Pengetahuan-Saya

Menjadi “selesai”


Dianggap berbeda dan diperlakukan berbeda memiliki dampak yang besar bagi setiap orang. Begitu juga denganku. Dulu aku tidak tahu tentang gender karena aku tidak tahu ada istilah untuk sebuah sistem pembedaan peran berdasarkan jenis kelamin. Lalu aku mengenalnya, belajar tentangnya dengan diriku sendiri sebagai studi kasusnya.

“Kekuasaan” adalah kata yang asing karena aku merasa tidak memilikinya dan merasa tidak perlu mengenalnya. Aku hanya perempuan muda galau. Kekuasaan lebih cocok dibincangkan oleh politisi, militer, gubernur, dan sejenisnya. Aku butiran debu yang mengikuti hembusan angin.

Seksualitas juga istilah yang asing. Sampai sekarang pun aku masih belajar. Aku hanya tahu seks yang berarti hubungan seks, hubungan kelamin, hubungan intim. Secara awam, aku memahami seksualitas sebagai segala sesuatu tentang hubungan seks. Tiga istilah asing itu terus mengikutiku. Bukan aku yang mengikuti mereka. Aku lahir dalam keluarga heteroseksual dengan relasi bergender. Aku mengalami pelecehan seksual sejak SD. Aku diberi tugas domestik sesuai dengan jenis kelaminku. Aku hanya mengikuti pola yang sudah ada.

Pola tersebut masih terus mengikutiku meskipun aku sudah mengikuti berbagai pelatihan dan membaca banyak tulisan tentang gender dan seksualitas. Ketika orang melihatku sebagai aktivis hak perempuan maka ada tuntutan bahwa aku sudah “selesai” dengan pola bergender yang berusaha dilawan. Namun norma binari seperti surga-neraka, baik-benar, normal-abnormal, laki-perempuan sudah ajeg dalam bahasa dan sistem pengetahuan. Mencari padanan istilah lain yang mewakili kesadaran kritis bukan perkara mudah. Seseorang perlu terbiasa menggunakan istilah alternatif dan menyesuaikannya dengan konteks.

Menuntut seorang aktivis perempuan untuk “selesai” dengan relasi gender dan heteronormatif bukan kerja individu. Itu justru menunjukkan bahwa kerja pengorganisasian belum selesai dan bahwa yang kita (termasuk kamu) lakukan belum cukup.

Proses menjadi “selesai” dari setiap orang berbeda dan tidak bisa hanya dibayangkan. Misalnya, aku pernah mengenal seorang aktivis perempuan yang berpengalaman menjadi pendamping komunitas. Dia memiliki kemampuan komunikasi dan artikulasi yang lebih baik dari aku. Kemudian dia mengalami masalah yang bagi sebagian orang mungkin dianggap tidak mungkin atau jarang terjadi bagi seorang aktivis perempuan yang sudah mengikuti berbagai pelatihan tentang pemberdayaan perempuan. Ketika aku membaca kehidupannya, aku melihat kepingan sosial yang tidak aku pahami. Dia hidup di wilayah pedesaan di luar Pulau Jawa dalam struktur masyarakat adat yang kuat. Dia sudah menikah dan memiliki anak. Aku tidak bisa menilai mereka dengan hanya membayangkannya.

Menjalani proses bukan pembenaran untuk melakukan diskriminasi atau menyalahkan diri sendiri. Dalam usaha untuk melakukan perubahan, pendampingan, dan pembelaan, seseorang dapat terbentur pada pola yang sudah ada. Niat baik itu sudah ada, usaha yang baik sudah ada. Tidak ada jalan lain selain terus bertanya. Aku mungkin tidak pernah “selesai” memahami gender dan seksualitas. Mungkin karena sistem yang sedang dilawan juga tidak pernah “selesai”, dia terus bergerak, memuai, dan mencari celah. Ketika seseorang merasa dirinya sudah “selesai”, mungkin di saat itu kita menjadi lengah.

Malang, 28 Februari 2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s