Pengalaman-Saya

The Best PK, 49-Arnawama Gantari


Sungguh pengalaman tidak terlupakan! Itu kesan yang aku rasakan dari PK-49, Arnawama Gantari. Penasaran, heran, dan bingung dengan PK? Oke, aku ceritakan.

Setelah informasi lulus seleksi beasiswa LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan), seluruh awardee akan mengikuti tahap PK atau Persiapan Keberangkatan. Awalnya aku berpikir, PK ini berisi pembekalan ilmiah dan semacamnya. Hampir mendekati. Aku baru memahami makna dan tujuan PK setelah melaluinya sendiri.

Berhubung aku domisili di Kota Malang dan masih bekerja plus menjadi relawan, aku tidak masuk dalam kepengurusan PK. Jadi setiap angkatan PK akan memilih pengurus dari anggotanya. Jika jadwal PK yang diberikan LPDP bertabrakan dengan jadwal ujian atau keperluan sangat mendesak lainnya, maka awardee bisa mengajukan pindah PK. Pada saat menulis artikel ini, LPDP baru selesai menyelenggarakan PK-50.

Aku termasuk dalam grup PK-49. Angka yang aku yakin memiliki makna karena bapakku lahir tahun 1949 dan nomor HP-ku berakhiran 49. Yaelah, kejawen banget ya. Seluruh anggota PK akan memiliki beberapa tugas wajib dan tugas pilihan. Dimulai dengan pemilihan nama angkatan, kemudian memilih 35 tugas individu dan kelompok. Tugasnya juga “seru”, terutama bagi anak muda atau yang baru lulus seperti beberapa yang dipilih pengurus PK-49 yaitu musikalisasi puisi, seni kontemporer, stand up comedy, dangdutan, dll. Peserta PK juga diminta membawa jajanan yang berbeda, membawa hadiah untuk teman rahasia (my sunshine), membuat mars angkatan, menghapal mars LPDP, ikrar LPDP, dll. Super sekali!

Berhubung aku bergelut di pendidikan populer untuk orang dewasa, aku bertanya-tanya, “Ini apaan sih? Kok ada hapalan ya?” Suamiku juga gak habis pikir, “Banyak banget tugasnya? Ini mau ngapain sih?”

Aku berusaha mencari rujukan dari tulisan alumni PK sebelumnya tetapi belum mendapatkan cukup pencerahan. Ketua pra PK juga tidak banyak mengkomunikasikan tujuan dan bagaimana dia memahami PK. Aku dapat memahaminya karena jadwal PK padat, sementara dia sendiri awalnya tinggal di Bandung kemudian pindah ke Jakarta. Anggota PK-49 berjumlah 122 orang dengan berbagai latar belakang, domisili, dan karakter. Tentu ketua pra PK, Mas J yang hitam manis, perlu memberi prioritas.

Kami membuat grup Line. Dinamika dalam grup luar biasa seru. Sering terjadi perdebatan dan di saat yang sama humor alay. Aku mencoba menikmati dan mengikuti arus. Ada tugas, kerjakan. Ada tenggat, penuhi. Tentu ada keinginan untuk menolak dan tidak melakukan tugas. Jika mengikuti dorongan nafsu individu, pasti aku ikuti. Masalahnya, ketidakpatuhan tersebut akan berdampak pada anggota kelompok yang lain. Aku tidak ingin egois dan tantangannya justru bagaimana menunjukkan bahwa aku dapat bekerjasama dan menjadi bagian dari kekuatan kelompok.

Aku mendengar selentingan juga bahwa kepemimpinan di PK-49 lemah dan tidak tegas. Mendengarnya, aku justru melakukan refleksi. Meskipun staf di lembagaku sedikit tetapi aku merasakan sulitnya menjadi pemimpin, terutama ketika anggota kelompok kita mempunyai seperangkat karakter ideal yang menurut mereka patut dimiliki pemimpin. Sementara diri sendiri merasa memiliki karakter yang berbeda. Aku belajar, di situlah seninya menjadi pemimpin.

Di saat yang sama, kehidupan pribadiku juga sedang mengalami transisi. Aku dalam proses menjual dan membeli rumah, berhubungan dengan notaris, proses pindah rumah, dua minggu sebelum PK dompetku dijambret, hilir mudik mengurus surat dan ke bank, dan seminggu sebelum PK aku muntaber. Suamiku sempat ragu, “Kayak begini kok mau ikut PK? Yakin ke Jakarta?”

Di perjalanan ke Jakarta pun aku mengalami tantangan. Namun, aku terus memotivasi diri sendiri. Tenang, cari jalan keluar, hadapi, lakukan!

Percayalah pada intuisi diri sendiri! Itu yang aku lakukan dan aku bersyukur telah mengalami pembelajaran yang luar biasa dari sekitar 150 orang tim LPDP dan anggota PK-49 yang sulit aku dapatkan dari ruang lain (membaca tulisan ini sambil mendengarkan lagu You Won’t Find This dari Carrie Underwood, dijamin terharu).

Tujuan utama dari PK adalah bonding anggota angkatan karena LPDP tidak ingin sekedar menjadi penyalur beasiswa. Bonding ini terjadi alami dan terlihat dari cara setiap orang memandang, menyentuh, menghargai, dan saling berbagi kecemasan, canda, dan tawa. Penjelasan di awal PK oleh Pak M. Kamiluddin, PIC PK, memberi banyak klarifikasi dan membuka hati setiap peserta. Penjelasannya membangkitkan semangat setiap peserta untuk sebaik-baiknya mengikuti seluruh proses. Bukan demi Pak Kamil atau demi LPDP, tapi untuk menunjukkan keistimewaan angkatan PK-49. Esprit de corps-nya mulai terbentuk dan dalam waktu 5 hari menjadi semakin kuat. YES!

Tugas-tugas yang diberikan pra PK adalah cara yang memaksa setiap orang saling terhubung, saling berkomunikasi, saling menghargai, dan saling mem-back up. Aku sendiri belajar banyak dari metode yang digunakan LPDP. Menarik.
Aku sendiri dibuat terkagum dengan ide, kreativitas, dan kerja tim yang kompak dari peserta yang sebagian besar di bawah usia 30 tahun. It’s a privilege to be part of this awesome Arnawama Gantari. Aku kehilangan kata-kata. Mari menyanyikan lagu Journey berjudul “Don’t Stop Believing”.

Malang, 30 November 2015

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s