Pengetahuan-Saya

Jilbab dan tali kekang hasrat seksual


Ada beberapa hal yang aku peroleh dari diskusi kemarin malam. Salah satunya adalah harapan bahwa jilbab yang dipakai perempuan menjadi tali kekang hasrat seksual mereka. Namun ketika hal itu tidak terjadi, banyak yang merasa heran. Sama halnya dengan harapan bahwa jubah pastor dianggap dapat mengendalikan hasrat seksual. Simbol-simbol ketaatan pada suatu agama dianggap merefleksikan ketaatan seseorang terhadap nilai seksualitas yang baik dan buruk. Beberapa agama menganggap hubungan seksual sebagai satu hal yang sakral dan menjijikkan pada saat yang sama.

Lebih banyak orang yang menganggap hasrat seksual yang lebih besar dalam diri seorang perempuan. Salah satu yang sering aku dengar adalah analogi bahwa perempuan memiliki 99 hasrat seksual dan 1 nalar. Sepertinya ada anggapan bahwa hasrat seksual dan nalar dua hal yang terpisah atau perlu dipisahkan dalam diri manusia. Laki-laki dianggap memiliki 1 hasrat seksual dan 99 nalar sehingga jelas siapa yang harus dikendalikan. Hasrat seksual perempuan.

Jika jilbab tidak dapat mengekang hasrat perempuan! Lalu apa yang bisa?

Gila! Perempuan berjilbab tidak menjamin dirinya perawan! Laki-laki kecewa. Putus asa. Benarlah, kata mereka, perempuan perlu disunat. Jika laki-laki disunat untuk menjaga kesehatan penis mereka dengan berbagai klinik medis yang tersedia luas, maka tidak sama halnya dengan perempuan. Sunat perempuan adalah ritual menjaga kesucian bumi karena seperti dipahami semua makhluk hidup, tubuh perempuan adalah pilar moral dan sumber kesuburan.

Orgasme perempuan seperti lubang setan. Perempuan yang jatuh ke dalamnya tidak dapat meraih kesalihan. Nikmat badaniah seperti itu cenderung memabukkan. Apalagi karena perempuan dapat orgasme tanpa kehadiran penis. Lalu untuk apalah penis kita ini?

Dari pengalaman yang aku alami dan dengar, perempuan menggunakan jilbab karena berbagai alasan. Sebagian menggunakannya untuk mengontrol hasrat seksual mereka sendiri. Namun, hasrat seksual perempuan adalah bagian alamiah dari kemanusiaan. Suatu dorongan yang sangat kuat, bahkan terlalu kuat untuk dikendalikan oleh jilbab. Pengalaman dan pengetahuan tentang hasrat seksual tidak banyak dibicarakan, terutama bagi perempuan yang merasa ikatan dengan Tuhan sangat penting. Perempuan lalu diminta memilih, restu Tuhan atau kepuasan seks. Kalau ingin mendapatkan keduanya, dibuatlah perkawinan.

Aku menikmati jilbab seperti menikmati seks karena jilbab bagian dari seksualitasku.

Bogor, 22 Oktober 2016.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s