Memperpanjang nyawa kucing

Seekor kucing mati lagi dengan cara yang sama dengan dua kucing sebelumnya yaitu terlindas mobil. Aku sampai pada kesimpulan bahwa aku tidak bisa menjadi adopter ideal. Menyekap anak kucing yang sangat aktif dan punya rasa ingin tahu yang tinggi sama dengan menyekap aku juga di dalam rumah. Aku sendiri pada dasarnya tidak suka dengan bau kucing apalagi kalau tidak ada sirkulasi udara yang baik. Membiarkan anak kucing di jalan juga bukan cara yang bijak meskipun sedang tidak ramai. The giant wheel of vehicles don’t discriminate. Everything small will be crushed.

Saat ini sisa satu ekor anak kucing yang paling kecil, jarang keluar dari pagar rumah dan cenderung introvert. Ikatan emosi dengan satu anak ini lebih besar dari yang lain.

Minggu lalu, aku menemukan dua ekor anak kucing baru lahir. Aku mencoba memberi susu formula anak kucing tetapi hanya satu yang mau minum. Tidak ada indukan di sekitar tempat itu. Berdasarkan pengalaman, aku tidak bisa mengadopsi kedua anak itu. Salah satu kucing sepertinya sudah sekarat. Aku juga merasa tidak mampu merawat karena aku pernah mengadopsi 4 dan hanya sisa 1 yang masih hidup. Jadi kalaupun aku adopsi kucing ini, ada kemungkinan masa hidupnya hanya bertambah beberapa bulan sebelum mati seperti anak kucing yang pernah aku rawat.

Mudik kali ini, aku meninggalkan kucing hitam kecil itu ke keluarga yang lain. Anak bungsu tidak menyukai kucing dan ibunya merasa khawatir dengan penyakit di mata kucing. Semoga dia masih hidup pada saat aku kembali.

Pandaan, 9 Juni 2018

Advertisements

Sajadah yang dikencingi kucing

Aku bingung memberi nama pada kedua kucingku. Ada rasa khawatir bahwa ketika aku memberi mereka nama maka aku mulai “memanusiakan” mereka dan mulai ada ikatan emosi yang semakin kuat. Pada akhirnya aku menamai mereka Klenting Kuning dan Klenting Hitam sesuai dengan warna bulu mereka. Jadi nama mereka “tidak terlalu manusia”.

Keduanya kadang menemukan kesempatan untuk masuk ke kamar tidur lalu bermain dengan sajadah. Mereka senang sekali bermain-main dengan sajadah, terutama rumbai yang ada di ujung sajadah. Mungkin ada sensasi berbeda di mulut dan kulit mereka. Bulu mereka menempel di sajadah sehingga akhirnya aku bawa sajadah itu keluar supaya mereka gunakan sebagai alas tidur. Tidak lama, sajadah itupun dikencingi oleh salah satu atau keduanya.

Aku baru mengetahui ini belakangan. Lalu aku merendam sajadah tadi. Sejenak aku tertegun. Warna air rendaman sangat keruh. Seingatku, belum pernah sajadah ini aku cuci. Begitu juga dengan sajadah yang lain. Jika tidak dikencingi kucing, sajadah ini mungkin selamanya tidak akan dicuci. Biyuh, begitu rupanya.

Kadang sesuatu yang dirusak kucing membuat aku kesal. Padahal kalau tidak rusak, mungkin aku tidak tahu kalau aku punya barang tersebut. Ya, aku jadi belajar. Kedua kucing ini memang hebat. Dia menginspirasiku untuk tertarik membaca tentang beberapa rescuer dan penampungan hewan yang ada di beberapa tempat. Tanpa mereka, aku mungkin tidak akan menghargai apa yang sudah aku miliki.

Bogor, 25 Mei 2018

 

Hijau di Sarongge

Dulu saya pikir Sarongge itu nama suatu tempat di Nusa Tenggara. Rupanya tempat itu berada di Jawa Barat. Ketika saya baru pindah ke Bogor, saya pun diajak suami untuk mengunjungi Kampung Sarongge. Suami saya nekat naik motor selama lebih dari 3 jam pada akhir pekan ke sana.

Waktu itu saya tidak siap dengan pakaian dingin meskipun sudah bawa jaket. Kami berdua menginap satu malam di saung Sarongge. Pada saat yang sama kondisi badan kurang sehat. Alhasil alergi dingin kumat, saya tidak bisa tidur semalaman karena terus bersin dan ingus terus mengalir. Saya hanya bawa obat diare, tidak bawa anti histamin. Saya tidak bisa benar-benar menikmati keindahan alam Kampung Sarongge.

Setahun kemudian, saya mendapat tugas melakukan penelitian mini. Berhubung tema saya tentang agrowisata, saya mencari lokasi agrowisata yang dikelola masyarakat dan sudah saya kenal. Pilihan jatuh ke Kampung Sarongge di Desa Ciputri, Cianjur. Jauh memang tapi saya menikmatinya karena sekaligus berlibur.

Saya sempat melakukan wawancara ke beberapa pengelola Saung Sarongge dan belajar tentang sejarah mereka. Mungkin saya sempat 5 kali bolak-balik ke sana. Saya juga sempat menginap 1 malam di rumah penduduk dan hawanya lebih hangat daripada menginap di saung. Untuk menghindari kemacetan, saya biasanya ke Saung Sarongge pada hari-hari kerja. Perjalanan dari Bogor ke Saung Sarongge sekitar 2,5 jam. Biasanya perjalanan pulang yang makan waktu lebih lama. Kalau macet bisa sampai 5-6 jam.

Selain kemacetan, hambatan lain perjalanan ke sana adalah kondisi jalan. Pada waktu saya berkunjung, sudah ada perbaikan jalan sehingga saat ini lebih baik. Biasanya saya naik bus putih Marita dari pintu tol Ciawi menuju Cianjur kemudian turun di SPBU dekat pintu masuk Desa Ciputri. Kemudian naik ojek dengan tarif antara 15-20 ribu sekali jalan. Dalam perjalanan menuju saung, pengunjung akan melewati Pusat Pengembangan Agribisnis Holtikultura atau Agribusiness Development Center (ADC) yang dikelola IPB di Desa Pasir Sarongge. Dari informasi yang saya dengar, ADC tersebut tidak banyak berkembang dan banyak fasilitas yang rusak.

Pengunjung juga akan melewati Sarongge Valley, agrowisata yang dikelola oleh perusahaan perkebunan. Fasilitas penginapan di sana lebih modern, sementara di saung lebih sederhana dan alami. Terus ke atas sampai menemukan saung yang luas.

Kesan saya sejauh ini sangat positif. Saung ini sangat menyenangkan dan yang paling penting dikelola oleh masyarakat dengan pendampingan dari sebuah LSM yang berada di Jakarta. Saung Sarongge menawarkan paket trekking ke hutan (kawasan konservasi) di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, belajar pertanian organik, mengunjungi peternakan kambing yang ada di wilayah saung, dan belajar membuat sabun sereh. Harganya sangat terjangkau, terutama jika dalam rombongan besar bisa jadi lebih murah.

Pengunjung bisa memilih untuk menginap atau hanya berkunjung seharian. Lebih baik untuk memilih waktu di luar musim hujan. Paket wisata pendidikan lingkungan juga tersedia bagi sekolah dan saung sudah memiliki beberapa pelanggan. Agrowisata Sarongge ini dikelola oleh Koperasi Sugih Makmur dan sebagian warga menyediakan rumahnya sebagai homestay.

Agrowisata Sarongge memberi alternatif penghasilan bagi warga di Kampung Sarongge. Kebanyakan pengelola adalah anak muda kampung yang sebagian telah mendapatkan pelatihan sehingga lebih berani berkomunikasi dan terbuka untuk mencoba berbagai hal baru yang dapat mendukung pemasaran agrowisata. Keterbukaan warga kampung terhadap dunia luar diharapkan membuka mata masyarakat perkotaan (non petani) untuk belajar tentang pertanian dan menghargai kualitas bahan makanan yang biasanya sampai di pasar dengan bersih dan siap diolah.

Ada banyak hal yang dapat dipelajari dari berkunjung ke agrowisata. Sebagian masyarakat kota merasa jenuh dengan taman bermain sehingga keberadaan agrowisata semakin populer. Saat ini sudah ada beberapa agrowisata yang dikelola oleh swasta yang kadang lokasinya lebih mudah diakses dari kota. Kekhasan dari agrowisata yang dikelola oleh masyarakat adalah keuntungan dirasakan langsung oleh masyarakat dan mendorong desa untuk terlibat dalam pengembangan wisata melalui BUMDes.

Kenangan yang berkesan adalah ngobrol dengan pengelola agrowisata Saung Sarongge dan mendengar cerita mereka. Saya senang mendengar cerita dan merasakan pasang surut yang dialami setiap orang. Jika perlu tempat beristirahat dan melepas pandangan secara bebas, saya tidak ragu merekomendasikan Saung Sarongge. Bagi yang ingin berkunjung silakan menghubungi Ibu Wiwik sebagai pengelola di 087721454716.

Bogor, 28 Februari 2018

-Anak-

Anak punya berbagai makna. Misalnya makna sebagai manusia yang belum lahir atau yang baru lahir, atau orang muda antara bayi dan remaja.  Bisa juga diartikan sebagai  keturunan dari orang tua atau seseorang. Bisa juga berarti seseorang yang sangat dipengaruhi oleh orang lain atau lingkungan tertentu. Makna lain adalah sebuah produk atau hasil dari sebuah usaha (https://www.merriam-webster.com/dictionary/child).

Dari makna tersebut, anak bisa muncul dalam berbagai bentuk. Jika ditilik lebih jauh dari makna harfiah, maka secara garis besar, anak merupakan keturunan dari sebuah upaya prokreasi jiwa dan raga. Hasilnya bisa beragam. Pekerjaan yang seseorang lakukan untuk keberlangsungan hidup keluarga atau dilakukan demi kepuasan jiwa merupakan anak dari orang tersebut. Karya seorang seniman atau akademisi adalah anak yang akan ditimang dan dibanggakan.

Dengan pemahaman yang luas seperti di atas, posisi kerja dan keluarga tidak perlu diposisikan berlawanan. Sistem ekonomi yang banyak berlaku di berbagai negara modern melihat keluarga dan pekerjaan profesional sebagai dua hal yang tidak harmonis. Hal ini diperkuat lagi oleh pemuka agama yang sering memberi nasihat tentang peran gender dalam keluarga, menekankan tanggung jawab istri sebagai ibu yang merawat generasi depan lebih penting daripada bekerja di ruang publik. Pemuka ekonomi modern dan cenderung kapitalistik senang sekali dengan pemuka agama yang berpikir seperti ini. Hasilnya adalah penghasilan perempuan di banyak profesi lebih kecil dibandingkan laki-laki. Sebagian perempuan yang menikah juga meninggalkan pekerjaan di ruang publik untuk bekerja di ruang domestik, dengan berbagai alasan yang diciptakan oleh sistem. Pilihan bagi perempuan sudah dikondisikan. Cara pandang perempuan juga jauh lebih terkondisikan. Alhasil, lengkap sudah internalisasi nilai untuk mendukung suatu sistem.

Jika dalam proses perjalanan hidup sebagai dewasa seseorang tidak pernah bertanya secara kritis tentang apa dan mengapa dia melakukan atau meyakini sesuatu hal, dapat dipastikan seseorang itu menjalani hidup dengan buta. Bertanya adalah awal dari upaya mereproduksi anak. “Kenapa kamu punya anak?” “Karena saya  sudah menikah dan sudah berhubungan seks dengan pasangan.” “Hmmm.”

Membesarkan anak dari suatu konsep sampai menjadi wujud secara biologis dianggap sebagai hukum alam. Bagi yang percaya dengan kekuatan gaib (Tuhan), hal itu menjadi sesuatu yang cukup diterima. Bagi sebagian lain, “proses kejadian” tersebut perlu dipelajari dan belum semuanya dapat dijelaskan oleh ilmu pengetahuan.

Anak dapat dibentuk sampai pada suatu tahap. Kemudian dia akan menjadi milik dirinya sendiri dan milik masyarakat. Kesenangan mempunyai anak tidak sebatas pada kelucuan yang muncul dari keluguan dan sebagai sebuah ide memiliki jangkauan operasional yang luas. Namun, kesenangan lainnya muncul dari kekuasaan “membentuk” pemikiran dan sikap seorang makhluk hidup sehingga mendapatkan “pengikut”. Ada yang memperhalusnya dengan istilah “regenerasi”.

Anak adalah sosok yang kritis. Semua yang ada di sekelilingnya adalah keajaiban. Tanpa dia sadari, dirinya sendiri adalah keajaiban. Keajaiban tersebut perlahan memudar dan menjadi biasa alias “terima sajalah”.

10 Februari 2018

Belajar memaknai perbedaan dan kekhususan

Penyandang disabilitas terlahir seperti itu adanya. Mereka tidak bisa memilih terlahir dengan kondisi khusus. Perbedaan dan kekhususan membuat penyandang disabilitas mendapat perlakuan diskriminatif yang dapat dihindari. Kondisi tersebut dianggap berbeda dengan LGBTIQ (Lesbian, Gay, Bisexual, Transgender, Intersex, Queer) karena orientasi seksual dianggap sebagai sebuah pilihan dan gaya hidup daripada sesuatu yang terberi.

Saya meyakini bahwa orientasi seksual pada sebagian besar orang bukan pilihan melainkan terberi sejak lahir. Seringkali orientasi seksual yang berbeda disadari pada tahap lanjut karena pembicaraan tentang seksualitas ditabukan dalam masyarakat, sehingga individu tidak tahu memaknai pengalaman dan penghayatan seksualitasnya yang berbeda. Pendapat bahwa orientasi seksual adalah terberi atau takdir ikut dikritik karena ada yang beranggapan bahwa takdir pun dapat diubah melalui kehendak dan ikhtiar. Penyandang disabilitas dapat memperbaiki kondisi fisiknya melalui operasi atau menggunakan alat bantu. Paling tidak, begitulah anggapan sebagian muslim atau orang beragama. Permasalahan muncul ketika satu takdir lebih diterima masyarakat dan dianggap sebagai kebenaran daripada takdir dalam bentuk lain. Bahkan dalam beberapa budaya, takdir dihubungkan sebagai karma (pembalasan) dari perbuatan individu sebelumnya. Kemampuan menerima ketidaksempurnaan diri sendiri dan bersyukur dengan apa yang telah dimiliki merupakan dua hal yang berjalan beriringan tanpa perlu disertai dengan stigma.

Jika orientasi seksual dianggap sebagai pilihan, maka selama pilihan tersebut tidak merugikan orang atau kelompok lain, hak individu atau kelompok dengan pilihan berbeda harus dihargai. Contohnya adalah agama atau kepercayaan. Setiap individu memiliki hak untuk memilih kepercayaan atau agama yang diyakini sebagai kebenaran. Seseorang tidak boleh didiskriminasi berdasarkan kondisi kelahiran (disabilitas) maupun pilihan yang tidak merugikan orang lain.

Satu hal yang juga penting adalah disabilitas tidak disebabkan oleh kondisi fisik atau psikis individu. Seseorang dianggap disabel karena lingkungan sosialnya tidak memberikan hak atau akses yang diperlukan untuk menjadi seseorang yang mampu (abled-person). Artinya disabilitas seseorang ditentukan oleh budaya dan kebijakan. Seseorang dengan satu kaki yang hidup di negara yang memenuhi haknya sebagai warga negara di ruang publik tidak dianggap sebagai disabel. Hal ini karena di negara tersebut, fasilitas publik diberikan kepada semua penduduk baik yang tidak memiliki kaki, berkaki satu, dan dua.

Orientasi seksual sering dikatakan cair, artinya bisa berubah. Argumentasi ini dapat menjadi bumerang bagi kelompok LGBTIQ karena menunjukkan bahwa orientasi murni pilihan dan gaya hidup semata. Bagi saya, cair di sini merujuk pada spektrum seksualitas. Individu dapat berada pada spektrum ekstrem yaitu heteroseksual 100% atau homoseksual 100%, meskipun menurut saya seksualitas tidak dapat diukur kuantitasnya. Di antara dua kutub tersebut ada spektrum yang luas, seseorang mungkin punya kecenderungan homoseksual kecil dan heteroseksual yang lebih dominan atau sebaliknya. Kecenderungan atau orientasi ini dapat berubah atau bergerak sesuai dengan penerimaan diri, pengalaman seksual, keterbukaan lingkungan, dll.

Apakah homoseksualitas dapat disembuhkan?
Homoseksualitas bukan penyakit atau gangguan sehingga tidak perlu disembuhkan.

Apakah dapat menular?
Tidak menular karena bukan penyakit menular. Kenapa banyak homoseksual terkena AIDS? Homoseksual terbagi dalam beberapa kategori sehingga banyak yang menyebutnya LGBTIQ. Saat ini ada sebutan lain yaitu SOGIE (Sexual Orientation, Gender Identity, and Expression). AIDS awalnya banyak menyebar di kelompok gay dan transgender, artinya tidak tersebar ke seluruh spektrum homoseksual seperti lesbian.

Sebelum kesadaran hak seksualitas muncul, tidak banyak yang membicarakan tentang hak-hak dan kesehatan seksual. Terutama bagi kelompok marjinal dan dianggap menyimpang, stigma tersebut semakin kuat. Alhasil sebagian besar dari SOGIE rentan terhadap penyakit menular, baik Hepatitis C maupun AIDS yang berakibat fatal. Kerentanan tersebut akibat minim pengetahuan, akses informasi sulit, stigma, dan prasangka. Semakin hari advokasi kesehatan ke kelompok SOGIE semakin baik, sehingga yang saat ini rentan adalah ibu rumah tangga dari suami yang pernah atau sering berganti pasangan seksual.

Bagaimana dengan kasus pemerkosaan yang dilakukan homoseksual? Bukankah banyak dari mereka adalah pedofil?
Pemerkosaan, baik yang dilakukan heteroseksual maupun homoseksual, adalah salah satu bentuk kekerasan seksual. Anak perempuan dan anak laki-laki rentan menjadi korban kekerasan seksual dari orang terdekat atau orang asing. Dalam kekerasan, apapun bentuknya, ada pihak yang secara sosial dianggap lebih berkuasa dan memanfaatkannya untuk kepentingan sendiri yang merugikan dan menindas hak orang lain. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah memberikan pendidikan seksual sesuai dengan tahapan usia fisik dan psikis. Biasanya akan ada pertanyaan lanjutan, apakah tidak berbahaya jika anak-anak diberikan pendidikan seks?

Jawabannya tidak lain adalah, apakah Anda memahami apa yang dimaksud dengan pendidikan seks?
Informasi tentang pendidikan seks akan dibahas di artikel yang berbeda. Anda juga bisa mencari informasi dari sumber yang terpercaya di internet. Dalam suatu hubungan, artinya tidak hanya hubungan seks, memerlukan adanya consent atau persetujuan. Makna consent sebenarnya lebih dari sekedar persetujuan tetapi saya belum menemukan istilah yang pas. Jika seseorang ingin melakukan penelitian, biasanya ada informed consent yang disampaikan di awal sehingga responden, narasumber, dan peneliti memahami hak dan kewajiban masing-masing. Hubungan seksual tanpa consent adalah pemerkosaan, termasuk dengan pasangan sendiri, baik pacar atau istri/suami. Secara langsung atau tidak langsung, consent merupakan aspek utama dari pendidikan seksual. Melalui consent, seseorang bisa belajar tentang relasi kekuasaan dan peka dengan tanda-tanda dini kekerasan atau manipulasi dalam suatu hubungan.

Ada yang mengatakan bahwa LGBTIQ ini pilihan dan menular karena tidak mungkin mereka bereproduksi. Satu-satunya jalan pertumbuhan LGBTIQ adalah melalui penyebaran ideologi.
Semakin banyaknya individu yang menyatakan diri sebagai LGBTIQ merupakan bukti bahwa hal tersebut terberi daripada pilihan. Kesadaran tentang orientasi seksual sering muncul belakangan ketika seseorang semakin terpapar dengan pengetahuan dan pengalaman sehingga mampu menemukan “penamaan dan pemaknaan” terhadap kondisinya. LGBTIQ dapat bereproduksi dan membangun keluarga karena orientasi seksual tidak otomatis membatasi anatomi tubuh dan kemampuan reproduksi. Saat ini reproduksi juga dapat dilakukan dengan bantuan teknologi dan donor. Pemahaman tentang “anak” juga tidak sebatas pada anak kandung/biologis tetapi juga anak-anak lain yang ada di sekitar kita.

BTW, saya masih belum bisa menerima LGBTIQ.
Tidak ada yang bisa memaksa kamu menerima LGBTIQ atau kelompok minoritas lain, tapi sebagai warga negara wajib menghormati hak warga lainnya. Di dalam hakmu, ada hak orang lain. Artinya, selama seseorang tidak melakukan kekerasan atau pelanggaran hukum, maka dia memiliki hak yang sama dengan setiap warga negara dan orang lain harus menghargainya. Jika orang tersebut melanggar hukum maka kasusnya harus ditangani sesuai prosedur hukum yang berlaku. Orang tersebut juga berhak mendapat pembelaan. Penerimaan terhadap LGBTIQ juga berlapis, mulai dari yang paling ringan seperti tidak menerima LGBTIQ tetapi menghormati hak mereka sampai yang menerima seluruh aspek dari LGBTIQ. Tidak ada paksaan untuk menerima argumen tentang LGBTIQ atau menerima perbedaan. Perbedaan, kekhususan, dan keumuman merupakan bagian dari keniscayaan suatu proses menjadi manusia yang seutuhnya.

Desember 2017

Standing tree

Hai Maria,

Sampai sekarang aku masih memakai celana legging merek standing tree. Celana ini kualitas bagus banget. Aku baru tahu setelah 4 tahun memakainya. Karet di pinggang fleksibel dan kekuatan masih bagus. Karetnya tidak keriting. Keren bnget.

Kapan ya kita membelinya? 2013 atau 2014? Kita beli di Stockwell yang ada di ITC Surabaya. Lumayan jauh dari rumahmu di Nginden. Terakhir aku ke ITC Surabaya tahun 2016, dan Stockwell sudah tutup. Sayang ya…

Waktu itu harga jual celana 55 ribu kalau tidak salah. Kamu beli warna kuning atau hijau menyala. Aku beli warna abu-abu. Meskipun sekarang ukuran pingganggu XL, tapi celana standing tree ukuran M masih cukup, Mar. Celana ini stand up to its name.

Menurut Ajeng, ini celana yoga, Mar. Dia pingin punya juga tapi ya itulah, Stockwell sudah tutup. Walaupun masih ada, stok celana ini mungkin sudah tergantikan dengan merek lain.

Kangen belanja lagi denganmu di Surabaya.

Bogor, 11 Desember 2017

Suami: Majikan dalam Rumah Tangga

Teman perempuan: bagaimana laptop mbak kemarin?
Aku: sudah bagus setelah diperbaiki.
TP: lalu dijual mbak?
Aku: dipakai suamiku. Dia mau beli 1,5 juta.
TP: hah, masak sama suami sendiri dijual? Enak banget. Misalnya kita dibelikan laptop sama suami lalu ternyata suami suka dan mau pakai laptop itu, kita bisa minta dia bayar harga laptop itu, bisa untung dua kali kita.

——

Percakapan pendek di atas mendorong saya untuk menulis tentang relasi suami-istri. Ayo dimulai dari makna kata.

Suami sering dianggap sebagai kepala rumah tangga. Posisi penting ini berhubungan dengan makna kata yang berasal dari Bahasa Hindi yaitu majikan, pemilik, pangeran. Dalam Bahasa Sanskrit, swami berarti pertapa atau guru spiritual (https://en.m.wikipedia.org/wiki/Swami). Dalam Bahasa Khmer, Bengali, Odiya, dan Indonesia, istilah ini digunakan untuk menyebut peran laki-laki dalam sebuah perkawinan.

Makna dari suami mendekati makna akar kata sehingga tidak heran jika suami dianggap memiliki otoritas dan tanggung jawab lebih tinggi dan lebih besar dari istri. Istri berasal dari kata stri yang dalam Bahasa Urdu berarti perempuan, pasangan hidup laki-laki, feminin, betina. Istilah dan makna yang sama digunakan di berbagai bahasa seperti Gujarati, Melayu, Indonesia, Khmer, dan Telugu (https://en.m.wiktionary.org/wiki/स्त्री).

Dari dua penjelasan di atas dapat dilihat perbedaan makna dan implikasinya. Satu kata merujuk pada status sosial dan kekuasaan yang dimiliki, satu istilah lagi fokus terhadap atribut karakter gender. Makna dari suatu kata atau istilah membawa implikasi terhadap relasi gender, termasuk harapan dari suami ke istri dan sebaliknya. Tidak heran jika suami berperilaku layaknya majikan karena seperti itulah makna dari suami. Tidak heran juga jika sebagian aktivis lebih memilih menggunakan istilah “pasangan” daripada suami. Lagipula istilah “pasangan” lebih netral gender.

Kembali ke awal, suami dianggap memiliki tanggung jawab menafkahi istri. Jika anda setuju dengan pandangan ini, maka peran istri mengelola urusan domestik sangat penting dan harus dihargai. Salah satunya dengan menanggung biaya hidup istri sebagai pengganti kerja domestik dan memberi bantuan, dalam bentuk pekerja rumah tangga, ketika diperlukan dan sesuai dengan kesepakatan. Menjadi aneh jika biaya hidup istri dianggap sebagai hadiah ketika dia bekerja keras membereskan perkara domestik dan publik yang seringkali memakan waktu lama dan membosankan.

Sejak awal, saya merasa pekerjaan domestik adalah pekerjaan bersama dan saya sampaikan hal ini ke suami. Namun tidak semudah itu mengubah cara berpikir dan cara berperilaku. Sebagai kompromi karena suami mau tinggal di Bogor yang jauh dari tempatnya bekerja, saya mengerjakan lebih banyak kerja domestik. Saya tetap ingin ada kontribusi misalnya dia membayar uang belanja lebih besar 200 ribu setiap bulan. Dia juga kadang mentraktir saya makan. “Wow, baik sekali!” Ya, suami saya memang baik. Apakah itu membuat saya kurang baik?

Hmm, pada saat seperti ini hitung-hitungan menjadi penting baik dari segi materi dan non materi. Pada tahun pertama di Bogor, uang yang saya dapatkan dari mengontrakkan rumah di Malang saya gunakan untuk mengontrak rumah di Bogor. Kalau uang kontrakan itu saya gunakan sendiri, lumayan sekali. Lalu bagaimana dengan laptop. Beberapa tahun lalu saya pernah membelikan suami laptop baru. Setelah sekitar 4 atau 5 tahun, suami memberikannya ke keponakannya. Saya menyetujuinya.

Di satu sisi, perkawinan memang hubungan emosional yang kental. Di sisi lain, istri perlu berhitung karena kerja domestik adalah KERJA dan harus dihargai oleh suami, lembaga, dan negara. Sebagian melihatnya sebagai sebuah pengakuan bahwa istri bekerja kepada laki-laki. Bagi saya, ini pembagian peran yang jika disetujui dan disadari dengan adil dapat membawa manfaat. Saya sendiri memilih peran dan bentuk kontribusi yang dapat menguatkan posisi saya dalam hubungan suami-istri.

Bogor, 10 Desember 2017