Hijau di Sarongge


Dulu saya pikir Sarongge itu nama suatu tempat di Nusa Tenggara. Rupanya tempat itu berada di Jawa Barat. Ketika saya baru pindah ke Bogor, saya pun diajak suami untuk mengunjungi Kampung Sarongge. Suami saya nekat naik motor selama lebih dari 3 jam pada akhir pekan ke sana.

Waktu itu saya tidak siap dengan pakaian dingin meskipun sudah bawa jaket. Kami berdua menginap satu malam di saung Sarongge. Pada saat yang sama kondisi badan kurang sehat. Alhasil alergi dingin kumat, saya tidak bisa tidur semalaman karena terus bersin dan ingus terus mengalir. Saya hanya bawa obat diare, tidak bawa anti histamin. Saya tidak bisa benar-benar menikmati keindahan alam Kampung Sarongge.

Setahun kemudian, saya mendapat tugas melakukan penelitian mini. Berhubung tema saya tentang agrowisata, saya mencari lokasi agrowisata yang dikelola masyarakat dan sudah saya kenal. Pilihan jatuh ke Kampung Sarongge di Desa Ciputri, Cianjur. Jauh memang tapi saya menikmatinya karena sekaligus berlibur.

Saya sempat melakukan wawancara ke beberapa pengelola Saung Sarongge dan belajar tentang sejarah mereka. Mungkin saya sempat 5 kali bolak-balik ke sana. Saya juga sempat menginap 1 malam di rumah penduduk dan hawanya lebih hangat daripada menginap di saung. Untuk menghindari kemacetan, saya biasanya ke Saung Sarongge pada hari-hari kerja. Perjalanan dari Bogor ke Saung Sarongge sekitar 2,5 jam. Biasanya perjalanan pulang yang makan waktu lebih lama. Kalau macet bisa sampai 5-6 jam.

Selain kemacetan, hambatan lain perjalanan ke sana adalah kondisi jalan. Pada waktu saya berkunjung, sudah ada perbaikan jalan sehingga saat ini lebih baik. Biasanya saya naik bus putih Marita dari pintu tol Ciawi menuju Cianjur kemudian turun di SPBU dekat pintu masuk Desa Ciputri. Kemudian naik ojek dengan tarif antara 15-20 ribu sekali jalan. Dalam perjalanan menuju saung, pengunjung akan melewati Pusat Pengembangan Agribisnis Holtikultura atau Agribusiness Development Center (ADC) yang dikelola IPB di Desa Pasir Sarongge. Dari informasi yang saya dengar, ADC tersebut tidak banyak berkembang dan banyak fasilitas yang rusak.

Pengunjung juga akan melewati Sarongge Valley, agrowisata yang dikelola oleh perusahaan perkebunan. Fasilitas penginapan di sana lebih modern, sementara di saung lebih sederhana dan alami. Terus ke atas sampai menemukan saung yang luas.

Kesan saya sejauh ini sangat positif. Saung ini sangat menyenangkan dan yang paling penting dikelola oleh masyarakat dengan pendampingan dari sebuah LSM yang berada di Jakarta. Saung Sarongge menawarkan paket trekking ke hutan (kawasan konservasi) di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, belajar pertanian organik, mengunjungi peternakan kambing yang ada di wilayah saung, dan belajar membuat sabun sereh. Harganya sangat terjangkau, terutama jika dalam rombongan besar bisa jadi lebih murah.

Pengunjung bisa memilih untuk menginap atau hanya berkunjung seharian. Lebih baik untuk memilih waktu di luar musim hujan. Paket wisata pendidikan lingkungan juga tersedia bagi sekolah dan saung sudah memiliki beberapa pelanggan. Agrowisata Sarongge ini dikelola oleh Koperasi Sugih Makmur dan sebagian warga menyediakan rumahnya sebagai homestay.

Agrowisata Sarongge memberi alternatif penghasilan bagi warga di Kampung Sarongge. Kebanyakan pengelola adalah anak muda kampung yang sebagian telah mendapatkan pelatihan sehingga lebih berani berkomunikasi dan terbuka untuk mencoba berbagai hal baru yang dapat mendukung pemasaran agrowisata. Keterbukaan warga kampung terhadap dunia luar diharapkan membuka mata masyarakat perkotaan (non petani) untuk belajar tentang pertanian dan menghargai kualitas bahan makanan yang biasanya sampai di pasar dengan bersih dan siap diolah.

Ada banyak hal yang dapat dipelajari dari berkunjung ke agrowisata. Sebagian masyarakat kota merasa jenuh dengan taman bermain sehingga keberadaan agrowisata semakin populer. Saat ini sudah ada beberapa agrowisata yang dikelola oleh swasta yang kadang lokasinya lebih mudah diakses dari kota. Kekhasan dari agrowisata yang dikelola oleh masyarakat adalah keuntungan dirasakan langsung oleh masyarakat dan mendorong desa untuk terlibat dalam pengembangan wisata melalui BUMDes.

Kenangan yang berkesan adalah ngobrol dengan pengelola agrowisata Saung Sarongge dan mendengar cerita mereka. Saya senang mendengar cerita dan merasakan pasang surut yang dialami setiap orang. Jika perlu tempat beristirahat dan melepas pandangan secara bebas, saya tidak ragu merekomendasikan Saung Sarongge. Bagi yang ingin berkunjung silakan menghubungi Ibu Wiwik sebagai pengelola di 087721454716.

Bogor, 28 Februari 2018

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s