Suami: Majikan dalam Rumah Tangga


Teman perempuan: bagaimana laptop mbak kemarin?
Aku: sudah bagus setelah diperbaiki.
TP: lalu dijual mbak?
Aku: dipakai suamiku. Dia mau beli 1,5 juta.
TP: hah, masak sama suami sendiri dijual? Enak banget. Misalnya kita dibelikan laptop sama suami lalu ternyata suami suka dan mau pakai laptop itu, kita bisa minta dia bayar harga laptop itu, bisa untung dua kali kita.

——

Percakapan pendek di atas mendorong saya untuk menulis tentang relasi suami-istri. Ayo dimulai dari makna kata.

Suami sering dianggap sebagai kepala rumah tangga. Posisi penting ini berhubungan dengan makna kata yang berasal dari Bahasa Hindi yaitu majikan, pemilik, pangeran. Dalam Bahasa Sanskrit, swami berarti pertapa atau guru spiritual (https://en.m.wikipedia.org/wiki/Swami). Dalam Bahasa Khmer, Bengali, Odiya, dan Indonesia, istilah ini digunakan untuk menyebut peran laki-laki dalam sebuah perkawinan.

Makna dari suami mendekati makna akar kata sehingga tidak heran jika suami dianggap memiliki otoritas dan tanggung jawab lebih tinggi dan lebih besar dari istri. Istri berasal dari kata stri yang dalam Bahasa Urdu berarti perempuan, pasangan hidup laki-laki, feminin, betina. Istilah dan makna yang sama digunakan di berbagai bahasa seperti Gujarati, Melayu, Indonesia, Khmer, dan Telugu (https://en.m.wiktionary.org/wiki/स्त्री).

Dari dua penjelasan di atas dapat dilihat perbedaan makna dan implikasinya. Satu kata merujuk pada status sosial dan kekuasaan yang dimiliki, satu istilah lagi fokus terhadap atribut karakter gender. Makna dari suatu kata atau istilah membawa implikasi terhadap relasi gender, termasuk harapan dari suami ke istri dan sebaliknya. Tidak heran jika suami berperilaku layaknya majikan karena seperti itulah makna dari suami. Tidak heran juga jika sebagian aktivis lebih memilih menggunakan istilah “pasangan” daripada suami. Lagipula istilah “pasangan” lebih netral gender.

Kembali ke awal, suami dianggap memiliki tanggung jawab menafkahi istri. Jika anda setuju dengan pandangan ini, maka peran istri mengelola urusan domestik sangat penting dan harus dihargai. Salah satunya dengan menanggung biaya hidup istri sebagai pengganti kerja domestik dan memberi bantuan, dalam bentuk pekerja rumah tangga, ketika diperlukan dan sesuai dengan kesepakatan. Menjadi aneh jika biaya hidup istri dianggap sebagai hadiah ketika dia bekerja keras membereskan perkara domestik dan publik yang seringkali memakan waktu lama dan membosankan.

Sejak awal, saya merasa pekerjaan domestik adalah pekerjaan bersama dan saya sampaikan hal ini ke suami. Namun tidak semudah itu mengubah cara berpikir dan cara berperilaku. Sebagai kompromi karena suami mau tinggal di Bogor yang jauh dari tempatnya bekerja, saya mengerjakan lebih banyak kerja domestik. Saya tetap ingin ada kontribusi misalnya dia membayar uang belanja lebih besar 200 ribu setiap bulan. Dia juga kadang mentraktir saya makan. “Wow, baik sekali!” Ya, suami saya memang baik. Apakah itu membuat saya kurang baik?

Hmm, pada saat seperti ini hitung-hitungan menjadi penting baik dari segi materi dan non materi. Pada tahun pertama di Bogor, uang yang saya dapatkan dari mengontrakkan rumah di Malang saya gunakan untuk mengontrak rumah di Bogor. Kalau uang kontrakan itu saya gunakan sendiri, lumayan sekali. Lalu bagaimana dengan laptop. Beberapa tahun lalu saya pernah membelikan suami laptop baru. Setelah sekitar 4 atau 5 tahun, suami memberikannya ke keponakannya. Saya menyetujuinya.

Di satu sisi, perkawinan memang hubungan emosional yang kental. Di sisi lain, istri perlu berhitung karena kerja domestik adalah KERJA dan harus dihargai oleh suami, lembaga, dan negara. Sebagian melihatnya sebagai sebuah pengakuan bahwa istri bekerja kepada laki-laki. Bagi saya, ini pembagian peran yang jika disetujui dan disadari dengan adil dapat membawa manfaat. Saya sendiri memilih peran dan bentuk kontribusi yang dapat menguatkan posisi saya dalam hubungan suami-istri.

Bogor, 10 Desember 2017

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s