Pengalaman-Saya

Renungan malam Jum’at


Aku ingin menuliskan sesuatu tentang almarhum temanku, Astari. Aku mendengar bahwa beberapa tahun belakangan Astari atau Riri sakit keras sehingga harus berada di kursi roda. Aku masih merasa sedih meskipun tidak sampai menangis. Namun pikiran tentang Riri terus mengganggu.

Mengganggu karena dulu aku sempat cemburu dengan Riri. Seperti pepatah mengatakan, rumput tetangga selalu lebih hijau daripada rumput di halaman sendiri. Begitu juga ketika aku melihat Riri. Bagaimana tidak? Dia jauh lebih cantik, lebih tinggi, badannya lebih berisi, rambutnya hitam tebal, giginya berderet rapi, kulitnya terang, dan selera humor yang tinggi. Ketika melihatnya, aku merasa dia bisa mencapai banyak hal dalam hidupnya. Kemungkinan besar hidupnya akan berjalan sangat mudah dibanding hidupku.

Aku menganggap remeh bakat dan kemampuanku, termasuk fisikku. Aku tidak ingin terjebak melihat kesuksesan orang pada tingkat pendidikan, jenis pekerjaan, dan predikat sosial lainnya. Namun aku berpikir bahwa dengan segala potensi yang dimiliki Riri, dia dapat mencapai sesuatu yang lebih besar dari yang aku punya. Dengan mengetahui riwayat hidupnya dan sekarang mengetahui bahwa dia telah meninggal, aku jadi berpikir ulang.

Berpikir ulang bahwa setiap orang memiliki potensi, minat, dan bakat masing-masing. Setiap orang memiliki kelemahan dan celah yang berbeda. Memang benar bahwa kecerdasan tidak otomatis membawa keberkahan, kearifan, kepekaan, dan keluwesan. Sok bijak ya?

Memang benar kan? Ini malam Jum’at. Ada hubungan dengan mistis? Hehehe.

Informasi kematian Riri memberi banyak semangat bahwa aku bisa berbuat lebih banyak. Demi kenangan dan kearifan yang telah almarhum berikan. Riri memang istimewa. Dengan caranya, aku yakin dia berjuang sangat keras. Perjuangan yang mungkin tidak dapat aku hadapi dengan tegar. Mungkin karena itu, aku memilih jejak yang sekarang dijalani. Aku merasa bersemangat karena aku dapat menghargai pilihan dan pengalaman Riri. Aku juga tidak mengukur keberhasilannya dengan keberhasilanku atau orang lain. Setiap orang memiliki pencapaian masing-masing.

Kangen. Kangen dengan senyumnya.

Malang, 10 September 2015

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s