Vagina yang kotor


Namanya memek, begitu ibu dan orang lain memberitahuku.
Agak sulit aku melihat memek karena letaknya di selangkangan bawah. Aku hanya bisa meraba dan membayangkannya.
Itu pun aku dengar tidak boleh dilakukan sering, bisa merusak penglihatan. Katanya.

Beberapa anak tertawa, “ada apa?”
“Coba tebak ini gambar apa?” sambil terkikik.
“Seperti vagina.” Mereka tertawa.
“Pikiranmu kotor! Ini bibir yang dilipat keluar.”
Aku bingung. Bibir perempuan sering dianggap sebagai vagina kedua, atau sebaliknya. Keduanya dianggap pembawa fitnah.

Aku diam dan berpikir. Mencoba tidak membayangkan yang kotor.
Kelopak bunga di sprei aku ukir dengan jari tanganku.
“Kok seperti … . Ah tidak, jangan berpikir kotor.”

Ketika aku membungkuk dan melihat dua telapak kaki menempel, aku melihat…
“Lagi-lagi pikiran kotor.”

Hampir semua orang tahu, tidak boleh ucapkan “memek” bahkan ketika dia ingin mengatakannya. Kecuali kalau sedang marah dan ingin menjelekkan orang lain, katai saja, “Dasar memek!”
Ketika waria berteriak “turok” maka orang-orang di sekelilingnya akan tertawa.
“Kamu tahu kan maksudnya? Bukan maksud dari kata turok, tapi maksud dari tawa mereka?”
Aku menggeleng.
“Bodol! Maksudnya ya, ya, gitu.”
“Gitu?”
“Jorok!”

Aku menciut seperti puki.
Puki yang aku bawa kemana-mana, bahkan seringkali tidak terasa.

Aku juga bisa melebar seperti tempik.
Tempik yang aku basuh setiap hari, supaya bersih.

Namun, sepertinya apapun yang aku lakukan tidak ada hasil.
Seluruh kata yang diartikan sebagai vagina masih saja kotor, jorok, dan satu lagi, porno.
Berbagai gambar puki dan citra yang menyerupainya terus dianggap tabu dan ditutupi. Makanan yang dinamai puki pun dianggap saru.
Darimana lagi aku bisa tahu tentang apa yang ada di antara selangkangan?

“Tidak ada yang perlu diketahui.”
“Moral bangsa ada di vagina. Cuma perempuan yang punya vagina. Maka perempuan perlu dilindungi. Tidak boleh keluar malam. Nanti membuat laki-laki terangsang.”

“Aku juga terangsang oleh penis laki-laki.”
“Yang benar aja? Kalau begitu …”
“Kalau begitu?”
“Nafsu seksmu terlalu besar, harus dikendalikan. Dulu disunat nggak?”
“Apakah laki-laki disunat untuk bisa mengendalikan nafsu seksnya?”
“Wajib hukumnya untuk laki-laki. Bagus untuk kesehatan.”
“Kesehatan lahir dan batin?”
“Ya.”
“Berarti perempuan tidak masalah keluar malam tanpa muhrim karena laki-laki sudah disunat.”
“Emm.” Bibir sang ustad bergumam dan dilipat agak keluar, seperti memek yang rapat.

“Sudah belah duren?” tanya kawan perempuanku.
“Belah duren? Ngentot?”
“Hush! Jangan ngomong gitu, jorok!”
“Apa bedanya dengan belah duren?”
“Itu lebih halus.”

Ya Tuhan. Maha Besar Dia yang menciptakan kata-kata dan beribu makna, kemudian manusia memakainya, menghakiminya.

Selesai buang air besar, aku membasuh dubur dan vaginaku.
“Dicebok pake air supaya bersih. Kalo gak bersih nanti disemutin.” Katanya.
Takut setengah mati aku membayangkan vaginaku dikerubuti semut. Kenapa semut-semut itu ke sini? Apakah vaginaku terasa manis? Baunya menyengat?

Ya, semut-semut itu datang berpuluh-puluh kemudian beratus banyaknya menuju bibir vagina. Vagina dianggap memiliki bibir meskipun mereka bukan bibir seperti bibir di wajah. Berbondong-bondong pasukan semut bergerak memasuki liang vaginaku. Aaaaagh!
“Itu akibatnya kalo cebok tidak pakai air dan tidak bersih.” Katanya.

Pengetahuanku bermula dari “Katanya” atau “Dari sananya”. Ibuku menunduk mengusap keningku. Dari kutangnya tersembul belahan payudara.
Mirip tempik.

Berkumpul kami. Sesama perempuan. Suara satu orang menjadi lirih.
“Aku dengar Tia diperkosa oleh pacarnya.”
“Hah! Jorok, kotor, biadab pelakunya!” geram, aku mengepalkan tangan.
Semua pandangan takjub kearahku.
“Kasihan. Nggak perawan lagi.”
“Ini aib, jangan diberitahu keluarganya.”
“Aku sih gak percaya.”

Asaku semakin kerdil. Seperti pentil.

Kenapa, kenapa?
“Aku dengar mereka pernah nonton film jorok.”
Film jorok, film apa itu?
“Film ngeseks.”
Ngeseks itu jorok?
“YA IYALAH!”

“Kalau perempuan nggak mau, gak mungkin laki-laki itu memaksa. Kalau perempuan tidak bikin laki-laki terangsang, nggak mungkin laki-laki memperkosa.” Katanya.
“Jadi perempuan itu harus punya harga diri.”
Harga diri. Dimana?
“VAGINA!”

Aku melihat vagina dimana-mana. Dibibir, diselangkangan, dilimpitan perut, didaun, dimobil, didompet, dibelahan pantat. Pikiranku kotor, penuh harga diri.

Katanya. Anggap saja begitu adanya. Vagina itu jorok. Tapi di vagina bermukim harga diri bangsa.
Jorok sekali bangsa manusia.
Jelas saja, lahirnya juga dari vagina.
Mau gimana?

Malang, 22 Juli 2015

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s