Pengetahuan-Saya

Terompet tahun baru Masehi


Setiap Natal dan tahun baru isu yang sama terus muncul. Apalagi kalo bukan tentang haram tidaknya mengucapkan selamat Natal, bersilahturahmi dengan kaum Nasrani, merayakan tahun baru dengan petasan dan terompet, bahkan polemik tentang boleh tidaknya umat Muslim merayakan tahun baru Masehi. Belum lagi, tahun ini ditambah dengan adanya insiden terompet yang dibuat dari sampul Al-Qur’an. Hal itu dianggap melecehkan Islam.

Isu ini tidak pernah berkesudahan dan sepertinya sebagian umat Muslim memang tidak ingin menyudahinya. Aku teringat dengan ajaran untuk saling menasehati sesama muslim. Aku mendapatkannya ketika aku mengikuti pengajian di kampus dan ajaran itu dimaksudkan sebagai salah satu dorongan agar sebagai kader bersemangat menularkan pemahaman kami terhadap Islam kepada umat Muslim lainnya yang dianggap “menyimpang”.

Sepertinya memang itu yang dilakukan beberapa orang, termasuk beberapa teman yang sedang atau pernah bekerja di LSM atau organisasi relawan. Keprihatinanku adalah bahwa isu yang sama terus dimunculkan setiap tahun. Meskipun beberapa orang menganggapnya sebagai praktik “saling menasehati”, aku justru melihatnya sebagai praktik saling menghakimi.

Ada berbagai argumen yang disampaikan melalui media sosial terkait himbauan untuk tidak mengucapkan Natal dan merayakan tahun baru. Argumen utama adalah kekhawatiran tentang aqidah dan larangan meniru kebiasaan kaum non Muslim. Padahal di Nusantara, banyak praktik keagamaan baik itu Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, Konghucu yang membawa pengaruh atau warna kebiasaan lokal dalam perayaannya. Mungkin sebagian orang yang tidak setuju dengan percampuran ini bermaksud “memurnikan” Islam dan itu berarti secara tidak langsung mereka menantang organisasi berbasis agama seperti NU dan Muhammadiyah yang memasukkan filsafat budaya lokal sebagai bagian dari pengamalan agama.

Mungkin juga mereka belum mengetahui bahwa yang dianggap murni itu pun sudah terpapar budaya Arab pada masa belum masuknya Islam. Hal itu wajar mengingat semua agama turun di masyarakat yang berbudaya. Budaya yang kemudian saling memengaruhi, menjatuhkan, memperkuat, dan menyesuaikan.

Aku setuju argumen yang menyatakan bahwa peringatan tahun baru perlu mempertimbangkan ketertiban umum dan kenyamanan orang lain yang tidak merayakannya. Namun argumen yang sama juga berlaku bagi kaum Muslim yang merayakan hari besarnya atau melakukan pengajian besar dengan menggunakan ruang publik. Salah satunya kirab tabuhan (tebokan) musik rebana yang biasa mengiringi tahun baru Islam setiap 1 Muharram di sebagian wilayah Pulau Jawa.

Aku jarang sekali merayakan tahun baru Masehi atau 1 Muharram dengan gegap gempita. Kadang aku rayakan dengan refleksi, melalui tulisan, atau dengan tidur yang nyenyak. Petasan atau kirab rebana seringkali mengganggu tapi jika aku berada di tempat dengan kebudayaan berbeda, aku akan merindukan kekhasannya.

31 Desember kalender Masehi bermakna besar di sebagian budaya sama seperti 1 Muharram bagi sebagian Muslim. Namun bagi sebagian orang, 31 Desember adalah tanggalan akhir di bulan Desember untuk masuk ke bulan berikutnya, yaitu Januari. Dan hari ini kita berada di Januari 2016. Happy January 2016!

Malang, 1 Januari 2016

http://www.timlo.net/baca/68719591074/tahun-baru-ini-harapan-pedagang-terompet/

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s