Pengalaman-Saya

Erie Sudewo dan Refleksi Karakter Bangsa


Berikut ini salah satu tugas yang aku buat untuk PK-49.  Tugas 141 ini meminta setiap peserta membuat profil tokoh yang dibagi oleh pengurus PK. Aku kebagian Erie Sudewo. Nama yang baru aku kenal. Dari sini aku jadi belajar banyak tentang LPDP dan Dompet Dhuafa.

————————————————

Kemiskinan menempa karakter seseorang untuk menjadi pribadi yang kuat dan mandiri. Kemiskinan bisa menjadi titik kritis untuk memperbaiki sebuah sistem. Itulah kekuatan dari pengalaman Drs. Erie Sudewo, MDM, salah satu pendiri dan pengelola Dompet Dhuafa Republika dan pendiri Character Building Indonesia.

erieErie adalah anak keempat dari dua belas bersaudara yang lahir di Bandung, 25 September 1957. Ayahnya berlatar belakang militer dan meninggal pada usia 44 tahun saat Erie berusia remaja. Kepergian ayahnya berdampak besar pada kesejahteraan keluarga sehingga pada usia 16 tahun Erie menjual peniti bayi dan t-shirt untuk mencari nafkah dan melanjutkan sekolahnya. Ibunya menjalankan bisnis katering kecil untuk menafkahi keluarga. Meskipun begitu, ia bertekad untuk meraih pendidikan tinggi sehingga akhirnya lulus dari Jurusan Arkeologi UI tahun 1985 dan pada 1997 menyelesaikan Program Master in Development Management dari Asian Institute of Management (AIM) di Filipina.

Hobi menulisnya disalurkan dengan menjadi jurnalis di kampus sampai mumpuni untuk bekerja di beberapa surat kabar dan berakhir di Harian Republika. Awalnya bekerja sebagai wartawan, kemudian sebagai sekretaris editor. Erie kemudian diberi tugas untuk memimpin divisi tanggung jawab sosial perusahaan (Corporate Social Responsibility). Seperti orang umumnya, dia memulai dengan mengumpulkan uang dan menyumbangkan perangkat sekolah untuk diberikan kepada warga miskin di Yogyakarta dan Jawa Tengah. Namun Erie memikirkan cara yang lebih efektif untuk mengakhiri kemiskinan yang lebih luas dan menjangkau seluruh rakyat Indonesia. Pemikiran tersebut melahirkan Dompet Dhuafa Republika yang dikelola bersama teman-teman wartawan lain.

Sebagai wartawan, Erie sering menulis kisah-kisah kemanusiaan yang menyentuh hati pembaca sehingga mereka terdorong memberi sumbangan pribadi. Sumbangan itu disalurkan ke Dompet Dhuafa dan tumbuh dengan pesat dari Rp. 88 juta pada tahun 1993 menjadi Rp. 6 miliar pada tahun 1999. Namun Dompet Dhuafa Republika melakukannya secara diam-diam karena pada di era Orde Baru semua zakat secara resmi masih eksklusif di bawah kendali pemerintah.

Kebiasaan memberi masyarakat Indonesia sudah lama berkembang dan dilakukan. Di tangan Erie Sudewo, sumbangan tersebut dikelola dengan sistem yang terpercaya dan akuntabel sehingga dapat terkumpul dana yang besar, memiliki dampak jangka panjang, dan menjangkau lebih banyak masyarakat Indonesia.

Zakat adalah sumbangan amal wajib bagi umat Islam yang mampu dan dihitung berdasarkan pendapatan. Erie mengubah tradisi zakat dengan membentuk lembaga pengelolaan zakat baru yang memberi berbagai manfaat, tidak hanya keuangan tetapi juga layanan kesehatan, pendidikan yang terjangkau, dan jasa pinjaman. Seluruh layanan dikembangkan dengan prinsip kemandirian dan keberlanjutan. Sistem yang dibentuk memungkinkan pembayar zakat untuk membuat keputusan tentang bagaimana dan di mana menyalurkan zakat dan infaq.

Salah satu prestasi terbesar Erie adalah keberhasilannya menciptakan sistem distribusi kekayaan didasarkan pada salah satu ajaran Islam. Prestasi Erie lainnya adalah kemampuannya mengajak orang lain untuk ikut mendukung visinya menata pengelolaan zakat dengan lebih baik untuk kebaikan umat. Erie dan kawan-kawan membentuk Dompet Dhuafa pada tahun 1993. Pada tahun 2010 zakat yang terkumpul lebih dari 1 triliun rupiah dan terus mengalami kenaikan.

Selama bertahun-tahun potensi zakat dalam mengurangi tingkat kemiskinan hanya sebatas wacana. Bahkan pengelolaan ZISWA (zakat, infak shodaqah, dan wakaf) dalam pemerintah menjadi polemik antar kementerian seperti Kementerian Agama dan Kementerian Sosial. Pemerintah tidak memiliki sistem yang transparan dan penyaluran yang akuntabel. Masyarakat skeptis dengan sistem yang dianggap rumit dan korup. Erie mampu menggunakan profesi dan kapasitasnya untuk mengubah kondisi tersebut. Pada tahun 1997 Dompet Dhuafa meluncurkan Forum Zakat (FOZ) untuk menciptakan kesadaran yang lebih besar tentang pengelolaan organisasi zakat di seluruh Indonesia. Forum tersebut mendorong koordinasi dan kemitraan di tingkat nasional dan regional serta menjamin kualitas manajemen zakat. Untuk memenuhi sumber daya manusia yang kompeten mengelola lembaga zakat di komunitas masing-masing, Erie mendirikan Institut Manajemen Zakat pada tahun 1999. Topik yang dibahas yaitu penggalangan dana, pengembangan masyarakat, manajemen dan kemandirian. Institut ini telah melahirkan ribuan lulusan dari seluruh Indonesia. Selang dua puluh tahun kemudian, lebih dari 500 organisasi pengelolaan zakat berdiri di seantera Nusantara dengan jutaan penerima manfaat.

Dompet Dhuafa Republika menjadi upaya awal Erie untuk mengembangkan tiga strategi terkait pemberdayaan masyarakat. Pertama, memasarkan aksi dan metode bersedekah, termasuk menggalang dana oleh masing-masing organisasi perantara atau mitra. Kedua, mengembangkan akuntabilitas, transparansi, dan program yang berkelanjutan bagi masyarakat miskin. Ketiga, melakukan advokasi untuk mengubah kebijakan terkait pengelolaan dana umat Islam.

Ada banyak organisasi perantara yang dikelola jaringan Dompet Dhuafa. Mereka mengembangkan organisasi mandiri untuk memfasilitasi usaha yang dilakukan masyarakat miskin, menyediakan perawatan kesehatan gratis, pembentukan lembaga kejuruan dan kewirausahaan, dan desa peternakan.

Tim pengelola ZISWA mengembangkan program dan standar prosedur standar yang dikembangkan dan diterapkan tidak hanya untuk jaringan Dompet Dhuafa, tetapi juga untuk organisasi pengelolaan zakat lokal. Praktek ini telah terintegrasi di dalam standar mutu manajemen zakat yang disebut “Kriteria Zakat untuk Keunggulan Kinerja”. Melalui web dan surat kabar Harian Republika, Dompet Dhuafa mempublikasikan jumlah sumbangan yang diterima dan didistribusikan. Mereka juga memberlakukan audit program dan keuangan yang dilaporkan ke publik. Saat ini, cara tersebut menjadi hal umum di kalangan organisasi pengelola bantuan dari masyarakat. Dompet Dhuafa memberi teladan bahwa masyarakat sipil bersedia membantu, kreatif memobilisasi, dan mengelola zakat dengan sistem yang lebih baik agar dampaknya berkelanjutan.

Melalui sistem yang akuntabel dan efisien tersebut, Erie membangun kepercayaan dan mendapatkan kredibilitas publik. Hal itu juga sebagai upaya mempromosikan pembayaran zakat yang lebih mudah melalui kemitraan dengan bank-bank komersial, online, debit langsung, atau jaringan ATM. Bahkan dibuat suatu insentif seperti voucher diskon di toko-toko buku dan restoran agar masyarakat semakin terdorong untuk menyalurkan zakat ke Dompet Dhuafa dan mitranya daripada menyalurkan sendiri.

Erie melihat Dompet Dhuafa bisa menjadi sebuah Baitul Mal atau lembaga investasi yang besar bahkan mampu bersaing dengan Temasek di Singapura, Al Azhar di Mesir, atau lembaga serupa di belahan dunia lain. ‘’Hingga pada akhirnya, lembaga ini bisa membantu lebih banyak orang. Semata-mata untuk kepentingan rakyat bukan hanya kepentingan bisnis,’’ tambahnya.

Erie menyadari bahwa sedekah semata tidak dapat mengeluarkan seseorang dari kemiskinan. Dalam bukunya “Best Practice Character Building: Menuju Indonesia Lebih Baik”, Erie menjelaskan bahwa karakter seseorang yang menentukan kesuksesan. Karakter unggul yang setidaknya perlu dimiliki yaitu ikhlas, sabar, bersyukur, bertanggung jawab, berkorban, perbaiki diri, dan sungguh-sungguh. Dia juga menyebutkan sembilan karakter pemimpin sukses yaitu adil, arif bijaksana, ksatria, tawadhu, sederhana, visioner, solutif, komunikatif, dan inspiratif. Tentu tidak mudah menempa diri untuk menghayati dan mengamalkan karakter tersebut. Oleh karena itu, Erie mendirikan Character Building Indonesia pada 2010 agar dapat berperan aktif membangun Indonesia yang lebih baik.

Selain buku di atas, Erie juga menulis tentang zakat, pemberdayaan dan masalah-masalah sosial. Manajemen ZIS, Politik ZISWAF, Nasib Nasab Nishab, Eri Sudewo: Keresahan pemulung zakat, dan Politik ziswaf: kumpulan esei adalah beberapa buah pikirannya. Erie juga aktif memberikan kultwit melalui akunnya @ErieSudewoID.

Pengalaman Erie dalam mengelola Dompet Dhuafa Republika mengajarkannya beberapa hal penting tentang kemiskinan, pemiskinan, dan kewirausahaan sosial. Melalui zakat sebesar 2,5 persen dari pendapatan tahunan seseorang, sangat besar dan signifikan dana yang terkumpul. Namun dalam wawancara dengan Majalah Swadaya, Erie mengatakan bahwa, “Jika zakat hanya dilihat yang 2,5 persen, pasti tak bisa atasi kemiskinan. Kemiskinan itu akibat kebijakan. Atasi satu keluarga miskin itu tindakan filantrofi. Namun atasi seribu keluarga miskin itu kebijakan.”

Masyarakat miskin pun tidak melulu memerlukan bantuan materi tetapi juga bantuan peningkatan kapasitas agar dapat mandiri. “Negara mesti pandai mengemas sumber daya sebagai instrumen pembangunan,” ujarnya. Maka tidak heran jika Erie juga tercatat sebagai Tim Ahli Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) yang mengelola dana bagi kelanjutan pendidikan tinggi anak bangsa.

Saat ini diperkiraan hanya sekitar 10 persen dari potensi zakat sebesar $100 miliar per tahun yang bisa dikumpulkan di Indonesia. Meskipun begitu, Erie menilai kontribusinya sangat besar. “Jangan mengecilkan arti zakat. Karena sekecil apapun, ZISWA telah menghidupkan berbagai aktivitas keumatan di tingkat grass-root.”

Setelah malang melintang dalam kewirausahaan sosial selama belasan tahun, Erie sering didampuk sebagai trainer di bidang sumber daya manusia, manajemen zakat, dan pengembangan karakter. Erie juga menjadi konsultan di berbagai program Corporate Social Responsibility and Community Development.

Dengan prestasinya, Erie mendapatkan berbagai penghargaan di antaranya The Best Social Entrepreneur of The Year 2009 dari Ernst & Young, finalis Man of The Year 2009 dari Harian Seputar Indonesia, dan Tokoh Perubahan 2009 dari Harian Republika. Selain itu dia juga penerima penghargaan Ikon Sosial 2008 dari Majalah Gatra dan tokoh zakat 2010 dari IMZ.

Erie tidak berhenti dan puas dengan Dompet Dhuafa. “Indonesia bisa berubah jika setiap insannya bisa menumbuhkan karakter dasarnya yaitu tidak egois, jujur, dan disiplin,” tulisnya di buku Character Building. Nilai tersebut yang dia bawa ke berbagai organisasi yang ikut dia bentuk dengan wirausaha sosial lainnya. Erie adalah salah satu Dewan Pembina dari Sinergi Foundation yang bergerak di bidang kesehatan, pendidikan, ekonomi dan santunan. Dia juga mengembangkan SEL (Social Entrepreneurship Leader) Indonesia, sebuah lembaga yang ditujukan untuk membantu mengatasi persoalan bangsa rakyat dan negara melalui pemberdayaan desa produktif.

Belajar dari pengalaman kewirausahaan sosial Erie Sudewo, seseorang akan memahami pentingnya membangun kekuatan karakter sumber daya manusia dalam usaha membangun karakter bangsa. Secara tidak langsung, Erie berpesan bagi bangsa ini untuk melakukan pemberdayaan masyarakat dengan cerdas melalui cara yang akuntabel dan berkelanjutan.

Niken Lestari
Rujukan

http://indonesiaberkarakter.org/member/erie-sudewo/

https://www.ashoka.org/fellow/erie-sudewo

http://www.antaranews.com/berita/223126/erie-sudewo-tidak-logis-mengatasi-kemiskinan-dengan-zakat

http://www.sinergifoundation.org/sejarah

http://www.dompetdhuafa.org

http://mrg.bz/LpY9Xj

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s