Pengalaman-Saya

Pilihan perempuan berkeluarga dan konsep bekerja


Tulisan ini dipicu oleh sebuah tulisan yang dibagikan temanku melalui Facebook. Secara ringkas, tulisan itu bercerita mengenai seorang perempuan 47 tahun yang menjadi guru mengaji dan memiliki 8 anak. Suaminya meninggal karena kecelakaan motor sementara dia seorang ibu rumah tangga tanpa penghasilan tetap. Dia tidak bekerja kantoran, tapi juga bukan pengangguran karena dia mengajar ngaji dengan honor seikhlas muridnya. Namun karena kebaikan-kebaikan yang dia dan almarhum suami lakukan semasa hidup, dia mendapatkan uang duka sebesar 100 juta. Kemudian terkumpul lagi 100 juta dan sampai sekarang masih banyak orang mengirimnya uang.

Tulisan tersebut menggugat pendapat beberapa orang yang mendorong perempuan untuk bekerja di luar rumah atau di dalam rumah yang daripada menjadi ibu rumah tangga. Menurutku, dorongan atau pendapat tersebut didasari sebuah niat yang baik yaitu agar ada kemandirian ekonomi dari perempuan yang sudah berkeluarga. Sepengalamanku, pendapat dan dorongan tersebut lebih banyak dilakukan di keluarga kelas menengah dan pekerja. Sepertinya perempuan dari kalangan atas atau kelas bawah tidak banyak mendebatkannya karena konteks ekonomi dan kelas mereka berbeda. Ketika hal tersebut dibicarakan, fokusnya juga bukan tentang pilihan bekerja atau tidak bekerja tapi bagaimana menyiasati kondisi ekonomi untuk pemenuhan kebutuhan keluarga sesuai dengan sumber daya yang mereka miliki. Bagi perempuan kelas bawah, pilihan yang mereka miliki sangat terbatas dan seringkali di luar kuasa mereka. Bagi perempuan kelas atas, pilihan yang ada sangat banyak.

Dalam tulisan di Facebook tersebut, perempuan tersebut menyatakan bahwa tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah sepanjang percaya kepada kekuatan-NYA. Allah yang memberi rezeki. Aku terhentak juga karena memang benar, rezeki dari Allah dan datang dari berbagai pintu (cara). Namun tidak bisa dipungkiri realitas bahwa di dunia ini berbagai hal dihargai dengan uang. Bahkan perempuan dalam cerita tersebut pada titik tertentu menekankan jumlah uang untuk menunjukkan besarnya kekuatan kebaikan.

Pada saat yang sama, aku termasuk orang yang berpendirian bahwa semua orang wajib berusaha sebelum tawakal kepada Yang Maha Kuasa. Aku juga berpendirian bahwa setiap orang diberi kekuatan, kelemahan, dan sumber daya untuk memenuhi kebutuhannya. Dalam proses memenuhi kebutuhan diri sendiri dan keluarga, secara langsung kita memberi kebaikan dan teladan pada keluarga, tetangga, dan masyarakat baik dalam bentuk materi, emosi, kapasitas, jaringan, dan pengetahuan. Dengan bekerja, baik itu dari rumah atau di luar rumah, di sektor formal atau informal, perempuan memberi kontribusi kepada keluarga dan lingkungannya. Dengan bekerja sebagai guru mengaji, ibu di dalam cerita memiliki penghasilan ala kadarnya, tetapi dia bisa memperluas kebaikan, jaringan, dan pengaruhnya. Dia sudah berusaha dengan cara dan pengetahuan yang dia miliki.

Aku tidak ingin terjebak dengan perdebatan elit tentang menjadi ibu rumah tangga sepenuhnya atau ibu rumah tangga paruh waktu. Aku justru ingin menggugat pendapat yang menganggap ibu bekerja sebagai bukan ibu sepenuhnya atau ibu yang mengejar uang dan karir. Menurutku, isu yang lebih penting adalah bagaimana memberi keadilan ekonomi bagi perempuan berkeluarga, baik dia bekerja atau tidak bekerja. Kemudian bagaimana perempuan memiliki pilihan pekerjaan yang sesuai dengan keahliannya dan dihargai layak secara substansi.

Aku juga ingin mengajak perempuan untuk melibatkan pasangannya dalam kerja domestik. Jika perempuan menghargai kerja domestik, termasuk pengasuhan, maka perempuan perlu memberi penghargaan yang sama jika pasangannya atau laki-laki melakukan pekerjaan tersebut. Perempuan sendiri perlu menekankan dan meyakinkan pasangan mereka untuk berbagi kerja domestik, yang kadangkala dilakukan sampai 18 jam per hari.

Aku juga percaya bahwa bekerja adalah bagian dari ibadah. Tidak ada yang perlu dikorbankan karena tidak ada orang yang bisa mendapatkan segala yang dia inginkan. Mungkin yang perlu dipertanyakan, mengapa hanya itu pilihan yang tersedia? Pilihan yang diputuskan pun akan sangat tergantung pada situasi yang dihadapi setiap orang. Jika seorang perempuan membuat suatu keputusan tanpa paksaan dari siapapun dan merasa bahagia dengan keputusan tersebut, maka perempuan itu sangat powerful.

Seseorang yang beragama pun memiliki ketakutan dan rasa tidak berdaya, terutama berkaitan dengan ekonomi. Bukan karena mereka tidak percaya bahwa Tuhan tidak akan menolongnya, tetapi jika kita tinggal di kota besar (industri) maka kita melihat orang di sekeliling kita sama-sama tidak berdaya. Mereka yang berdaya kadang kurang peduli pada kesusahan orang lain atau mereka memiliki masalah sendiri yang tidak kita ketahui.

Cerita yang dialami ibu di dalam cerita itu juga sepertinya dialami oleh beberapa orang yang hidup dalam komunitas dengan ikatan kuat, baik itu ikatan masyarakat adat, komunitas berbasis agama/ormas, suku tertentu, atau sejenisnya. Di beberapa kota besar, ikatan itu kadang masih ada tapi seringkali setiap orang mengandalkan kekuatan keluarga inti atau keluarga besar yang berada di luar kota.

Ketika seorang perempuan mendorong perempuan lain untuk bekerja, aku bisa memahami karena aku sendiri kadang-kadang melakukannya. Aku melakukannya karena aku menemukan kebahagiaan dalam bekerja, aku didorong untuk kreatif, kritis, dan mencoba berbagai hal baru. Aku juga memiliki penghasilan sendiri dan kapasitas sehingga dapat membantu ekonomi rumah tangga, mengajari keponakan, berbagi untuk pendidikan anak-anak dan remaja, serta memperkerjakan orang lain sehingga mereka juga punya penghasilan.

Bahkan pada beberapa orang, baik itu laki-laki dan/atau perempuan, apa yang mereka lakukan tidak hanya dilihat sebagai bekerja, tetapi sebagai panggilan hati dan pengabdian pada sesama. Mereka tidak bisa tidak bekerja. Mungkin sama dengan ibu yang diceritakan, dengan tekun menjadi guru ngaji. Aku ada banyak sekali teladan untuk yang satu ini. Mereka bekerja secara profesional, dari dan dengan hati, melibatkan keluarga dalam kegiatan/pekerjaan, dan membangun masyarakat di sekitar mereka.

Mungkin sebenarnya cara pandang tentang bekerja dan keluarga dalam sistem kapitalisme yang perlu dikritisi daripada melakukan dikotomi antara perempuan bekerja dengan perempuan yang menjadi ibu rumah tangga. Toh banyak sekali perempuan bekerja adalah ibu rumah tangga yang dibuat tidak berdaya. Bahkan di beberapa budaya, bekerja berarti melibatkan seluruh anggota keluarga. Beberapa ekonom juga mengembangkan “social economy of care” sehingga perawatan dan kerja domestik yang dikerjakan tercatat dan terhitung dalam sistem ekonomi makro. Mungkin saatnya mereka-ulang pertanyaan yang tepat sebelum mencari jawaban yang tepat.

Malang, 13 September 2015.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s