Pak Amin: sebuah tanggung jawab yang besar


Hari ini aku menerima kabar yang menyedihkan. Pak Aminuddin, guru matematika di SMP 196 terbaring di ICU. Aku dengar dia memiliki penyakit jantung. Teman-temanku yang masih tinggal di Cilangkap menggalang bantuan. Aku segera ikut membantu. Membantu apa yang aku bisa.

Aku ingat sekali Pak Amin. Aku lupa apakah dia mengajar di kelas 2 atau 3. Waktu itu dia guru baru di 196. Wajahnya ganteng dengan perawakan yang lumayan tinggi. Tidak gemuk dan tidak kurus. Dia tidak merokok. Berkumis tipis dengan rambut dibelah pinggir tapi hampir ke tengah. Biasanya mengajar dengan kemeja berwarna polos yang lengannya digulung 3/4. Aku menyukai gaya mengajarnya dibanding guru matematika sebelumnya.

Aku tidak ingat berapa usianya ketika mulai mengajar di 196 tetapi aku ingat rumor yang beredar. Sepertinya dia berusia di atas 30 tahun dan masih bujang. Kondisi itu menjadi gunjingan di kalangan guru dan siswa. Seorang laki-laki yang fisiknya menarik, punya pekerjaan tetap, soleh, cukup umur, dan masih bujang. Hmm.

Aku tidak paham dengan gunjingan yang beredar. Aku tidak paham apa yang salah dengan seorang laki-laki berusia pertengahan 30 yang masih membujang, bahkan tidak punya pacar perempuan. Aku membayangkan bahwa seperti itulah hidup yang ideal di usia pertengahan 30. Namun, aku salah. Sepertinya gunjingan itu dirasakan juga oleh Pak Amin.

Dari begitu banyak kelas dan pelajaran matematika yang pernah dia ajarkan, aku justru mengingat satu ajarannya yang tidak berhubungan dengan matematika. Waktu itu, di tengah pelajaran, dia duduk di pinggir meja menghadap siswanya. Kemudian dia berujar yang isinya kurang lebih begini, “Banyak yang bertanya kenapa saya belum menikah. Saya ingin menikah tetapi belum menemukan yang cocok. Saya merasa belum siap menjadi suami. Pernikahan itu punya dampak yang besar, tanggung jawabnya besar. Bukan hal yang mudah.” Ya kira-kira seperti itu yang aku ingat. Dia terus berbicara tentang hal yang sama beberapa menit kemudian.

Aku dan teman-teman saling melirik. Apakah kita masih belajar matematika? Apakah ini termasuk pelajaran matematika? Oh rupanya dia sedang mencurahkan isi hatinya. Dia ingin menjelaskan dan membuat kami paham mengenai pilihannya. Ya, ya aku paham dan hal itu masih terus aku ingat. Aku kagum. Sepertinya tidak banyak laki-laki seperti dia. Seseorang yang menganggap seriustanggung jawab dalam sebuah pernikahan. My kind of man.

Secuplik kejadian itu saja yang aku ingat. Beberapa tahun terakhir, aku mendengar kalau dia sudah menikah dan memiliki anak. Aku berharap dia melakukannya karena ikhlas, tidak terpaksa atau dipaksa. Tentu tidak mudah. Namun kesungguhan hati dan kejujuran ketika dia mengatakannya di depan kelas, di depan para siswanya yang masih berusia 14-15 tahun, sangat berkesan. Mungkin dia juga tahu bahwa di daerah Cilangkap dan Pondok Ranggon saat itu, anak perempuan yang lulus SMP akan segera dinikahkan daripada disekolahkan. Sebagian kecil teman-teman perempuanku seperti itu. Sebagian lagi menunggu sampai lulus SMA.

Pak Amin, semoga Allah memberi yang terbaik untukmu dan keluarga. Terima kasih atas kasih dan pengetahuan yang telah diberikan. Lekas pulih agar bisa memberikan pengetahuan ke lebih banyak siswa.

Malang, 11 September 2015.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s