Lewat Sehari

Kemarin aku melewati satu hari tanpa menulis di pagi hari. Aku memaafkan diriku karena sekitar jam 9, aku menulis epilog untuk buku. Itu dihitunglah. Hari ini aku memaksa diri untuk menulis di pagi hari.

Aku bangun pukul 2:30 dan tidak bisa tidur. Selama 7 bulan terakhir, jika aku bangun dini hari dan tidak bisa tidur, aku akan merambah internet untuk mencari barang-barang bekas, baik itu tas, laptop atau sepatu. Sekedar melihat apa yang sedang ada di pasar daring. Biasanya aku akan membuka Instagram karena semakin banyak penjual yang menggunakan media tersebut untuk menjual barang. Kemudian mereka akan melanjutkan komunikasi melalui Line atau Whatsapp. Sebegitu kompleksnya.

Sejak 3 bulan lalu aktif di IG, aku mengurangi frekuensi membuka OLX. Situs itu dulunya menjadi andalanku mencari barang bekas. Aku suka membeli barang bekas. Jika ada barangku yang tidak terpakai, aku juga akan menjualnya di OLX.

Di OLX dan IG aku belajar seputar informasi barang yang sedang tren, cara berjualan yang mutakhir, dan cara mengenali penipu daring. Bagian terakhir salah satu yang penting karena semakin banyak penipu yang menggunakan media sosial untuk mendapatkan keuntungan. Penjual daring lain pun menjadi sasaran mereka.

Aku juga belajar bahwa sekarang ada cara mencari uang dengan menawarkan jasa titip jual dan titip beli. Aku pernah menggunakan jasa titip jual sekali tetapi barang belum berhasil terjual. Menarik bagaimana orang menyesuaikan fitur suatu media sosial untuk kepentingan bisnis.

Yogyakarta, 21 Januari 2017

 

Advertisements

Esai Rencana Studi LPDP

Untuk membantu beberapa orang yang bertanya tentang esai rencana studi, aku mengunggahnya di blog ini. Semoga bisa membantu teman-teman lain yang sedang mengajukan beasiswa LPDP.

—–

Saya, Niken Lestari, berlatar belakang S1 dari Jurusan Ilmu Perpustakaan, Universitas Indonesia. Skripsi saya yang berjudul “Perilaku pencarian di world wide web: Studi kasus mahasiswa Jurusan Ilmu Perpustakaan, Fakultas Sastra, Universitas Indonesia” berhasil mendapatkan nilai B. Saya lulus tahun 2001 dengan predikat sangat memuaskan.

Setelah 3 tahun bekerja di berbagai perpustakaan yang ada di perusahaan dan organisasi, saya memutuskan untuk melanjutkan pendidikan di Program Studi Pascasarjana Kajian Gender (waktu itu Kajian Wanita) di almamater. Motivasi saya melanjutkan studi adalah mengurai pengalaman pelecehan seksual yang beberapa kali saya alami dan mencari cara pandang berbeda dalam melihat pengetahuan. Saya tidak memikirkan ijazah atau linieritas karena saya tidak berencana untuk terjun ke dunia akademik sebagai pengajar. Saya ingin mendapatkan seperangkat analisis yang dapat memfasilitasi saya proses “menjadi” dan memahami berbagai fenomena sosial. Tesis saya mengambil judul “Sudut pandang perempuan dalam memaknai fisika” dan saya berhasil lulus dengan judisium Cum Laude.

Bagi saya, setiap manusia adalah pohon pengetahuan dengan kekhasan masing-masing. Saya sangat menyukai multi-disiplin dan menikmati proses matrikulasi sebagai pembenihan baru dari persilangan benih yang sudah ada. Motivasi saya memilih studi doktoral di Fakultas Ekologi Manusia, Departemen Ilmu Penyuluhan Pembangunan juga hampir sama.

Pengalaman dan penelitian saya sebelumnya yang menuntun saya ke Ilmu Penyuluhan Pembangunan. Saya tidak puas menjadi pustakawan dengan paradigma “menunggu dan melayani pemustaka”. Pemustaka saat ini lahir sebagai digital native yang dikelilingi dan didatangi oleh berbagai sumber digital. Pustakawan tidak bisa menunggu dan berharap muncul kesadaran membaca dan memproduksi pengetahuan dari masyarakat dengan “bertapa” di perpustakaan.

Penelitian selanjutnya mengenai ilmu pengetahuan yang bergender mengubah cara pandang dalam melihat dikotomi intuisi-logika, obyektif-subyektif, perasaan-nalar yang terinternalisasi dalam diri setiap manusia. Perempuan sebagai pembelajar di institusi formal dan informal memaknai ilmu pengetahuan dan seluruh aspek kehidupannya menggunakan seperangkat dikotomi yang sama. Pendidikan seringkali menjadi media doktrinasi nilai gender yang
melemahkan potensi perempuan daripada kekuatan yang memberdayakan dan mendorong lahirnya inovasi.

Kedua penelitian di atas membawa saya untuk menyusun proposal penelitian mengenai analisis kepemimpinan terhadap penyuluh perempuan karena selama ini saya bekerja di sebuah organisasi yang beranggotakan penyuluh (pendamping) komunitas perempuan dari seluruh Indonesia. Dengan begitu, saya berharap hasil penelitian ini berdampak langsung terhadap organisasi dan anggotanya.

Rencana saya setelah selesai studi adalah ikut mengembangkan organisasi tempat saya bekerja sekarang, FAMM-Indonesia. Saya akan ikut mendukung kerja pengorganisasian dan pendokumentasian pengetahuan yang dilakukan organisasi anggota dan mitra seperti PEKKA, PESADA, Asosiasi PPSW, ASPPUK, dan organisasi berbasis akar rumput lainnya. Hanya sebagian kecil ornop yang memiliki divisi kajian atau memiliki kapasitas serta sumber daya untuk
melakukan penelitian. Saya dapat berperan dalam proses produksi pengetahuan dari kerja-kerja yang mereka lakukan.

Saya juga ingin terlibat dan berkontribusi pada kajian yang dilakukan oleh PSG (Pusat Studi Gender) di IPB dan Prodi Kajian Gender di UI. Melalui kontribusi di institusi akademik tersebut,saya dapat berbagi dan mengembangkan ilmu yang telah saya pelajari. Termasuk bekerjasama dengan sektor korporasi untuk lebih memahami potensi penyuluh pembangunan dan keterkaitan dengan pengembangan usaha.

Candi peradaban Khmer

Tanggal 2 Februari 2015 lalu aku dan Elin, seorang teman, mengunjungi Kamboja untuk urusan pekerjaan. Berhubung acara koordinasi hanya makan waktu 2 hari, kami menggunakan sisa waktu untuk mengunjungi Candi Angkor Wat di Siem Reap.

Ini adalah kunjungan pertama kami ke Kamboja. Aku sangat senang dan bersemangat. Dari Malang, aku harus ke Jakarta dulu menggunakan Garuda kemudian menyambung dengan Singapore Airlines dan Silk Air. Kami singgah 8 jam di Changi airport. Meskipun disediakan balai untuk tidur di tempat terbuka di ruang Oasis dan Sanctuary tapi desain balai kurang nyaman dan tengah malam ada petugas bandara yang menginspeksi dan membangunkan kami untuk menunjukkan paspor dan boarding pass.

Rapat pekerjaan selesai tanggal 3 Februari sore. Kemudian kami langsung ke restoran Titanic di pinggir Sungai Mekong. Restoran ini sangat besar dan populer dikunjungi turis domestik dan mancanegara. Restoran berarsitektur Khmer dan ada bagian outdoor dan indoor.

titanictitan

Tempatnya sangat nyaman dengan parkir yang luas. Di dekat situ juga ada sebuah kapal besar dua tingkat yang dijadikan restoran. Tadinya aku pikir kami akan makan di sana, ternyata kita makan di Titanic. Menurutku Titanic tidak begitu spesial kecuali pemandangan Sungai Mekong dan kota Phnom Penh di seberangnya. Makan bersama ini sebagai farewel dinner sebelum kami berangkat ke Siem Reap pada malam itu juga.

Aku memesan nasi goreng tapi disajikan nasi goreng dingin dan tidak ada rasanya. So better order Amok, itu makanan yang lebih enak.

Melalui teman kantor yang asli Kamboja, kami berdua memesan bus Giant Ibis. Aku baca bus ini yang paling nyaman dengan pelayanan dibanding bus lainnya seperti Mekong Express. Harga satu kali jalan adalah $15/orang. Oya, di Kamboja lebih aman jika kita memiliki US$ daripada mata uang lokal Riel. Tuktuk pun pakai Dollar.

Bus malam Giant Ibis memiliki beberapa jadwal dalam sehari (http://www.giantibis.com/schedule.php). Kami memesan bus jam 11:00 malam. Kami diantar ke pangkalan Giant Ibis yang bisa dijangkau dengan jalan kaki sekitar 10-15 menit dari Titanic restoran atau kurang dari 5 menit dengan kendaraan bermotor. Kami menunggu selama 90 menit di pangkalan bus. Bukti pembelian ditukar dengan tiket. Kami menempati bangku 3A dan 3B. Kami kira bentuknya bangku. Setelah melihat penumpang lain, akhirnya kami tahu bahwa bangku di dalam bus diganti menjadi tempat tidur dan dibuat layaknya dipan 2 tingkat. Kami berada di bagian bawah dan formasi tempat tidur 2-1, sehingga turis yang bepergian sendiri akan diberikan dipan sendiri, tidak berpasangan.

Giant Ibis sangat nyaman dan tidak membuat capek untuk perjalanan jauh. Aku dan Elin merasa segar ketika sampai di Siem Reap jam 05:45. Kalau di bus pulau Jawa, supir bus senang menyalip dan bikin kaget penumpang, tidak halnya dengan supir Giant Ibis. Aku hanya terbangun ketika kondisi jalan tidak bagus sehingga agak goyang. Aku membayangkan ada bus atau kereta api semacam ini untuk rute Jakarta-Malang atau Malang-Yogyakarta. Selain dipan, Giant Ibis juga memberikan sebotol kecil air mineral, selimut tipis, koneksi wifi (bukan basa-basi), toilet. Oya bus ini juga nyaman karena AC-nya tidak terlalu dingin seperti di kereta api eksekutif di Pulau Jawa.

giantibis

Sesampai di Siem Reap, kami cuci muka dan buang air dulu di pemberhentian kecil. Di sana sudah ada beberapa supir tuktuk yang mencari pelanggan dengan bahasa Inggris ala kadarnya. Kami memberikan alamat penginapan dan nego harga. Awalnya ada yang minta $2/orang tapi teman kami di PP sudah mengatakan bahwa biayanya hanya $1 untuk sekali jalan. Akhirnya deal di harga $2/tuktuk.

Hawa dingin Siem Reap membuat kami optimis kalau kunjungan ke candi nanti tidak akan terlalu panas. Ramalan kami ternyata salah :). Berhubung banyak perjalanan dilakukan dengan tuktuk, aku sarankan pengunjung menggunakan pelindung kepala dan rambut (topi, jilbab, scarf) dan kalau bisa penutup hidung karena PP dan SR sangat berdebu.

Kami diantar ke Hotel Sam So yang dipesan kawan. Kami mendapatkan harga lokal yaitu $8/malam/kamar karena teman kami lupa memberitahukan kalau kami orang asing. Harga normal untuk turis asing $13/malam/kamar untuk kamar double bed dengan kipas angin, tanpa makan pagi, tanpa AC, tanpa air panas. Fasilitas AC dan air panas tetap ada di kamar tapi tidak dapat digunakan jika kita sudah memesan layanan tanpa keduanya. Kami datang terlalu pagi sehingga belum ada kamar yang kosong. Namun kami boleh mandi di rumah pemilik yang bersebelahan. Kami juga langsung pesan tuktuk untuk diantar ke Angkor Wat selama seharian dengan biaya $15.

Hotel Sam So termasuk aman dan nyaman. Kamarnya luas, kamar mandi luas tapi karena tidak pakai air panas, kami bingung cara mandi. Alhasil kami mandi dari keran toilet karena shower hanya berfungsi untuk air panas. Atau mungkin kami tidak tahu caranya. Di dalam kamar disediakan air mineral, TV saluran lokal, alat mandi, dan handuk. Dengan harga minim, hotel ini sangat bersih dan bagus. Sila dicek di http://www.samsoguesthouse.com.

kamar-3 kamar-1

kamar-2

Komplek Candi Angkor Wat ternyata sudah buka sejak jam 5 pagi. Kami istirahat sebentar, mandi dan berangkat pukul 07:30. Tiket masuk ke Angkor Wat $20/orang untuk 1 hari. Untuk 3 hari dan satu minggu ada harga khusus. Di setiap pintu masuk candi, pengunjung harus menunjukkan tiket masuk tersebut ke petugas. Setelah masuk komplek candi, kami sarapan dulu di rumah makan dengan harga $3.50 (termasuk minum teh manis). Jangan lupa membeli atau membawa topi lebar serta sunglass agar lebih nyaman karena SR sangat panas dan berdebu.

Rute kami ditentukan dari samso guesthouse yaitu: Angkor Wat (candi terbesar), Angkor Thom, South gate, Bayon, Elephant temple, Ta Phrom, dan satu candi lagi yang aku lupa namanya. Meskipun ada tuktuk, pengunjung harus berjalan ke dalam candi dan berjalan ke candi lain yang berdekatan. Kami berdua merasa capek dan mencari-cari supir kami, Bong Lay. Usahakan untuk mencatat nomor telepon supir tuktuk tapi biasanya mereka sangat profesional, rapi dan selalu siap menunggu pelanggan di pemberhentian selanjutnya.

angkor-4 angkor-2 angkor-1angkor-3

Di Angkor Wat kami tertarik untuk menyewa pemandu. Sayangnya, hampir semua pemandu adalah laki-laki. Kenapa ya? Dia menawarkan harga $15 untuk seluruh Angkor Wat. Kami nego $10 tidak bisa, akhirnya dapat harga $12. Namun kami kecewa karena dia tidak sampai ke seluruh Angkor Wat. Jadi saranku, jangan sewa pemandu. Cukup beli bukunya yang dijual di sana seharga $6 (buka harga $27-$20 tapi harus ditawar terus) dan sudah dapat info dan gambar-gambar yang bagus.

Kami makan sore di restoran disekitar Angkor. Kami ingin kembali makan di tempat makan pagi tapi menurut Lay tidak bisa karena rutenya berbeda. Akhirnya ke tempat makan lain yang lebih mahal. Kami pesan ikan fillet satu porsi dengan 2 nasi dan telor ceplok bersama 2 minuman dingin. Total harga $10. Jadi $5/orang. Lumayan.

Selesai makan, kami kembali ke guesthouse. Sebelum istirahat, kami foto bersama Bong Lay.

angkor-11

Besoknya kami kembali ke Phnom Penh. Kami pesan tuktuk yang sama dengan harga $8 ke bandara, uang dibayarkan ke resepsionis. Harga tiket Bayon Cambodia Airlines $27/orang untuk sekali jalan. Harganya jauh lebih murah daripada Angkor Air tapi Bayon Air hanya ada di hari-hari tertentu makanya kami tidak bisa naik pesawat pulang pergi. Pesawatnya kecil seperti Wings Air. Bedanya kalo Wings air dengan harga yang sama tidak dapat snack. Di Bayon kami mendapat snack (kue dan air mineral kecil) dan tidak ada airport tax. Mungkin include dalam tiket tapi harusnya Indonesia juga bisa melakukan hal yang sama untuk seluruh bandaranya.

Puas sekali dengan kunjungan kali ini. Benar-benar berkesan!

angkor-13

Cheers

Jakarta, 9 Februari 2015

Perjalanan menuju rumah

Keseluruhan acara Gender Tech di Casekow, Berlin berjalan dengan lancar. Tantangan dari panitia cukup berat karena mereka berusaha mengakomodasi berbagai budaya dan kebiasaan. Salah satunya adalah kebiasaan makanku. Bumbu masakan ala Casekow, Jerman jelas tidak cocok untuk lidah yang terbiasa dengan masakan Jawa Timur+Betawi+Padang. Bahkan potongan daging babi yang disajikan sendiri sangat tidak menggugah selera. Meskipun aku tidak makan babi tapi potongan tipis daging babi di Indonesia rasanya tidak akan disebut daging babi. Setahuku daging di Indonesia diberikan dalam potongan agak tebal bahkan terkadang “vulgar” dalam arti daging babi atau daging kambing masih digantung atau disajikan lengkap dengan 4 kaki mereka bersama lidah, telinga, termasuk otak mereka. That’s meat!

Salah seorang panitia berkebangsaan Spanyol mengatakan bahwa TacTech pernah menyelenggarakan pelatihan dengan peserta sebagian besar dari negara Afrika. Sebagian panitia dan peserta adalah vegetarian, jadi mereka  berusaha menyajikan baik masakan vegan dan daging. Namun daging ayam dan ikan yang disediakan bagi orang Afrika tidak dianggap sebagai daging. Daging dalam kebiasaan mereka adalah daging hewan besar seperti kerbau, sapi, minimal babi. Alhasil mereka kalap ketika melihat sosis daging sapi ketika dibawa jalan-jalan keluar camp. Menantang juga ya!!

Aku belajar tentang metode baru dari pelatihan ini. Tidak hanya bertemu orang-orang baru, aku juga merasakan semangat dan energi mereka yang luar biasa dalam melakukan pekerjaan masing-masing. Buatku, dua hal ini sangat penting. Sayangnya hubunganku dengan rekan sekamar, Jovana, kurang akrab. Kami berdua punya waktu tidur yang berbeda. Setiap hari GenderTech memiliki sesi malam. Aku hanya pernah satu kali mengikuti sesi malam secara penuh yaitu pada saat menonton film Citizen Four. Selebihnya habis makan malam aku beberes untuk tidur. Bekerja pun tidak bisa karena internet akan super lambat. Koneksi internet akan jauh lebih cepat di jam 2-6 pagi.

Nah, dari jam 9 atau 10 malam aku tidur sementara Jovana masih di luar bekerja atau mengikuti sesi. Jam 2 atau 3 pagi aku bangun atau terbangun ketika Jovana pulang untuk tidur. Aku langsung bekerja sambil menunggu waktu sholat subuh. Berhubung di luar dingin, meskipun ada pemanas, aku bekerja di kamar. Meskipun lampu padam, aku merasa kadang Jovana terbangun juga mendengar suara ketika keyboard atau suara langkahku bolak-balik kamar mandi. Untuk menebus rasa bersalah, aku memberikannya jilbab bordir berwarna ungu. Semoga dia bisa memakainya atau menggunakannya sebagai hiasan.

Jovana tidak punya sesuatu untuk diberikan. Aku minta dia mengirimkan postcard dari Macedonia, negaranya yang mungil di Balkan. Dia menyanggupi. Aku memberikannya kartu nama. Ah senangnya! Aku tidak sabar mendapat kartu nama dari Macedonia.

Akhirnya tiba juga waktu untuk berpisah dan kembali ke negara masing-masing. Banyak peserta yang merindukan matahari dan tempat tidur mereka yang tentunya lebih nyaman dari Wartin…hehehe. Pesawat AirBerlin telat 30 menit berangkat dan penumpang di sebelahku gelisah karena jadwal connecting flightnya sangat mepet. Alhasil pengaturan yang bisa dilakukan adalah memindahkan tempat duduk dia ke bagian depan ketika akan mendarat di Abu Dhabi agar dia bisa segera masuk ke pesawat selanjutnya. Ada baiknya juga jadwal pesawatku ke Jakarta beda 6 jam, aku tinggal menunggu 5 jam di Abu Dhabi. Meskipun aku tetap berasa lamaaaaaa nunggunya.

Di pesawat aku cuma tidur sebentar. Setelah bangun lalu makan, aku sulit tidur. Di dalam pesawat Etihad, aku juga sulit tidur. OMG. Please let me rest, I am tired.

Di Abu Dhabi banyak penumpangnya orang Indonesia dan banyak kursi yang tidak terisi.

Aku begitu bersemangat tiba di Jakarta, Indonesia. Oke, perjalanan masih jauh. Dari Jakarta, pesawatku selanjutnya ke Surabaya dan dari Surabaya aku harus naik travel ke Malang. Di Jakarta aku masih harus menunggu pesawat sore. Di Surabaya, aku juga harus menunggu travel ke Malang karena hampir semua travel ke Malang ngetem di terminal domestik yang berbeda. Gemesss aja pingin sampai ke rumah.

Begitu sampai di depan gang III, wuih legaaa sekali. Gang kecil ini yang aku tunggu. Gang kecil ini yang aku rindu. Gang kecil ini yang menjadi penutup perjalananku kembali ke rumah. Danke.

Malang, 25 Desember 2014

Egidia

Bulan Desember 2013, aku berada di Jakarta dan mampir ke rumah adik di Gunung Putri, Bogor. Dalam perjalanan, iparku memberitahu bahwa bulan sebelumnya Egidia meninggal. Aku terkejut. Egidia, kawan SMA-ku?

Aku mencari informasi di Google dan sebagai figur publik, kematiannya tentu diberitakan. Dia mengalami Arteriovenous Malformation (AVM) atau secara sederhana mengalami varises di bagian otak. Aku mencoba mengorek kenanganku dengan almarhumah.

Egidia bukan teman dekat. Aku kenal dia karena kami bersekolah di SMA 39. Aku sering melihat atau berpapasan dengannya. Dia salah satu pemenang model Aneka Yes, kalau tidak salah. Di zamanku SMA, pemilihan model di beberapa majalah remaja menjadi tren dan dianggap batu loncatan untuk berkarir di dunia infotainment baik sebagai aktor atau presenter.

Remaja yang terpilih sebagai model di majalah dianggap mewakili definisi kecantikan di masanya. Egidia salah satu sosok yang pas. Perawakannya tinggi, proporsional dengan berat badan, kulitnya putih mulus, rambutnya hitam lurus panjang melewati bahu dan sangat supel. Dia menjadi salah satu perempuan yang secara fisik dianggap ideal. SMA 39 juga sekolah yang dianggap punya disiplin bagus dan menerapkan nilai yang cukup tinggi untuk bisa terdaftar menjadi siswanya, jadi kurasa dia cukup cerdas.

Dibanding Egidia, apalah diriku. Cowok-cowok pun harus berkaca dulu sebelum mendekati Egidia. Status sebagai model di majalah remaja dianggap prestasi. Apalagi ketika bisa menjadi presenter atau pemain sinetron. Aku jarang menonton sinetron yang dia mainkan tapi pernah melihat dia menjadi presenter di sebuah acara televisi. Wajahnya tentu nyaman dilihat. Aku kadang berangan, “andaikan aku berada di posisinya, apa yang akan aku lakukan?”

Nama Egidia populer di sekolah. Namaku? Emm, ya hanya teman-temanku yang tahu. Semoga mereka juga masih mengingatku, hehehe. It’s the art of being a mediocre student. Breath it!!

Aku tidak memiliki kedekatan emosional dengan Egidia. I just knew her because we were in the same school and I think we’re born in the same year. Aku merasa usianya cukup pendek. Dia memiliki keluarga dan mungkin berencana melakukan berbagai kegiatan. Namun usia ditentukan oleh Yang Maha Kuasa. It could happen to me.

Aku turut berduka cita atas kepergian Egidia. Semoga karya-karyanya tetap dikenang.

Malang, 9 Maret 2014

A Journey From There to Here

Dear best friend,

Have you read my writing here? https://forevernikn.wordpress.com/2013/07/13/catatan-perjalanan-ke-bandung-tahun-2004/

I found this writing in my MINDPIECE folder in my hardisk. I opened it, read it and smiled at myself; smiled at the thought of going alone to Bandung to get some peace of mind or to get rid my bad luck or my bad temper. I don’t know if it’s working but I felt very tired that day; very consumed of my own thought and spent the day just talking to myself about the whole changes happened in my life.

You were not married yet, right? We were the restless souls. I think we are still restless souls but in a different situation and level. Isn’t it funny?

I remember we were talking at food stall near your housing complex, near Lebak Bulus bus station. Your treat. It was great just to be able to remember it; remember the moment that means a lot to me.

It was the moment of truth. I just got back from Paiton, jobless, my parents were dissapointed, I didn’t go back home, and I was confused of what my life would be. Not only that, I was full of anger, self-hatred, near break-down, don’t know which NEXT button I should press nor I can find any NEXT button. I felt like I need to break or punch something. Those emotions just built up in my chest. I tried to find ways to release them one at a time. I was very exhausted and pointless.

I was dissapointed that you couldn’t come with me to Bandung. Your present would mean a lot for me. I chose to going anyway because I badly need to physically run myself out, before I burned out. It was very hard to lived with myself. Moreover, faced my parents. They have different way of seeing sexual harrassment and I can’t argue them or stand up for myself.

It was tough time for me. I don’t know if you realized that at that time.

After one month at Ira’s house, my mother asked me to come home. I was little bit calm down, maybe because I was emotionally tired. It was tough to go back home but something just tell me that I need to face it rather than hide and running away from it. I prayed things will get better. It was not easy but as I know it, it is a history now. I have made it. For all the challenges, emotionally drained tears, anger, and emptiness, I made it.

I am so grateful, I am so proud of myself and I want to thanked you for sitting with me for the whole episodes of those crucial moments.

It was great to have someone to watch my back. You don’t need to be there all the time. Just be there and be reachable, that’s enough. I have came long way to get here. I was afraid that I couldn’t make it. I was very afraid that it might end up worse than the one I have today. It was an amazing journey to see from there to here. Wow!!

Malang, 14 Juli 2013

My blog in review

The WordPress.com stats helper monkeys prepared a 2011 annual report for this blog.

Here’s an excerpt:

The concert hall at the Syndey Opera House holds 2,700 people. This blog was viewed about 24,000 times in 2011. If it were a concert at Sydney Opera House, it would take about 9 sold-out performances for that many people to see it.

Click here to see the complete report.

Tentu saja menggembirakan membaca review yang dikirimkan oleh wordpress mengenai perkembangan blog saya. Awal sekali saya membuat blog di geocities, saya hanya ingin berlatih html kembali karena tidak menggunakannya sekian lama. Saya juga ingin membuat jarak dengan pengalaman saya yang semakin tidak tertanggungkan. Beberapa kali pindah layanan sampai akhirnya sampai di wordpress.

Statistik pengunjung yang tinggi bukan tujuan saya. Bahkan karena awalnya saya ingin bercurah batin, saya agak khawatir jika tulisan saya dibaca orang. Seingat saya ada beberapa tulisan sejak 2004 yang belum sempat atau waktu itu saya putuskan untuk tidak dipublikasikan.

Tujuan pertama adalah self-healing, menyembuhkan diri sendiri. Memangnya saya sakit? Ya, saya rasa banyak orang sebenarnya sakit jiwa dengan tingkat dan gejala yang bervariasi. Jika banyak pengunjung yang kemudian terbantu dengan pengalaman yang saya bagi di blog ini, itu merupakan suatu kebahagiaan dan kehormatan.

Saya akan terus menulis, menulis dalam bahasa Indonesia yang saya pahami dan menganggapnya sebagai usaha untuk memulai perubahan dari diri sendiri.

Malang, 1 Januari 2012