Memaknai Pohon Ilmu dari LPDP


Aku ingin berbagi pengalaman mengikuti tes beasiswa LPDP. Tidak terduga bahwa apa yang aku tulis dan sampaikan secara lisan memberikan kesan dan penilaian yang positif sehingga aku diberi kesempatan untuk melanjutkan pendidikan S3 yang rencana akan aku tempuh di Institut Pertanian Bogor (IPB).

Kenapa tidak terduga? Karena aku memiliki kesan bahwa sebagian besar akademisi dan orang awam lebih menghargai linearitas ilmu pengetahuan yang sangat jelas. Misalnya seseorang yang belajar Sosiologi mulai dari tahap sarjana sampai dengan doktoral. Aku tidak memungkiri bahwa tentu diperlukan kedalaman dalam satu bidang ilmu. Namun, dalam pengalaman dan sesuai dengan kebutuhan, aku justru mendapatkan kedalaman yang sama jika belajar bidang ilmu yang kelihatannya berbeda tetapi memiliki prinsip keilmuan yang serupa.

Aku berlatar belakang sarjana ilmu perpustakaan. Setelah lulus, aku bekerja sebagai pustakawan di berbagai organisasi dan perusahaan. Sepengetahuanku tidak banyak pustakawan yang aku kenal bekerja sebagai pustakawan komunitas atau organisator komunitas. Aku termasuk di dalamnya. Pekerjaan pustakawan masih dilihat sebagai petugas yang mengelola informasi, dokumen, dan pengetahuan yang sudah dikemas dalam bentuk audio, visual, audio visual, dan digital. Namun, informasi dan pengetahuan yang masih berada dalam diri anggota masyarakat masih menjadi ranah organisator komunitas (community organizer) yang biasanya bekerja di universitas, LSM, atau ormas.

Namun, bukan kegelisahan itu yang membuatku masuk ke program pascasarjana kajian gender. Sejak kecil, jauh sebelum masuk usia sekolah dasar, aku merasa tidak nyaman dengan relasi bapak dan ibu. Aku tidak mengetahui apa dan bagaimana menyebutnya tetapi perasaan itu sangat kuat. Aku pernah menjadi korban pelecehan seksual fisik dan verbal di usia SD dan SMP. Kemarahan dan kekecewaan tersebut agak terobati dengan bacaan yang aku temukan di perpustakaan umum dan perpustakaan sekolah. Di kemudian hari aku mengenalnya sebagai biblioterapi.

Ketersediaan bacaan, dalam berbagai bentuk, dan menulis catatan harian (kemudian menulis puisi) menjadi bagian penting yang membentukku menjadi seperti sekarang. Ketika bekerja, aku kembali mengalami pelecehan seksual yang sangat menyesakkan. Percayalah, korban pelecehan biasanya akan disalahkan dan moralnya akan dipertanyakan. Jadi, aku menyatakan, cukup sudah! Aku berada pada titik di mana aku harus dapat memaknai, membongkar, mengurainya atau aku akan gila. Aku tidak bicara bahasa kiasan. Sebagai orang yang tertutup, sejak kecil orang tua sudah khawatir aku akan menjadi gila. Tentu aneh karena aku sendiri merasa waras. Gambar-gambar abstrak yang tidak dipahami orang tua dianggap sebagai gejala awal. Padahal gambar itu merefleksikan kegelisahan dan kekuatan dalam diriku.

Dulu, aku tidak mengetahui banyak tentang LSM. Meskipun pernah bekerja di beberapa LSM tetapi tidak ada klik yang menggugah kesadaran dan ketertarikan. Mempelajari relasi gender di universitas menjadi jalan yang dapat aku jangkau. Ingat, aku orang yang tertutup, tidak suka bersosialisasi, internet sudah booming tapi konten tentang kajian kritis atau isu gender yang berbahasa Indonesia belum banyak. Aku merasa terisolasi.

Aku diberkati. Kampus menjadi ruang refleksi yang membuka mata hati. Aku memang tidak berniat menjadi guru di lembaga pendidikan formal dan tidak memerlukan gelar sehingga aku belajar sesuai dengan kebutuhan personal. Pendidikan pascasarjana aku tempuh dengan biaya sendiri dari tabungan. Aku habis-habisan daripada gila beneran. Tahun 2004, biaya kuliah program pascasarjana di UI masih terjangkau olehku. Aku tidak mencari gelar, aku mencari kewarasan.

Selepas S2, karirku berubah. Aku bekerja di berbagai LSM tingkat Asia Tenggara dan Indonesia. Aku merasa menemukan jalur yang aku cari selama ini. Kadang galau juga, tetapi aku mencoba sabar dan tekun mengikuti jalur yang terhampar di depan. Aku seperti menemukan penanda yang aku visualisasikan. Aku mengetahuinya karena di beberapa kejadian, aku mengalami dejavu. Aku merasa pernah mengalami kejadian tersebut atau aku pernah berada di tempat tersebut meskipun aku tidak pernah berada di tempat tersebut. Aku belajar percaya pada impianku sendiri dan memvisualisasikannya. Mungkin seperti itu cara semesta mendukung dan keterhubungan antara manusia dan bumi. Hebat!!

Aku sempat bercita-cita melanjutkan S3 tetapi beberapa orang mengatakan bahwa jika aku tidak berniat menjadi pengajar atau akademisi, maka tidak perlu melanjutkan pendidikan ke S3. Ya sudah, lewat aja!

Tahun 2015, aku berada di tahap di mana aku memerlukan ruang yang berbeda, siklus yang baru untuk dapat memaknai beberapa tahun aktivisme yang aku jalani. Aku berpaling ke jenjang pendidikan S3. Aku berniat bersekolah dengan dana sendiri sehingga mencari universitas dalam negeri yang kuat di bidang penyuluhan pembangunan. Dua pilihan: UNS atau IPB. Sekitar bulan Mei di tahun yang sama, aku mendengar beasiswa LPDP. Aku tidak menggubrisnya. Aku pikir, paling diberikan untuk PNS atau dosen. Sebagai karyawan swasta, kesempatan untuk mendapat beasiswa S3 sepertinya sulit. Namun, sekitar bulan Juli, suami mendukung aku mencari beasiswa. Ya baiklah, aku coba deh.

Sebelum mencoba, aku pelajari tentang LPDP, persyaratan, memantapkan niat, tujuan, dan memvisualisasikan apa yang aku inginkan. Aku menyebarkan informasi ke kawan, tetangga, dan keluarga bahwa aku mengikuti LPDP supaya lebih banyak orang mendoakan dan memberikan informasi yang aku perlukan. Percayalah! Orang lain bisa jadi punya informasi penting yang kamu perlukan. Mereka tidak akan memberitahukannya jika kamu tidak memberitahukan mereka. Do you see how it works?

Persyaratan administrasi beasiswa LPDP sangat mudah jika dibandingkan beasiswa lain. Atasi hambatan di dalam dirimu dulu, baru hadapi seluruh persyaratan. Ketika ini sudah dilalui, tidak lulus LPDP pun kamu kamu akan sukses karena ketika hambatan di dalam diri sudah dapat diatasi, 50 persen sudah beres.

Pada tes di angkatanku baru diberlakukan ujian LDG dan penulisan esai on the spot. Pada ujian LPDP sebelumnya, hanya ada tes wawancara. Kebetulan aku sudah terbiasa diskusi kelompok di tempat kerja dan menulis esai adalah hobiku. Apalagi kalau diminta menulis cerpen, ayok banget.

Memvisualisasikan cita-citamu berarti mengerahkan sebagian waktu dan energi ke persiapan. Sebelum tes TOEFL atau IELTS, pasang apps tes tersebut di HP dan habiskan 1-2 jam setiap hari untuk berlatih dan mengakrabkan diri dengan pola yang muncul dari soal. Buat email dengan namamu sendiri, bukan nama alay. Biasakan mendengar dan bicara dalam bahasa Inggris. Be discipline with yourself!

Kunci menghadapi tes wawancara adalah memahami kapasitas kunci yang kamu miliki dan menunjukkannya dengan rendah hati. Jika diberi masukan, didengarkan dan diresapi dulu. Jika kamu tidak paham atau tidak tahu, terbuka saja. Paling tidak, itu yang aku lakukan. Ada beberapa hal yang dalam wawancara tidak aku ketahui dan aku informasikan ke pewawancara. Kepercayaan diri dan integritas bukan sesuatu yang dapat dibuat-buat atau disembunyikan dalam waktu lama. It will come out.

Silakan menghapalkan Pancasila, nama beberapa menteri, nama program pemerintah, silabus yang ingin diikuti, dsb. Dari pengalamanku, itu semua tidak ditanyakan. Mungkin kurang esensial juga. Setiap pewawancara memiliki karakter yang berbeda. Calon pendaftar juga banyak yang kualifikasinya lebih tinggi dari kita. Maka tidak heran jika ada yang mengatakan faktor keberuntungan ikut memainkan peran dalam proses seleksi beasiswa LPDP. So, in the end, good luck!

Malang, 28 November 2015

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s