Menjadi murid


Keinginan melanjutkan pendidikan formal dimulai dari kejenuhan bekerja dan beragam pertanyaan dari diri tentang perubahan apa yang sudah saya lakukan untuk diri sendiri dan orang lain. Rasanya bukan alasan yang tepat untuk kuliah kembali, apalagi untuk tingkat doktoral. Namun dorongan itu sangat kuat. Dorongan yang saya sendiri tidak paham dan belum menemukan kata-kata yang tepat untuk menggambarkannya.

Teman-teman banyak yang penasaran dan kerap bertanya: untuk apa kamu kuliah lagi?, apa yang akan kamu lakukan setelah lulus menjadi doktor?, atau kadang berupa sindiran, kamu senang sekali kuliah ya? Saya semakin bingung dan bertanya ke diri sendiri, “Mengapa saya merasa terdorong untuk kuliah lagi?”

Masuk di semester satu, saya merasa kesulitan menyesuaikan diri dengan paradigma dan aturan kurikulum baru. Pertanyaan tentang “mengapa” semakin gencar, “mengapa kamu bersusah payah melakukan penyesuaian lagi dan belajar hal yang baru?”

Ah, mungkin memang itu yang saya cari, bukan paradigma baru tapi paradigma yang berbeda. Subyeknya memang baru karena pertanian bukan bidang saya tapi hidup saya tidak lepas dari pertanian. Orang tua saya adalah petani pemilik lahan yang menyewakan lahan ke petani penggarap, almarhum kakek nenek saya petani penggarap yang kemudian bisa membeli lahan, paklek dan bulek saya ada yang bekerja sampingan sebagai petani, dan saya makan hasil pertanian (dalam negeri maupun impor). Selama ini saya merasa berjarak dari pertanian. Justru dengan melanjutkan kuliah, saya belajar untuk mendekatkan diri dari persoalan yang sebenarnya lebih dekat dengan hidup.

Waktu terus berlalu sampai di salah satu mata kuliah membahas tentang filosofi kepemimpinan Ki Hajar Dewantara. Salah satunya adalah memimpin tidak hanya bisa dilakukan dari dari depan, tapi juga dari tengah dan dari belakang. Seringkali seseorang ingin belajar menjadi pemimpin, belajar menjadi guru, tapi enggan belajar menjadi murid dan tidak mengetahui cara memimpin dari belakang dengan mendorong pemimpin yang ada di depan.

Ah ya, saya merasakan aha moment. Saya menemukan kata-kata yang saya cari. Jika sebelumnya saya terbiasa menjadi pemimpin yang ada di depan atau di pucuk suatu struktur organisasi, maka kali ini saya ingin kembali belajar menjadi murid. Ada kalanya hal itu membuat saya tidak berdaya, tapi “ketidakberdayaan” itu merupakan pilihan untuk dapat belajar lebih banyak, membuka diri lebih luas, dan merasa haus untuk berenang di air yang berbeda.

Setiap semester penuh dengan kejutan. Tugas merupakan hal yang biasa, tapi pemaknaan yang saya dapatkan luar biasa. Saya diingatkan terus tentang hakikat penyuluhan sebagai upaya untuk belajar memanusiakan manusia karena hanya dengan cara itu perubahan perilaku bisa dilakukan. Meskipun paradigma positivisme masih dilakukan dan sebagian menganggapnya tidak sesuai, tapi ini yang masih menjadi arus utama. Saya ingin menjalaninya dan mencari cara menyentuh “hati” dengan memaknai angka dan korelasi.

Ketika saya sudah dapat menemukan pemaknaan tadi, saya tidak dirisaukan dengan apa yang akan saya lakukan setelah lulus. Saya merasa lebih fleksibel, atau tepatnya lebih liat, dan itu menjadi kekuatan saya. Hal itu juga bisa menjadi kelemahan saya.

Saya senang menjadi murid kembali dalam institusi pendidikan formal pada saat banyak yang meragukan kualitas pendidikan di Indonesia. Ketika saya berada di posisi ini, saya juga bisa mendengar lebih jelas kritikan terhadap LSM dan mengetahui pengalaman buruk sebagian orang dengan LSM.

Saat ini saya senang karena dapat menemukan kata-kata yang dapat menggambarkan hasrat yang saya rasakan. Proses bergumul dengan kata-kata dan menemukan makna baru dari kata-kata tersebut terasa menguatkan.

Bogor, 29 Oktober 2017

Advertisements

One thought on “Menjadi murid

  1. Love it gimana Mbak Niken berusaha mencari alasan untuk terus belajar dan kemudian memaknai proses belajar itu agar bisa jadi semakin membumi.

    Semoga apa yang dipelajari saat ini bisa menjadikan Mbak menjadi manusia yang bisa lebih memanusiakan para manusia di sekitar, dan menjadi manusia yang lebih baik. Di bumi maupun di akhirat 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s