Ketika Ketua PKK mundur


Aku membaca tulisan di selembar kertas yang berisi daftar belanja untuk syukuran 17 Agustus yang dilakukan di RT-ku. Ada rincian jumlah pemasukan dan pengeluaran. Ketua PKK melihat peserta yang datang dan tidak merasa puas karena orang yang diharapkan datang tidak juga hadir. Setelah dipanggil ke rumah masing-masing, rupanya tidak ada di tempat. Akhirnya rapat dimulai.

Rupanya rapat tersebut diadakan untuk merespon berbagai isu yang muncul seputar dana PKK dan dana syukuran 17 Agustus. Sayangnya orang yang mempertanyakan dan menghembuskan isu tersebut justru tidak hadir, meskipun sudah diundang. Pertanyaannya, apakah orang tersebut ingin mengetahui kebenarannya atau sekadar menciptakan konflik?

Diskusi yang hanya sekitar 30 menit itu diwarnai dengan luapan emosi dan kesedihan Ketua PKK. Seperti diketahui, posisi Ketua PKK adalah posisi sosial, tidak ada honor atau tunjangan tertentu yang diterima. Dia sendiri hanya membantu Pak RT karena istrinya, yang seharusnya menjadi Ketua PKK, tidak bersedia dan merasa tidak sanggup menjabat posisi tersebut. Di akhir pertemuan, dia mengundurkan diri dari posisinya dan menyerahkan seluruh berkas kepada Ketua RT.

Aku merefleksikan posisinya. Tidak mudah menjadi pemimpin, baik itu di organisasi sosial, profit, atau militer. Dalam sebuah organisasi yang dibentuk atas kesepakatan bersama, pemimpin yang kuat didukung oleh tim yang kuat. Jika salah satu atau beberapa anggota timnya meragukan kepemimpinan, melecehkan keputusan, menciptakan berbagai konflik internal, ada kemungkinan seorang pemimpin akan lebih banyak berkutat “memadamkan api” di organisasinya sendiri daripada bekerja memperjuangkan kepentingan anggota.

Mungkin anggota tim atau pengurus memiliki alasan bahwa yang mereka lakukan adalah membangun dialog, mendorong transparansi, dan membuka ruang aman. Namun, cara atau bagaimana hal tersebut disampaikan ikut menentukan respon yang diterima dan mempengaruhi iklim organisasi. Secara manusiawi, sepertinya setiap orang merasa dirinya sudah melakukan tindakan yang benar. Pemimpin kemudian kembali kepada aturan tertulis untuk menyelesaikan masalah. Ketua PKK di tempatku sepertinya sudah merasa cukup mengemban tanggung jawabnya dan merasa tidak dipercaya. Semua orang, tidak hanya Ketua PKK, perlu introspeksi.

Tidak mudah mencari seorang pemimpin. Pada pertemuan PKK bulan ini, tidak ada seorang pun yang mau mengambil posisi ketua sehingga diputuskan sambil menunggu pemilihan ketua RT yang kemungkinan dilakukan akhir tahun, seluruh pengurus akan berkoordinasi dan melakukan tanggung jawab masing-masing. Dengan kata lain, PKK akan memberlakukan kepemimpinan kolektif. Sebagai sekretaris PKK, aku diminta untuk menjadi moderator dalam pertemuan PKK. Namun, kami tetap memerlukan seorang pemimpin yang dapat diterima dan dipercaya untuk melakukan koordinasi dengan pihak di luar RT, mengelola kegiatan, dan melakukan kerjasama. Saya melihat sosok kepemimpinan perempuan dengan kualitas seperti itu sudah ada. Saya melihatnya tumbuh dan dirawat oleh masyarakat yang tinggal di lorong gang di belakang rumah sakit ini.

Malang, 26 September 2015

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s