Pengalaman-Saya · Pengetahuan-Saya

Semakin dekat dengan surga, semakin jauh dari Pencipta


Tujuan awalku mengikuti liqo adalah untuk mengenal Sang Pencipta. Aku belum dapat mencintai sesuatu yang belum aku kenal. Setelah 7 tahun mengikutinya dan berganti beberapa mentor, aku merasa semakin dekat dengan surga tetapi semakin jauh dari mengenal Pencipta. Surga yang ditawarkan pun merupakan surga imajinasi manusia. Surga menjadi khayalan yang manusiawi dan sarat kepentingan.

Aku tidak puas. Aku merasa tidak tenang. Aku merasa menggantung.

Sepertinya “rasa” Pencipta yang ada di dalam diri tidak terhubung dengan proyeksi Tuhan dan substansi yang diwakilinya dalam liqo. Lalu aku mencari di tempat lain. Pencipta toh ada di mana-mana. Di najis pun ada Tuhan.

Aku merasa lebih dekat dengan surga karena itu yang dijadikan iming-iming gerakan. Ketika liqo berkembang, surga kemudian menjadi efek samping karena tujuan sudah bergeser kepada kekuasaan. Liqo berusaha mengkritisi kekuasaan, tetapi konsep yang ditawarkan belum menampung semua kepentingan dan merespon perbedaan.

Aku merasa berbeda. Dan hal itu membuat jarak. Sepertinya tidak ada posisi oposisi dalam liqo. Jika kamu merasa berbeda, maka keluar saja. Aku mencari Tuhanku sendiri. Aku mencari kedekatan dengan Pencipta tanpa imbalan surga. Aku tidak semata-mata merujuk pada Al-Quran dan hadits secara apa adanya karena aku percaya tidak ada kebetulan dan tidak ada apa adanya. Begitu saja.

Menemukan Pencipta tidak sama dengan menemukan surga dan neraka.

Bogor, 14 Februari 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s