Vagina yang Tidak Terlihat


Melepas celana dalam dan mengangkang biasanya menyenangkan. Tidak kali ini, karena aku harus melakukan tes IVA (Infeksi Visual Asam Asetat) di sebuah klinik yang dikelola sebuah kementerian. Tes ini diberikan gratis bagi anggota BPJS. Aku mendaftar karena tidak sempat mengikuti tes pap smear gratis. Kadang aku juga tidak tahu informasinya.

Aku bawa sarung tenun berwarna tosca karena seorang teman mengingatkan untuk membawa sarung sendiri. Ternyata itu tidak perlu. Setelah mendapatkan nomor antrian dan mengisi formulir, aku menunggu sekitar 1 jam untuk dipanggil. Setiap kamar memiliki 2 tempat tidur pemeriksaan. Sampai giliranku.

“Dibuka ya bu,” ujar petugas perempuan sambil melebarkan kangkanganku. Vaginaku menunggu dengan berdebar. Aku sudah melakukan pemeriksaan pap smear tahun 2014 dan seharusnya proses ini akan berjalan cepat.

Lalu aku ingat kalau aku belum memangkas rambut kemaluan. Belum lagi ada beberapa uban di sana. Kenapa aku harus memikirkan hal itu? Hal terburuk adalah petugas akan membatin, apakah ini rawa atau hutan tropis?

“Vagina, kamu akan baik-baik saja. Ini pemeriksaan yang seharusnya rutin dilakukan.” Bagus. Aku mengajak ngobrol vaginaku yang tidak bisa bicara. Aku anggap dia teman imajinasiku. Dia memang teman yang selalu menempel di antara selangkanganku.

Alat spekulum berbentuk cocor bebek dimasukkan dalam vagina. “Tarik napas!” Aku lakukan. Aku terkejut. Ada sesuatu masuk di dalam vagina. “Nyeri!” vaginaku meringis.

“Dilemaskan bu, jangan tegang!” Alatnya sendiri kaku dan dingin, lalu vaginaku disuruh santai? Apakah tidak ada spekulum yang dibuat untuk menciptakan sensasi geli dan menyenangkan sehingga dia rela membuka diri? Aku tarik napas berkali-kali. Aku berusaha mengontrol perasaan dari tiap otot dan saraf vagina.

“Jangan tegang, V!”

“Kamu yang tegang.”

“Aku tegang karena kamu tegang.”

“Ada alat yang masuk dan sangat tidak menarik.”

“Aku ‘kan sudah bilang, ada pemeriksaan. Kalau semua lancar dan tidak ada masalah, aku akan berikan hadiah.”

“Orgasme?”

“Sesuatu yang menyenangkan.”

“Hah! Cepat! Jangan lama-lama!”

“Aku juga nggak mau lama-lama.”

Vaginaku sendiri mengeluh. Padahal ini untuk kebaikannya, kesehatannya. Aku memang tidak memberitahunya.

Aku terus menarik napas sambil terbatuk-batuk. Dua hari sebelumnya aku demam dan sampai sekarang masih batuk dan agak sakit kepala. Aku berharap vaginaku lebih sehat dari organ tubuhku yang lain.

Sebuah kapas basah dioleskan ke dalam leher rahim.

“Dingin!”

“Please, jangan berisik! Aku juga tahu.”

Tatapan petugas mencurigakan. Lalu dia mengoleskannya sekali lagi. Duh, harusnya aku baca-baca dulu tentang IVA sebelum periksa. Petugas memanggil temannya yang ikut menengok vaginaku. Lalu seorang dokter dipanggil. Sambil menunggu dokter, entah iseng atau ingin memastikan, petugas mengoleskan kapas itu lagi ke dinding leher rahim. Apa dia pikir aku tidak bisa merasakannya olesannya berkali-kali?

“Ini sudah lebih dari 2 menit!”

Duh, vaginaku lebih cerewet daripada diriku sendiri. Kok bisa ya?

“Aku tidak bisa dibiarkan diangin-anginkan begini. Nanti kering. Kamu tahu seperti apa apa vagina yang kering? Seperti padang pasir.” Ya ampun, vaginaku ternyata lebay.

Sambil menunggu, petugas berusaha bertanya, “Sudah punya anak berapa bu?”

“Belum ada anak.”

“Tapi sudah kawin?”

“Sudah.”

“Sudah berapa tahun?”

“7 tahun.”

Masih dalam kondisi menunggu, aku mendengar petugas di sebelah menanyakan seorang pasien.

“Umur ibu berapa?”

“51 tahun.”

“Yang benar bu? Lis, coba lihat ibu ini, 51 tahun. Nggak percaya kan?”

Alhasil aku ikut menengok. Aku sendiri tidak percaya, kelihatan berusia 4oan.

“Ibu minum jamu apa?” tanya petugas. Lalu si ibu menyebutkan sebuah merek jamu. Aku membatin, memang gila ramuan alam tropis.

“Tapi dokter bilang saya jangan sering-sering minum jamu itu lagi…” dan aku tidak lagi mendengar kalimat selanjutnya.

Rasanya vaginaku akan menjadi padang pasir dalam beberapa detik jika dibiarkan melongo seperti ini. Aku ingin menenangkan vaginaku dengan menepuk-nepuknya, puk, puk. Seorang dokter perempuan masuk ke ruang periksa. Dia menengok vaginaku juga. Oke, tiga orang menelisik vaginaku. Ada yang ingin bergabung?

“Oke, Ibu nanti ke sini dulu ya,” ujar dokter. Aku mengangguk. Kemudian petugas masih memeriksa payudaraku. Aku buka tali BH di belakang. Lalu bajuku disingkap.

“Tangan diletakkan di belakang kepala, bu. Pemeriksaan ini bisa dilakukan sendiri, 10 hari setelah haid.”

Aku mengangguk. Sepertinya payudaraku baik-baik saja, tidak ada benjolan yang mencurigakan. Ketika petugas menekan-nekan payudaraku, rasanya agak nyeri. Mungkin karena dia bukan pasanganku yang lebih tahu cara memperlakukan payudaraku. Atau ini memang bukan sesi untuk bermain payudara tapi memeriksa payudara. Tentu saja beda!

“Jadi begini, bu. Tadi setelah diolesi dengan asam asetat, ada bercak putih. Seharusnya warnanya tetap sama, tidak berubah. Ini indikasi, tapi belum tentu menandai sel-sel kanker. Jadi klinik BPJS ibu dimana? Oke, saya rujuk ke sini ya.”

Dokter memberikan selembar kertas kecil. Aku langsung berdebar. Aku tidak lagi mengajak bicara vaginaku. Aku langsung ke klinik BPJS. Rupanya alat di sana tidak lengkap dan menurut dokter perlu pemeriksaan spesialis. Maka aku dirujuk ke rumah sakit di Dramaga. Dokter spesialis baru buka jam 16:00 jadi aku pulang ke rumah dan menyiapkan beberapa persyaratan.

Aku terus mendiamkan vaginaku yang tiba-tiba tidak banyak bicara. Atau dia hanya bicara ketika aku menginginkannya. Pada saat mandi, aku sempatkan untuk memangkas rambut kemaluan. Aku tidak mencukurnya karena aku tidak suka. Cukup dipangkas sehingga memudahkan pandangan dokter untuk melihat ke dalam vagina.

Sampai di RS, aku mendaftar di bagian pasien BPJS. Antriannya panjang sehingga aku harus menunggu selama 2 jam. Ketika giliranku, dokter spesialis, seorang laki-laki seusiaku, memeriksa lembaran kertas.

“Oh, begini bu, IVA positif tidak mengindikasikan adanya sel-sel kanker. Hanya menandakan ada yang tidak normal dan itu bisa banyak hal. Untuk bisa memastikan kanker leher rahim perlu pemeriksaan pap smear tetapi tidak ditanggung oleh BPJS.”

Menunggu lebih dari 2 jam dan hanya diberi informasi seperti ini?

“Biayanya berapa ya?” tanyaku.

“Sekitar 300 ribu,” ujar perawat. Aku iyakan untuk mengikuti pap smear. Aku diminta ke loket pendaftaran karena harus mendaftar sebagai pasien umum. Menunggu lagi. Ketika sampai giliranku, vaginaku hanya menggumam, “Dimasukin cocor bebek lagi ya?”

“Iya,” jawabku lemas, kurang bersemangat.

“Rasanya alat itu seperti dongkrak untuk vagina ya? Dimasukkan lalu diputar supaya vagina melebar.”

Aku tersenyum, memang benar seperti itu rasanya. Seperti ada dongkrak yang dimasukkan. Perawat meminta aku melepas celana dalam dan duduk di kursi periksa. Kali ini vaginaku sejajar dengan wajah dokter. Lampu sorot diarahkan ke bagian vagina. Aku menarik napas dalam sebelum spekulum dimasukkan.

“Aduh, kok lebih nyeri yang ini?” teriak vaginaku. Kemudian aku merasa vaginaku diperlebar seluas yang diinginkan.

“Entahlah, mungkin karena aku tegang.” Spekulum bukan alat yang aku bayangkan untuk masturbasi dan aku juga tidak sempat memainkan klitorisku sehingga vaginaku cukup basah. Melihat alatnya saja, membuyarkan seluruh rangsangan seksual. Hanya membayangkan spekulum masuk ke dalam vagina sudah menghancurkan prinsip-prinsip orgasme.

Dalam film atau buku berisi adegan seks, yang sering disebut adalah penis atau jari tangan, paling minim dildo. Tidak ada yang menyebutkan spekulum karena itu bukan alat seks yang membuat perempuan bergairah. Perawat menyiapkan dua buah kaca petri. Kemudian dokter seperti mengorek bagian leher rahim menggunakan spatula. Aku melihat spatula berwarna putih dan aku membayangkannya berada di dalam leher rahim.

“Ada benda asing lagi,” lapor vaginaku.

“Iya, itu spatula. Kamu kan pernah ikut pap smear, kenapa baru sekarang komentar?” Aku ikut protes.

“Dulu aku nggak setegang ini?”

“Iya. Karena dulu pertama kali tes dan itu pun tanpa didahului oleh pemeriksaan IVA yang positif.”

“Siapa itu IVA?”

“Ah, sudahlah. Nanti aku kasih tahu.”

Pengambilan sampel sekitar 1 menit. Setelah itu, aku diminta menunggu karena sampel perlu direndam dan dikeringan. Kenapa pemeriksaan pap smear gratis dulu begitu mudah dan lebih cepat? Bahkan aku dapat tumbler warna kuning yang aku simpan sampai sekarang.

Di ruang tunggu, vagina masih mengajakku berdiskusi.

“Jadi ini periksa pap smear lagi ya?”

“Iya.”

“Kamu pasti takut kejadian seperti Jupe ya?”

Hah, sejak kapan vaginaku mengikuti infotainment dan kenal dengan Jupe? Memang vaginaku tidak beres.

“Harusnya tiap tahun aku cek pap smear. Tapi aku kelewatan. Aku lupa merawatmu. Mungkin karena kamu selalu berada di kempitan paha. Tidak terlihat, tidak terasa.”

Ruang tunggu rumah sakit sudah sepi. Aku menunggu panggilan terakhir. Hampir 30 menit menunggu sampai aku dipanggil dan diberitahu bahwa pengambilan hasil dapat dilakukan paling cepat dalam 10 hari, paling lambat 14 hari. Aku mengangguk. Lebih dari 3 jam aku habiskan di rumah sakit dan sepertinya tempat ini menyedot tenagaku.

Aku pulang dengan loyo sambil tetap terbatuk-batuk. Aku ingin tengkurap di tempat tidur sambil menepuk-nepuk vaginaku dengan tenang.

Bogor, 17 September 2017

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s