Anak dari Spesies yang Berbeda

Hampir tiga aku mengasuh empat kucing kecil. Tiga hari yang lalu terjadi peristiwa yang mengenaskan. Seekor kucing mati terlindas mobil ketika dia sedang buang air besar di luar rumah. Waktu itu aku berangkat ke kampus dan aku meninggalkan empat kucing kecil itu di teras yang tertutup pagar. Mereka bisa keluar rumah. Aku meninggalkan mereka di luar karena ada dua ekor yang selalu ribut jika aku biarkan mereka di dalam rumah. Aku pikir, biar mereka belajar juga hidup di luar rumah, karena dalam beberapa bulan kemungkinan aku akan melepaskan mereka.

Sekitar 3 atau 4 jam kemudian aku pulang dan kucing kecil berwarna putih itu rata alias gepeng di tanah. Mati. Tak bernyawa. Aku sempat terkejut dan bingung. Bagaimana dia bisa mati? Siapa yang menabraknya? Bagaimana menguburnya? Dikubur di mana?

Aku cek kucing-kucing lain, semua sehat dan hidup. Kucing yang mati itu memang paling aktif, paling berisik, dan cerdas. Apakah itu yang terjadi pada kucing atau makhluk hidup dengan karakter yang sama? Aku harap tidak. Kucing itu masih belum bisa melihat, sepertinya dia hanya dapat melihat gelap dan terang. Lagipula, kucing itu sedang BAB di pinggir rumahku. Jelas dia tidak bergerak kalau sedang BAB. Sepertinya sudah takdir. Mobil atau kendaraan bermotor menjadi “pemangsa” kucing karena tidak ada lagi musuh alami mereka.

Saat ini aku memelihara sisa 3 kucing lainnya. Lebih mudah mengurus mereka bertiga karena tidak terlalu menuntut dan berisik. Beberapa hari lalu, kucing dengan tubuh paling kecil berwarna hitam muntah-muntah. Kemudian muntah berganti dengan diare. Aku hampir membeli obat muntah. Lalu aku ingat, dia mulai seperti ini ketika vitamin IMBooster habis. Lalu aku beli vitamin penambah daya tahan tubuh Egoji. Harganya lumayan 38 ribu. Sudah satu hari dan kucing hitam sudah tidak muntah dan tidak diare. Mungkin daya tahannya rendah jadi harus diperkuat dengan vitamin.

Dalam dua minggu ke depan, aku akan meninggalkan mereka untuk kegiatan di luar kota. Aku masih mencari orang untuk memberi makan dan membersihkan kotoran mereka. Semoga aku bisa ketemu orang yang tepat. Mengurus 3 kucing ini cukup menguras tenaga, apalagi kalau ada yang sakit. Kadang kalau ada yang rewel, ngeong-ngeong terus aku cuekin sambil membatin, “Kids, I want to have some rest. Take care yourself!”

Belum lagi mereka semua buta dengan berbagai spektrum. Sering sekali mereka menabrak dinding, kardus, sepatu, dan segala macam. Baru saja satu kucing hitam, yang paling mungil dan sepertinya kekurangan gizi, mengeong-ngeong. Aku tengok, rupanya dia memanjat bagpack punyaku di ruang tamu. Lalu dia bingung dan takut untuk turun. Sepertinya dia takut untuk loncat karena beranggapan lantai jauh di bawahnya. Aku tepuk-tepuk lantai supaya dia tahu bahwa dia aman untuk loncat. Saudara-saudara juga datang. Akhirnya dia bisa turun sendiri. Ya Tuhan!!

Dua kucing sudah pandai untuk BAB dan buang air kecil (BAK) di bak pasir yang aku siapkan. Satu kucing hitam yang kecil itu sepertinya tidak bisa memanjat bak plastik jadi cuma satu itu yang suka BAB dan kencing di sembarang tempat. Berhubung mereka buta, mereka sering menggunakan kaki bagian depan untuk coba menyentuh atau memegang sesuatu di depan. Aku sudah membelikan satu mainan yang berbunyi supaya mereka lebih peka. Selebihnya, aku tidak tahu bagaimana mengajari kucing kecil yang buta. Aku sering bertepuk tangan atau mengetuk sesuatu yang menandakan bahwa aku ada di suatu tempat atau memanggil mereka. Sampai sekarang aku belum memberi mereka nama. Aku tidak ingin menciptakan keterikatan emosional dengan mereka yang nantinya bisa membuatku sulit melepaskan salah satu atau ketiganya.

My dear children from another species.

Bogor, 12 April 2018

Advertisements

Tempat Pembuangan Akhir

Sejak awal tinggal di Bogor, saya ingin menulis tentang hal ini tetapi terus tertunda. Tempat tinggal pertama ketika pindah ke Kabupaten Bogor adalah di Dramaga Pratama, Ciampea. Sekitar 2 Km dari Kampus IPB. Setahun kemudian saya pindah ke Ciomas Permai, lebih jauh dari kampus tapi lebih dekat ke Stasiun Bogor. Selama hampir 2 tahun tinggal di sekitar Dramaga, saya sering berpapasan atau bahkan berjalan beriringan (ciee) dengan truk sampah. Seringkali sampah yang diangkut adalah sampah rumah tangga sehingga selama perjalanan, ampas air menetes dan meninggalkan jejak dalam bentuk cairan di jalan dan bau yang tidak sedap.

Kemudian saya membaca bahwa TPA berlokasi di Desa Galuga, Kecamatan Cibungbulang, Bogor. Jadi mulai pagi sampai siang, truk pengangkut sampah hilir mudik dari kota ke Cibungbulang. Kadang saya terganggu dengan baunya tapi memang itulah bau sampah. Kalau tidak mau menghidunya, ya harus mengurangi sampah.

Saya ingin menulis tentang pengalaman ini karena saya belum pernah begitu sering menjumpai truk sampah dalam jumlah besar. Belum lagi lalu lintas ke arah Ciampea biasanya macet, atau kalau beruntung tersendat. Jadi pengguna jalan, terutama motor dan kendaraan terbuka lainnya, harus sabar menghidu aroma tidak sedap sepanjang perjalanan.

Saya takjub karena sebegitu besarnya jumlah sampah yang diproduksi. Bagi saya, sampah adalah produksi, bukan “buangan” atau sisa yang tidak terpakai. It’s massive! It’s life style!

Mengemas dan membungkus barang dianggap bagian dari perlindungan terhadap kuman, debu, dan bagian dari pelayanan. Kemudian menjadi kebiasaan sampai kadangkala penjual yang bersikeras membungkus atau memasukkan barang ke kantong plastik. Padahal pembeli sudah menolak secara halus dan kadang memberi alasan agar penjual tidak memaksa.

Teknologi pembuatan kemasan atau pembungkus juga semakin canggih. Termasuk jargon tentang pentingnya kemasan untuk menciptakan citra dan brand. Alhasil kemasan dibuat dengan sebegitu eksklusif, kadang satu barang kecil bisa dibungkus dengan kemasan yang dua sampai empat kali lebih besar dari barang.

Beberapa tahun belakangan sudah ada beberapa terobosan untuk mengurangi dan mengelola sampah dengan lebih baik. Namun, penerapannya belum luas. Perjalanan ke kampus kerap mengingatkan saya bahwa bau sampah adalah bau diri saya sendiri, bau dari perilaku saya. Here, I present you with the smell of my behavior.

Bogor, 3 April 2018

Kucing Kecil

Tidak pernah aku bayangkan akan memelihara apalagi mengadopsi kucing kecil. Beberapa bulan sebelumnya memang aku senang memberi makan kucing dewasa perempuan yang sedang bunting di dekat rumah. Aku selalu menjaga jarak supaya tidak timbul ikatan emosi antara kami berdua. Kadang aku membolehkannya untuk masuk ke rumah, sebentar saja.

Pada hari Senin, aku ke kampus untuk menghadiri ujian terbuka doktor seorang teman. Selesai makan siang, aku berniat ke mesjid bersama dua orang teman. Dua temanku memilih jalan melewati Bank Mandiri, entah kenapa aku memilih jalan yang dekat dengan kantin pascasarjana. Pada saat itulah, aku melihat seekor 4 orang anak kucing tergeletak di atas kertas koran. Hampir semuanya mengalami masalah mata yang membusuk. Aku bingung. Ada begitu banyak hal yang berkecamuk di batin.

Apakah aku satu-satunya orang yang baru melihat mereka? Apa yang harus aku lakukan? Apakah mereka masih dapat diselamatkan? Dimana orang tuanya, terutama ibunya yang mungkin masih menyusui? Apakah ada yang dapat menolong mereka? Maksudnya selain aku.

Selesai sholat, aku buru-buru ke samping tempat anak kucing tadi. Aku hanya ingin menyelamatkan penglihatan mereka. Supaya mereka bisa melihat kembali. Tentu saja. Di IPB ada rumah sakit hewan, aku coba cari di internet. Aku tidak tahu lokasinya. Masih belum ketemu, tapi sudahlah, aku bawa saja ke motor dulu. Aku cari-cari kotak bekas yang dapat aku pakai untuk membawa empat kucing kecil ini. Sampai di depan perpustakaan, aku melihat ada tukang ojek. Memang di situ salah satu tempat mangkal ojek, entah kenapa aku terkejut. Aku langsung dapat ide.

Aku bertanya ke tukang ojek jika mereka tahu poliklinik hewan di kampus. Mereka tentu saja tahu. Aku naik dan diantar ke Rumah Sakit Pendidikan Hewan (RSPH) IPB. Aku mendaftar dan menunggu sampai dokter beroperasi kembali. Ketika giliranku tiba, keempat kucing itu dikerubuti oleh lima mahasiswa kedokteran hewan. Mereka menimbang, mengukur denyut jantung, dan melihat berbagai hal lain dari setiap kucing. Setelah semua dicatat, maka masuk ke ruang periksa. Kemudian dokter dipanggil.

Semua kucingku diperiksa. Dokter mengatakan bahwa seluruh kucing terkena chlamydia dan berakibat radang mata. Karena digaruk-garuk maka semakin memburuk. Alhasil satu kucing retinanya sudah membengkak dan tidak bisa diperbaiki. Dia buta total. Tiga kucing lainnya masih ada kemungkinan untuk melihat jika dirawat dengan baik. Kemudian tim mahasiswa membuat topi leher mini dari bekas rontgen untuk dipasangkan ke tiap kucing agar mereka tidak garuk-garuk luka di mata. Selain itu, mereka diberikan obat anti cacing dan luka di mata dibersihkan. Dari hasil pemeriksaan, dua kucing jantan dan dua kucing betina. Dokter mengatakan bahwa usia mereka 2 bulan.

Dokter bertanya apakah aku akan merawat mereka. Aku mengatakan, iya. “Gila! Aku akan adopsi 4 hewan kecil ini? Why? What for? Can I?”

Pada satu sisi aku merasa heroik. Pada sisi lain, aku merasa ada kebebasan yang aku korbankan. Help! Aku teringat pada Maria Mustika. Apakah salah satu kucing tadi adalah reinkarnasi Maria. Dia sering merawat kucing yang berkebutuhan khusus.

Biaya untuk pemeriksaan dan obat empat kucing sekitar 300 ribu. Lumayan mahal ya. Makanya aku belum beli kandang besi dengan harga 200-250 ribu, cukup dari kardus. Lagipula di rumah, aku bebaskan mereka di ruang tengah. Kalau di dalam kardus, mereka akan ramai mengeong. Belum lagi tas kucing seharga 200 ribu, bekasnya pun masih mahal. Nantilah. Pantes aja orang yang punya anak keteteran dengan biaya hidup.

Aku kabari suami untuk memberitahu keputusan mengadopsi empat anak kucing. Aku sibuk mencari informasi kandang, makanan, dan keperluan pemeliharaan kucing lainnya. Aku juga harus menebus obat yang diresepkan. Tiba-tiba aku jadi super sibuk dan mengatur jadwal dengan lebih ketat. Aku juga mencari di internet tentang makanan kucing. Akhirnya aku dapat yang disukai keempatnya yaitu campuran tempe dan ikan (tongkol atau pindang).

Selain menyiapkan dan menyuapi makan untuk satu kucing paling kecil, kegiatan lainnya adalah mencuci kain tempat mereka buang air kecil, membersihkan pup, mengepel lantai tiap hari, membersihkan mata mereka dua kali sehari dengan NaCl, memberi salep ke mata, menyuapi susu, menjemur tiap pagi, mencuci perlengkapan makan yang mereka pakai, ya sepertinya itu saja. Saat ini tiga kucing masih buta, satu kucing memiliki separuh penglihatan.

Aku baru menjalani peran ini selama 6 hari. Well done! I don’t know how good or how long I can be a mother of 4 kitten. Just pray!

Bogor, 31 Maret 2018

 

 

-Anak-

Anak punya berbagai makna. Misalnya makna sebagai manusia yang belum lahir atau yang baru lahir, atau orang muda antara bayi dan remaja.  Bisa juga diartikan sebagai  keturunan dari orang tua atau seseorang. Bisa juga berarti seseorang yang sangat dipengaruhi oleh orang lain atau lingkungan tertentu. Makna lain adalah sebuah produk atau hasil dari sebuah usaha (https://www.merriam-webster.com/dictionary/child).

Dari makna tersebut, anak bisa muncul dalam berbagai bentuk. Jika ditilik lebih jauh dari makna harfiah, maka secara garis besar, anak merupakan keturunan dari sebuah upaya prokreasi jiwa dan raga. Hasilnya bisa beragam. Pekerjaan yang seseorang lakukan untuk keberlangsungan hidup keluarga atau dilakukan demi kepuasan jiwa merupakan anak dari orang tersebut. Karya seorang seniman atau akademisi adalah anak yang akan ditimang dan dibanggakan.

Dengan pemahaman yang luas seperti di atas, posisi kerja dan keluarga tidak perlu diposisikan berlawanan. Sistem ekonomi yang banyak berlaku di berbagai negara modern melihat keluarga dan pekerjaan profesional sebagai dua hal yang tidak harmonis. Hal ini diperkuat lagi oleh pemuka agama yang sering memberi nasihat tentang peran gender dalam keluarga, menekankan tanggung jawab istri sebagai ibu yang merawat generasi depan lebih penting daripada bekerja di ruang publik. Pemuka ekonomi modern dan cenderung kapitalistik senang sekali dengan pemuka agama yang berpikir seperti ini. Hasilnya adalah penghasilan perempuan di banyak profesi lebih kecil dibandingkan laki-laki. Sebagian perempuan yang menikah juga meninggalkan pekerjaan di ruang publik untuk bekerja di ruang domestik, dengan berbagai alasan yang diciptakan oleh sistem. Pilihan bagi perempuan sudah dikondisikan. Cara pandang perempuan juga jauh lebih terkondisikan. Alhasil, lengkap sudah internalisasi nilai untuk mendukung suatu sistem.

Jika dalam proses perjalanan hidup sebagai dewasa seseorang tidak pernah bertanya secara kritis tentang apa dan mengapa dia melakukan atau meyakini sesuatu hal, dapat dipastikan seseorang itu menjalani hidup dengan buta. Bertanya adalah awal dari upaya mereproduksi anak. “Kenapa kamu punya anak?” “Karena saya  sudah menikah dan sudah berhubungan seks dengan pasangan.” “Hmmm.”

Membesarkan anak dari suatu konsep sampai menjadi wujud secara biologis dianggap sebagai hukum alam. Bagi yang percaya dengan kekuatan gaib (Tuhan), hal itu menjadi sesuatu yang cukup diterima. Bagi sebagian lain, “proses kejadian” tersebut perlu dipelajari dan belum semuanya dapat dijelaskan oleh ilmu pengetahuan.

Anak dapat dibentuk sampai pada suatu tahap. Kemudian dia akan menjadi milik dirinya sendiri dan milik masyarakat. Kesenangan mempunyai anak tidak sebatas pada kelucuan yang muncul dari keluguan dan sebagai sebuah ide memiliki jangkauan operasional yang luas. Namun, kesenangan lainnya muncul dari kekuasaan “membentuk” pemikiran dan sikap seorang makhluk hidup sehingga mendapatkan “pengikut”. Ada yang memperhalusnya dengan istilah “regenerasi”.

Anak adalah sosok yang kritis. Semua yang ada di sekelilingnya adalah keajaiban. Tanpa dia sadari, dirinya sendiri adalah keajaiban. Keajaiban tersebut perlahan memudar dan menjadi biasa alias “terima sajalah”.

10 Februari 2018

Daftar Jurnal Penyuluhan

Saya membuat daftar penyuluhan ini untuk memudahkan menemukan kembali informasi terkait penyuluhan.

Berimbang

Belajar berimbang. Jadi judulnya belajar untuk dapat melakukan metode kuantitatif dan kualitatif secara berimbang. Pemilihan metode tidak hanya dilihat pada ketepatan atau kesesuaian dengan tema tetapi juga oleh paradigma dari institusi. Biasanya paradigma sulit untuk diubah karena bagian dari ego keilmuan.

Berjalan berimbang menjadi sulit karena sebagian besar merasa bahwa perlu mengambil sikap. Kadang berimbang dianggap bukan suatu pilihan sikap.

Banyak mengamati dan mengikuti. Artinya belajar bersabar dengan ego dan paradigma yang sudah dimiliki. Dengan begitu lebih terbuka untuk mengamati dan mengikuti jalan yang ada di depan. Memang mencari aman karena mengobrak-abrik tatanan yang dianggap ajeg sangat berisiko. Tidak sebatas risiko akademis tetapi juga secara emosional.

Melakukan protes bisa menggunakan cara yang tidak kasat mata baik dari pemilihan rujukan, indikator, maupun kerangka berpikir. Risikonya ada pada kemampuan diri sendiri menjelaskan temuan dari paradigma institusi yang sudah ajeg.

Bogor, 18 Januari 2018

Pertarungan pendidikan tinggi dan imajinasi

Begini. Dalam situasi tenggat tugas yang dekat ditambah dinamika pekerjaan, aku sulit berimajinasi. Situasi ini mengganggu karena aku suka berimajinasi dan bekerja. Mengerjakan tugas kuliah bisa dianggap sebagai pekerjaan, tetapi yang terjadi justru mengkungkung imajinasi. Sepertinya tugas menulis karya ilmiah ditakdirkan bukan untuk mengembangkan imajinasi. Karya ilmiah punya metode dan gaya sendiri yang mendisiplinkan penulisnya.

Seharusnya aku tahu. Aku memang tahu tapi dalam paradigma di program studi sebelumnya, pengalaman sebagai salah satu bentuk pengetahuan sangat diutamakan. Penggalian pemaknaan diri dan komunitas menjadi refleksi peneliti sebagai manusia dalam kosmos. Ada “aku” di dalamnya yang berdialog dengan pengalaman orang lain. “Aku menemukan” melalui keterkaitan-analisis. Subyek penelitian menganalisis pengalaman mereka dan aku menganalisis hasil analisis mereka.

Saat ini aku merasa belajar banyak hal baru tetapi belum cukup “menampar” dan menggugah secara pribadi. Apakah harapanku terhadap dunia akademik tidak realistis? Apakah ini perjalanan yang panjang untuk menemukan alur yang alu bayangkan? Apakah aku terlalu abstrak dengan berfilosofi?

Nilai jadi semata pemenuhan syarat administrasi untuk kelanjutan beasiswa. Aku tidak berada di sini untuk nilai atau gelar. Orang tuaku lulusan SMA, dengan menyandang gelar magister saja orang tua sudah bangga. Aku pun, apalagi yang dicari? Aku rasa beberapa mahasiswa doktoral juga mencari suatu bentuk abstraksi dari realitas sosial yang berpola. Beragam model sudah dibuat, sebagian kecil diuji coba, sebagian yang diuji coba itu tidak berlanjut, sebagian yang berlanjut diuji coba gagal. Aku akan menambah satu model lagi dengan harapan model itu akan digunakan oleh pengambil kebijakan di tingkat yang terendah. Itu saja sudah bagus.

Pengambil kebijakan yang dimaksud di tingkat struktural dan formal. Sambil membayangkan pada saat yang sama dapat menyentuh sesuatu yang personal. Karena dalam feminisme dan sosialisme, ada 3 hal yang harus disentuh untuk dapat melakukan perubahan perilaku: hati, perut, alat kelamin. Aku malah mau menyentuh logika berpikir kebijakan. Ada dimana itu?

4 Januari 2018