Ho King


Di tempat tinggalku, ada dua penjual kelontong yang banyak dikenal. Salah satu langgananku adalah Ho King. Aku tidak tahu nama lengkapnya. Semua memanggilnya dengan nama tersebut. Usianya sekitar 60 tahun, dari etnis Tionghoa, entah marga apa. Warungnya kecil, terletak di seberang rumah mertuaku di gang IV sebuah jalan di Kota Malang. Ho King orang lama di daerah itu. Warungnya cukup lengkap tapi kotor, terlalu penuh, dan tidak tertata rapi. Akhirnya warung kelihatan sumpek.

Ho King adalah salah satu andalanku untuk membeli keperluan perangkat rumah tangga. Dulu aku berlangganan air mineral galon tetapi sejak menggunakan alat penyaring, aku tidak membeli air galon. Aku jarang membeli makanan kecuali telor ayam di Ho King. Biasanya harga di Ho King Rp 500 atau Rp 1.000 lebih murah dari pedagang kelontong lainnya di daerahku. Kalau mau berbelanja di Ho King, pelanggan harus sabar karena dia melayani pembeli dengan sangat laaambat. Membeli telor 1/2 Kg bisa memakan waktu 5-7 menit. Kalau membeli keperluan lain, tinggal dibuat kelipatannya. Namun demi selisih harga, biasanya pelanggan akan rela menghabiskan waktu yang lama di Ho King. Termasuk aku.

Ho King tidak bertempat tinggal di warungnya. Setiap waktu tidur siang dan setelah jam 10 malam dia akan menutup warung dan pulang ke rumahnya. Dulu dia tinggal di gang itu, kemudian pindah. Di pojok kiri dalam warungnya, dia membuat tempat persembahan bagi leluhurnya. Aku sering melihat buah dan/atau bunga serta stik dupa dibakar di depan tiga foto hitam putih leluhurnya. Aku salut karena Ho King mempunyai foto leluhur dan menyimpannya dengan baik. Dia juga masih mengingat dan mengirim doa ke mereka.

Di daerahku ada tiga orang laki-laki penghuni lama yang mengalami gangguan kejiwaan. Mereka tinggal dan berseliweran di daerah tersebut. Mereka juga masih dihargai dan seringkali ditakuti anak-anak dan remaja. Dua dari tiga orang tersebut sering nongkrong di depan warung Ho King. Ketiganya saling kenal dengan Ho King dan usia mereka tidak terpaut jauh. Ho King ramah dan menerima mereka di depan warungnya untuk bisa menonton sinetron. Sepengetahuanku Ho King suka dengan tayangan musik dangdut dan sinetron. Aku pernah ke warungnya dan memanggilnya berulang kali gara-gara dia terpaku pada tayangan sinetron di TV.

Sekilas aku melihat Ho King sebagai orang yang sederhana. Pakaian yang dia pakai di warung yang itu-itu aja. Celananya kedodoran. Kaosnya ngepas, bahkan kekecilan untuk menutupi perutnya yang besar.

Sekitar empat bulan terakhir, Ho King tidak berjualan lagi. Awalnya aku heran. Setiap bolak-balik di depan warungnya selalu dalam keadaan tutup. Rupanya dia mengalami kecelakaan, diserempet truk kalau tidak salah. Untuk orang setua Ho King, kecelakaan itu berakibat parah. Aku menunggu warungnya buka kembali. Aku kangen dengan Ho King. Kangen dengan harga telor di warungnya yang lebih murah dari warung lain.

Aku berdoa semoga Ho King cepat pulih dan segera membuka warungnya. Dengan begitu, pengeluaran belanja rumah tanggaku akan sedikit terbantu.

Malang, 20 September 2015

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s