Kutunggu di Nagan

Aku lewati tempat kerjamu di pertigaan Nagan

Setiap hari mencoba curi pandang

Ku perlambat langkah sebelum tiba

Ku tautkan asa untuk sekedar melempar bara

Demi wajahmu yang tergambar di pelupuk mata

Ku datangi warung di Nagan

Berharap kamu istirahat dan singgah makan

Mendengar suaramu saja hati tergetar

Setiap suap nasi terasa rendang di lidah

Tuhan, buatlah dia lapar!

Aku tak bisa beranjak dari Nagan

Hati ini belum mau pergi dan berpaling

Hanya ingin di sini dan merangkul harapan

Setiap mampir ke kota ini, aku tersenyum simpul

Mengingat sosok penuh tawa berambut gimbal

Bicara dengan logat Magelang yang kental

Aku masih ingin menyusuri Jalan Nagan

Sekedar mengenang urat geli yang hampir hilang

Berkhayal kamu akan menoleh ke belakang dan berkata,

“Aku tunggu kamu di Nagan!”

 

Bogor, 8 Januari 2017

Advertisements

Religious Lover

Hold the rhyme
Set the tone
I know you’ll be there
to hold my voice

You’re the church
Show what I have missed
You’re the Holy Ghost
Never thought I can be so religious

You bring the Jesus in me
Never thought I’ll get so far astray

Love you like the prophet
Love you like the virgin
You are my everything

You’re my Mecca
You’re my Vatican
You’re my Jerusalem
You’re my way to nirvana

Lock my eyes
Sweep me out of my feet
Turn me upside down

You’re my meth
You’re my weed
You’re my Afghan haze
Never thought I can be so religious

Love you like fanatic
Love you like lunatic

Malang, 20 Agustus 2015

Bersamamu, Aku Sepi

Aku rindu saat-saat seperti ini
saat kau ada dan aku tidak merasakannya

aku tidak kehilangan
karena aku tidak pernah merasa memiliki

dirimu berbeda
dan aku ingin kau apa adanya

kita tidak perlu bersama
sekarang atau selamanya
kita tidak perlu memaksa
untuk saling jatuh cinta
demi mempertahankan akta nikah

bersamamu, aku berani
bersamamu, aku sepi

tidak ada yang perlu digugat
kita sama-sama bertanggung jawab
tidak juga ada yang salah
kita tidak pernah menyerah
hanya mencari celah
untuk kembali pada sela

30 Desember 2013

Niken Lestari

Puisi Cucian

Di kala malas menggoda
saya menulis puisi ini.
————————————–

Di pagi yang mendung ini
aku mencuci
selama dua minggu kutinggalkan mereka
di bak hitam anti pecah
kini saatnya aku berbakti
mencuci pakaian kotor

Apa yang disebut dengan pakaian kotor?
Baju yang kena noda keringat
dan noda debu
kini saatnya aku menggerakkan kedua tangan
dan pinggang
mencuci, membilas, dan menjemur
demi hari esok

Di pagi yang sendu ini
kuselesaikan cucian dengan keringat bercucuran
dari wajah, ketiak, tangan, dan punggung
saya belum sarapan

Aku naik ke lantai empat
untuk menjemur pakaian
kujepit mereka dengan sabar
agar tidak pergi tertiup angin

Langit mendung
aku harus menunggu jemuran
saya sangat lapar

Saya kembali ke kamar
saya nyalakan kipas angin buatan Malaysia
yang saya beli di Yogyakarta
tergoda untuk tidur di ranjang
lalu saya ingat, saya belum mencuci seprei

Capek deh….

Medan, 21 Maret 2009

Puasa Ini

Puasa ini sebenarnya bukan rutinitas ritual

puasa ini bukan untuk kesaktian

puasa ini mengenai saya sebagai makhluk fana

puasa ini mengingatkan saya pada kekuatan sebuah keyakinan

puasa ini mengendalikan tubuh dengan sebuah pikiran

bahwa perkara ragawi selalu berputar di permukaan,

dunia adalah rekaan kekuasaan,

manusia sebagai pelaku berkesadaran

puasa ini mengingatkan saya bahwa setiap detak jantung,

setiap tarikan napas, dan kedipan kelopak mata

adalah anugerah yang biasanya terlupakan

puasa ini menunjukkan “keajaiban” tubuh biologis

ternyata saya bisa, jika saya percaya

puasa ini memberi kekuatan pada nurani

saya tidak perlu nyali

saya hanya perlu percaya pada kemampuan diri sendiri

puasa ini untuk diberikan pada Maha Perkasa

dan dipantulkan kembali pada saya

puasa ini untuk diberikan pada Tuhan Penguasa Alam

yang telah merumuskan oksigen

lalu saya rusak dengan ribuan racun buatan

puasa ini menyuntikkan asa dan

menenangkan diri dari kekhawatiran yang diciptakan manusia

puasa ini membuat saya lebih peka

pada nelangsa bersama

puasa ini jangan dibuat tidak berasa,

dengan menyibukkan diri sampai beduk maghrib tiba

puasa ini untuk melambatkan laju waktu

mengingatkan bahwa banyak hal berlalu

sebelum mulai berkayuh

ada baiknya berkaca pada butir peluh

saya mencintai puasa ini

Medan, 6 Agustus 2008 diselesaikan di Jakarta, 15 Agustus 2008

Kepada Kau

Kepada kau
Orang yang begitu nyaman di hati
menggugah begitu banyak inspirasi
menorehkan lembaran puisi

Kepada kau
sulit benar melupakan jejak yang sudah tercetak
sampai ada bisikan menggugat, “Mengapa dilupakan jika begitu sulit? Jangan coba terlalu keras karena kau mengajak tengkar arus waktu. Bila kah kau dapat mengubah waktu?”
benar. Aku tidak dapat mengubah laju waktu dan mematikan kau adakah guna?

Kepada kau
yang telah memberikan aku rasa yang menyenangkan.
Mengapa tiada beban yang berarti ketika berada di sekitar kau?
Aku dapat menjadi orang tersombong, ternorak, terluka, tergila, apapun yang aku adanya
ketika aku menjadi aku, persetan kau dengan aku

Kau tahu begitu pula bebatuan di boko
mereka tidak pernah mendongeng tentang perasaan
kesunyian membuncahkan beribu keraguan dan harapan
lusinan musim menghujam, kau masih tersembunyi

aku kecewa ketika tidak dapat singgah ke halaman silam
ternyata benar, aku sebaiknya tidak perlu menatap sepasang mata yang menyenangkan
kau tahu, begitu pula laju waktu

Aku perlu bersama diriku sendiri. Aku perlu menjauh dari perasaan yang menghanyutkan.

Aku pasrah pada ketidaksempurnaan kau. Aku tenang, karena kau pun dapat rasakan kegundahan aku. Siapa lah kau dan aku?
Melafalkan nama kau membalikkan getaran yang tidak perlu didefinisikan, terlalu indah, terlalu pop. Jadi biarkan saja. Aku tidak ingin berbohong atau berlagak seperti kura-kura bahwa aku melupakan kau. Kau buat riak-riak kecil yang menggoyang sampan.

Kepada kau
yang membuat cahaya aku berbinar-binar. Tidak kah perasaan ini memberi energi listrik yang cukup untuk temani jalan ke depan dan terangi awan menggantung.
Apakah kau lampu jalan? Sejak kapan kau jadi gardu PLN?

Aku tersenyum, mengingat cara kau tidur. Indah. Betapa mudah kau aku sukai. Semesta tidak bermakna, tidak berwarna. Begini kah rasanya menjadi orang gila? Seluruh perkara konyol pun terasa berbunga-bunga. Kau tahu aku. Saat semua terasa menjauh, kau begitu dekat. Apakah ini ilusi dari guna-guna?

Aku tidak ingin menjadi penyair tanpa alasan. Kau adalah sebab, tulisan ini adalah akibat.
Aku tidak perlu menjadi perkasa atau menjadi wanita di hadapan kau.
Aku dapat menjadi sosok berjaket merah tanpa menjadi PDI-P. Aku dapat berjubah dan berkerudung panjang tanpa menjadi PKS. Aku dapat berjaket kuning tanpa menjadi Golkar.
Dengan kau, aku merasa sangat feminis karena aku terbebas dari penindasan citra.

Aku tidak berharap kau merindukan aku. Aku pemuja rahasia yang bisanya menulis di blog sempit wordpress. Perasaanku bagaikan bedeng tanpa sanitasi memadai. Aku bisa tersenyum di mana pun aku ingat sepatu hitam yang kau pakai. Kenapa kau tidak beli sepatu baru? Atau itu kah sepatu baru? Diam-diam aku catat ukuran sepatu kau.

Aku tidak ingin dipaksa meluangkan waktu menghapus coretan di hati. Jika aku memang tidak cukup berharga, simpan lah aku dalam ruang cadangan seperti flashdisk, hardisk, compact disk, apapun dengan disk di belakangnya. Tidak ada server yang dapat bertahan selamanya.Kau pun tahu.

Kepada kau
sulit mengakhiri kegilaan puitis ini. Setelah sahur dan seusai sholat subuh, aku malah menuliskan kalimat cinta fana. Kau mengingatkan aku pada keindahan Tuhan. Kau tidak perlu tebar pesona kepada aku. Oya, kau memang tidak pernah.

Ingat lah, aku sudah mencatat ukuran sepatu yang kau pakai!

Medan. Subuh, 28 Juli 2008
SM

Salah

Nona,
Ku pikir salah untuk memikirkanmu
Terlalu tinggi khayal ku untuk bersamamu
Ketika harapanmu adalah bukan dengan ku

Sebaiknya, jangan pernah ada rasa
Yang lebih dari seharusnya
Di antara kita berdua
Ku takut terluka

Nona, Ku salah
Di saat ku mulai dapat percaya
Ku menjadi lemah, tidak berdaya
Ku laki-laki perkasa
Jangan kau beri ku rasa yang palsu

Nona,
Maafkan ku yang angkuh
Ku tidak cukup jujur
Untuk menjadi laki-mu

Nona,
Kau sungguh berani
Memprotes cerita ku
Meragukan alibi ku
Mengutuk rayuan ku
Mengatakan isi hatimu
Kau membuat ku ‘bukan apa-apa’

Nona,
Ku salah
Harusnya ku tahu kau bukan balita
Yang bisa kubelikan permen lalu jatuh cinta

Nona,
Bisakah ku menggilaimu
Untuk waktu yang lama
Biarkan ku mencintamu
Dan kau pura-pura tidak tahu

Di antara kita berdua
Ku takut terluka
Lalu ku mendua
Ku salah,
Kau tidak pernah menjadi perempuan kedua

Nona,
Kau buat ku gila
Kau acak-acak konsep cinta ku dengan mudahnya
Kau bongkar strategi lama ku
Kau petakan kebiasaan ku
Kau manusia betina yang kecewa
Kau pernah berucap: “Laki-laki sepertimu
Hanya patut menjadi objek disertasi, bukan untuk dinikahi.”
Telur busuk!

Nona,
Ku laki-laki dengan banyak wajah
Ku punya harga diri
Ku ingin ditakuti dan dipuji
Tapi kau menyatakan cinta pada ku
Bajingan macam apa kau ini?

Nona,
Kau anggap ku laki-laki yang suka mengulang cerita
Pada perempuan yang berbeda
Kau mentahkan pesona ku
Kau hilangkan mantra kejantanan ku
Empat pil Viagra tidak akan mampu melumpuhkanmu
Taik kucing!

Tidakkah kau ingin memiliki kelakian ku?
Merasakan kehangatan pelukan ku?
Bisa-bisanya kau ingin menjadi manusia setara
Ku hanya ingin seorang istri
Bukan Srikandi atau Rasuna Said

Ku tak sanggup, Nona
Ah, biarkan ku menjauhimu
Jangan lagi kau ketuk hati ini
Ku tak ingin membencimu
Ku tak ingin jatuh cinta padamu

Nona,
Kau perempuan yang bersuara
Tidak apa
Tapi dengannya, kau buka kotak hitam ku
Kau telanjangi kemaluan ku
Itu kejam dan kurang ajar!
Keterlaluan!

Dengar ku, Nona!
Kau perempuan yang menulis perasaan
Dan ku tersinggung, tanya kenapa
Kelakianku yang kau ancam
Tulisanmu adalah racun timbal
Yang dapat membuat ku impoten
Kutu busuk!

Nona,
Kehadiranmu tidak penting
Gugatanmu menyakitkan
Cara pandangmu terlalu menantang
Ku manusia dengan perasaan
Ku tidak ingin dibandingkan
Jangan kau rendahkan ku
Berhentilah menganalisa ku
Ku mohon!

Nona,
Jadilah perempuan sesuai norma
Yang menulis dalam metafora
Ku lelaki normal
Ku ingin kasih sayang dan menjadi imam
Ku di sini ‘tuk bercinta denganmu
Bukan untuk membaca tulisanmu

Nona,
Lihat apa yang tlah kau lakukan pada ku!

Mulai ditulis di Nagan, 23 Februari dan diselesaikan di Kasongan, 14 Mei 2007