-Anak-

Anak punya berbagai makna. Misalnya makna sebagai manusia yang belum lahir atau yang baru lahir, atau orang muda antara bayi dan remaja.  Bisa juga diartikan sebagai  keturunan dari orang tua atau seseorang. Bisa juga berarti seseorang yang sangat dipengaruhi oleh orang lain atau lingkungan tertentu. Makna lain adalah sebuah produk atau hasil dari sebuah usaha (https://www.merriam-webster.com/dictionary/child).

Dari makna tersebut, anak bisa muncul dalam berbagai bentuk. Jika ditilik lebih jauh dari makna harfiah, maka secara garis besar, anak merupakan keturunan dari sebuah upaya prokreasi jiwa dan raga. Hasilnya bisa beragam. Pekerjaan yang seseorang lakukan untuk keberlangsungan hidup keluarga atau dilakukan demi kepuasan jiwa merupakan anak dari orang tersebut. Karya seorang seniman atau akademisi adalah anak yang akan ditimang dan dibanggakan.

Dengan pemahaman yang luas seperti di atas, posisi kerja dan keluarga tidak perlu diposisikan berlawanan. Sistem ekonomi yang banyak berlaku di berbagai negara modern melihat keluarga dan pekerjaan profesional sebagai dua hal yang tidak harmonis. Hal ini diperkuat lagi oleh pemuka agama yang sering memberi nasihat tentang peran gender dalam keluarga, menekankan tanggung jawab istri sebagai ibu yang merawat generasi depan lebih penting daripada bekerja di ruang publik. Pemuka ekonomi modern dan cenderung kapitalistik senang sekali dengan pemuka agama yang berpikir seperti ini. Hasilnya adalah penghasilan perempuan di banyak profesi lebih kecil dibandingkan laki-laki. Sebagian perempuan yang menikah juga meninggalkan pekerjaan di ruang publik untuk bekerja di ruang domestik, dengan berbagai alasan yang diciptakan oleh sistem. Pilihan bagi perempuan sudah dikondisikan. Cara pandang perempuan juga jauh lebih terkondisikan. Alhasil, lengkap sudah internalisasi nilai untuk mendukung suatu sistem.

Jika dalam proses perjalanan hidup sebagai dewasa seseorang tidak pernah bertanya secara kritis tentang apa dan mengapa dia melakukan atau meyakini sesuatu hal, dapat dipastikan seseorang itu menjalani hidup dengan buta. Bertanya adalah awal dari upaya mereproduksi anak. “Kenapa kamu punya anak?” “Karena saya  sudah menikah dan sudah berhubungan seks dengan pasangan.” “Hmmm.”

Membesarkan anak dari suatu konsep sampai menjadi wujud secara biologis dianggap sebagai hukum alam. Bagi yang percaya dengan kekuatan gaib (Tuhan), hal itu menjadi sesuatu yang cukup diterima. Bagi sebagian lain, “proses kejadian” tersebut perlu dipelajari dan belum semuanya dapat dijelaskan oleh ilmu pengetahuan.

Anak dapat dibentuk sampai pada suatu tahap. Kemudian dia akan menjadi milik dirinya sendiri dan milik masyarakat. Kesenangan mempunyai anak tidak sebatas pada kelucuan yang muncul dari keluguan dan sebagai sebuah ide memiliki jangkauan operasional yang luas. Namun, kesenangan lainnya muncul dari kekuasaan “membentuk” pemikiran dan sikap seorang makhluk hidup sehingga mendapatkan “pengikut”. Ada yang memperhalusnya dengan istilah “regenerasi”.

Anak adalah sosok yang kritis. Semua yang ada di sekelilingnya adalah keajaiban. Tanpa dia sadari, dirinya sendiri adalah keajaiban. Keajaiban tersebut perlahan memudar dan menjadi biasa alias “terima sajalah”.

10 Februari 2018

Advertisements

Belajar memaknai perbedaan dan kekhususan

Penyandang disabilitas terlahir seperti itu adanya. Mereka tidak bisa memilih terlahir dengan kondisi khusus. Perbedaan dan kekhususan membuat penyandang disabilitas mendapat perlakuan diskriminatif yang dapat dihindari. Kondisi tersebut dianggap berbeda dengan LGBTIQ (Lesbian, Gay, Bisexual, Transgender, Intersex, Queer) karena orientasi seksual dianggap sebagai sebuah pilihan dan gaya hidup daripada sesuatu yang terberi.

Saya meyakini bahwa orientasi seksual pada sebagian besar orang bukan pilihan melainkan terberi sejak lahir. Seringkali orientasi seksual yang berbeda disadari pada tahap lanjut karena pembicaraan tentang seksualitas ditabukan dalam masyarakat, sehingga individu tidak tahu memaknai pengalaman dan penghayatan seksualitasnya yang berbeda. Pendapat bahwa orientasi seksual adalah terberi atau takdir ikut dikritik karena ada yang beranggapan bahwa takdir pun dapat diubah melalui kehendak dan ikhtiar. Penyandang disabilitas dapat memperbaiki kondisi fisiknya melalui operasi atau menggunakan alat bantu. Paling tidak, begitulah anggapan sebagian muslim atau orang beragama. Permasalahan muncul ketika satu takdir lebih diterima masyarakat dan dianggap sebagai kebenaran daripada takdir dalam bentuk lain. Bahkan dalam beberapa budaya, takdir dihubungkan sebagai karma (pembalasan) dari perbuatan individu sebelumnya. Kemampuan menerima ketidaksempurnaan diri sendiri dan bersyukur dengan apa yang telah dimiliki merupakan dua hal yang berjalan beriringan tanpa perlu disertai dengan stigma.

Jika orientasi seksual dianggap sebagai pilihan, maka selama pilihan tersebut tidak merugikan orang atau kelompok lain, hak individu atau kelompok dengan pilihan berbeda harus dihargai. Contohnya adalah agama atau kepercayaan. Setiap individu memiliki hak untuk memilih kepercayaan atau agama yang diyakini sebagai kebenaran. Seseorang tidak boleh didiskriminasi berdasarkan kondisi kelahiran (disabilitas) maupun pilihan yang tidak merugikan orang lain.

Satu hal yang juga penting adalah disabilitas tidak disebabkan oleh kondisi fisik atau psikis individu. Seseorang dianggap disabel karena lingkungan sosialnya tidak memberikan hak atau akses yang diperlukan untuk menjadi seseorang yang mampu (abled-person). Artinya disabilitas seseorang ditentukan oleh budaya dan kebijakan. Seseorang dengan satu kaki yang hidup di negara yang memenuhi haknya sebagai warga negara di ruang publik tidak dianggap sebagai disabel. Hal ini karena di negara tersebut, fasilitas publik diberikan kepada semua penduduk baik yang tidak memiliki kaki, berkaki satu, dan dua.

Orientasi seksual sering dikatakan cair, artinya bisa berubah. Argumentasi ini dapat menjadi bumerang bagi kelompok LGBTIQ karena menunjukkan bahwa orientasi murni pilihan dan gaya hidup semata. Bagi saya, cair di sini merujuk pada spektrum seksualitas. Individu dapat berada pada spektrum ekstrem yaitu heteroseksual 100% atau homoseksual 100%, meskipun menurut saya seksualitas tidak dapat diukur kuantitasnya. Di antara dua kutub tersebut ada spektrum yang luas, seseorang mungkin punya kecenderungan homoseksual kecil dan heteroseksual yang lebih dominan atau sebaliknya. Kecenderungan atau orientasi ini dapat berubah atau bergerak sesuai dengan penerimaan diri, pengalaman seksual, keterbukaan lingkungan, dll.

Apakah homoseksualitas dapat disembuhkan?
Homoseksualitas bukan penyakit atau gangguan sehingga tidak perlu disembuhkan.

Apakah dapat menular?
Tidak menular karena bukan penyakit menular. Kenapa banyak homoseksual terkena AIDS? Homoseksual terbagi dalam beberapa kategori sehingga banyak yang menyebutnya LGBTIQ. Saat ini ada sebutan lain yaitu SOGIE (Sexual Orientation, Gender Identity, and Expression). AIDS awalnya banyak menyebar di kelompok gay dan transgender, artinya tidak tersebar ke seluruh spektrum homoseksual seperti lesbian.

Sebelum kesadaran hak seksualitas muncul, tidak banyak yang membicarakan tentang hak-hak dan kesehatan seksual. Terutama bagi kelompok marjinal dan dianggap menyimpang, stigma tersebut semakin kuat. Alhasil sebagian besar dari SOGIE rentan terhadap penyakit menular, baik Hepatitis C maupun AIDS yang berakibat fatal. Kerentanan tersebut akibat minim pengetahuan, akses informasi sulit, stigma, dan prasangka. Semakin hari advokasi kesehatan ke kelompok SOGIE semakin baik, sehingga yang saat ini rentan adalah ibu rumah tangga dari suami yang pernah atau sering berganti pasangan seksual.

Bagaimana dengan kasus pemerkosaan yang dilakukan homoseksual? Bukankah banyak dari mereka adalah pedofil?
Pemerkosaan, baik yang dilakukan heteroseksual maupun homoseksual, adalah salah satu bentuk kekerasan seksual. Anak perempuan dan anak laki-laki rentan menjadi korban kekerasan seksual dari orang terdekat atau orang asing. Dalam kekerasan, apapun bentuknya, ada pihak yang secara sosial dianggap lebih berkuasa dan memanfaatkannya untuk kepentingan sendiri yang merugikan dan menindas hak orang lain. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah memberikan pendidikan seksual sesuai dengan tahapan usia fisik dan psikis. Biasanya akan ada pertanyaan lanjutan, apakah tidak berbahaya jika anak-anak diberikan pendidikan seks?

Jawabannya tidak lain adalah, apakah Anda memahami apa yang dimaksud dengan pendidikan seks?
Informasi tentang pendidikan seks akan dibahas di artikel yang berbeda. Anda juga bisa mencari informasi dari sumber yang terpercaya di internet. Dalam suatu hubungan, artinya tidak hanya hubungan seks, memerlukan adanya consent atau persetujuan. Makna consent sebenarnya lebih dari sekedar persetujuan tetapi saya belum menemukan istilah yang pas. Jika seseorang ingin melakukan penelitian, biasanya ada informed consent yang disampaikan di awal sehingga responden, narasumber, dan peneliti memahami hak dan kewajiban masing-masing. Hubungan seksual tanpa consent adalah pemerkosaan, termasuk dengan pasangan sendiri, baik pacar atau istri/suami. Secara langsung atau tidak langsung, consent merupakan aspek utama dari pendidikan seksual. Melalui consent, seseorang bisa belajar tentang relasi kekuasaan dan peka dengan tanda-tanda dini kekerasan atau manipulasi dalam suatu hubungan.

Ada yang mengatakan bahwa LGBTIQ ini pilihan dan menular karena tidak mungkin mereka bereproduksi. Satu-satunya jalan pertumbuhan LGBTIQ adalah melalui penyebaran ideologi.
Semakin banyaknya individu yang menyatakan diri sebagai LGBTIQ merupakan bukti bahwa hal tersebut terberi daripada pilihan. Kesadaran tentang orientasi seksual sering muncul belakangan ketika seseorang semakin terpapar dengan pengetahuan dan pengalaman sehingga mampu menemukan “penamaan dan pemaknaan” terhadap kondisinya. LGBTIQ dapat bereproduksi dan membangun keluarga karena orientasi seksual tidak otomatis membatasi anatomi tubuh dan kemampuan reproduksi. Saat ini reproduksi juga dapat dilakukan dengan bantuan teknologi dan donor. Pemahaman tentang “anak” juga tidak sebatas pada anak kandung/biologis tetapi juga anak-anak lain yang ada di sekitar kita.

BTW, saya masih belum bisa menerima LGBTIQ.
Tidak ada yang bisa memaksa kamu menerima LGBTIQ atau kelompok minoritas lain, tapi sebagai warga negara wajib menghormati hak warga lainnya. Di dalam hakmu, ada hak orang lain. Artinya, selama seseorang tidak melakukan kekerasan atau pelanggaran hukum, maka dia memiliki hak yang sama dengan setiap warga negara dan orang lain harus menghargainya. Jika orang tersebut melanggar hukum maka kasusnya harus ditangani sesuai prosedur hukum yang berlaku. Orang tersebut juga berhak mendapat pembelaan. Penerimaan terhadap LGBTIQ juga berlapis, mulai dari yang paling ringan seperti tidak menerima LGBTIQ tetapi menghormati hak mereka sampai yang menerima seluruh aspek dari LGBTIQ. Tidak ada paksaan untuk menerima argumen tentang LGBTIQ atau menerima perbedaan. Perbedaan, kekhususan, dan keumuman merupakan bagian dari keniscayaan suatu proses menjadi manusia yang seutuhnya.

Desember 2017

Standing tree

Hai Maria,

Sampai sekarang aku masih memakai celana legging merek standing tree. Celana ini kualitas bagus banget. Aku baru tahu setelah 4 tahun memakainya. Karet di pinggang fleksibel dan kekuatan masih bagus. Karetnya tidak keriting. Keren bnget.

Kapan ya kita membelinya? 2013 atau 2014? Kita beli di Stockwell yang ada di ITC Surabaya. Lumayan jauh dari rumahmu di Nginden. Terakhir aku ke ITC Surabaya tahun 2016, dan Stockwell sudah tutup. Sayang ya…

Waktu itu harga jual celana 55 ribu kalau tidak salah. Kamu beli warna kuning atau hijau menyala. Aku beli warna abu-abu. Meskipun sekarang ukuran pingganggu XL, tapi celana standing tree ukuran M masih cukup, Mar. Celana ini stand up to its name.

Menurut Ajeng, ini celana yoga, Mar. Dia pingin punya juga tapi ya itulah, Stockwell sudah tutup. Walaupun masih ada, stok celana ini mungkin sudah tergantikan dengan merek lain.

Kangen belanja lagi denganmu di Surabaya.

Bogor, 11 Desember 2017

Suami: Majikan dalam Rumah Tangga

Teman perempuan: bagaimana laptop mbak kemarin?
Aku: sudah bagus setelah diperbaiki.
TP: lalu dijual mbak?
Aku: dipakai suamiku. Dia mau beli 1,5 juta.
TP: hah, masak sama suami sendiri dijual? Enak banget. Misalnya kita dibelikan laptop sama suami lalu ternyata suami suka dan mau pakai laptop itu, kita bisa minta dia bayar harga laptop itu, bisa untung dua kali kita.

——

Percakapan pendek di atas mendorong saya untuk menulis tentang relasi suami-istri. Ayo dimulai dari makna kata.

Suami sering dianggap sebagai kepala rumah tangga. Posisi penting ini berhubungan dengan makna kata yang berasal dari Bahasa Hindi yaitu majikan, pemilik, pangeran. Dalam Bahasa Sanskrit, swami berarti pertapa atau guru spiritual (https://en.m.wikipedia.org/wiki/Swami). Dalam Bahasa Khmer, Bengali, Odiya, dan Indonesia, istilah ini digunakan untuk menyebut peran laki-laki dalam sebuah perkawinan.

Makna dari suami mendekati makna akar kata sehingga tidak heran jika suami dianggap memiliki otoritas dan tanggung jawab lebih tinggi dan lebih besar dari istri. Istri berasal dari kata stri yang dalam Bahasa Urdu berarti perempuan, pasangan hidup laki-laki, feminin, betina. Istilah dan makna yang sama digunakan di berbagai bahasa seperti Gujarati, Melayu, Indonesia, Khmer, dan Telugu (https://en.m.wiktionary.org/wiki/स्त्री).

Dari dua penjelasan di atas dapat dilihat perbedaan makna dan implikasinya. Satu kata merujuk pada status sosial dan kekuasaan yang dimiliki, satu istilah lagi fokus terhadap atribut karakter gender. Makna dari suatu kata atau istilah membawa implikasi terhadap relasi gender, termasuk harapan dari suami ke istri dan sebaliknya. Tidak heran jika suami berperilaku layaknya majikan karena seperti itulah makna dari suami. Tidak heran juga jika sebagian aktivis lebih memilih menggunakan istilah “pasangan” daripada suami. Lagipula istilah “pasangan” lebih netral gender.

Kembali ke awal, suami dianggap memiliki tanggung jawab menafkahi istri. Jika anda setuju dengan pandangan ini, maka peran istri mengelola urusan domestik sangat penting dan harus dihargai. Salah satunya dengan menanggung biaya hidup istri sebagai pengganti kerja domestik dan memberi bantuan, dalam bentuk pekerja rumah tangga, ketika diperlukan dan sesuai dengan kesepakatan. Menjadi aneh jika biaya hidup istri dianggap sebagai hadiah ketika dia bekerja keras membereskan perkara domestik dan publik yang seringkali memakan waktu lama dan membosankan.

Sejak awal, saya merasa pekerjaan domestik adalah pekerjaan bersama dan saya sampaikan hal ini ke suami. Namun tidak semudah itu mengubah cara berpikir dan cara berperilaku. Sebagai kompromi karena suami mau tinggal di Bogor yang jauh dari tempatnya bekerja, saya mengerjakan lebih banyak kerja domestik. Saya tetap ingin ada kontribusi misalnya dia membayar uang belanja lebih besar 200 ribu setiap bulan. Dia juga kadang mentraktir saya makan. “Wow, baik sekali!” Ya, suami saya memang baik. Apakah itu membuat saya kurang baik?

Hmm, pada saat seperti ini hitung-hitungan menjadi penting baik dari segi materi dan non materi. Pada tahun pertama di Bogor, uang yang saya dapatkan dari mengontrakkan rumah di Malang saya gunakan untuk mengontrak rumah di Bogor. Kalau uang kontrakan itu saya gunakan sendiri, lumayan sekali. Lalu bagaimana dengan laptop. Beberapa tahun lalu saya pernah membelikan suami laptop baru. Setelah sekitar 4 atau 5 tahun, suami memberikannya ke keponakannya. Saya menyetujuinya.

Di satu sisi, perkawinan memang hubungan emosional yang kental. Di sisi lain, istri perlu berhitung karena kerja domestik adalah KERJA dan harus dihargai oleh suami, lembaga, dan negara. Sebagian melihatnya sebagai sebuah pengakuan bahwa istri bekerja kepada laki-laki. Bagi saya, ini pembagian peran yang jika disetujui dan disadari dengan adil dapat membawa manfaat. Saya sendiri memilih peran dan bentuk kontribusi yang dapat menguatkan posisi saya dalam hubungan suami-istri.

Bogor, 10 Desember 2017

 

Masih perlukah pameran komputer?

Tanggal 2 November yang lalu saya mengunjungi BRI Indocomtech di JCC Senayan. Ini adalah kali pertama sejak 2011 saya mengunjungi pameran komputer di JCC. Terakhir kali menghadiri pameran komputer di JCC adalah tahun 2010. Waktu itu pameran diadakan awal tahun. Saya ingat sekali karena waktu itu saya baru menikah bulan Februari 2010 lalu 2011 pindah ke Malang sehingga tidak pernah lagi ikut pameran komputer. Di pameran 7 tahun yang lalu itu, suami membeli netbook Zyrex yang dia pakai sampai sekitar 2015.

Saya merasakan ada banyak perbedaan dengan pameran komputer tahun ini. Pertama, dari sisi tiket masuk. Kali ini pengunjung harus menggunakan Brizzi dari BRI untuk masuk ke pameran. Otomatis pengunjung yang tidak punya Brizzi harus membelinya. Harganya lumayan untuk tingkat siswa SMP-SMA yang berkantong pas-pasan. Ketika datang ke pameran, ada dua siswa laki-laki di depan saya yang ragu-ragu untuk masuk dan menimang-nimang uang 50 ribu di tangannya. Biaya masuknya juga lumayan mahal yaitu 20 ribu untuk hari biasa dan 30 ribu untuk akhir pekan.

Perbedaan kedua, dari sisi jumlah tenant atau penjual yang jauh berkurang dibanding tahun 2010. Jumlah peserta (toko) yang berkurang memengaruhi daya tarik Indocomtech karena biasanya penjual eceran atau toko yang banyak memberi gimmick, hadiah atau berbagai diskon kepada calon pembeli. Entah karena saya berkunjung pada hari kerja, tapi pengunjung yang datang ke Indocomtech tanggal 2 November tidak banyak. Ruangan terasa lengang dan tidak berdesak-desakkan. Saya sih suka karena lebih nyaman untuk melihat-lihat barang dan tidak tubruk sana-sini. Bahkan saya berkeliling 4 kali sampai pusing sendiri.

Perbedaan ketiga, dari segi harga. Terus terang, harga yang ditawarkan toko kurang bersaing dibanding toko online. Memang sepertinya toko online/daring memengaruhi antusias dan jumlah pengunjung di pameran komputer. Di dalam pameran, toko online seperti tiket.com, Tokopedia, dan blibli.com membuka stand cukup besar. Mungkin itu sebabnya tidak banyak toko atau reseller menyewakan stand karena selain harga sewa stand mahal, mereka juga merasa sudah terwakili dengan adanya toko-toko daring tempat mereka menjual produk. Harganya bahkan lebih murah di toko daring. Contohnya hardisk external 1 TB yang dijual sekitar 900 ribu di Indocomtech, bisa dijual seharga kurang dari 800 ribu di Shopee dan bebas ongkos kirim.

Pameran komputer ini dilakukan bersamaan dengan kegiatan Tech in Asia dengan tema “Connecting Asia’s Tech Ecosystem”. Hajatan tingkat Asia ini banyak melibatkan startup di bidang bidang teknologi. Lokasinya bersebelahan, Tech in Asia di Hall B sementara pameran komputer di Hall A.

Saya menyayangkan jika Indocomtech belum mengemas tujuan pameran komputer secara berbeda sesuai perkembangan. Nantinya bisa tutup seperti beberapa mal di Jakarta. Lagipula, harga komputer dan perangkat yang dijual tidak ramah untuk calon pembeli dengan dana sekitar 5-6 juta seperti saya. Saya hanya mendapat tumbler dari stand Tiket.com dan beberapa brosur. Setelah itu saya pulang. Dalam perjalanan, saya membuka aplikasi OLX dan Instagram mencari laptop seken dengan spesifikasi sesuai kebutuhan dan harga sesuai anggaran. Lain kali, tidak perlu ikut pameran komputer/perangkat seperti ini karena selain memakan waktu, biaya transportasi, dan biaya tiket, harga produknya juga tidak sesuai dengan kantong.

Bogor, 4 November 2017

Vagina yang Tidak Terlihat

Melepas celana dalam dan mengangkang biasanya menyenangkan. Tidak kali ini, karena aku harus melakukan tes IVA (Infeksi Visual Asam Asetat) di sebuah klinik yang dikelola sebuah kementerian. Tes ini diberikan gratis bagi anggota BPJS. Aku mendaftar karena tidak sempat mengikuti tes pap smear gratis. Kadang aku juga tidak tahu informasinya.

Aku bawa sarung tenun berwarna tosca karena seorang teman mengingatkan untuk membawa sarung sendiri. Ternyata itu tidak perlu. Setelah mendapatkan nomor antrian dan mengisi formulir, aku menunggu sekitar 1 jam untuk dipanggil. Setiap kamar memiliki 2 tempat tidur pemeriksaan. Sampai giliranku.

“Dibuka ya bu,” ujar petugas perempuan sambil melebarkan kangkanganku. Vaginaku menunggu dengan berdebar. Aku sudah melakukan pemeriksaan pap smear tahun 2014 dan seharusnya proses ini akan berjalan cepat.

Lalu aku ingat kalau aku belum memangkas rambut kemaluan. Belum lagi ada beberapa uban di sana. Kenapa aku harus memikirkan hal itu? Hal terburuk adalah petugas akan membatin, apakah ini rawa atau hutan tropis?

“Vagina, kamu akan baik-baik saja. Ini pemeriksaan yang seharusnya rutin dilakukan.” Bagus. Aku mengajak ngobrol vaginaku yang tidak bisa bicara. Aku anggap dia teman imajinasiku. Dia memang teman yang selalu menempel di antara selangkanganku.

Alat spekulum berbentuk cocor bebek dimasukkan dalam vagina. “Tarik napas!” Aku lakukan. Aku terkejut. Ada sesuatu masuk di dalam vagina. “Nyeri!” vaginaku meringis.

“Dilemaskan bu, jangan tegang!” Alatnya sendiri kaku dan dingin, lalu vaginaku disuruh santai? Apakah tidak ada spekulum yang dibuat untuk menciptakan sensasi geli dan menyenangkan sehingga dia rela membuka diri? Aku tarik napas berkali-kali. Aku berusaha mengontrol perasaan dari tiap otot dan saraf vagina.

“Jangan tegang, V!”

“Kamu yang tegang.”

“Aku tegang karena kamu tegang.”

“Ada alat yang masuk dan sangat tidak menarik.”

“Aku ‘kan sudah bilang, ada pemeriksaan. Kalau semua lancar dan tidak ada masalah, aku akan berikan hadiah.”

“Orgasme?”

“Sesuatu yang menyenangkan.”

“Hah! Cepat! Jangan lama-lama!”

“Aku juga nggak mau lama-lama.”

Vaginaku sendiri mengeluh. Padahal ini untuk kebaikannya, kesehatannya. Aku memang tidak memberitahunya.

Aku terus menarik napas sambil terbatuk-batuk. Dua hari sebelumnya aku demam dan sampai sekarang masih batuk dan agak sakit kepala. Aku berharap vaginaku lebih sehat dari organ tubuhku yang lain.

Sebuah kapas basah dioleskan ke dalam leher rahim.

“Dingin!”

“Please, jangan berisik! Aku juga tahu.”

Tatapan petugas mencurigakan. Lalu dia mengoleskannya sekali lagi. Duh, harusnya aku baca-baca dulu tentang IVA sebelum periksa. Petugas memanggil temannya yang ikut menengok vaginaku. Lalu seorang dokter dipanggil. Sambil menunggu dokter, entah iseng atau ingin memastikan, petugas mengoleskan kapas itu lagi ke dinding leher rahim. Apa dia pikir aku tidak bisa merasakannya olesannya berkali-kali?

“Ini sudah lebih dari 2 menit!”

Duh, vaginaku lebih cerewet daripada diriku sendiri. Kok bisa ya?

“Aku tidak bisa dibiarkan diangin-anginkan begini. Nanti kering. Kamu tahu seperti apa apa vagina yang kering? Seperti padang pasir.” Ya ampun, vaginaku ternyata lebay.

Sambil menunggu, petugas berusaha bertanya, “Sudah punya anak berapa bu?”

“Belum ada anak.”

“Tapi sudah kawin?”

“Sudah.”

“Sudah berapa tahun?”

“7 tahun.”

Masih dalam kondisi menunggu, aku mendengar petugas di sebelah menanyakan seorang pasien.

“Umur ibu berapa?”

“51 tahun.”

“Yang benar bu? Lis, coba lihat ibu ini, 51 tahun. Nggak percaya kan?”

Alhasil aku ikut menengok. Aku sendiri tidak percaya, kelihatan berusia 4oan.

“Ibu minum jamu apa?” tanya petugas. Lalu si ibu menyebutkan sebuah merek jamu. Aku membatin, memang gila ramuan alam tropis.

“Tapi dokter bilang saya jangan sering-sering minum jamu itu lagi…” dan aku tidak lagi mendengar kalimat selanjutnya.

Rasanya vaginaku akan menjadi padang pasir dalam beberapa detik jika dibiarkan melongo seperti ini. Aku ingin menenangkan vaginaku dengan menepuk-nepuknya, puk, puk. Seorang dokter perempuan masuk ke ruang periksa. Dia menengok vaginaku juga. Oke, tiga orang menelisik vaginaku. Ada yang ingin bergabung?

“Oke, Ibu nanti ke sini dulu ya,” ujar dokter. Aku mengangguk. Kemudian petugas masih memeriksa payudaraku. Aku buka tali BH di belakang. Lalu bajuku disingkap.

“Tangan diletakkan di belakang kepala, bu. Pemeriksaan ini bisa dilakukan sendiri, 10 hari setelah haid.”

Aku mengangguk. Sepertinya payudaraku baik-baik saja, tidak ada benjolan yang mencurigakan. Ketika petugas menekan-nekan payudaraku, rasanya agak nyeri. Mungkin karena dia bukan pasanganku yang lebih tahu cara memperlakukan payudaraku. Atau ini memang bukan sesi untuk bermain payudara tapi memeriksa payudara. Tentu saja beda!

“Jadi begini, bu. Tadi setelah diolesi dengan asam asetat, ada bercak putih. Seharusnya warnanya tetap sama, tidak berubah. Ini indikasi, tapi belum tentu menandai sel-sel kanker. Jadi klinik BPJS ibu dimana? Oke, saya rujuk ke sini ya.”

Dokter memberikan selembar kertas kecil. Aku langsung berdebar. Aku tidak lagi mengajak bicara vaginaku. Aku langsung ke klinik BPJS. Rupanya alat di sana tidak lengkap dan menurut dokter perlu pemeriksaan spesialis. Maka aku dirujuk ke rumah sakit di Dramaga. Dokter spesialis baru buka jam 16:00 jadi aku pulang ke rumah dan menyiapkan beberapa persyaratan.

Aku terus mendiamkan vaginaku yang tiba-tiba tidak banyak bicara. Atau dia hanya bicara ketika aku menginginkannya. Pada saat mandi, aku sempatkan untuk memangkas rambut kemaluan. Aku tidak mencukurnya karena aku tidak suka. Cukup dipangkas sehingga memudahkan pandangan dokter untuk melihat ke dalam vagina.

Sampai di RS, aku mendaftar di bagian pasien BPJS. Antriannya panjang sehingga aku harus menunggu selama 2 jam. Ketika giliranku, dokter spesialis, seorang laki-laki seusiaku, memeriksa lembaran kertas.

“Oh, begini bu, IVA positif tidak mengindikasikan adanya sel-sel kanker. Hanya menandakan ada yang tidak normal dan itu bisa banyak hal. Untuk bisa memastikan kanker leher rahim perlu pemeriksaan pap smear tetapi tidak ditanggung oleh BPJS.”

Menunggu lebih dari 2 jam dan hanya diberi informasi seperti ini?

“Biayanya berapa ya?” tanyaku.

“Sekitar 300 ribu,” ujar perawat. Aku iyakan untuk mengikuti pap smear. Aku diminta ke loket pendaftaran karena harus mendaftar sebagai pasien umum. Menunggu lagi. Ketika sampai giliranku, vaginaku hanya menggumam, “Dimasukin cocor bebek lagi ya?”

“Iya,” jawabku lemas, kurang bersemangat.

“Rasanya alat itu seperti dongkrak untuk vagina ya? Dimasukkan lalu diputar supaya vagina melebar.”

Aku tersenyum, memang benar seperti itu rasanya. Seperti ada dongkrak yang dimasukkan. Perawat meminta aku melepas celana dalam dan duduk di kursi periksa. Kali ini vaginaku sejajar dengan wajah dokter. Lampu sorot diarahkan ke bagian vagina. Aku menarik napas dalam sebelum spekulum dimasukkan.

“Aduh, kok lebih nyeri yang ini?” teriak vaginaku. Kemudian aku merasa vaginaku diperlebar seluas yang diinginkan.

“Entahlah, mungkin karena aku tegang.” Spekulum bukan alat yang aku bayangkan untuk masturbasi dan aku juga tidak sempat memainkan klitorisku sehingga vaginaku cukup basah. Melihat alatnya saja, membuyarkan seluruh rangsangan seksual. Hanya membayangkan spekulum masuk ke dalam vagina sudah menghancurkan prinsip-prinsip orgasme.

Dalam film atau buku berisi adegan seks, yang sering disebut adalah penis atau jari tangan, paling minim dildo. Tidak ada yang menyebutkan spekulum karena itu bukan alat seks yang membuat perempuan bergairah. Perawat menyiapkan dua buah kaca petri. Kemudian dokter seperti mengorek bagian leher rahim menggunakan spatula. Aku melihat spatula berwarna putih dan aku membayangkannya berada di dalam leher rahim.

“Ada benda asing lagi,” lapor vaginaku.

“Iya, itu spatula. Kamu kan pernah ikut pap smear, kenapa baru sekarang komentar?” Aku ikut protes.

“Dulu aku nggak setegang ini?”

“Iya. Karena dulu pertama kali tes dan itu pun tanpa didahului oleh pemeriksaan IVA yang positif.”

“Siapa itu IVA?”

“Ah, sudahlah. Nanti aku kasih tahu.”

Pengambilan sampel sekitar 1 menit. Setelah itu, aku diminta menunggu karena sampel perlu direndam dan dikeringan. Kenapa pemeriksaan pap smear gratis dulu begitu mudah dan lebih cepat? Bahkan aku dapat tumbler warna kuning yang aku simpan sampai sekarang.

Di ruang tunggu, vagina masih mengajakku berdiskusi.

“Jadi ini periksa pap smear lagi ya?”

“Iya.”

“Kamu pasti takut kejadian seperti Jupe ya?”

Hah, sejak kapan vaginaku mengikuti infotainment dan kenal dengan Jupe? Memang vaginaku tidak beres.

“Harusnya tiap tahun aku cek pap smear. Tapi aku kelewatan. Aku lupa merawatmu. Mungkin karena kamu selalu berada di kempitan paha. Tidak terlihat, tidak terasa.”

Ruang tunggu rumah sakit sudah sepi. Aku menunggu panggilan terakhir. Hampir 30 menit menunggu sampai aku dipanggil dan diberitahu bahwa pengambilan hasil dapat dilakukan paling cepat dalam 10 hari, paling lambat 14 hari. Aku mengangguk. Lebih dari 3 jam aku habiskan di rumah sakit dan sepertinya tempat ini menyedot tenagaku.

Aku pulang dengan loyo sambil tetap terbatuk-batuk. Aku ingin tengkurap di tempat tidur sambil menepuk-nepuk vaginaku dengan tenang.

Bogor, 17 September 2017

 

 

Ruang aman yang berkembang

Dear Maria,

Ini kali pertama FAMM Indonesia mengadakan acara besar setelah kepergianmu. Kehadiranmu sangat ditunggu dan secara khusus kami memanggilmu untuk datang.

Kami tahu betapa kamu akan semangat menyampaikan pendapat. Aku terus berpikir, Maria pasti “gatal” untuk berkomentar. Dengan caramu, mungkin pendapat itu sudah tersampaikan.

Acara workshop ini dimulai dengan beberapa peserta yang mengundurkan diri dengan berat hati. Entah alasan pekerjaan, keluarga, dan acara dadakan. Serulah, Mar mencari peserta. Kebayang ramenya kalau kamu di sini dan mengusulkan si A atau C. Itupun belum tentu mereka bisa hadir.

Di dalam sesi, aku kadang bosan juga, Mar. Analisa kuasa lagi, identifikasi lagi. Tapi demi ya….demi apa? Demi kawan-kawan yang masih baru karena kita juga mengundang peserta dari angkatan 2016 yang ikut penelitian mahina masohi. Kamu bakal suka ketemu mereka, Mar.

Oya, selama 3 hari aku sakit kepala, Mar. Sakitnya pas sore, setelah acara selesai. Lalu tanggal 8 September aku mulai menstruasi. Biyuh, cenut-cenut. Malam terakhir aku gak tahan dan minum paramex. Aku sampai gak kuat ikut malam solidaritas. Aku tidur lebih awal. I need to take care my energy.

Kami semua kangen dan penasaran dengan apa yang dapat kamu sampaikan di kegiatan ini. Kami kehilangan satu suara dan satu kehangatan.

Bogor, September 2017