Pertarungan pendidikan tinggi dan imajinasi


Begini. Dalam situasi tenggat tugas yang dekat ditambah dinamika pekerjaan, aku sulit berimajinasi. Situasi ini mengganggu karena aku suka berimajinasi dan bekerja. Mengerjakan tugas kuliah bisa dianggap sebagai pekerjaan, tetapi yang terjadi justru mengkungkung imajinasi. Sepertinya tugas menulis karya ilmiah ditakdirkan bukan untuk mengembangkan imajinasi. Karya ilmiah punya metode dan gaya sendiri yang mendisiplinkan penulisnya.

Seharusnya aku tahu. Aku memang tahu tapi dalam paradigma di program studi sebelumnya, pengalaman sebagai salah satu bentuk pengetahuan sangat diutamakan. Penggalian pemaknaan diri dan komunitas menjadi refleksi peneliti sebagai manusia dalam kosmos. Ada “aku” di dalamnya yang berdialog dengan pengalaman orang lain. “Aku menemukan” melalui keterkaitan-analisis. Subyek penelitian menganalisis pengalaman mereka dan aku menganalisis hasil analisis mereka.

Saat ini aku merasa belajar banyak hal baru tetapi belum cukup “menampar” dan menggugah secara pribadi. Apakah harapanku terhadap dunia akademik tidak realistis? Apakah ini perjalanan yang panjang untuk menemukan alur yang alu bayangkan? Apakah aku terlalu abstrak dengan berfilosofi?

Nilai jadi semata pemenuhan syarat administrasi untuk kelanjutan beasiswa. Aku tidak berada di sini untuk nilai atau gelar. Orang tuaku lulusan SMA, dengan menyandang gelar magister saja orang tua sudah bangga. Aku pun, apalagi yang dicari? Aku rasa beberapa mahasiswa doktoral juga mencari suatu bentuk abstraksi dari realitas sosial yang berpola. Beragam model sudah dibuat, sebagian kecil diuji coba, sebagian yang diuji coba itu tidak berlanjut, sebagian yang berlanjut diuji coba gagal. Aku akan menambah satu model lagi dengan harapan model itu akan digunakan oleh pengambil kebijakan di tingkat yang terendah. Itu saja sudah bagus.

Pengambil kebijakan yang dimaksud di tingkat struktural dan formal. Sambil membayangkan pada saat yang sama dapat menyentuh sesuatu yang personal. Karena dalam feminisme dan sosialisme, ada 3 hal yang harus disentuh untuk dapat melakukan perubahan perilaku: hati, perut, alat kelamin. Aku malah mau menyentuh logika berpikir kebijakan. Ada dimana itu?

4 Januari 2018

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s