Pengetahuan-Saya

Nyanyi Rindu Kesusastraan Indonesia


Berikut ini adalah tulisanku untuk tugas Amazing Indonesia di PK-LPDP 49, 2015.

Ruangan dalam minibus itu sangat panas karena tidak ada AC. Bagian dalamnya terdiri dari beberapa susun rak buku dengan berbagai subyek. Di salah satu sudut minibus, aku mengenal Amir Hamzah. Salah satu harta karun bangsa.

Seorang anak perempuan SD kelas 6 penasaran dengan sebuah buku tipis berjudul “Setanggi Timur” yang cetakan pertamanya dikeluarkan tahun 1959. Anak perempuan itu tidak terlalu akrab dengan puisi dan tidak tahu siapa Amir Hamzah. Namun di antara tumpukan cerita bergambar Donald Bebek dan novel Empat Sekawan, keduanya terbitan luar negeri, anak perempuan itu menimang buku puisi yang kelak menjadi jendela bagi rumah pengetahuan kecilnya pada sastra Indonesia.

Seperti itulah pengalamanku dengan sastra Indonesia. Sebuah perpustakaan keliling yang diadakan oleh Perpustakaan Umum DKI Jakarta Timur telah membawaku mengenal sebuah dunia imajinasi tanpa batas. Buku itu mengenalkanku pada Bahasa Indonesia yang jauh lebih indah dari yang aku pahami. Siapa anak muda yang tahu makna kata “Setanggi”? Inilah ruang permainan kata, frase, dan ungkapan yang luar biasa mengaduk-aduk emosi pembaca. Aku mencoba membaca karyanya yang lain seperti Njanji Soenji (1937) dan Boeah Rindoe (1941) tetapi tidak bisa aku temukan di perpustakaan SMP dan SMA.

Puisi Amir Hamzah terlalu dewasa dan berbeda zaman untuk aku pahami pada waktu itu. Aku berjuang keras menguliti makna dari bahasa kiasan yang dia gunakan. Namun, keindahan jalinan kata dan kepadatan makna dalam satu rindam meninggalkan kesan yang kuat. Dari sana, aku menyukai banyak karya sastra dari penulis Indonesia lainnya.

Selama 6 tahun aku belajar PMP (Pengamalan Moral Pancasila), aku hanya membayangkan Indonesia sebagai sebuah kepulauan yang kaya dengan sumber daya alam dengan banyak suku bangsa karena memang itulah yang ditekankan. Aku tidak banyak tahu secara dekat dan pribadi cerita dari banyak suku bangsa di berbagai pulau tersebut. Aku masih memakai kacamata pinggiran Jakarta untuk melihat cakrawala Indonesia yang berwarna. Sekarang aku menyadari bahwa sulit memahami bangsa Indonesia tanpa memahami suku-suku bangsa yang membentuknya.

Sastra Indonesialah yang membuka mataku tentang sejarah, karakter, jiwa, dan rasa keIndonesiaan. Karya sastra Indonesia menghidupkan nama tokoh-tokoh yang sebelumnya tanpa makna,rakyat biasa yang tidak dikenal, pergumulan batin seorang pejuang kemerdekaan, dan kesadaran kritis yang muncul dari seorang perempuan di pingitan.

Aku membaca tulisan Kartini pada waktu SMP. Malulah aku membandingkannya dengan curahan hatiku yang alay dan penuh keluh kesah di tahun 1990an. Seorang Kartini muda menulis dengan kritis dan visinya jauh ke depan. Aku belajar bahwa dengan membaca buah pikiran orang lain, seseorang bisa menilai tulisan diri sendiri.

Aku kemudian beralih membaca novel bacaan wajib karya Merari Siregar, Sutan Takdir Alisjahbana, Armijn Pane, Abdul Muis, dan Marah Rusli. Melalui karya mereka, aku belajar tentang konteks masyarakat sebelum kemerdekaan dan aku terhibur dengan berbagai ungkapan dan langgam bahasa Melayu dari para penulis Pujangga Baru yang kebanyakan berasal dari tanah Sumatera. Sebagai anak Jakarta di tengah masyarakat Betawi, aku pun membayangkan Sumatera.

Meskipun tidak memahami sepenuhnya puisi Amir Hamzah, aku terdorong untuk menulis. Entah puisi atau narasi, yang penting menulis. Menulis apa? Menulis perasaan dan pengalaman tentang berbagai hal yang terjadi sehari-hari, itu saja sudah cukup untuk memenuhi buku, begitu pikirku. Lalu bacalah kembali, begitu saran batinku.

Bermodal sebuah buku tulis merah bergambar kucing dan sebuah pulpen hitam, aku menulis. Tulisanku sangat terpengaruh lirik lagu yang sedang populer di masa 1990an. Hasilnya kumpulan puisi yang sangat lugas, tidak puitis, kurang bermakna, dan tidak ada fokus tema. Namun, aku senang membacanya karena itulah perjalananku menemukan irama. Sejalan dengan waktu, tulisanku semakin baik. Aku berjuang menata bahasa, menata emosi, dan otomatis menata pikiran.

Perkara menata emosi bagi seorang remaja bukan hal yang mudah. Kalau membaca kembali karyaku yang lama, hampir semua berisi kemarahan, kekecewaan, kecenderungan melakukan kekerasan, putus asa, dan sebagainya. Emosi yang secara umum dimiliki oleh remaja. Di masa-masa itu, rasanya tidak ada remaja yang berpikir tentang kebangsaan dan kebanggaan sebagai warga Indonesia.

Dengan berjalannya waktu, aku memperkaya diri dengan berbagai bacaan. Aku pun haus bacaan dari penulis perempuan. Kartini sudah tidak memadai. Sempat aku pikir tidak ada penulis perempuan selain Kartini. Aku mencari karena aku ingin menjadi penulis. Aku memerlukan teladan yang memberi inspirasi.

Pada saat kuliah, aku baru bertemu dengan karya Ayu Utami dengan Saman (1998), Toety Heraty dengan Calon Arang (2000). Kemudian aku mengenal berbagai penulis kawakan seperti Hanna Rambe, Mira W., Oka Rusmini, Pramoedya A. Toer, Ahmad Tohari, dan Remy Silado. Novel Ronggeng Dukuh Paruk, salah satu yang aku suka dari karya Ahmad Tohari.

Dengan membaca novel, aku tidak hanya belajar tentang gaya menulis tetapi lebih penting adalah membaca sejarah dan kehidupan sosial yang terjadi pada suatu masa. Dengan sastra, seorang penulis bisa mengkritisi dirinya dan alam nilai sekitarnya.

Dengan sastra, seorang anak muda dapat belajar tentang dirinya. Sastra juga tidak melulu tentang tulisan melainkan bisa berupa tradisi lisan seperti epik, cerita rakyat, peribahasa, dan lagu tradisional. Aku adalah salah satu anak yang besar dengan dongeng kancil dan buaya. Ibuku mendongengkan pada saat tidur siang. Aku melihat cerita rakyat sebagai bagian dari alat pendidikan karena sastra lisan tampil dengan singkat, jujur, dan sederhana baik dari segi bahasa maupun alur cerita. Seperti cerita Kancil dan Buaya tadi.

Namun di masa mudaku di Jakarta, tradisi lisan kurang dikenal, bahkan terpinggirkan. Aku mengetahui si Pitung pun dari koran Pos Kota. Aku mengenal beberapa cerita rakyat Jawa dari buku anak daripada didongengkan. Dari buku-buku tersebut, orang tuaku ingin menanamkan nilai-nilai Jawa kepadaku yang tinggal dan besar di Jakarta dengan budaya mestizo atau sebuah campuran budaya dari beragam etnis. Sampai hari ini aku lebih merasa sebagai orang Jakarta keturunan Jawa.

Beberapa sastrawan menganggap sastra lisan menonjolkan budaya kesukuan. Aku melihatnya sebagai tanah subur bagi lahirnya budaya nasional dan munculnya perasaan sebagai bangsa Indonesia. Sastra lisan juga bagian dari setiap diri untuk terhubung dengan budaya kesukuan yang menjadi bagian keragaman sastra populer yang banyak beredar hari ini.

Kesusastraan Indonesia jauh dari sunyi. Namun perlu usaha merawatnya dengan menumbuhkan lebih banyak karya karena sastra adalah bagian dari modal sosial bangsa ini untuk membangun jiwa dan karakter Indonesia untuk mengatasi berbagai konflik antar suku, agama, etnis, dan antar golongan. Konflik tersebut sudah pernah terjadi dan akan terus membayangi kita sebagai bangsa yang bersuku-suku. Layaknya sebuah paragraf, suku bangsa Indonesia adalah kata-kata yang akan menyusun dan menautkan setiap kalimat.

Kalau Pram mengatakan bahwa menulis itu bekerja untuk keabadian, maka dengan menulis kita akan mengabadikan sejarah, memahami, dan menghargai proses kebangsaan. Dengan menulis seseorang juga didorong untuk rajin membaca dan berefleksi. Kita tidak dengan mudah menyerah dan menghancurkan proses yang sudah dibangun dan dirawat sedemikian sabar.

Bagiku membaca dan menulis juga untuk kewarasan. Aku terselamatkan dari kegilaan masa remaja. Kok bisa? Karena orang yang menulis perlu membaca. Apa yang mau ditulis dan bagaimana cara menulis jika seseorang tidak melihat penulis sebelumnya? Membaca dan menulis menjadi satu paket.

Karya tulis seseorang, terutama yang diterbitkan baik berupa buku, media cetak, online, dan seterusnya, merupakan refleksi pemikiran mendalam atas suatu permasalahan sebagai bentuk sumbangsih terhadap masyarakat. Dengan tulisan, bukan tidak mungkin, jalan pemikiran seseorang akan dipakai untuk kepentingan orang banyak atau memicu munculnya ide-ide lain yang lebih baik. Ada banyak artikel yang mengatakan bahwa masyarakat Indonesia memiliki minat baca yang rendah. Apalagi dengan menjamurnya produksi perangkat telekomunikasi murah, remaja juga lebih banyak mengeluarkan biaya untuk itu daripada membeli buku atau mengunjungi perpustakaan. Kondisi tersebut dapat membuat pesimis tetapi juga dapat memicu keinginan untuk berinovasi.

Aku percaya setiap orang memiliki bacaannya masing-masing. Setiap orang bertutur dan menulis dengan gaya dan sudut pandang yang berbeda. Itulah kekayaan bangsa yang jika dirawat dengan baik akan melahirkan karya-karya besar yang sangat dirindukan untuk mewakili Indonesia di kesusastraan dan berbagai perpustakaan dunia. Maka, bacalah! Kemudian, menulislah untuk bangsa tercinta, bangsa bhinneka yang satu, bangsa Indonesia.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s