daring memengaruhi antusias dan jumlah pengunjung di pameran komputer. Di dalam pameran, toko online seperti tiket.com, Tokopedia, dan blibli.com membuka stand cukup besar. Mungkin itu sebabnya tidak banyak toko atau reseller menyewakan stand karena selain harga sewa stand mahal, mereka juga merasa sudah terwakili dengan adanya toko-toko daring tempat mereka menjual produk. Harganya bahkan lebih murah di toko daring. Contohnya hardisk external 1 TB yang dijual sekitar 900 ribu di Indocomtech, bisa dijual seharga kurang dari 800 ribu di Shopee dan bebas ongkos kirim.

Pameran komputer ini dilakukan bersamaan dengan kegiatan Tech in Asia dengan tema “Connecting Asia’s Tech Ecosystem”. Hajatan tingkat Asia ini banyak melibatkan startup di bidang bidang teknologi. Lokasinya bersebelahan, Tech in Asia di Hall B sementara pameran komputer di Hall A.

Saya menyayangkan jika Indocomtech belum mengemas tujuan pameran komputer secara berbeda sesuai perkembangan. Nantinya bisa tutup seperti beberapa mal di Jakarta. Lagipula, harga komputer dan perangkat yang dijual tidak ramah untuk calon pembeli dengan dana sekitar 5-6 juta seperti saya. Saya hanya mendapat tumbler dari stand Tiket.com dan beberapa brosur. Setelah itu saya pulang. Dalam perjalanan, saya membuka aplikasi OLX dan Instagram mencari laptop seken dengan spesifikasi sesuai kebutuhan dan harga sesuai anggaran. Lain kali, tidak perlu ikut pameran komputer/perangkat seperti ini karena selain memakan waktu, biaya transportasi, dan biaya tiket, harga produknya juga tidak sesuai dengan kantong.

Bogor, 4 November 2017

Menjadi murid

Keinginan melanjutkan pendidikan formal dimulai dari kejenuhan bekerja dan beragam pertanyaan dari diri tentang perubahan apa yang sudah saya lakukan untuk diri sendiri dan orang lain. Rasanya bukan alasan yang tepat untuk kuliah kembali, apalagi untuk tingkat doktoral. Namun dorongan itu sangat kuat. Dorongan yang saya sendiri tidak paham dan belum menemukan kata-kata yang tepat untuk menggambarkannya.

Teman-teman banyak yang penasaran dan kerap bertanya: untuk apa kamu kuliah lagi?, apa yang akan kamu lakukan setelah lulus menjadi doktor?, atau kadang berupa sindiran, kamu senang sekali kuliah ya? Saya semakin bingung dan bertanya ke diri sendiri, “Mengapa saya merasa terdorong untuk kuliah lagi?”

Masuk di semester satu, saya merasa kesulitan menyesuaikan diri dengan paradigma dan aturan kurikulum baru. Pertanyaan tentang “mengapa” semakin gencar, “mengapa kamu bersusah payah melakukan penyesuaian lagi dan belajar hal yang baru?”

Ah, mungkin memang itu yang saya cari, bukan paradigma baru tapi paradigma yang berbeda. Subyeknya memang baru karena pertanian bukan bidang saya tapi hidup saya tidak lepas dari pertanian. Orang tua saya adalah petani pemilik lahan yang menyewakan lahan ke petani penggarap, almarhum kakek nenek saya petani penggarap yang kemudian bisa membeli lahan, paklek dan bulek saya ada yang bekerja sampingan sebagai petani, dan saya makan hasil pertanian (dalam negeri maupun impor). Selama ini saya merasa berjarak dari pertanian. Justru dengan melanjutkan kuliah, saya belajar untuk mendekatkan diri dari persoalan yang sebenarnya lebih dekat dengan hidup.

Waktu terus berlalu sampai di salah satu mata kuliah membahas tentang filosofi kepemimpinan Ki Hajar Dewantara. Salah satunya adalah memimpin tidak hanya bisa dilakukan dari dari depan, tapi juga dari tengah dan dari belakang. Seringkali seseorang ingin belajar menjadi pemimpin, belajar menjadi guru, tapi enggan belajar menjadi murid dan tidak mengetahui cara memimpin dari belakang dengan mendorong pemimpin yang ada di depan.

Ah ya, saya merasakan aha moment. Saya menemukan kata-kata yang saya cari. Jika sebelumnya saya terbiasa menjadi pemimpin yang ada di depan atau di pucuk suatu struktur organisasi, maka kali ini saya ingin kembali belajar menjadi murid. Ada kalanya hal itu membuat saya tidak berdaya, tapi “ketidakberdayaan” itu merupakan pilihan untuk dapat belajar lebih banyak, membuka diri lebih luas, dan merasa haus untuk berenang di air yang berbeda.

Setiap semester penuh dengan kejutan. Tugas merupakan hal yang biasa, tapi pemaknaan yang saya dapatkan luar biasa. Saya diingatkan terus tentang hakikat penyuluhan sebagai upaya untuk belajar memanusiakan manusia karena hanya dengan cara itu perubahan perilaku bisa dilakukan. Meskipun paradigma positivisme masih dilakukan dan sebagian menganggapnya tidak sesuai, tapi ini yang masih menjadi arus utama. Saya ingin menjalaninya dan mencari cara menyentuh “hati” dengan memaknai angka dan korelasi.

Ketika saya sudah dapat menemukan pemaknaan tadi, saya tidak dirisaukan dengan apa yang akan saya lakukan setelah lulus. Saya merasa lebih fleksibel, atau tepatnya lebih liat, dan itu menjadi kekuatan saya. Hal itu juga bisa menjadi kelemahan saya.

Saya senang menjadi murid kembali dalam institusi pendidikan formal pada saat banyak yang meragukan kualitas pendidikan di Indonesia. Ketika saya berada di posisi ini, saya juga bisa mendengar lebih jelas kritikan terhadap LSM dan mengetahui pengalaman buruk sebagian orang dengan LSM.

Saat ini saya senang karena dapat menemukan kata-kata yang dapat menggambarkan hasrat yang saya rasakan. Proses bergumul dengan kata-kata dan menemukan makna baru dari kata-kata tersebut terasa menguatkan.

Bogor, 29 Oktober 2017

Seharusnya

Seharusnya aku terlahir lebih cantik dari kondisi yang sekarang. Keyakinan itu ditanamkan oleh ibuku yang ketika hamil, selalu membayangkan artis cilik kenamaan tahun 1970an, Dina Mariana. Orang dulu percaya bahwa ketika seorang ibu yang sedang hamil membenci seseorang, maka rupa anaknya akan sama dengan orang yang dibenci. Mungkin maksudnya karma atau untuk mencegah seseorang untuk keterlaluan membenci orang lain. Namun, hukum genetika lebih kuat dari kepercayaan tadi. Alhasil aku lahir dengan rupa ala Sidoarjo, Jawa Timur karena kedua orang tuaku berasal dari daerah tersebut.

Seharusnya aku lahir di Desa Waung, Kecamatan Krembung, Kabupaten Sidoarjo, Provinsi Jawa Timur. Dengan begitu, aku bisa menghidu bau tebu dan menjadi sosok yang manis seperti gula. Aku mungkin akan tinggal lebih lama di desa dan terinspirasi menjadi petani seperti kakek dan nenek. Tapi ayah telah bermukim lebih dari 1 tahun ibukota Jakarta ketika aku lahir. Ayah mengadu nasib sebagai pedagang kain di Tanah Abang yang semrawut. Ibu menyusul ayah dan masih perempuan desa yang terkaget-kaget dengan lapisan emas di tugu monas. Semakin terkejut lagi karena di daerah asing ini dia harus membesarkan jabang bayi.

Seharusnya aku lahir di rumah kakek dan nenek yang bersahaja dengan lumbung padi di halamannya. Memang banyak tikus di dalam lumbung, tapi mereka pun berusaha menyambung hidup. Menjadi petani layaknya petaka. Ibuku bercerita kalau dia tidak suka ke sawah karena takut kulitnya terbakar matahari dan menjadi kasar. Mengolah tanah, menyemai bibit, dan memanen bukan impian perempuan muda kekinian di tahun 1960an. Ayahku seorang yatim dengan satu kakak laki-laki dan dua adik perempuan. Nenekku hanya sanggup menyekolahkannya sampai SMA. Itu saja sudah bagus sebagai modal melamar sebagai tentara atau polisi. Namun, ayah gagal dan banting setir menjadi pedagang. Hal ini kerap menjadi bahan diskusi panas dalam pertemuan keluarga. Aku pun lahir di sebuah puskesmas di daerah Petamburan, Jakarta Barat ketika ayah masih mengukur gulungan kain dengan tongkat meteran. Mak Sani tergopoh-gopoh menaiki bemo untuk memberitahu ayahku. Besoknya, aku sudah pulang ke haribaan rumah kontrakan di Gang Rambutan, Pesing, Jakarta Barat. Aku mulai mengakrabi bau selokan daripada buah mangga yang tumbuh di halaman rumah nenek.

Seharusnya badanku bisa lebih tinggi karena tinggi adik laki-lakiku 175 cm. Tetapi aku hanya 155 cm. Perbedaan ini mengganggu. Tetapi karena pendek, aku tidak perlu bercita-cita menjadi seorang polisi wanita atau pekerjaan lain yang menuntut syarat tinggi badan. Untungnya orang pendek bisa menjadi pustakawan.

Seharusnya aku menjadi akuntan atau bidan jika mengikuti kemauan orang tua. Dua pekerjaan itu dianggap cocok untuk perempuan dan akan membuat hidupku mapan. Memang takdir. Sampai sekarang pun aku masih bingung membuat jurnal keuangan dan bagusnya aku tidak lelah belajar. Aku memang dipaksa belajar dan berdagang. Jika aku mapan, mungkin aku tidak terpikir untuk membuat usaha sendiri. Salah satu capaian besarku adalah membangun usaha sendiri dan mempekerjakan teman-teman yang memerlukan pekerjaan.

Seharusnya tidak perlu berandai-andai karena jika apa yang seharusnya terjadi, aku tidak akan ada di sini dan menulis cerita ini. Jika seharusnya menjadi keharusan, aku mungkin tidak perlu kebebasan dan tidak perlu ketidakpastian. Seharusnya aku terus menulis sampai tulisan ini menjadi novel, tetapi aku berhenti karena aku yang sekarang merasa lebih senang mengetik tanda titik.

Bogor, 4 Oktober 2017

Foto Pengobat Kangen

Foto-foto yang aku ambil selama di Malang.

Di terminal Arjosari dan jalan layang.

Warung makan

Di sekitar jalan layang Lawang.

Foto-foto diambil menggunakan kamera handphone Nexian lawas dari dalam bus Restu menuju Pandaan. Lumayan mengobati kangen. Kapan ya kuliah ini selesai?

Bogor, 18 September 2017

Vagina yang Tidak Terlihat

Melepas celana dalam dan mengangkang biasanya menyenangkan. Tidak kali ini, karena aku harus melakukan tes IVA (Infeksi Visual Asam Asetat) di sebuah klinik yang dikelola sebuah kementerian. Tes ini diberikan gratis bagi anggota BPJS. Aku mendaftar karena tidak sempat mengikuti tes pap smear gratis. Kadang aku juga tidak tahu informasinya.

Aku bawa sarung tenun berwarna tosca karena seorang teman mengingatkan untuk membawa sarung sendiri. Ternyata itu tidak perlu. Setelah mendapatkan nomor antrian dan mengisi formulir, aku menunggu sekitar 1 jam untuk dipanggil. Setiap kamar memiliki 2 tempat tidur pemeriksaan. Sampai giliranku.

“Dibuka ya bu,” ujar petugas perempuan sambil melebarkan kangkanganku. Vaginaku menunggu dengan berdebar. Aku sudah melakukan pemeriksaan pap smear tahun 2014 dan seharusnya proses ini akan berjalan cepat.

Lalu aku ingat kalau aku belum memangkas rambut kemaluan. Belum lagi ada beberapa uban di sana. Kenapa aku harus memikirkan hal itu? Hal terburuk adalah petugas akan membatin, apakah ini rawa atau hutan tropis?

“Vagina, kamu akan baik-baik saja. Ini pemeriksaan yang seharusnya rutin dilakukan.” Bagus. Aku mengajak ngobrol vaginaku yang tidak bisa bicara. Aku anggap dia teman imajinasiku. Dia memang teman yang selalu menempel di antara selangkanganku.

Alat spekulum berbentuk cocor bebek dimasukkan dalam vagina. “Tarik napas!” Aku lakukan. Aku terkejut. Ada sesuatu masuk di dalam vagina. “Nyeri!” vaginaku meringis.

“Dilemaskan bu, jangan tegang!” Alatnya sendiri kaku dan dingin, lalu vaginaku disuruh santai? Apakah tidak ada spekulum yang dibuat untuk menciptakan sensasi geli dan menyenangkan sehingga dia rela membuka diri? Aku tarik napas berkali-kali. Aku berusaha mengontrol perasaan dari tiap otot dan saraf vagina.

“Jangan tegang, V!”

“Kamu yang tegang.”

“Aku tegang karena kamu tegang.”

“Ada alat yang masuk dan sangat tidak menarik.”

“Aku ‘kan sudah bilang, ada pemeriksaan. Kalau semua lancar dan tidak ada masalah, aku akan berikan hadiah.”

“Orgasme?”

“Sesuatu yang menyenangkan.”

“Hah! Cepat! Jangan lama-lama!”

“Aku juga nggak mau lama-lama.”

Vaginaku sendiri mengeluh. Padahal ini untuk kebaikannya, kesehatannya. Aku memang tidak memberitahunya.

Aku terus menarik napas sambil terbatuk-batuk. Dua hari sebelumnya aku demam dan sampai sekarang masih batuk dan agak sakit kepala. Aku berharap vaginaku lebih sehat dari organ tubuhku yang lain.

Sebuah kapas basah dioleskan ke dalam leher rahim.

“Dingin!”

“Please, jangan berisik! Aku juga tahu.”

Tatapan petugas mencurigakan. Lalu dia mengoleskannya sekali lagi. Duh, harusnya aku baca-baca dulu tentang IVA sebelum periksa. Petugas memanggil temannya yang ikut menengok vaginaku. Lalu seorang dokter dipanggil. Sambil menunggu dokter, entah iseng atau ingin memastikan, petugas mengoleskan kapas itu lagi ke dinding leher rahim. Apa dia pikir aku tidak bisa merasakannya olesannya berkali-kali?

“Ini sudah lebih dari 2 menit!”

Duh, vaginaku lebih cerewet daripada diriku sendiri. Kok bisa ya?

“Aku tidak bisa dibiarkan diangin-anginkan begini. Nanti kering. Kamu tahu seperti apa apa vagina yang kering? Seperti padang pasir.”¬†Ya ampun, vaginaku ternyata lebay.

Sambil menunggu, petugas berusaha bertanya, “Sudah punya anak berapa bu?”

“Belum ada anak.”

“Tapi sudah kawin?”

“Sudah.”

“Sudah berapa tahun?”

“7 tahun.”

Masih dalam kondisi menunggu, aku mendengar petugas di sebelah menanyakan seorang pasien.

“Umur ibu berapa?”

“51 tahun.”

“Yang benar bu? Lis, coba lihat ibu ini, 51 tahun. Nggak percaya kan?”

Alhasil aku ikut menengok. Aku sendiri tidak percaya, kelihatan berusia 4oan.

“Ibu minum jamu apa?” tanya petugas. Lalu si ibu menyebutkan sebuah merek jamu. Aku membatin, memang gila ramuan alam tropis.

“Tapi dokter bilang saya jangan sering-sering minum jamu itu lagi…” dan aku tidak lagi mendengar kalimat selanjutnya.

Rasanya vaginaku akan menjadi padang pasir dalam beberapa detik jika dibiarkan melongo seperti ini. Aku ingin menenangkan vaginaku dengan menepuk-nepuknya, puk, puk. Seorang dokter perempuan masuk ke ruang periksa. Dia menengok vaginaku juga. Oke, tiga orang menelisik vaginaku. Ada yang ingin bergabung?

“Oke, Ibu nanti ke sini dulu ya,” ujar dokter. Aku mengangguk. Kemudian petugas masih memeriksa payudaraku. Aku buka tali BH di belakang. Lalu bajuku disingkap.

“Tangan diletakkan di belakang kepala, bu. Pemeriksaan ini bisa dilakukan sendiri, 10 hari setelah haid.”

Aku mengangguk. Sepertinya payudaraku baik-baik saja, tidak ada benjolan yang mencurigakan. Ketika petugas menekan-nekan payudaraku, rasanya agak nyeri. Mungkin karena dia bukan pasanganku yang lebih tahu cara memperlakukan payudaraku. Atau ini memang bukan sesi untuk bermain payudara tapi memeriksa payudara. Tentu saja beda!

“Jadi begini, bu. Tadi setelah diolesi dengan asam asetat, ada bercak putih. Seharusnya warnanya tetap sama, tidak berubah. Ini indikasi, tapi belum tentu menandai sel-sel kanker. Jadi klinik BPJS ibu dimana? Oke, saya rujuk ke sini ya.”

Dokter memberikan selembar kertas kecil. Aku langsung berdebar. Aku tidak lagi mengajak bicara vaginaku. Aku langsung ke klinik BPJS. Rupanya alat di sana tidak lengkap dan menurut dokter perlu pemeriksaan spesialis. Maka aku dirujuk ke rumah sakit di Dramaga. Dokter spesialis baru buka jam 16:00 jadi aku pulang ke rumah dan menyiapkan beberapa persyaratan.

Aku terus mendiamkan vaginaku yang tiba-tiba tidak banyak bicara. Atau dia hanya bicara ketika aku menginginkannya. Pada saat mandi, aku sempatkan untuk memangkas rambut kemaluan. Aku tidak mencukurnya karena aku tidak suka. Cukup dipangkas sehingga memudahkan pandangan dokter untuk melihat ke dalam vagina.

Sampai di RS, aku mendaftar di bagian pasien BPJS. Antriannya panjang sehingga aku harus menunggu selama 2 jam. Ketika giliranku, dokter spesialis, seorang laki-laki seusiaku, memeriksa lembaran kertas.

“Oh, begini bu, IVA positif tidak mengindikasikan adanya sel-sel kanker. Hanya menandakan ada yang tidak normal dan itu bisa banyak hal. Untuk bisa memastikan kanker leher rahim perlu pemeriksaan pap smear tetapi tidak ditanggung oleh BPJS.”

Menunggu lebih dari 2 jam dan hanya diberi informasi seperti ini?

“Biayanya berapa ya?” tanyaku.

“Sekitar 300 ribu,” ujar perawat. Aku iyakan untuk mengikuti pap smear. Aku diminta ke loket pendaftaran karena harus mendaftar sebagai pasien umum. Menunggu lagi. Ketika sampai giliranku, vaginaku hanya menggumam, “Dimasukin cocor bebek lagi ya?”

“Iya,” jawabku lemas, kurang bersemangat.

“Rasanya alat itu seperti dongkrak untuk vagina ya? Dimasukkan lalu diputar supaya vagina melebar.”

Aku tersenyum, memang benar seperti itu rasanya. Seperti ada dongkrak yang dimasukkan. Perawat meminta aku melepas celana dalam dan duduk di kursi periksa. Kali ini vaginaku sejajar dengan wajah dokter. Lampu sorot diarahkan ke bagian vagina. Aku menarik napas dalam sebelum spekulum dimasukkan.

“Aduh, kok lebih nyeri yang ini?” teriak vaginaku. Kemudian aku merasa vaginaku diperlebar seluas yang diinginkan.

“Entahlah, mungkin karena aku tegang.” Spekulum bukan alat yang aku bayangkan untuk masturbasi dan aku juga tidak sempat memainkan klitorisku sehingga vaginaku cukup basah. Melihat alatnya saja, membuyarkan seluruh rangsangan seksual. Hanya membayangkan spekulum masuk ke dalam vagina sudah menghancurkan prinsip-prinsip orgasme.

Dalam film atau buku berisi adegan seks, yang sering disebut adalah penis atau jari tangan, paling minim dildo. Tidak ada yang menyebutkan spekulum karena itu bukan alat seks yang membuat perempuan bergairah. Perawat menyiapkan dua buah kaca petri. Kemudian dokter seperti mengorek bagian leher rahim menggunakan spatula. Aku melihat spatula berwarna putih dan aku membayangkannya berada di dalam leher rahim.

“Ada benda asing lagi,” lapor vaginaku.

“Iya, itu spatula. Kamu kan pernah ikut pap smear, kenapa baru sekarang komentar?” Aku ikut protes.

“Dulu aku nggak setegang ini?”

“Iya. Karena dulu pertama kali tes dan itu pun tanpa didahului oleh pemeriksaan IVA yang positif.”

“Siapa itu IVA?”

“Ah, sudahlah. Nanti aku kasih tahu.”

Pengambilan sampel sekitar 1 menit. Setelah itu, aku diminta menunggu karena sampel perlu direndam dan dikeringan. Kenapa pemeriksaan pap smear gratis dulu begitu mudah dan lebih cepat? Bahkan aku dapat tumbler warna kuning yang aku simpan sampai sekarang.

Di ruang tunggu, vagina masih mengajakku berdiskusi.

“Jadi ini periksa pap smear lagi ya?”

“Iya.”

“Kamu pasti takut kejadian seperti Jupe ya?”

Hah, sejak kapan vaginaku mengikuti infotainment dan kenal dengan Jupe? Memang vaginaku tidak beres.

“Harusnya tiap tahun aku cek pap smear. Tapi aku kelewatan. Aku lupa merawatmu. Mungkin karena kamu selalu berada di kempitan paha. Tidak terlihat, tidak terasa.”

Ruang tunggu rumah sakit sudah sepi. Aku menunggu panggilan terakhir. Hampir 30 menit menunggu sampai aku dipanggil dan diberitahu bahwa pengambilan hasil dapat dilakukan paling cepat dalam 10 hari, paling lambat 14 hari. Aku mengangguk. Lebih dari 3 jam aku habiskan di rumah sakit dan sepertinya tempat ini menyedot tenagaku.

Aku pulang dengan loyo sambil tetap terbatuk-batuk. Aku ingin tengkurap di tempat tidur sambil menepuk-nepuk vaginaku dengan tenang.

Bogor, 17 September 2017