Bedah buku Pelangi Hati di Malang

Advertisements

Hambar

Saya duduk di sini sambil menganga. Wow! Ternyata saya mengenalnya cukup baik. Fakta yang mengejutkan. Saya memiringkan kepala ke kiri sambil memperhatikan sosok tinggi dan gelap yang sedang tersenyum tidak karuan ke pelayan perempuan yang ada di depannya. Andaikan laki-laki itu bukan Joyo, saya pasti akan berpikir dia sedang menggoda perempuan malang itu.

Rumah makan ini masih baru, seperti yang dikatakan Joyo di emailnya. Sebulan belakangan, Joyo meneror saya dengan informasi warung atau restoran baru atau lama yang belum pernah dia coba. Setengah merajuk, dia akan mengajak saya makan ke sana. Biasanya saya yang mentraktirnya. Kali ini, kedua kalinya Joyo mentraktir saya. Mungkin dia mendapat proyek baru.

Saya masih memperhatikan Joyo dari kejauhan. Senyumnya cukup manis, bukan senyum yang akan membuat perempuan mabuk kepayang dan hilang akal sehat. Rambutnya yang tebal dan ikal beriak-riak dihembus kipas angin yang ada di sampingnya. Dia terlihat seperti kutu buku dengan kacamata minusnya. Saya jarang melihatnya membersihkan kacamatanya. Saya jarang melihatnya tanpa kacamata. Mungkin karena kacamata itu begitu lekat maka dia sudah menganggapnya sebagai bola mata yang tidak perlu dibersihkan.

Joyo melemparkan senyum ke arah saya. Entah apa yang mereka bicarakan di sana. Apakah Joyo merencanakan suatu kejutan? Setelah hampir setahun mengenalnya, saya pesimis kalau dia memiliki ide itu. Saya mengalihkan pandangan ke luar. Sepeda rakitannya diparkir bersebelahan dengan motor saya. Rangkanya baru diganti. Dia membelinya seharga 3,6 juta. Perlengkapan lainnya berharga cukup mahal dan bisa untuk membeli sebuah motor seken. Rangka sepeda yang lama diberikan ke sepupunya. Ya, dia pernah bercerita tentang itu sehingga saya tahu.

Saya agak terkejut ketika Joyo duduk di seberang saya dengan wajah yang cerah.
“Kamu pasti suka!” ujar Joyo.
“Suka? Suka sama apa?”
“Sama aku.” Joyo meraih sebungkus emping dan membukanya.
“Serius, Joy.”
Joyo terkekeh. “Maksudnya dengan masakan di sini. Nanti coba deh. Harganya juga edan! Murah. Harga promosi.”
“Berarti harus gua puas-puasin ya, karena abis itu elu nggak bakal traktir gua di sini lagi.” saya meraih emping dari bungkusan yang dipegang Joyo.
“Tapi kamu bawa kartu ATM ‘kan?” tanya Joyo menyelidik.
“Yeee.”

Saya memandang mata Joyo. Mata yang indah. Saya baru mengetahuinya. Tidak seindah mata Rendra yang bening tetapi sepasang mata di depannya jujur dan setia. Saya tersenyum sendiri.
“Kamu senyum sama siapa, Bu? Akhir-akhir ini kamu jadi aneh, setelah kasus sama Rendra, laki-laki dari surga itu.”
“Apaan sih?” saya mengibas kenangan dengan Rendra. “Kamu sendiri gimana? Ada kabar dari Fay?”
Fay adalah mantan pacarnya. Saya mengetahuinya dari Dimas yang memberi banyak informasi tentang Joyo.
“Fay? Dia sudah punya pacar dan kabarnya sebentar lagi akan lulus.”
“Oya? Masih patah hati?”
“Semakin berkurang.”
“Yang benar? Foto-fotonya masih ada di blog elu.”
“Mau dihapus tapi sayang. Biarin aja.”
“Obat kangen ya?” saya menggodanya.
“Aku justru merasa nggak ada gunanya menghapus foto-foto itu.”
Saya tersenyum. Pasti sulit menghapus sosok Fay dari hatinya, seperti sulitnya saya menghapus bayangan Rendra. Tapi Fay sudah lama meninggalkan Joyo dan dia masih belum dapat mencintai perempuan lain.

“Tadi elu pesan makanan atau ngajak kencan pelayannya? Lama banget!”
“Hahaha…kamu cemburu ya?”
“Bukan cemburu, gua kasihan sama pelayannya. Dia kayaknya merasa hari ini adalah hari sial.”
Joyo terkekeh. Wajahnya seperti kucing. Oya, itu salah satu fakta tentang Joyo. Dia menyukai kucing. Dia mempunyai dua ekor kucing yang sering dia potret dan fotonya dimasukkan di blog. Kedua kucingnya diberi nama Mendut dan Petok, keduanya jantan. Dia sangat sayang pada kedua kucingnya dan kadang membicarakan mereka berdua seperti layaknya saudara.

Joyo juga orang yang keras kepala. Mungkin dia berpikir bahwa keras kepalanya demi menjaga keharmonisan alam dan manusia, tidak heran dia bergabung dengan banyak komunitas termasuk peta hijau. Dia sangat keras kepala untuk melestarikan tempat-tempat bersejarah di Jogja. Demi itu tadi, menjaga keharmonisan masa lalu dan masa sekarang. Sepertinya dia sibuk menjaga keharmonisan bumi dan budaya sehingga keharmonisan dengan Fay terlupakan. Mungkin dia satu tipe dengan Superman tapi bahkan Superman punya waktu untuk Lois Lane. Saya terkekeh sendiri dengan pemikiran itu. Joyo memperhatikan saya.

“Pasti mikir yang enggak-enggak!”
“Pikiran gua selalu dikotori oleh elu Joy.”
“Itu bukan dikotori namanya tapi diwarnai.” Joyo tersenyum bangga dan membuka jaket Eiger-nya. Jaket berwarna biru dan hitam yang selalu menemaninya. Kadang saya penasaran, seperti apa rasanya menjadi jaket Joyo. Jaket yang menemaninya naik gunung, melaju dengan sepeda, dan berkunjung ke berbagai tempat bersejarah. Saya tersenyum lagi.
“Mbak, cuma aku yang bisa jujur sama kamu. Senyum kamu itu kelihatan nakal, menggoda. Nanti kamu bisa dikira perempuan nggak bener.”
“Gimana sih kamu? Masak baru tahu kalau gua perempuan nggak bener?”
“Hahahaha….”

Pelayan datang dengan tangan penuh piring makanan. Wah, ikan bakar! Hebat sekali Joyo kali ini. Tidak lama kemudian piring makanan berserakan di depan kami. Saya melirik Joyo yang menggosok tangannya dengan bersemangat.
“Lupakan diet, Ken. Kita habiskan semuanya. Aku yang bayar, hehehe.”
“Elu beruntung, Joy. Gua nggak pernah diet kalau ditraktir. Itu sudah prinsip hidup, hahahaha.”
Kami tertawa bersama.

“Tunggu dulu, Mbak. Aku foto dulu.” Begitulah. Joyo selalu membawa kamera digital saku kemana pun. Dia mengambil foto makanan kemudian saya difotonya dengan pose syuur alias sambil menggigit sepotong ikan. Dari tape recorder restoran terdengar lagu Jepang yang riang. Ah, yang satu ini pasti permintaan khusus Joyo. Dia dan kakak perempuannya suka dengan irama lagu Jepang.

“Enak, Joy.” saya berseru senang.
“Yo enak toh. Apapun makanannya, kalau bareng aku pasti enak.”
“Weeee….” saya melemparkan sepotong ikan asin ke Joyo.
“Eh, Joy! Gua suka foto elu yang berpose dengan sepeda kecil bekas di blog. Ternyata elu bisa berpose ya? Gua pikir elu jaim.”
“Oh, yang itu. Ya, tergantung siapa yang ambil fotonya.”
“Oya, siapa fotografernya?”
“Fay.”
“Oh, pantes.” saya mengangguk penuh arti. Inilah alasan saya tidak pernah membalas pernyataan suka Joyo malam itu. Saya tahu Joyo belum bisa bebas dari perasaannya terhadap Fay. Joyo melirik saya. Atau itu perasaan saya saja.

“Abis ini mau kemana, Joy?”
“Pantang bertanya kalau makanan belum habis.”
“Halah! Eh, tahu nggak pertama kali gua ke Jogja pas usia 17 tahun. Tapi waktu itu gua hampir nggak keluar kemana-mana kecuali dengan rombongan tur.
“Kuper! Coba kalau kamu keliling, kita bisa ketemu.”
“Hehehe, kamu pasti masih SMP. Mungkin waktu yang tepat untuk kita bertemu adalah tahun ini. Kita tahu kapan waktunya tiba.”
“Kamu jadi semakin bijak.”
“Pasti karena cuaca hari ini cerah. Biasanya tergantung cuaca, hehehe.”
Joyo makan dengan rakus tapi untuk seorang tukang becak selera makannya termasuk normal. Tidak perlu waktu lama untuk menelanjangkan ikan bakar menjadi duri-duri yang berserakan. Joyo melirik saya lagi. Kali ini saya tidak salah.

“Ken, kontrakmu dengan lembaga sekarang sampai kapan?”
Ah, rupanya ini yang ingin dia tanyakan.
“Sampai akhir Januari tahun depan, Joy.”
“Oya? Tinggal sebentar lagi ya, tiga bulan lagi. Apa mau diperpanjang?”
“Kayaknya enggak. Gua ingin coba yang lain.”
“Oh. Masih di Jogja atau balik ke Jakarta?”
“Sebenarnya gua ingin di Jogja dulu jadi relawan tapi kebetulan ada teman yang mengajak penelitian di Jakarta. Jadi gua balik.”
Joyo mengangguk sambil meneguk jus wortel. Sikapnya seakan tidak peduli. Yah, mungkin dia memang tidak peduli. Lagipula saya hanya mengenalnya selama sembilan bulan. Saya mengamati Joyo. Tiba-tiba terasa desiran lembut yang menenangkan.
“Joy, elu pernah baca buku yang judulnya The Waiting is Over?” saya bertanya sambil mencuci tangan di wastafel dekat meja kami.
“Siapa penulisnya?”
“Sepasang suami istri dari Australia, Ledham.”
“Tentang apa?”
“Tentang penantian yang berakhir.”
“Hehehe, itu juga aku tahu. Itu arti dari judulnya.”
“Tentang pengalaman mereka bertemu, jatuh cinta, dan menikah selama 50 tahun.”
“Oya? Aku nggak suka buku percintaan.”
“Buku ini mengenai pengalaman mereka menjalin suatu hubungan persahabatan dan pernikahan. Menarik banget.”
“Kamu aja yang cerita ke aku.”
“Gua nggak pandai bercerita. Anyway, tiga bulan lagi gua akan meninggalkan Jogja. Sebentar lagi elu akan terbebas dari gua, Joy. Elu bisa jadi guide untuk perempuan pendatang lain, seperti Irma misalnya.” Saya tersipu. Joyo terlihat cuek.
“Aku nggak merasa terbebas, kamu bukan beban.” ujar Joyo sambil membuang pandangan ke pemandangan di belakang saya.
“Oh, paling tidak nggak ada orang yang menyita waktumu untuk bersepeda.”
“Ge er deh. Kamu tidak sampai menyita waktuku.” Joyo berhenti. Sepertinya dia ingin melanjutkan kalimatnya tapi Joyo memang bukan orang yang terbuka.

“Tunggu saja aku di Jakarta.”
“Heh? Maksudmu apa? Kok kayak lagunya Sheila on 7.”
“Lihat saja nanti. Aku mungkin diundang ikut beberapa pameran di Jakarta.”
“Oya? Kasih tau gua ya?”
“Pasti. Aku akan kehilangan.”
“Kehilangan? Kamu kehilangan siapa?”
“Kehilangan cewek Jakarta yang genit dan norak di Jogja.” Joyo masih tidak menatap mata saya.
“Masih banyak cewek genit dan norak di sini. Tuh, di Amplas banyak. Tapi elu jarang ke mal ya? Ah, di tempat wisata itu biasanya juga banyak.”
“Nggak ada yang senorak dan sekonyol kamu!” ujar Joyo kali ini menatap mata saya. “Nggak ada cewek yang aku kenal sebelumnya masuk kantor dengan celana beludru model pipa warna ungu menyala, kayak mau ke pesta ultah. Atau besoknya pakai gamis hijau dengan kaos kaki bergaris warna-warni.”
“Itu kan nyeni!”
“Itu norak dan keliatan gak tau warna.”
“Buktinya berhasil menarik perhatian orang-orang.”
“Lebih tepatnya mengejutkan daripada menarik perhatian.”
“Hahahaha.” saya tertawa dan menutup mulut ketika melihat ada pelayan yang menengok.
“Lah, baju yang gua bawa dari Jakarta terbatas, Joy. Jangan marah dong!”
“Aku nggak marah. Aku akan kehilangan warna-warna kontras itu.”
Saya tertunduk mengulum senyum.

“Aku juga akan kehilangan, Joy. Kehilangan warna hitam yang secara ajaib bisa mencerahkan hidup gua. Ternyata warna hitam tidak selalu berarti gelap dan murung.”
“Memang. Aku bayar dulu ya.” Joyo beranjak mendekati kasir dengan wajah sedih. Saya tidak tahu apa yang berkecamuk di pikirannya.

Matahari bersinar terik ketika kami keluar dari restoran. Angin semilir berhembus sejuk di tempat parkir. Saya sudah siap dengan Revo lalu menengok ke Joyo yang sudah siap melaju dengan sepedanya.
“Joy, elu memang benar. Apapun makanannya, kalau bareng sama elu pasti enak.”
“Benar ‘kan? Makanya kamu jangan buru-buru balik ke Jakarta. Aku duluan ya.” Joyo tersipu dan memacu sepedanya. Saya menggeleng kepala, tidak paham mengapa dia tersipu. Mungkin Joyo benar. Tanpa Joyo, Jakarta bisa jadi hambar.

Medan, 5 April 2009

Taman Joyo Indonesia Indah

Kunjungan tempo hari itu sebenarnya tidak cukup diceritakan dalam sebuah cerita pendek. Ada begitu banyak kesan, ide, dan refleksi yang muncul. Meringkasnya dapat menutupi makna sesungguhnya. Sudah dua bulan yang lalu saya meninggalkan Jogja dan kembali tinggal di Jakarta. Perpisahan yang sangat berkesan itu masih tersimpan rapi dalam benak saya. Tidak terbayang senangnya ketika Joyo memberitahu bahwa dia diberi tugas 3 hari di Jakarta sejak Rabu sampai Jum’at. Saya langsung berinisiatif mengajaknya ke Taman Mini Indonesia Indah atau TMII. Joyo sempat segan dan memandang TMII sebagai tempat melancong anak-anak. Saya bersikeras mengajaknya ke sana, tempat yang sempat begitu akrab dan menyimpan kegelisahan saya di masa SMP.

Joyo menyerah. Tadinya dia memilih untuk bertemu dengan teman-temannya di Klub Sepeda Nusantara. Saya berhasil membujuknya untuk sejenak melihat perkembangan TMII sebagai artefak sejarah Orba sampai ke abad milenium.
“Kamu terlalu serius deh.” ujarnya merespon pemikiran saya melalui yahoo messenger.
“Kalau begitu kita melihat Taman Mini sebagai latar belakang perkembangan seorang anak perempuan bernama Niken.” jawab saya.
“Kalau yang itu terlalu dramatis. Bagaimana kalau jalan-jalan dan ambil foto untuk mengenang Ibu Tien Soeharto.” usulnya saya sambut dengan tawa berderai.
“Yang penting kamu mau ke sana, Joy. Tempat itu sangat bermakna buat gua dan gua ingin berbagi. Kayaknya lebih dari lima tahun gua nggak pernah ke sana lagi.”
“Kenapa? Kalau memang itu bermakna.”
“Ah, gua nggak tau. Tapi bener ya, kamu mau ke sana? Nanti gua yang bayarin tiket masuk. Tapi kalau mau nonton di Teater Keong Mas, bayar sendiri.”
“Iya, iya. Eh, berapa jauh dari Salemba?”
“Kalau hari Sabtu hanya sejam. Paling lama satu setengah jam kalau bus P115 ngetem lama, soalnya kalau pagi belum banyak penumpang.”
“Kalau dari rumahmu?”
“Gua bawa motor. Dari rumah gua hanya 20 menit, bisa lewat depan atau belakang.”

Hari Rabu, saya sempatkan meneleponnya. Seperti orang dari daerah luar Jakarta, Joyo tidak suka dengan Jakarta, kampung halaman saya. Dua hari kemudian, saya pastikan lagi rencana ke TMII. Saya khawatir Joyo berubah pikiran.

Entah kenapa saya ingin berbagi kesan mengenai TMII dengan Joyo. Saya tidak yakin Joyo bisa memahami kegelisahan dan pemikiran saya yang lampau. Saya ingat sekali saat berusia 15 tahun, pergi seorang diri ke TMII. Berjalan tanpa arah mengelilingi TMII sambil berusaha menguraikan kegelisahan yang menyesakkan dada. Saya sempat duduk termenung di salah satu sudut yang teduh dan bingung dengan pemikiran saya sendiri.

Saya besar di pinggiran Jakarta Timur dan bersahabat dengan anak-anak Betawi dan kelompok pendatang. Rumah orang tua yang dulu dekat dengan TMII, begitu juga rumah yang sekarang. Orang tua sering mengajak kami sekeluarga berwisata di sana sejak 1981. Saya punya koleksi foto dengan latar belakang TMII. Saya dan adik lebih mengenal TMII daripada kampung orang tua di daerah Kertosono, Jawa Timur.
t
Lamunan saya buyar oleh SMS dari Joyo.
Besok aku berangkat jam 8 dari Salemba. Kita ketemu dimana?

Saya membalas.
Kamu turun di Pasar Rebo aja, Joy. Di dekat kios buah, nanti gua jemput dan kita berangkat dari sana.

Kami bertemu di tempat yang dijanjikan dan sampai dengan selamat di TMII. Tadinya saya takut membonceng Joyo yang tingi besar. Saya ingatkan Joyo untuk berpegangan.
“Pegangan ke kamu atau ke motor?”
“Ke motor. Kalau pegangan ke gua, motornya nggak bakal jalan.”
“Kenapa?”
“Soalnya kuncinya bakal gua lempar ke muka elo.”
“Hahahaha…iya deh. Aku nurut, Bu.”
“Jangan banyak bergerak!”
“Ya ampun, aku baru tahu kalau naik motormu ada syaratnya.”
“Elu lebih berat dari gua. Jangan bawel, mengganggu konsentrasi.”
“Sifat aslimu keluar ya, Ken. Ada hikmahnya juga kita ke TMII.”

Dalam perjalanan, Joyo banyak bertanya layaknya anak SD yang pertama kali masuk TMII.
“Kamu bawa apa aja? Banyak banget.”
“Bawa tikar kecil, air, dan makanan.”
“Oh, iya ya, aku nggak mikir ke sana. Makanannya apa aja?”
“Nasi dan snack.”
“Kita di sana mau ngapain, Ken?”
“Berenang.”
“Memangnya di sana ada kolam renang?”
“Ada.”
“Memangnya kamu bisa berenang?”
“Enggak.”
“Jadi?”
“Gua mau menenggelamkan elo.” ujar saya cepat.
“Heh? Aku bisa berenang kok.”
“Ya, kita bisa naik kereta gantung, kereta listrik, naik perahu, ke taman burung, museum perangko; banyaklah.”
“Apa enaknya?”
“Enaknya ya elu bisa jalan bareng sama gua.”
“Huuu, itu sih beban. Nanti bisa ada gosip kalo kita pacaran.”
“Gua pesimis ada yang percaya.”

Sampai di dalam TMII, kami mencari tempat cocok untuk menggelar tikar.
“Kita putar-putar dulu ya, Joy.”
“Iya, aku manut. Kamu bawa ke semak-semak juga nggak masalah.”
“Eh, gantian, Joy. Elu yang bonceng. Capek gua bonceng elu.” Saya berhenti dan menyerahkan kemudi ke Joyo.
“Nanti gimana kalau ditilang?”
“Enggak, di sini bukan jalan raya.”

Setelah berputar selama setengah jam, kami berhenti di sebuah sudut rimbun di dekat danau buatan.
“Setelah lulus SD, gua langsung masuk SMP. Tidak semua teman perempuan gua masuk SMP, ada sebagian yang tidak meneruskan. Ada seorang perempuan yang sering tidak naik kelas, kabarnya setelah lulus dia dikawinkan.”
“Oya?”
“Yah, waktu itu masih ada kebiasaan kawin muda di daerah Cilangkap dan sekitarnya.”
“Waktu gua kelas tiga SMP, tidak semua lanjut ke SMA. Ada sebagian yang langsung bekerja atau menikah. Waktu masuk SMA, gua mendengar ada teman yang hamil di luar nikah. Mereka teman-teman baik. Banyaklah kejadian yang bikin gua justru tidak konsentrasi belajar.”
“Oya? Karena kamu memikirkan teman-temanmu?” tanya Joyo sambil membaringkan tubuhnya dan membuka bungkus keripik kentang.
“Iya. Memikirkan mengapa hidup gua dan mereka berbeda, mengapa gua memilih ini dan mereka melakukan itu; banyak hal. Gua nggak ngerti kenapa gua memikirkan itu semua. Satu lagi kebiasaan gua adalah membuat kliping artikel Kompas. Sejak SMP gua sudah mengkliping artikel, gua baca dan gua simpan, tidak gua tempel.” Saya berhenti sejenak dan meneguk minuman.
“Hasil dari bacaan itu makin membuat gua berpikir. Habis beritanya banyak tentang perang, sekian orang mati, harga minyak naik turun, swasembada beras, pertemuan politik, dan lain-lain. Alhasil gua senang bersembunyi di perpustakaan. Membaca dan menulis puisi. Masa SMA adalah masa melayang karena gua merasa nggak menyatu dengan masa-masa itu. Masih menganalisis seluruh informasi yang gua baca.”
“Pengetahuan kamu luas ya.”
“Luas sih iya tapi gua merasa terlindungi selama di Munjul. Dunia boleh hancur-hancuran tapi kompleks gua tetap aman. Sampai SMP gua merasa dunia itu hanya Munjul, Cilangkap, Pondok Ranggon, TMII, dan sekitarnya, hahahaha. Gua bergaul sama anak-anak kompleks dan kampung sampai akhirnya sekolah di daerah Pasar Rebo dan ketemu dengan anak-anak kota beneran.”
“Oh, jadi kamu sebenarnya bukan anak kota ya? Tapi terpaksa jadi anak kota.”
“Dari dulu gua anak Jakarta tapi di sini ada banyak macamnya, Jakarta bagian apa juga menentukan. Makin seru pas masuk kuliah karena sebagian besar teman di jurusan gua adalah anak-anak Jakarta Selatan yang biasa nongkrong di Bulungan, Blok M, Barito, atau Senayan. Alhasil gua lebih aman dengan kelompok Depok dan sekitarnya, hehehe. Gua belajar banyak.”
“Seru ya?”
“Banget, banget.”

Saya melempar pandangan jauh ke depan melewati danau. Saya bisa merasakan tatapan Joyo.
“Ada hubungannya dengan Rendra?”
Saya melengos. Rendra. Nama yang indah.
“Rendra sosok yang istimewa. Sama seperti yang lain, dia masa lalu gua.”
“Masa lalu kita berpengaruh pada masa kini. Menurutmu?”
“Iya. Iya. Gua mengenal Indonesia dari Taman Mini. Gua membangun imaji Indonesia dari sini. Berharap Indonesia memang sesederhana itu.” saya tersenyum sendiri.
“Terlalu tinggi harapanmu.”
Kami berdua bertukar senyum.

“Gua sering berkeliling Indonesia di sini, Joy.”
Joyo mengangguk sambil memakan camilan.
“Murah, meriah, dan mudah diakses. Tidak ada yang salah dengan itu.” sahut Joyo.
“Memang tidak utuh tapi cukuplah untuk materi pengenalan.”
“Sekarang ‘kan banyak propinsi baru. Berarti banyak tambahan anjungan ya?” tanya Joyo.
“Wah, gua bukan direktur operasional Taman Mini, Joy, jadi nggak tahu. Nanti kita keliling lagi deh.”

Saya dan Joyo terus ngobrol. Kemudian saya bertanya, “Elo pernah ke sini sebelumnya?”
“Pernah. Sekali, waktu itu SD kelas satu tapi nggak berkesan. Aku nangis minta pulang.”
“Enggak dibeliin topi Taman Mini ya?” saya terkekeh.
“Beli, tapi aku ‘kan mintanya terompet bukan topi.” sahut Joyo serius.

“Eh, gimana kabar Dimas?” saya mengambil minuman soda.
“Lah, kamu yang satu kantor sama dia?”
“Dia tertutup sama gua. Senyumnya paket hemat, memandang gua kayak nggak niat. Gua berasa penjahat kalo deket sama dia.”
“Hehehe…penjahat hati…hehehe. Kayaknya dia nggak rela kita jadi akrab. Soalnya dia yang mengenalkan kita.”
“Iya, ya? Kok gua nggak inget ya?”
“Ini akibat efek Rendra. Sejak sama dia, memori kamu terhapus semua. Makanya kalau jatuh cinta jangan kepala duluan.”
“Eh, enak aja! Gua cukup pakai akal kok. Kalau enggak, gua udah nangis darah.”
“Tuh, kamu lupa ya kalau sore itu kamu nangis terisak-isak nelepon aku. Baru ingat sama aku pas ketahuan Rendra sama cewek lain. Kualat kamu!”
“Elu nggak rela ya gua jatuh cinta sama Rendra?”
“Gua nggak rela ada teman yang nelepon pas gua tidur cuma buat ngasih tahu kalau Yayang-nya pacaran sama cewek lain.”
“Ya, maaf.” saya menunjukkan ekspresi menyesal. “Jangan marah, Joy. ‘Kan gua udah traktir ikan sambal di Pasar Lempuyangan.”
“Es krimnya belum.”
“Iih, kok elo jadi matre?”
“Aku nggak matre, aku menagih janji.”
“Oh, iya, iya. Nanti pulang dari sini, kita makan es krim di Tamini Plaza.”
“Enggak bisa! Kamu harus traktir aku di Jogja.”
“Lah! Jadi gua harus ke Jogja?”
“Iya, ke Jogja sama aku.” Joyo menunjukkan wajah serius. Saya tersenyum tersipu. Ah, Joyo….Joyo.
“Bilang aja elo kangen.”
“Enggak. Aku cuma menagih janji. Dulu janjinya ‘kan di Jogja.”
“Iya, nanti kalau gua main ke Jogja. Kita makan siang aja dulu.”

Kami beranjak dari sisi danau ke kedai makan di sekitar area kereta gantung.
Nafsu makan Joyo masih sama, nasi sepiring besar dan lauknya penuh. Saya tidak berkedip selama beberapa detik menatap piring Joyo. Hebat sekali perutnya bisa mencerna makanan sebanyak itu. Tiba-tiba saya membayangkan usus Joyo yang berlipat-lipat panjang dan di dalamnya bermacam makanan berdesakan untuk diproses. Berbagai enzim dikeluarkan untuk melumat dan menyerap sari makanan.
“Mbak Ken! Melamunkan Rendra lagi ya?” Joyo membuyarkan lamunan saya.
“Eh, enggak. Enggak apa-apa.” saya tersenyum sendiri.

Selesai makan, kami naik kereta gantung. Saya takut pada ketinggian tapi saya berusaha untuk tidak berpegangan ke Joyo.
“Pemandangannya bagus, Ken.” ujar Joyo.
“Iya, memang bagus.” saya menjawab datar.
“Tahu darimana? Kamu nggak nengok ke luar.”
“Nggak perlu, gua udah tahu kok. Udah biasa.”
Joyo menyorongkan tubuhnya, “Mbak takut ya?”
“Enggak! Apaan sih? Gua cuma agak mual.”
“Karena takut ketinggian ‘kan?”
“Enggak, muka elo bikin gua mual.”
“Hahaha….alasan.”

Saya sangat lega, ketika kereta gantung mendarat. Setelah selesai dari kereta gantung, kami berkeliling Taman Mini dan berfoto-foto. Ini sesi kesukaan kami. Kemudian kami pulang ke rumah saya.
“Enak ‘kan, Joy?” saya bertanya setelah kami sampai di rumah.
“Lumayan menghibur orang ndeso.”
“Tampang boleh ndeso tapi pemikiran ‘kan enggak.”
“Rumahmu kecil ya?” komentar Joyo.
“Tanah mahal.” saya menyuguhkan minuman dan makanan di meja tamu.
“Ken.”
“Apa?”
“Tadi kamu sudah tuntas cerita?”
Saya bersandar dan mengawang, “Itu sudah cukup, Joy. Gua senang bisa sharing sedikit, itu saja sangat berharga. Maaf, kalau membosankan atau mungkin agak membosankan.”
“Awalnya sih aku malas. Lagipula, aku nggak ngerti masalah orang Jakarta, jarang ketemu orang Betawi. Tapi aku suka ceritamu tentang masalah remaja di pinggiran kota. Aku yakin Taman Mini punya makna berbeda-beda untuk tiap orang.”
“Ya, memang. Itu termasuk masalah pendidikan karena nggak semua remaja punya akses yang sama ke pendidikan bermutu. Makanya waktu lulus SMP, gua dan beberapa teman memilih SMA di Cijantung atau Cililitan yang lebih dekat ke pusat kota. Kalau tidak begitu, sulit bersaing. Pikiran kita waktu itu banyak dicecoki cerita sukses, gengsi, kerja kantoran; yang seperti itulah.”

Kami melanjutkan obrolan panjang lebar. Orang tua saya sedang keluar jadi Joyo tidak sempat bertemu mereka. Joyo pamit dari rumah jam 4 sore. Saya mengantarnya sampai ke jalan besar. Ketika dia masuk ke angkutan Kampung Melayu, saya melambai. Lalu saya teringat dengan janji traktir es krim. Ah, sepertinya saya harus ke Jogja lagi untuk menuntaskan yang belum tuntas.

Medan, 29 Maret 2009

Antara Aksi dan Reaksi

Jam empat pagi saya terbangun. Saya tidak bisa tidur lagi karena teringat dengan cucian yang lumayan banyak sementara walaupun besok hari libur, saya tetap masuk kerja karena padatnya jadwal. Satu jam lebih saya menyuci, membilas, menjemur kemudian mandi. Kemudian saya merendam handuk, cucian bagian dua.

Berhubung saya sedang tidak sholat, saya langsung tekan tombol POWER ON di laptop begitu pekerjaan tadi selesai. Saya tarik email ke mail client burung petir sambil menghidupkan pidgin. Cling, cling…beberapa orang sudah online. Di seberang pulau sudah ada Bang DS yang sering online layaknya penjaga warnet.

Abang satu ini enak diajak ngobrol. Saya sering bertanya sendiri, apakah dia pernah mutung atau BT. Soalnya dia sering menunjukkan ekspresi “enteng” di wajahnya. Saya menyapanya duluan.
Saya: Pagi Bang!
DS: Pagi Neng

Setelah percakapan yang pendahuluan, saya bercerita kalau saya tidak terdaftar sebagai pemilih di Jakarta. Rupanya dia juga tidak terdaftar. Bedanya, saya ingin terdaftar dan memilih sementara Bang DS tidak ingin terdaftar dan tidak sudi memilih. Diskusi kami berlanjut ketika saya bercerita mengenai pengalaman mengamati dan melakukan aksi turun ke jalan atau rally atau pawai atau apalah namanya. Bang DS menyimak cerita saya.

DS: Siapa aja yang biasanya ikut aksi?
Saya: Staf LSM dan masyarakat dampingan dari berbagai LSM. Ini kerja jaringan, Bang
DS: Mantab
Saya: seluruh peserta, dampingan dan staf diberi makan siang. Lalu dampingan juga mendapat uang transport sekedarnya.
DS: Untuk ngapain?
Saya: Ya untuk ongkos ke tempat aksi dan kembali ke rumah masing-masing.
DS: Hmmm….

Kalau Bang DS sudah bergumam menggunakan teks, itu tandanya ada sesuatu dalam benaknya.
DS: Ah, gua ragu dengan yang begituan, Nik.
Saya: Gua juga sedang mencari logikanya, Bang. Teman gua bilang, dampingan adalah orang miskin. Kalau biaya perjalanan mereka tidak diganti ya artinya kita tidak peka dengan kondisi mereka.

DS: Tapi demonstran bayaran pun bisa ngasih alasan yang sama. Mereka dibayar karena mereka miskin. Akhirnya dibayar 50 ribu untuk ongkos dan makan.
Saya: Itu banyak, kalo kita tidak sampai segitu.
DS: Intinya peserta aksi dibayar. Aksinya damai?
Saya: Aksi kita selalu damai, ada penjagaan dari polisi. Tapi polisi juga melihat kita berkerumun untuk pembagian ongkos.
DS: Ah, mereka udah tahu makanya mereka sinis sama orang LSM.

Saya: Teman gua bilang aksi yang biasa dilakukan jaringan LSM ini ada pendidikan politiknya. Kayak kemarin minggu lalu ada aksi mendukung caleg anti korupsi. Di sana dampingan bertemu para caleg dan ada diskusi kelompok antara caleg dan dampingan.
DS: Hmmm…”mendidik” sering jadi alasan, gua sih ragu. Aktivis sering hanya bereaksi terhadap “politik” makanya mereka juga nggak belajar tentang politik. Gua kenyanglah jadi bagian mereka. Ternyata nggak ada yang berubah ya dari zaman 90-an?
Saya: Kalo tidak dengan cara itu, lalu apa?
DS: Andaikan aktivis melakukan aksi prokreatif akan lain keadaannya. Buat gua, proaktif aja nggak cukup. Kudu prokreatif gitu.
Saya: Bentuknya gimana?
DS: Wah, elu makin menantang, Nik.
Saya: Baru tau?
DS: Hehehe, enggaklah. Gua udah tahu watak elu. Makanya gua masih menunggu elu.
Saya: Wah, ini udah ganti topik!
DS: Hahaha…ok…ok. Gua nggak bisa menentukan gerakan prokreatif seperti apa tapi pada dasarnya tidak sekedar reaksi dari kondisi atau aturan yang sudah ada.
Saya: Iya, gua setuju. Aktivis juga berpikir begitu. Capek dong kalau mereka cuma reaksioner terus dengan hegemoni tanpa membangun “sub sistem” sendiri. Makanya banyak LSM yang kemudian masuk ke kredit mikro, teknologi listrik, teknologi informasi, dll; semuanya sebagai entry point untuk menawarkan alternative system.

DS: Nah elu udah tau. Lalu gimana soal bayaran tadi? Apakah itu bagian dari alternative system atau justru kebelet mau masuk mainstream?
Saya: Ya oke, gua juga masih berpikir tentang itu. Aksi yang sedang gua persiapkan dua minggu lagi untuk mendukung caleg perempuan yang nasibnya makin nggak karuan sejak ada putusan MK tentang suara terbanyak dan tidak lagi menganut nomor urut. Artinya, mereka sudah menganulir sistem zipper yang sudah lolos di UU Pemilu.
DS: Lalu?
Saya: Aktivis perempuan marah dong. Usaha memasukkan sistem zipper itu ke dalam sistem pemilu perlu perjuangan 10 tahun. Nah, ketika udah gol malah dianulir. Tapi gua sendiri nggak merasa kaget dengan putusan itu.
DS: Hahaha, soalnya bokap lu polisi dan elu udah biasa melihat aturan diputar 180 derajat dalam hitungan detik….hahaha…cerdas, mantab.
Saya: Gua nggak ikutan!
DS: Hahahaha…tapi begini, aku rasa ketika goalnya adalah “rules” maka akan muncul kekecewaan karena “rules” yang dibuat akan terus diperdebatkan sehingga rentan terhadap penggagalan. Elu lebih ngerti deh kalo yang saru-saru gitu, hehehehe.

Saya: Najis!
DS: Belagu
Saya: Biarin! Tapi iya, gua menganggap perjuangan selama 10 tahun untuk sistem zipper agar perempuan mendapat nomor urut tiga teratas sebagai reaksi dari aturan yang berlaku saat itu. Kita berusaha mengikuti aturan yang ada. Ternyata aturan yang sudah ada dalam UU aja bisa dianulir MK. Nggak sampe 10 tahun, bahkan gak sampe setahun putusan MK itu udah keluar. Canggih banget! Atau bisa dibilang terlalu “prokreatif”?
DS: Hahahaha…yang kayak begitu juga reaksioner atau prokreatif dari sisi negatif. Kalau yang positif, elu aja deh yang cari. Gua nyari pacar aja nggak dapat-dapat. Ngapain mikir begituan?
Saya: Ini masa depan bangsa, Bang!
DS: Iya tahu, Neng tapi gua milih melakukan perubahan dari sisi lain, bareng sama petani di sini.
Saya: Berarti elu masih aktivis ‘kan?
DS: Gua petani, Nik. Masih punya identitas, kalo aktivis ‘kan pengangguran atau dikontrak LSM, wkwkwk. Lagipula aktivis masih sering mengira bahwa “kalau ada aturan” maka orang lain akan follow the rules. Tapi coba lihat realitasnya, orang akan follow whatever yang memudahkan dia mencapai tujuan. Bahkan seringkali tidak selalu menurut rules. Bukan berarti gua menafikan rules ya tapi proses bagaimana rules itu jadi diyakini.
Saya: Iya, misalnya aktivis perempuan yang melihat UU PKDRT banyak membuahkan keterbukaan terhadap realitas KDRT di masyarakat.
DS: Kita terlalu sering atau jadi latah menuntut negara agar mengatur kita. Gua rasa ini muncul dari keinginan atau kebutuhan kita untuk mencapai freedom from choice tapi kita tidak mampu menemukan choices buat kita sendiri. Itu yang kita serahkan ke mereka seolah nanti akan ada choices, padahal freedom OF choices cuma muter-muter disitu-situ juga.
Saya: Tapi gini, Bang. Tindakan reaksioner itu dilakukan karena kelompok aktivis masih lemah dalam arti bukan di sentral untuk mempengaruhi kebijakan. Jadi merekalah yang merasa ditekan untuk terus menyesuaikan agenda gerakan dengan kondisi yang dibuat penguasa.
DS: Memang, tapi jangan keterusan karena akibatnya begitu terus, siklus yang sama. Udah jatuh bangun advokasi kebijakan, giliran sudah oke ada penghalang baru, penyesuaian lagi. Capek ‘kan?

Saya: Iya. Tuntutan aktivis secara umum agar pemerintah melakukan fungsi legislatif dan proteksi terhadap warga negara, Bang. Aktivis melihat proses lolosnya sebuah ide dalam UU atau UU baru sebagai hasil dari gerakan sosial bukan lagi dari “kecanggihan” lobi uang.
DS: Iya, sepakat tapi gerakan sosial tidak sesederhana itu juga.
Saya: Aksi turun ke jalan juga dilakukan untuk mengingatkan masyarakat dan negara tentang kondisi saat ini. Media mana mau meliput kalau nggak ada sensasional.
DS: Ya kalo sensasional juga malah jadi tontonan doang. Gua nggak anti soal aksi cuma kita perlu melihat pragmatisme cara berpikir masyarakat. Elu pasti paham. Gua ‘kan tahu jam terbang elu.
Saya: Jam terbang apa?
DS: Masak harus gua jelasin?
Saya: Kawan-kawan mungkin belum melihat ada cara ampuh lain untuk menunjukkan keberadaan dan tuntutan mereka.
DS: Ya tapi dilihat kecenderungannya, para aktivis meyakini bahwa aksi itu sebagai gerakan sosial.
Saya: Itu ‘kan salah satunya, gerakan sosial juga mencakup penguatan dampingan dan jaringan.
DS: Iyalah. Coba deh elu baca tentang activity theory atau praxeology. Dari sana bisa dilihat mengenai bagaimana orang dalam suatu komunitas menemukan knowledge yang menjadi landasan keyakinannya dan bagaimana hal-hal itu di “interaksikan”, ya seperti itulah.
Saya: Bacaan jorok apalagi nih?
DS: Hahahaha…ini porno gaya baru, Ken. Lumayan buat pengetahuan wkwkwk. Biasanya elu paling suka.
Saya: Bang, kenapa elu nggak mau daftar jadi pemilih?
DS: Memilih ‘kan tidak hanya di pemilu.
Saya: Klise. Alasannya para golput.
DS: Memang begitu. Selama hidup ini kita terus kompromi dan memilih. Eh, Nik, gua kudu pergi nih.
Saya: Kemana?
DS: Ke tempat yang sepi.
Saya: Toilet juga sepi.
DS: Dodol! Masak gua disuruh rebahan di toilet. Nanti kalo udah kangen, SMS aja ya?
Saya: Najis!
DS: Muna! Lihat aja nanti. Gua yakin elu bakal SMS gua malam ini.
Saya: Aduh, Bang. Saran gua, Abang diet kepercayaan diri deh. Udah, pergi aja sono.
DS: See you.
Saya: Yeah.

Medan, 8 Maret 2009
Sebagian ide dikutip dari diskusi dengan Bang Didi.

Rendra, Laki-laki dari Surga

Ada banyak dewa dewi di surga tetapi hanya satu yang bernama Rendra. Belakangan saya mengetahui tentang fakta itu.

Satu bulan terakhir hati saya sedang berbunga-bunga. Saya baru berkenalan dengan Rendra, laki-laki paling ganteng di seluruh Nusantara. Indra, teman perempuan saya yang mengenalkannya. Rendra berasal dari Ponorogo, Jawa Timur. Dia sudah bermukim di Jogja selama enam tahun. Sejak perkenalan itu, kami sering bertukar SMS dan jadi lebih dekat. Saya hampir lupa mempunyai teman bernama Joyo kalau dia tidak mengirim SMS mengajak datang ke pameran di Cemeti.

Joyo datang dengan sepedanya ke kos saya. Dengan hangat dia menyalami Mas Karyo.
“Kulo nuwun, Mas.”
“Eh, Den Mas Joyo. Pasti mencari Mbak Ken ya. Aku sudah bisa nebak lho!”
“Makin cerdas saja, Mas Karyo ini. Saya jadi malu. Ah, Mbakyu sudah menunggu di sini. Pangeran bersepeda siap mengantarkan Mbakyu.” Joyo tersenyum cerah.
“Iye. Telat lima menit!”
“Ya ampun, Mbakyu. Di Jogja itu waktu bukan lagi 24 jam tapi 48 jam.”
“Waktu adalah kesempatan dan kesempatan adalah uang.” sahut saya memperbaiki.
“Kelihatan mata duitan.” Joyo bicara dengan Mas Karyo.
“Udah ah. Males gua berantem lagi, nanti kita berhenti dulu di swalayan Mirota ya. Gua mau beli cologne.”
“Wes toh, Mbak. Mbak Ken itu sudah harum tanpa pake cologne.” jawab Joyo yang diiringi dengan tawa Mas Karyo.
“Kayaknya mulut lu perlu disumpel pake gorengan.” saya menyahut sambil menghampiri sepeda motor.
“Kalo itu aku nggak mungkin nolak..hehehehe. Udah dulu ya Mas. Nganter Mbakyu dulu.” Joyo pamit ke Mas Karyo yang masih cekikikan.

Sampai di Mirota, Joyo memarkir sepeda motor di dekat halaman Edward Forrer. Saya masuk ke dalam, mengambil barang yang saya inginkan dan keluar dalam beberapa menit. Saya tidak mudah tergoda dengan barang-barang di swalayan. Ketika saya menghampiri sepeda motor di seberang, tiba-tiba saya mengenali sosok yang membuat dengkul saya lemas. Rendra. Dia sedang berhenti di lampu merah.
“Rendra?” saya memanggilnya seakan tidak percaya. Sosok yang saya sapa menoleh dan tersenyum dari balik helm kemudian memutar balik motor Tiger-nya dan mendekati kami berdua.

“Halo, Ken!” sapa Rendra. Saya merasakan kehangatan menjalar di seluruh tubuh. Saya tidak mempedulikan Joyo. Dia mati pun saya tidak mau tahu. Saya sedang jatuh cinta.
“Halo, Ren! Mau kemana? Sendirian?” saya tersenyum menggoda.
“Iya. Aku pikir kamu lagi sibuk jadi aku nggak sempat ngajak.”
“Kapan sih gua pernah sibuk untuk jalan-jalan?” saya tersenyum manja.
“Ehem, ehem..” saya mencari sumber suara mendehem yang ternyata berasal dari Joyo. Dia mencari perhatian.
“Eh ya, Ren, ini Joyo, teman gua.” saya mengenalkan Joyo dengan tatapan masih terpaku pada wajah tampan Rendra.
“Saya Joyo, Mas. Teman biasa Mbak Niken.” ujar Joyo.
“Kita berdua mau ke Cemeti, ada pameran instalasi.” saya menjelaskan agar Rendra tidak berburuk sangka.
“Ooh, suka ya ke pameran? Minggu depan ada temanku yang pameran. Nanti aku hubungi ya. Sekarang aku mau ke tempat teman di Jakal 12. Nanti kita kontak-kontakan lagi ya?” Rendra tersenyum halus dan penuh pesona. Andai saja saya bisa berjingkrak-jingkrak di tempat itu tanpa ditonton orang banyak.
“Oke, nanti hubungi gua ya?”
“Pasti. Ayo, Joy. Duluan ya?” Rendra berpamitan ke Joyo.
“Monggo, Mas.”
Rendra berlalu dari hadapan kami dan saya masih tersenyum sendiri memandang kepergiannya.
“Mbak Ken, hati-hati! Di sini sering ada razia orang gila, kamu bisa dijaring kalo senyum nggak jelas gitu. Mingkem!”
Saya cemberut.

“Cemburu ya? Nggak ikhlas lihat gua senang. Itu dia cowok yang pernah gua omongin, Joy. Ganteng ‘kan? Arjuna aja kalah, Joy. Shahrukh Khan nggak ada apa-apanya sama dia. Tiger-nya anyar lho, Joy!”
“Wes, naik! Kita harus cepat ke Cemeti.” Joyo menghardik dengan nada kesal. Saya naik ke atas motor dan pembicaraan itu berlanjut.
“Kamu itu nyari cowok jangan lihat fisiknya tapi lihat hatinya. Tampang boleh kayak James Bond tapi kalo dia playboy gimana?” ujar Joyo menasehati.
“Gimana cara melihat hati orang? Kayaknya Rendra jodoh gua. Elu lihat sendiri dia sepertinya tertarik sama gua. Jarang-jarang gua jatuh cinta, Joy.”
“Dia anak mana?”
“Informatika UGM. Asalnya dari Ponorogo. He is so gorgeous.”
“Dilebih-lebihkan! Bapakku juga orang Madiun, tetangganya Ponorogo, dan dia nggak seganteng itu.”
“Yah, gua bisa melihat rupa bapakmu dari tampangmu, Joy.”
“Mbakyu, cowok kayak Mas Rendra peminatnya banyak, ngantri. Ganteng, arek informatika, motore anyar; aku wes hapal. Apalagi Mbak Ken belum pernah pacaran, jadi belum pengalaman.”
“Pake ngajarin gua! Elu aja baru sekali pacaran.” saya nyolot.
“Mbakyu udah berapa lama jalan sama Mas Rendra?” tanya Joyo.
“Emm, satu bulan. Setiap hari kita SMS-an, tiap tiga hari sekali kita pasti jalan. Cuma kali ini aja gua mau jalan sama elu.”
“Baru satu bulan, belum bisa kenal luar dalam. Coba dulu sampai satu tahun.”
“Iya, Mbah Joyo. Elu sendiri lagi dekat sama siapa?”
“Ya, sama orang yang sedang kubonceng ini.”
Saya tersenyum dan tidak berkomentar.

Sampai di Cemeti bahkan sampai kami pulang, bayang-bayang Rendra tetap ada di pelupuk mata. Tidak mungkin Joyo tidak tahu perasaan saya saat itu. Sebulan berikutnya, hubungan saya dan Rendra semakin dekat. Dia bahkan mempertemukan saya dengan orang tuanya ketika mereka sedang berlibur di Jogja. Saya tidak pernah membalas SMS dari Joyo. Dunia saya dipenuhi Rendra, cowok terindah yang biasa hidup dalam novel percintaan. Rendra begitu nyata dan dia benar-benar tertarik dengan saya.

Ini adalah bagian yang saya suka. Jam sepuluh malam, saya dan Rendra berada di sebuah cafe. Saya suka masakan pedas dan Rendra tahu tempat yang tepat untuk itu. Kami ngobrol mengenai hubungan masa lalunya dengan beberapa perempuan. Dia mengatakan mencari hubungan yang serius. Jantung saya hampir lumer. Kira-kira apa maksudnya? Dan kenapa semakin hari, dia semakin tampak memesona. Apakah dia memakai susuk? Alarm di otak saya berbunyi.
“Orang tuaku senang denganmu.”
Saya meremas-remas taplak meja, gelisah. Rasanya dua bulan terlalu cepat untuk bisa ke tahap yang lebih serius.
“Begitu ya? Elu belum ketemu orang tua gua ‘kan?”
“Kapanpun kamu mau, aku siap.”
Glodak! Mampus! Saya mengutuk diri sendiri.
“Tidak perlu buru-buru ‘kan? Masih ada waktu.”
“Aku merasa cocok dengan kamu. Entah kenapa, aku merasa cukup yakin dan aku tidak ingin kehilangan kesempatan ini.”
Ya Tuhan…apakah ini bagian dari serial Cinta Fitri? Saya menggelengkan kepala.
“Ya, gua juga suka dengan hubungan ini.” saya mengusap hidung, kebiasaan lama kalau sedang gugup.
Rendra menatap saya dengan matanya yang tajam. Saya pura-pura bergegas. Saya melihat jam tangan. Sudah pukul dua belas malam. Cinderella harus pulang.
“Gua harus balik nih. Nggak enak sama ibu kos.”
“Kosanmu dekat sini ‘kan? Gimana kalo aku antar dengan jalan kaki. Motorku di sini aja. Aman kok. Nanti aku bisa balik jalan kaki.”
“Yang bener? Nggak apa-apa?” saya bertanya setengah tidak percaya.
“Iya. Ayo!” Rendra meraih tangan saya dan saya menahan napas.

Dalam keheningan malam di Selatan Jogja, kami berjalan berdampingan. Rendra masih menggenggam tangan kiri saya. Sebatang rokok LA Light terselip di jari tangan kirinya.
“Kira-kira kapan aku bisa ketemu orang tuamu di Jakarta?” tanya Rendra.
“Kayaknya bulan depan mereka mau jalan-jalan ke Jogja.” saya menjawab tanpa berpikir.
“Oke, berarti aku bisa ketemu mereka.”
“Yap.” Saya memandang wajahnya dan dia membalas dengan senyum yang menawan. Sayup-sayup saya mendengar alarm kebakaran tapi rasanya tidak cocok jika suasana romantis ini diiringi alarm. Akhirnya saya mengganti musik di otak dengan lagu Without You-nya Audy.

Love can make you feel so funny
No house no car not even money
Will make me feel the way
What I’m really tryin to say
I can’t live another day
Without You

Kami berdekatan dan bergenggaman tangan.
“Aku nggak pernah menjanjikan ke seorang perempuan bahwa aku akan menikahinya.” tiba-tiba Rendra bicara sambil melempar pandangan ke depan. Saya berusaha mencerna kalimatnya. Apakah wajah saya terlihat seperti perempuan yang minta dinikahi?
Rendra menyambung, “Aku senang bisa berdekatan dan terbuka bercerita denganmu. Kamu gimana?”
“Ya, gua juga senang kita bisa terbuka. Dan gua nggak minta dinikahi kok.” saya meresponnya dengan pernyataan yang tegas.
“Oh, ya aku bicara seperti itu karena punya pengalaman sebelumnya. Perempuan kadang punya harapan begitu tinggi.”
“Itu karena laki-lakinya memberi harapan yang tinggi.” saya membalasnya.
“Oh gitu ya. Jiwa feminismu makin kelihatan.”
“Biasa aja. Bawaan dari Jakarta.”
Rendra tersenyum.
Heran, kenapa Tuhan bisa memberi senyum yang begitu manis di bibirnya? Apakah seluruh laki-laki di Ponorogo diciptakan begitu memesona?

“Kamu kelihatannya dekat dengan Joyo.” ujar Rendra.
“Dia teman yang baik. Kita memang dekat, tidak ada yang istimewa. Orangnya aneh. Setiap Jum’at minggu ketiga, badannya bau kemenyan tapi dia nggak pernah ngaku.”
“Hahahaha….kalian berdua kayaknya sama anehnya.”
“Itu karena gua keseringan jalan bareng dia. Aneh itu ‘kan menular.”
“Kata siapa?”
“Kata gua.”
Rendra tersenyum lagi. Rasanya saya harus menutup mata setiap kali dia tersenyum kalau tidak ingin pingsan di tengah jalan. Tangannya hangat, senyumnya hangat, wajahnya hangat; semua dalam dirinya menghangatkan. Serasa di microwave.

Saya berharap seorang jin iseng memindahkan letak kos saya semakin jauh di ujung Kota Bantul. Namun apa daya, kos saya memang dekat. Sebenarnya ide siapa mencari kos sedekat ini?
Tiba-tiba, kami sudah sampai di gerbang kos. Hampir saja saya lupa.

Kami masih berpegangan tangan dan rasanya sulit memisahkan keduanya meskipun dipaksa satu batalyon Brimob. Saya berdiri di hadapannya, tersenyum dan tidak ingin berhenti menatapnya. Entah setan apa yang merasuki, saya bertanya, “Ren, elu yakin belum punya pacar?”
Rendra agak terkejut dengan pertanyaan saya, kemudian berkata, “Aku jarang pacaran, Ken. Seperti aku bilang, aku memang punya banyak teman dekat perempuan. Tidak ada yang serius.”
Saya tersenyum lega.

“Oke, sampai besok ya. Kita YM-an aja.”
“Itu kalo aku masih ingat password YM. Kayaknya setelah malam ini, aku jadi sulit mengingat yang lain.” sahut Rendra.
“Hahahaha, lagakmu! Sudah ya.” saya melepaskan genggamannya dengan sangat enggan. Tangan saya gemetaran mencapai gembok di balik pintu. Entah kenapa malam ini lubang kuncinya sulit ditemukan. Hayah!
“Kamu yakin ini kosanmu? Kok nggak bisa dibuka? Coba aku bukain!” ujar Rendra dan beberapa detik kemudian dia bisa membuka pintu gerbang.
“Kayaknya kamu ada bakat jadi tukang buka pintu gerbang.” saya menggoda.
“Aku sudah senang bisa membuka pintu gerbang hatimu.” kami berdua cekikikan.

Kami berpisah. Saya masuk ke kamar kos dengan hati sebesar Bandara Adi Soetjipto. Senaaaang sekali. Sudah lama saya tidak merasakan perasaan ini. Sampai di kamar kos, saya berganti baju dan menghempaskan tubuh ke springbed. Ada sesuatu yang mengganjal. Saya mengangkat HP dan terlihat ada SMS masuk dari Joyo.
Bu, mau main ke Candi Prambanan nggak? Nanti sekalian ke Candi Boko. Bagus lho!

Ah, Joyo. Joy, saat ini hanya ada satu dewa yang bersemayam di hati yaitu Rendra. Saya memilih memandangi relief Dewa Rendra daripada dewa dewi yang dipahat di Prambanan atau candi lain. Rasanya malam ini saya akan sulit tidur.

Medan, 22 Februari 2009

Solo Lestari

Suasana Solo yang tenang dan tenteram mulai bergejolak ketika Joyo, sang pemandu, mulai memberondong saya dengan berbagai pertanyaan. Joyo adalah sosok yang suka mengulik pemikiran orang lain untuk digunakan sebagai bahan karikatur.

Sore itu kami sedang berada di sekitar Stadion Manahan di Solo. Kami sedang duduk-duduk di atas tikar, di bawah pohon rindang sambil makan tahu campur. Dia sedang dikejar tenggat waktu untuk membuat karikatur mengenai krisis keuangan global akibat jatuhnya berbagai perusahaan real estate di Amerika Serikat. Saya sendiri tidak paham korelasi krisis global dengan pertanyaannya. Baca saja transkripnya di bawah ini.

“Mbak Ken, aku boleh tanya-tanya ya?”
“Boleh,” saya tersenyum manis pada sosok yang selalu siap membantu saya. Joyo tersipu melihat saya.
“Posisi Mbak di lembaga yang sekarang ini apa sih?”
“Program coordinator.”
“Oh, pekerjaannya apa Mbak?”
“Mengkoordinasikan program yang sedang dilakukan.”
“Oh, programnya apa Mbak?”
“Movement building initiative yaitu membangun inisiatif dari para aktivis perempuan untuk menguatkan gerakan feminis.”
“Wah, keren Mbak. Lalu konkritnya kerjaan Mbak opo toh?”
Saya melihat ada kerumunan nyamuk di atas kepala Joyo. Rasanya saya ingin mencari obat nyamuk semprot untuk mengusir mereka. Perhatian saya beralih ke pertanyaan Joyo.

“Kerjaan gua? Jadi panitia workshop untuk tingkat nasional dan regional.”
“Ooh, itu namanya event organizer Mbak.” Joyo tersenyum bangga. “Aku juga sering jadi EO. Lalu apalagi?”
“Bikin laporan naratif dan laporan keuangan. Menata administrasi. Lembaga ini masih belum banyak kegiatan jadi nggak terlalu banyak kegiatan.”
“Habis itu apalagi?”
“Ya, aku diperbantukan di berbagai kegiatan di lembaga host misalnya jadi notulen di seminar mereka, menyusun dan distribusi media kampanye, bikin video iklan singkat, desain notebook, membuat artikel seperti itulah.”
“Oh, yo aku juga ngerjain itu Mbak. Mbak’e ngerti aku bikin komik, video tutorial, dan bikin liputan untuk surat kabar.”
“Emm, berarti pekerjaan kita kayaknya mirip ya?” saya menatap Joyo dengan heran.
“Lalu apalagi Mbak? Kalau aku ‘kan sering diminta konsultasi sama bosku tentang perencanaan program dan metodenya. Sebagai koordinator program, Mbak’e seperti itu juga ya?”
“Emm, nggak begitu dalam sih. Keterlibatan gua masih sebatas mendengar dan merangkum karena mendorong inisiatif itu proses yang cukup lama dan gua perlu waktu untuk memahami konteks region dan pemikiran dari supervisor gua. Gua justru lebih terlibat dalam perencanaan program di tempat kerja sebelum ini.”
“Lalu kalau boleh saya tahu…hehehe, ya tidak usah dibuka kalau Mbak keberatan.”
“Buka apaan maksudnya?” saya curiga dengan senyum mesum Joyo.
“Honor Mbak per bulan itu berapa sih? Sekali lagi nggak usah disebut kalau tidak mau karena ini mungkin isu yang sangat sensitif. Buat aku terutama karena masih minim banget.” Joyo menundukkan pandangannya.

Lama kelamaan saya ingin mengambil obat nyamuk untuk disemprotkan ke muka Joyo daripada ke kerumunan nyamuk di atas kepalanya. Tapi Joyo bukan nyamuk jadi rasanya obat nyamuk tidak akan berpengaruh.
“Itu sih enggak sensitif. Gua dapat honor secara halal kok dan gua punya hak untuk secara transparan memberitahukan ke publik. Honor gua dalam dollar, jumlahnya 275 ditambah dengan uang makan sehari dua puluh ribu rupiah. Kalau dollar lagi naik kayak sekarang karena krisis global, jumlahnya kalau dirupiahkan ditambah uang makan bisa tiga koma tujuh juta.”
“Wah besar sekali, Mbak. Tugas kita mirip tapi honor kita beda. Kira-kira kenapa Mbak?” Joyo masih mengunyah tahu di dalam mulutnya.
“Joyo!”
“Apa Mbak?”
“Ada seprei nggak? Gua mau buntel elu untuk dilarung ke pantai selatan. Kebanyakan tanya deh.”
“Hihihi, Mbak Ken ini lucu. Mendingan kardus tipi daripada seprei. Lah badanku ‘kan besar memanjang.”

Kami saling berdiam diri sejenak. Saya merasa segar setelah seharian mengunjungi Museum Radya Pustaka, museum tertua di Indonesia. Udara di sekitar stadion Manahan terasa segar.
“Mbak, aku boleh tanya lagi?” Joyo memulai perkara.
“Apaan?”
“Yang tadi belum dijawab, Mbak. Kenapa honor kita beda? Aku penasaran lho.”
“Ya biasanya ada standar pendidikan. Mereka ‘kan melihat gua lulusan pascasarjana.”
“Memangnya untuk melakukan tugas-tugas Mbak itu harus lulus pascasarjana ya?”
“Enggaklah. Siapapun bisa kok. Cuma mungkin mereka berpikir ke depannya akan lebih banyak program dan perlu ada orang dengan perspektif kesetaraan gender yang baik untuk melakukannya. Mendingan elu bikin daftar pertanyaan lalu kirim ke email gua.” Joyo melirik tahu campur di piring saya. Makanannya sudah habis. Sepertinya Joyo tidak pernah mengunyah makanan dengan baik karena selalu diselesaikan dengan cepat.

“Gorengan itu kayaknya enak deh, Mbak.” Joyo menunjuk dengan pandangannya ke arah gerobak gorengan.
“Beli sendiri! Gua udah bayarin tahu campur sama ongkos ke sini.”
“Mbak’e, uang banyak itu untuk apa kalau bukan membahagiakan orang lain. Hidup itu ya secukupnya. Itu falsafah orang Jogja.”
“Joy!”
“Apa…”
“Kayaknya gua berubah pikiran. Lebih baik gua larung elu ke sungai Ciliwung, biar cepat ditemukan.”
“Mbak Ken ini sadis ya. Dari luar saja terlihat kalem dan pendiam, tapi di dalamnya penuh kemarahan dan niat jahat.”
“Joyooo!” saya berteriak dan beberapa orang di sekeliling kami menoleh. Saya menundukkan wajah sejenak sebelum akhirnya memelototi Joyo. Saya kemudian berbisik, “Oke, Joy, gua akan belikan gorengan asal elu nggak tanya-tanya lagi sampe Jogja.”
“Siap!” dengan sigap Joyo berdiri dan menghampiri gerobak gorengan. Dia kembali dengan bungkusan plastik penuh gorengan.
“Semuanya enam ribu, Mbak. Lumayan buat makan di jalan.”

Kami pun beranjak dari Stadion Manahan. Dengan becak, kami menuju stasiun Solo Balapan.
“Mbak Ken.”
“Ape?”
“Bagaimana ya ngomongnya. Gini Mbak…”
“Iye…apaan?” saya mulai tidak sabar.
“Aku belum tahu jawaban Mbak Ken. Sebenarnya Mbak memilih aku atau Dimas?”
“Enggak dua-duanya. Inget ya, tadi elu janji nggak akan tanya-tanya gua sampe Jogja!”
“Ya, sudahlah. Satu jam lewat lima belas menit dari sekarang aku tanya Mbak lagi.”

Setelah membeli karcis, kami duduk di ruang tunggu.
“Joy, gua lihat karikatur elu tiga hari yang lalu yang membahas mengenai kaum difabel. Gua suka tuh.”
“Oya, menurut pendapat Mbak, karikatur itu menggambarkan apa?”
“Ya menggambarkan bahwa di setiap orang normal selalu ada kaum difabel. Gua suka dengan gambaran modifikasi Ganesha, menggambarkan bahwa orang bisa berjalan dengan banyak cara, bisa dengan kaki, dengan roda, dengan tongkat; apapun. Kayaknya itu salah satu masterpiece elu.”
“Wah, Bu, kamu cerdas sekali ya menerjemahkannya. Tidak sia-sia kamu digaji tinggi.”
“Joyooo!!”
“Lah, opo maneh? Aku mau dilarung dimana sekarang?” Joyo memelas.
“Nggak perlu dilarung! Diikat di tengah rel kereta ini aja!”
“Berdua sama Mbak ya?”

Cahaya matahari semakin meredup dan gelap merayap. Saya dan Joyo masih terus terlibat dalam pembicaraan bernuansa kekerasan yang manja. Kereta api prameks membawa kami ke Jogja dan kembali dalam kehidupan penuh warna.

Medan, 22 Februari 2009

Joyo Lestari

Malaikat itu ada, tetapi kadang ketika mereka tidak punya sayap, kita menyebut mereka TEMAN. Saya percaya itu. Bahkan ketika suatu hari teman itu membawa saya kesasar.

Saya masih penasaran dengan nama Mendut sebagai nama candi di Magelang. Saya menyukai candi itu dibanding Bobobudur. Dua kali Joyo memberi taut mengenai Mendut. Bacaan itu belum menuntaskan keingintahuan saya. Saya melipat tangan di dada sambil mematut diri di depan cermin, memperhatikan dua jerawat di pipi dengan seksama. Sepertinya sebentar lagi saya akan menstruasi. Saya masuk ke kamar mandi dan mencuci muka. Walaupun ukurannya kecil, kamar kos saya memiliki kamar mandi di dalam.

Setelah mengeringkan muka, saya membuka pintu kamar agar mengetahui kedatangan teman-teman kos. Sebuah SMS dari Joyo masuk.
Halo, Ken. Aku dengar besok ada makan-makan gratis. Aku diundang nggak?

Hah! Darimana Joyo tahu ultah saya? Pasti Dimas yang memberi tahu. Saya memang berencana mentraktir teman-teman satu divisi di kantor. Tapi Joyo? Seorang pemandu wisata, pekerja seni dan aktivis sepeda ontel paruh waktu yang baru saya kenal minta ikut ditraktir? Orangnya menyenangkan, selera humornya aneh, dan tidak pernah ragu untuk menunjukkan keburukan saya. Saya sudah pesan tempat untuk lima orang di restoran saung Karisan di Godean. Saya tahu selera makan Joyo sangat besar, rasanya….

Saya dikejutkan dengan dering telepon genggam. Ragu-ragu, saya menerima panggilan.
“Halo, Joy.”
“Halo, Ken! Enggak mengganggu ‘kan?” sahut Joyo.
“Tergantung, elo mau ngomong atau mau nodong?”
“Hehehe, Dimas bilang besok kamu mau ntraktir sea food di Godean. Aku tahu lho tempatnya.”
“Oya? Gua justru belum tahu. Dimas yang kasih rekomendasi. Lalu apa hubungan sama elo?”
“Nah, itu dia. Dimas bilang pesertanya lima orang dan kamu belum ada yang bonceng ‘kan?”
“Gua bisa dibonceng Dimas. Lagian yang penting gua punya motor.”
“Gini, Ken. Si Dona, pacarnya Dimas itu cemburuan. Dia pasti nggak suka lihat Dimas bonceng cewek lain. Gimana kalau aku yang bonceng? Aku yang jadi pemandu jalan. Kualitas terjamin. Kamu pernah coba sendiri.” Joyo melancarkan rayuan.
“Gimana ya? Gua udah pesan tempat untuk lima orang. Nanti elo nggak kebagian.”
“Makanannya bukan nasi bungkus ‘kan? Bisa diatur lah. Daripada kamu nyasar. Soalnya itu masuk ke jalan kecil. Kamu ‘kan baru empat bulan di Jogja, pasti bingung.”

Joyo benar juga. Akhirnya saya membalas rayuan Joyo.
“Joy, sebenarnya elo itu pingin bonceng gua atau pingin makan gratis?”
“Enggak lah, Ken. Aku ini tulus mau membantu orang yang akan merayakan hari bahagianya. Dimas sendiri yang minta bantuanku.”
“Yang bener?”
“Tanya wae kalo ndak percaya. Kamu orangnya curigaan ya? Orang Jogja itu memang senang membantu pendatang. Malah sebenarnya besok aku sibuk mempersiapkan pameran Jogja Biennale. Aku bukan cowok materialistis, Mbak.” ujar Joyo secara meyakinkan.
“Yah, oke deh. Nanti gua tanya Dimas juga. Elo bisa ke kos gua jam tujuh?”
“Bisa, Mbae. Aku itu cowok by request. Diminta kapanpun jadi.”
“Cowok panggilan dong.”
“Tapi aku ndak dibayar. Ya, tanya saja sama Dimas. Sampai ketemu besok malam. Selamat ulang tahun.”
“Belon!” saya berteriak.
“Oh, iya, ya. Aduh, galak sekali Mbak ini. See you. Matur suwun.”

Telepon ditutup dan saya termangu sebentar sebelum mengirim SMS ke Dimas menanyakan kebenaran cerita Joyo. Tidak lama kemudian Dimas membalas dan membenarkan pernyataan Joyo. Saya memang sudah mendengar reputasi Dona di kantor. Entah kenapa, ada rasa senang mengetahui besok saya akan bertemu Joyo.

Saya membuka lemari dan mengeluarkan sebuah album foto. Saya melihat kembali foto-foto yang diambil Joyo di Candi Mendut. Ya, besok saya harus membawa kamera.

Besoknya saya terbangun dengan terkejut. Ada rasa sakit di wajah. Saya bergerak menghampiri cermin. Wah, jerawat saya semakin matang. Semoga ini pertanda bahwa saya juga semakin matang. Saya menggeliat dan duduk di tepi tempat tidur, menunggu sampai jiwa saya kembali dengan penuh. Dua puluh sembilan tahun. Saya memejamkan mata dan memanjatkan do’a. Cukup panjang perjalanan saya.

Teman-teman di kantor menyambut saya dengan hangat.
“Wah, the birthday girl is coming! Selamat ya, Jeng. Panjang umur dan panjang jodoh deh.” ujar Dyah sambil memeluk saya.
“Lho, maksudnya panjang jodoh gimana?” saya memprotes.
“Maksudnya panjang yang ngantri untuk mendapatkan kamu.” sela Mbak Fina.
“Bisa aja.” saya melirik Mbak Fina.

Kemudian datang Dimas dengan senyum merekah.
“Selamat ultah, Mbak. Semoga sehat selalu.” Dimas menggenggam tangan saya. Matanya tajam menatap saya.
“Oh, iya. Makasih ya.” saya tergagap menyambut ucapannya.
“Hari ini Mbak kelihatan cantik.” ujar Dimas.
“Ah, jerawatan begini kok dibilang cantik. Menghibur ya?” kami berdua tertawa. Kami pun melanjutkan rutinitas kerja.

Saya melihat ke arah jam di dinding. Ah, masih lama. Saya masih penasaran dengan tatapan Dimas. Sepertinya ada sesuatu. Nanti akan saya tanyakan ke Joyo. Banyaknya pekerjaan membuat saya tidak sadar dengan waktu. SMS dari Joyo masuk.
Mbak Ken, dresscode malam ini apa ya?

Aduh, anak satu ini konyol. Saya balas SMS-nya.
Dilarang memakai warna hitam kecuali celana dalam. Gua nggak suka hitam.
Saya tahu Joyo hampir tidak punya pakaian berwarna selain hitam. Datanglah balasannya.
Jaketku warna biru tua, celanaku hijau gelap. Pas ya, Mbak. Jam tujuh teng saya ke kosmu.
Halah, ujung-ujungnya warna gelap juga.

Seharian saya melihat Dimas agak gelisah. Entah karena ada tenggat waktu pekerjaannya atau ada hal lain. Selama dua minggu ini, dia “dipinjam” di divisi lain sehingga saya tidak mengetahui apa yang sedang dikerjakannya. Setiap melewati meja saya, dia akan tersenyum tersipu. Heran. Tidak seperti biasanya.

Jam setengah enam sore, saya pulang ke kos yang bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Saya mandi dan berganti pakaian. Jam enam lewat saya bersiap-siap. Saya menitip pesan ke Mas Karyo, penjaga kos, untuk memanggil saya jika Joyo datang. Kami berdua akan berangkat sendiri sementara rombongan Mbak Fani, Dimas, Dyah, dan Mas Aryo akan bertemu di tugu.

Malam ini kelihatan cerah. Kemudian saya mendengar suara kecil dari ruang depan. Mas Karyo sedang ngobrol dengan seseorang. Saya menengok ke luar.
“Mbak Ken, cowokmu sudah datang.” ujar Mas Karyo.
Saya tersenyum lega. Si pemandu wisata melambai dan saya berjalan mendekat.
“Dia bukan cowok saya, Mas. Teman biasa.” ujar saya.
“Ooh, teman biasa toh.” sahut Mas Karyo sambil tersenyum.

“Apa kabar, Ken? Hajatan besar nih, ultah ke tiga puluh ‘kan?” Joyo menyeringai.
Saya pasang wajah cemberut sambil memeluk tas tangan di dada.
“Dua sembilan,” jawab saya ketus.
“Oh, ya beda satu tahun. Ndak usah cemberut, yang penting tampangmu masih dua lima.” Joyo mengajak bercanda.
“Itu apa di wajahmu?” tanya Joyo.
“Norak deh! Belum pernah lihat jerawat ya?”
“Kamu jorok ya, jerawat dipelihara.”
Saya melengos kesal. Joyo selalu mencela saya. Menyebalkan.

Joyo lalu memarkir sepedanya di garasi dalam.
“Mas, aku nitip sepedaku ya. Tolong dijaga, ini mahal, Mas?”
“Mosok? Berapa?”
“Maksudnya mahal karena aku harus nabung gaji enam bulan, bukan mahal harganya, Mas.”
“Oh, iya, iya. Aku jaga, Mas. Hati-hati, motornya Mbak Niken itu masih baru. Maksudnya baru ditabrak, hehehe.”
Saya terkekeh. Motor Revo itu memang baru saya tabrakkan ke tembok. Saya bahkan sempat dirawat di klinik dan motor saya harus menginap di bengkel.

“Mbak Niken ini memang aneh. Tembok nggak berdosa kok ditabrak.”
“Elo bawel ya, Joy. Jadi nggak sih kita berangkat?”
“Ayo! Mau naik di depan atau di belakang?” tanya Joyo dan disambut tawa Mas Karyo.
“Nggak lucu!”
“Jangan ketawa. Ayo, Mas, berangkat!” Mas Karyo melambai di belakang.

Saya melirik ke tangan Joyo. Sepertinya dia tidak membawa hadiah. Dia tidak bisa diharapkan.
Kami berangkat jam setengah tujuh. Dyah sempat menelepon kami untuk memberitahu mereka sudah berangkat menuju lokasi.
Ketika di atas motor, saya tidak berpegangan ke Joyo.
“Kamu konservatif ya, Ken?”
“Kenapa?”
“Aku perhatikan kamu nggak pernah pegangan sama cowok kalau naik motor.”
“Bukan konservatif tapi jaga jarak.”
“Kenapa?”
“Biar nggak ditabrak.”
“Hihihi, justru kamu bakal celaka kalau motornya ditabrak dan kamu nggak pegangan.”
“Gua pegangan ke belakang aja. Ngapain sih dibahas?”
Joyo tidak membalas. Selama beberapa menit, kami berkendara tanpa bicara.

“Lokasinya dekat ‘kan, Joy?” saya mulai bertanya.
“Dekat. Jadi santai aja.”
“Kemarin gua lihat elo jalan sama cewek manis, Joy. Di dekat Gramed.” saya menggodanya.
“Oh, itu. Ya memang selalu ada aja perempuan yang pingin jalan sama aku.”
Saya memukul kepala Joyo yang dilindungi helm, “Ge er! Cewek yang mau jalan sama elo itu sebenarnya cuma ada dua, cewek kesasar dan cewek yang nggak punya pilihan.”
“Hahaha berarti kamu kesasar dan nggak punya pilihan ya? Hahaha, ketahuan. Hahaha…” Joyo terpingkal-pingkal.
Saya merenungi kebodohan diri sendiri. Tolol!
“Dia juga pendatang baru di Jogja, Ken. Ah, begitu aja cemburu.” ujar Joyo.

Tidak lama kemudian, kami memasuki Godean. Saya semakin senang. Tidak ada yang lebih baik selain merayakan ulang tahun bersama orang-orang terdekat. Dimas berpesan bahwa lokasinya dekat Hero Godean. Namun, entah kenapa Joyo terus berjalan melewati Hero.
“Joy, masih terus ya?”
“Iya, patokannya bengkel Yamaha. Masih di depan.”
Saya mengangguk sambil memperhatikan jalan di depan.
“Dimas bilang patokannya Hero.” tiba-tiba saya merasa khawatir.
“Dekat sama Hero. Yamaha masih ke depan. Sebenarnya dekat dengan pasar Godean.”
“Memangnya jam segini pasar masih buka?”
“Enggak, tapi dekat sama pasar.”
“Manut wae. Jangan kesasar ya, Joy.”
“Endak.”

Kami terus berjalan melewati lampu merah ketiga. Saya merasa jarak yang kami tempuh sudah jauh untuk ukuran Jogja.
“Joy, gua punya saudara di Godean. Setahu gua ini sudah mau ke Godean paling ujung.”
“Iya, ya.” sahut Joyo dengan ragu-ragu.
Mampus deh! Saya pikir.
Joyo masih tidak mau menepi dan bertanya ke Dimas. Mbak Fani mengirim SMS bahwa mereka sudah sampai 15 menit yang lalu. Ya ampun, saya melihat ke jam tangan. Hampir setengah delapan. Tahu-tahu kami sampai di depan pintu Pegadaian Godean.
“Joy, telepon Dimas deh! Nih, pake HP gua!” saya menyodorkan HP dengan nada kesal. Joyo pun menuruti permintaan saya.
“Oh, belokan dekat Hero itu ya. Iya, tadi kelewatan. Ya udah, aku mbalik ke sana. Aku lupa. Iya, iya cepet kok.” Joyo lalu mengembalikan HP. Saya berdiri di samping motor sambil melipat tangan dengan wajah berlipat tiga. Joyo tahu saya agak kesal.
“Maaf, Mbak. Kebablasan. Tadi harusnya belok pas di Hero.”
“Kapan sih kamu terakhir ke sana?” saya menyelidik.
“Satu setengah tahun yang lalu. Sudah banyak berubah, Ken. Sudahlah, kamu omeli aku di atas motor aja ya. Mereka sudah menunggu di sana.” Joyo merajuk. Saya pun naik ke atas motor.

“Kamu bilang pernah gabung di Mapala UGM. Kok nggak bisa baca petunjuk? Hero sampai Pegadaian jaraknya jauh, Joy. Itu sih bukan kebablasan.” saya mengomel.
“Ya, gimana? Aku lupa. Maksudnya aku nggak bisa konsentrasi.”
“Hah? Nggak bisa konsentrasi? Jadi selama perjalanan elo ngelamun terus? Ampun deh! Elo bayangin cewek kemarin itu ya? Sebenarnya udah berapa tahun elo tinggal di Jogja?” saya terus nyerocos.
“Iya, Mbae, aku mengaku bersalah. Aku kehilangan orientasi.”
“Aduh, alasan lain lagi. Kalo tahu gini, gua lebih baik dibonceng Dimas.”
“Maaf, Ken. Ini nggak disengaja. Tenan! Masak sih aku sengaja bawa kamu nyasar. Aku juga laper.”
Saya pasang wajah cemberut.

Tidak lama kami sudah memasuki jalan yang lebih kecil.
“Nah, itu yang di depan, Bu. Saung Karisan. Nyampe juga kita.”
Saya membisu. Kami masuk tempat parkir dan disambut Mas Aryo.
“Weleh, perasaanku tadi dari tugu ke sini nggak sampe setengah jam. Dibawa kemana aja, Joy?” Mas Aryo mengerling ke Joyo.
“Kesasar, Mas. Sampe ke Pegadaian. Aku salah memahami petunjuk.”
“Oalah, Joy. Sampeyan itu lahir dimana toh? Kok bisa sampai nggak tahu jalan di Godean.”
“Tenan, Mas. Tenan aku bingung tadi.”
“Kalo bingung mbok ya tanya. Malah kepenakan.” ujar Mas Aryo sambil menggelengkan kepala.
Saya hanya berdiri memperhatikan mereka berdua berbincang.
“Ayo deh!” ajak saya. “Mereka udah laper tuh. Tadi sore saya sudah pesan menunya, Mas.”
“Iya, mereka sudah masak. Dalam lima menit sudah jadi, katanya.”

Teman-teman menyambut kami berdua. Mbak Fani menggoda saya dan Joyo.
“Ya ampun, say. Kencan ke mana aja tadi?”
“Di pegadaian sana, seberang pasar.” ujar saya ketus.
“Aku kesasar, Mbak. Aku pikir dekat bengkel Yamaha yang dekat lampu merah.” sahut Joyo tanpa rasa bersalah.
“Kamu ‘kan pernah ke sini, Joy?” tanya Dimas.
“Iya, lupa.”
“Yo wes toh, yang penting sampai dengan selamat.” Dyah memotong pembicaraan.

Menu pesanan kami pun datang. Saya lapar sekali. Joyo tidak malu-malu untuk menandaskan makanan dan menambah nasi. Sejenak kami tenggelam dalam riuh kegembiraan. Saya mengambil beberapa foto ketika teman-teman menikmati makanan.
“Masakannya enak.” ujar Dyah. “Lalu ada acara apalagi nih?”
“Tanya yang ulang tahun dong.” sahut Mas Aryo.
“Saya punya resolusi supaya tahun ini karir semakin baik dan bisa mengembangkan potensi diri. Itu aja sih.”
“Basi!” sahut Joyo.
Saya melotot ke arah Joyo yang masih mengunyah cumi-cumi goreng.
“Itu sih standar, Ken. Lainnya apa?” kejar Dyah.
“Lainnya? Gua nggak mau dipandu atau dibonceng lagi sama Joyo. Lebih baik kesasar sendiri daripada kesasar berdua.”
“Nah, itu baru bagus!” puji Joyo sambil tersenyum lebar. Saya melihat Dimas melirik Joyo dengan wajah masam.

“Kalo soal jodoh gimana, Bu?” tanya Mbak Fani.
“Emm, itu belum kepikiran. Belakangan deh. Belum ketemu yang cocok.”
“Nanti kalo udah setahun di Jogja, pasti ketemu. Banyak kok jomblo nggak laku di sini.” ujar Mas Aryo yang disambut dengan gelak tawa.
“Kalo kamu mau, nanti aku kenalin sama teman-teman seniman mural. Banyak yang nelangsa kayak kamu.” sahut Joyo.
“Kurang ajar!” saya melempar sepotong cumi goreng ke arah Joyo.
“Hap! Dapat! Makasih.” ujar Joyo menangkap cumi dan memakannya.

“Aku rasa Niken ini nyari tipe eksekutif muda gitu.” Mbak Fani meneruskan pembicaraan.
“Weh, salah tempat, Mbak. Itu sih nyarinya di Jakarta. Di sini adanya tipe cowok mandiri, mbecak ke sana kemari.” Joyo tampaknya tidak akan berhenti bicara.
“Kayaknya acara pembukaan kado bisa dimulai,” saya memotongnya. Dimas tertawa sementara yang lain senyum tersipu.
“Hayo, siapa yang nggak lupa beli kado?” Mas Aryo menggoda teman-teman.
“Nggak ada juga nggak apa-apa. Makanannya belum gua bayar kok.”
“Wah, ini sudah ancaman namanya. Aku tadi nggak bawa kartu ATM, Mbak. Jadi nggak bisa beli apa-apa.” ujar Joyo.
“Memangnya sejak kapan kamu punya kartu ATM, Joy?” tanya Dyah.
“Mbak ini sukanya menghina aku.”
“Lho piye? Iki serius, aku belum pernah tahu kamu punya kartu ATM. Lah kerjamu ‘kan freelance alias bebas tanpa bayaran.” ucapan Dyah disambut tawa teman-teman.
“Ya, sudah lah. Ikhlas kok gua.” saya menutup perselisihan.

Tiba-tiba Dimas berujar, “Aku ada hadiah buatmu, Mbak Ken.” Dia mengeluarkan sebuah bungkusan kecil dari saku celana.
“Aduh, cincin kawin ya, Mas. Kok buru-buru sih?” saya menggodanya.
“Buka dulu.”
Saya membukanya. Di dalam kotak kecil, tersimpan sebuah bros perak berbentuk daun. Bentuknya manis dan lekukannya halus.
“Wah, bagus, Mas. Makasih ya. Manis banget.” saya langsung memakainya.
“Dimas baik ya?” Dyah mengerling Dimas.
“Dona tahu nggak?” Joyo menyenggol Dimas.
“Tenang aja, Ken.” ujar Dimas.

“Aku juga punya hadiah, Ken.” Joyo tiba-tiba berdiri bertumpu dengan lututnya sambil merogoh saku celana dan jaket. “Dimana ya tadi?” dia sibuk mencari sambil mengeluarkan dompet.
“Halah, Joy. Nggak usah latah. Kalo memang nggak ada, nggak usah diada-adain. Gua paham kok kondisi elo.”
“Ah, ini dia!” Joyo mengeluarkan sesuatu dari saku jaketnya tetapi saya tidak melihat apa-apa. Joyo membuka genggaman tangannya. Di telapak tangannya ada dua biji kecil berwarna coklat.
“Ini biji bunga matahari atau krisan yang besar. Bisa ditanam di pot.”
Kami semua merunduk ke arah Joyo untuk melihat biji itu.
“Enggak sekalian sama potnya?” saya bertanya.
“Tadi buru-buru, Bu. Nanti aku bantu carikan ya. Nah, ini hadiahku. Hati-hati.” Joyo memindahkan kedua biji tadi ke dalam telapak tangan saya.
“Makasih ya, Joy. Omong-omong ini ambil dimana?” goda saya.
“Aku punya di rumah. Nanti bagus kalau sudah tumbuh.”
“Oke, thanks.” saya menyimpannya di kotak yang Dimas berikan.

Setelah seluruh acara selesai, saya beranjak ke kasir untuk membayar tagihan. Kami pun bergegas untuk kembali. Mbak Fani bertanya, “Kamu dibonceng siapa sekarang?”
Saya berpikir kembali dan pandangan saya tertuju pada Dimas yang sedang berbisik dengan Joyo. “Gimana ya? Soalnya sepeda Joyo ada di kos gua. Kasian juga dia.”
“Ya sudah, ini terakhir kali deh kamu digonceng anak satu itu.”
Joyo datang dengan seringai lebar, “Ayo, Bu! Aku janji kali ini nggak nyasar.”
“Kosan gua di Taman Siswa, Joy. Jangan bablas ke Klaten.”
“Hehehe, kalau mau ke Klaten juga bisa aku antar.”

Dalam perjalanan, herannya Joyo menjadi pendiam.
“Joy, baterai elu abis ya? Tumben diam banget.”
“Aku nggak enak ngomongnya.”
“Ngomong apaan?”
“Kamu tahu nggak kalau Dimas baru putus dari Dona?”
“Hah? Oh ya? Kenapa? Lho, tapi elo bilang kemarin….” saya tidak menyelesaikan kalimat.
“Yah, dia baru putus dua minggu yang lalu. Dia nggak suka dengan kecemburuan Dona. Jadi waktu aku bilang kemarin, hanya alasan sih.”
Saya dibuat bingung dengan penjelasan Joyo.
“Lalu? Dimas putus dari Dona dan pas ultah ini dia harusnya bonceng gua tapi elo mengubah rencana itu.”
“Ya, itu ada rancang bangunnya, Ken.”
“Jangan banyak istilah. Maksud elo apa?”
“Dia pingin pendekatan sama kamu. Lalu aku bilang, biar aku bantu. Biar satu divisi, kalian ‘kan nggak sering komunikasi.”
“Sok tau!”
“Memang aku tahu.”

Kami diam beberapa waktu. Joyo memacu sepeda motor dengan kencang.
“Lalu ada cerita apalagi, Joy?” saya menggali informasi.
“Cerita apa? Ndak ada, cuma itu aja. Kamu bisa tanya sendiri sama Dimas besok.”

Di depan kami terlihat pintu gerbang kos. Saya turun dan membukakan pintu. Joyo memasukkan sepeda motor saya di dalam. Mas Karyo tidak terlihat.
“Lalu gimana tadi, Joy?”
“Ya, aku bantu dia untuk mendekati kamu. Sudah terlaksana dengan baik ‘kan?” Joyo mengambil sepedanya.
“Kenapa Dimas nggak langsung ke gua?”
“Kamu itu cewek yang suka tembak langsung ya? Namanya juga pendekatan, melihat peluang dan kecocokan. Dia takut juga kalau kamu tolak.”
“Baik banget kamu mau bantu dia.”
“Yah, aku juga punya agenda sendiri.”
“Agenda? Maksudnya?” saya berdiri di samping Joyo yang berada di atas sepedanya.
“Yah, kamu bisa menilai kami berdua. Sekarang terserah kamu, mau pilih aku atau Dimas? Aku pulang dulu ya. Suwun.” Joyo berbalik dan memacu sepedanya, meninggalkan saya yang masih terkejut dengan ucapannya.

Medan, 26 Januari 2009