Pengetahuan-Saya

Susu Perempuan


Air susu perempuan. Tulisan ini bermula dari suatu diskusi tentang analisis gender.  Seorang laki-laki menyatakan ketidaksetujuannya dengan aksi protes yang dilakukan Suara Ibu Peduli (SIP) pada tahun 1998. Pada saat itu terjadi krisis moneter dan kritis bangsa tersebut, harga susu formula melambung tinggi. Beberapa perempuan kelas menengah melakukan aksi di Bundaran HI menuntut diturunkannya harga susu formula dan menjual susu formula murah kepada warga yang memerlukan.

Aku tidak menuliskan nama “laki-laki” ini karena ada banyak laki-laki dan perempuan lain yang kemungkinan memiliki pemikiran sama. Lagipula, kalau pembaca memang ingin tahu, silakan dicari sendiri di mesin pencari. Aku ingin membahas substansi pemikirannya dan posisi yang aku ambil.

Air susu perempuan atau dikenal dengan air susu ibu (ASI) merupakan sumber gizi terbaik bagi bayi. Hampir semua manusia mengetahuinya. Oleh karena itu, protes laki-laki ini (dan banyak orang lain) terhadap aksi SIP dapat dipahami. Belum lagi berbagai latar belakang politik, ekonomi, dan sosial seputar susu formula.

Mengutip dari tulisan Henny Zainal (http://www.kompasiana.com/hennyzainal/gerakan-peduli-asi-di-indonesia_55006b3ba333115373510e7f), ada tren penurunan ASI eksklusif di Indonesia sehingga tumbuh beberapa gerakan seputar peduli ASI, laktasi , atau menyusui. Aku senang dan bangga dengan kesadaran perempuan untuk memberikan ASI dan melakukan gerakan lebih luas. Namun aku tidak setuju jika aksi menjual susu formula dengan harga murah yang dilakukan sekelompok perempuan di kala krisis moneter dianggap berlawanan dengan upaya kampanye ASI eksklusif. Lalu dimana posisiku?

Perempuan dan susunya seringkali, atau bahkan selalu, diatur. Harus begini, harus begitu. Sebaiknya begini, sebaiknya begitu. Aku dan beberapa kawan merasa jauh lebih penting untuk mendukung perempuan melakukan yang terbaik bagi diri mereka dan keluarganya. Beberapa kawanku memiliki beberapa anak. Aku sendiri anak dari seorang perempuan. Ibuku menyusui selama 10 bulan kemudian menyapih alias memberiku air susu sapi. Ibuku mengalami dilema. Puting susunya sakit dan lecet karena menyusuiku. Namun proses menyapih juga sakit karena payudaranya membengkak dan ASI tidak tersalurkan. Sebulan setelah menyapihku, dia kembali hamil.

Berhenti menyusu, bukan berarti aku tidak mencari susu alternatif. Ibuku mengatakan aku jagonya minum susu. Berkaleng-kaleng susu formula aku habiskan dengan cepat. Belajar dari pengalaman, adikku hanya sebentar minum susu formula dan diganti dengan air gula. Harga susu formula mahal.

Seorang kawan yang memiliki 4 anak mengatakan bahwa perdebatan tidak bisa terbatas pada ASI atau susu formula tetapi pada kesehatan dan kualitas gizi ibu. “Jika ibu kurang gizi, ASI-nya juga berbeda. Warnanya bening seperti air,” ujarnya. Dengan kata lain, tidak perlu mengatur perempuan untuk memberi ASI atau tidak karena setiap perempuan membuat keputusan dengan banyak pertimbangan. Seringkali perempuan dipengaruhi tenaga kesehatan, ibu, nenek, ibu mertua, saudara ipar, tetangga, suami, dll. Akan lebih baik jika perempuan diberi banyak pilihan dan dukungan fasilitas kesehatan yang memadai. Seorang perempuan harus menjadi sehat untuk melahirkan anak yang sehat. Seorang perempuan harus memiliki pengetahuan untuk menyusui dengan benar.

Seorang kawan perempuan hanya beberapa hari memberikan ASI ke anaknya. ASI-nya sedikit meskipun dia sudah mencoba minum berbagai jamu. Seorang perempuan lain, tidak bisa memberi ASI karena puting susunya tidak keluar meskipun sudah dipijat berbagai cara. Seorang kawan perempuan dengan senang dan bahagia memberi ASI. Bahkan ketika dia berada di luar kota, ASI-nya disimpan di freezer untuk diberikan ke anaknya ketika sampai di rumah.

Kembali ke SIP, setahuku mereka tidak hanya menyediakan susu formula murah tetapi juga kebutuhan pokok murah bagi masyarakat miskin kota. Ketika harga sembako naik, SIP memilih melakukan aksi protes untuk susu formula. Dugaanku ada alasan simbolik dan politis di belakangnya.

Perempuan maklum susunya selalu menjadi perhatian. Susu perempuan begitu indah dan sensual. Proses menyusui juga sangat intim dan membahagiakan. Jika susu formula dihargai begitu mahal, kenapa bangsa ini tidak bisa menghargai air susu perempuan dengan harga yang sama jika tidak bisa lebih mahal? Apakah mungkin masyarakat menghargai air susu perempuan karena dianggap sama seperti vagina ibu rumah tangga; selalu tersedia, bersih, dan GRATIS?

Semoga tidak.

Bogor, 11 November 2016

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s