Belajar memaknai perbedaan dan kekhususan


Penyandang disabilitas terlahir seperti itu adanya. Mereka tidak bisa memilih terlahir dengan kondisi khusus. Perbedaan dan kekhususan membuat penyandang disabilitas mendapat perlakuan diskriminatif yang dapat dihindari. Kondisi tersebut dianggap berbeda dengan LGBTIQ (Lesbian, Gay, Bisexual, Transgender, Intersex, Queer) karena orientasi seksual dianggap sebagai sebuah pilihan dan gaya hidup daripada sesuatu yang terberi.

Saya meyakini bahwa orientasi seksual pada sebagian besar orang bukan pilihan melainkan terberi sejak lahir. Seringkali orientasi seksual yang berbeda disadari pada tahap lanjut karena pembicaraan tentang seksualitas ditabukan dalam masyarakat, sehingga individu tidak tahu memaknai pengalaman dan penghayatan seksualitasnya yang berbeda. Pendapat bahwa orientasi seksual adalah terberi atau takdir ikut dikritik karena ada yang beranggapan bahwa takdir pun dapat diubah melalui kehendak dan ikhtiar. Penyandang disabilitas dapat memperbaiki kondisi fisiknya melalui operasi atau menggunakan alat bantu. Paling tidak, begitulah anggapan sebagian muslim atau orang beragama. Permasalahan muncul ketika satu takdir lebih diterima masyarakat dan dianggap sebagai kebenaran daripada takdir dalam bentuk lain. Bahkan dalam beberapa budaya, takdir dihubungkan sebagai karma (pembalasan) dari perbuatan individu sebelumnya. Kemampuan menerima ketidaksempurnaan diri sendiri dan bersyukur dengan apa yang telah dimiliki merupakan dua hal yang berjalan beriringan tanpa perlu disertai dengan stigma.

Jika orientasi seksual dianggap sebagai pilihan, maka selama pilihan tersebut tidak merugikan orang atau kelompok lain, hak individu atau kelompok dengan pilihan berbeda harus dihargai. Contohnya adalah agama atau kepercayaan. Setiap individu memiliki hak untuk memilih kepercayaan atau agama yang diyakini sebagai kebenaran. Seseorang tidak boleh didiskriminasi berdasarkan kondisi kelahiran (disabilitas) maupun pilihan yang tidak merugikan orang lain.

Satu hal yang juga penting adalah disabilitas tidak disebabkan oleh kondisi fisik atau psikis individu. Seseorang dianggap disabel karena lingkungan sosialnya tidak memberikan hak atau akses yang diperlukan untuk menjadi seseorang yang mampu (abled-person). Artinya disabilitas seseorang ditentukan oleh budaya dan kebijakan. Seseorang dengan satu kaki yang hidup di negara yang memenuhi haknya sebagai warga negara di ruang publik tidak dianggap sebagai disabel. Hal ini karena di negara tersebut, fasilitas publik diberikan kepada semua penduduk baik yang tidak memiliki kaki, berkaki satu, dan dua.

Orientasi seksual sering dikatakan cair, artinya bisa berubah. Argumentasi ini dapat menjadi bumerang bagi kelompok LGBTIQ karena menunjukkan bahwa orientasi murni pilihan dan gaya hidup semata. Bagi saya, cair di sini merujuk pada spektrum seksualitas. Individu dapat berada pada spektrum ekstrem yaitu heteroseksual 100% atau homoseksual 100%, meskipun menurut saya seksualitas tidak dapat diukur kuantitasnya. Di antara dua kutub tersebut ada spektrum yang luas, seseorang mungkin punya kecenderungan homoseksual kecil dan heteroseksual yang lebih dominan atau sebaliknya. Kecenderungan atau orientasi ini dapat berubah atau bergerak sesuai dengan penerimaan diri, pengalaman seksual, keterbukaan lingkungan, dll.

Apakah homoseksualitas dapat disembuhkan?
Homoseksualitas bukan penyakit atau gangguan sehingga tidak perlu disembuhkan.

Apakah dapat menular?
Tidak menular karena bukan penyakit menular. Kenapa banyak homoseksual terkena AIDS? Homoseksual terbagi dalam beberapa kategori sehingga banyak yang menyebutnya LGBTIQ. Saat ini ada sebutan lain yaitu SOGIE (Sexual Orientation, Gender Identity, and Expression). AIDS awalnya banyak menyebar di kelompok gay dan transgender, artinya tidak tersebar ke seluruh spektrum homoseksual seperti lesbian.

Sebelum kesadaran hak seksualitas muncul, tidak banyak yang membicarakan tentang hak-hak dan kesehatan seksual. Terutama bagi kelompok marjinal dan dianggap menyimpang, stigma tersebut semakin kuat. Alhasil sebagian besar dari SOGIE rentan terhadap penyakit menular, baik Hepatitis C maupun AIDS yang berakibat fatal. Kerentanan tersebut akibat minim pengetahuan, akses informasi sulit, stigma, dan prasangka. Semakin hari advokasi kesehatan ke kelompok SOGIE semakin baik, sehingga yang saat ini rentan adalah ibu rumah tangga dari suami yang pernah atau sering berganti pasangan seksual.

Bagaimana dengan kasus pemerkosaan yang dilakukan homoseksual? Bukankah banyak dari mereka adalah pedofil?
Pemerkosaan, baik yang dilakukan heteroseksual maupun homoseksual, adalah salah satu bentuk kekerasan seksual. Anak perempuan dan anak laki-laki rentan menjadi korban kekerasan seksual dari orang terdekat atau orang asing. Dalam kekerasan, apapun bentuknya, ada pihak yang secara sosial dianggap lebih berkuasa dan memanfaatkannya untuk kepentingan sendiri yang merugikan dan menindas hak orang lain. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah memberikan pendidikan seksual sesuai dengan tahapan usia fisik dan psikis. Biasanya akan ada pertanyaan lanjutan, apakah tidak berbahaya jika anak-anak diberikan pendidikan seks?

Jawabannya tidak lain adalah, apakah Anda memahami apa yang dimaksud dengan pendidikan seks?
Informasi tentang pendidikan seks akan dibahas di artikel yang berbeda. Anda juga bisa mencari informasi dari sumber yang terpercaya di internet. Dalam suatu hubungan, artinya tidak hanya hubungan seks, memerlukan adanya consent atau persetujuan. Makna consent sebenarnya lebih dari sekedar persetujuan tetapi saya belum menemukan istilah yang pas. Jika seseorang ingin melakukan penelitian, biasanya ada informed consent yang disampaikan di awal sehingga responden, narasumber, dan peneliti memahami hak dan kewajiban masing-masing. Hubungan seksual tanpa consent adalah pemerkosaan, termasuk dengan pasangan sendiri, baik pacar atau istri/suami. Secara langsung atau tidak langsung, consent merupakan aspek utama dari pendidikan seksual. Melalui consent, seseorang bisa belajar tentang relasi kekuasaan dan peka dengan tanda-tanda dini kekerasan atau manipulasi dalam suatu hubungan.

Ada yang mengatakan bahwa LGBTIQ ini pilihan dan menular karena tidak mungkin mereka bereproduksi. Satu-satunya jalan pertumbuhan LGBTIQ adalah melalui penyebaran ideologi.
Semakin banyaknya individu yang menyatakan diri sebagai LGBTIQ merupakan bukti bahwa hal tersebut terberi daripada pilihan. Kesadaran tentang orientasi seksual sering muncul belakangan ketika seseorang semakin terpapar dengan pengetahuan dan pengalaman sehingga mampu menemukan “penamaan dan pemaknaan” terhadap kondisinya. LGBTIQ dapat bereproduksi dan membangun keluarga karena orientasi seksual tidak otomatis membatasi anatomi tubuh dan kemampuan reproduksi. Saat ini reproduksi juga dapat dilakukan dengan bantuan teknologi dan donor. Pemahaman tentang “anak” juga tidak sebatas pada anak kandung/biologis tetapi juga anak-anak lain yang ada di sekitar kita.

BTW, saya masih belum bisa menerima LGBTIQ.
Tidak ada yang bisa memaksa kamu menerima LGBTIQ atau kelompok minoritas lain, tapi sebagai warga negara wajib menghormati hak warga lainnya. Di dalam hakmu, ada hak orang lain. Artinya, selama seseorang tidak melakukan kekerasan atau pelanggaran hukum, maka dia memiliki hak yang sama dengan setiap warga negara dan orang lain harus menghargainya. Jika orang tersebut melanggar hukum maka kasusnya harus ditangani sesuai prosedur hukum yang berlaku. Orang tersebut juga berhak mendapat pembelaan. Penerimaan terhadap LGBTIQ juga berlapis, mulai dari yang paling ringan seperti tidak menerima LGBTIQ tetapi menghormati hak mereka sampai yang menerima seluruh aspek dari LGBTIQ. Tidak ada paksaan untuk menerima argumen tentang LGBTIQ atau menerima perbedaan. Perbedaan, kekhususan, dan keumuman merupakan bagian dari keniscayaan suatu proses menjadi manusia yang seutuhnya.

Desember 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s