Pengetahuan-Saya

Penyebab kekerasan seksual, bagian 2


Tulisan ini melanjutkan bagian pertama. Pada saat kawan saya bertanya mengenai penyebab kekerasan seksual ini, saya sempat mengatakan bahwa sepertinya dia ingin mengetes saya dengan pemahaman dirinya. Dia mengelak dengan mengatakan, seseorang yang mengetes melakukannya jika merasa sudah mengetahui jawabannya sementara dia tidak tahu dan ingin menemukan jawaban. Saya tidak ingin memperpanjang debat mengenai tes atau tidak meskipun dari pengalaman saya sudah bisa memilah berbagai macam pertanyaan seputar gerakan perempuan dan feminisme. Paling tidak saya menghargai rasa ingin tahunya.

Tulisan saya di bagian satu rupanya dianggap tidak dapat menjawab pertanyaan utamanya. Karena menurutnya, tulisan dan rujukan yang saya sebutkan belum mampu menyodorkan bukti bahwa “kekerasan seksual tidak ditimbulkan oleh cara berpakaian perempuan”. Dia mempertanyakan jika ada sebuah eksperimen yang dilakukan di mana ada satu atau dua orang perempuan diberi dua jenis pakaian yang berbeda, satu tertutup (konsep “tertutup” setiap budaya juga berbeda satu dengan yang lain) dan satunya “terbuka”. Kemudian model ini berada di pinggir jalan dan dilihat siapa yang paling sering menerima pelecehan seksual. Oke, itu ide brilian. Well, no. Itu ide yang biasa dan tidak perlu. Namun, saya tidak mengatakan seperti itu ke kawan saya.

Saya merasa akan lebih baik jika saya mempertanyakan dan mengajaknya merefleksikan, mengapa metode seperti itu yang dianggap dapat menjawab sebuah hipotesa bahwa “kekerasan seksual tidak ditimbulkan oleh cara berpakaian perempuan”? Mengapa metode seperti itu tidak pernah dilakukan para peneliti ketika meneliti bertema kekerasan seksual? Apakah para peneliti tersebut tidak pernah memikirkannya atau sebenarnya ada metode lain yang dianggap dapat memberi pemahaman lebih dalam mengenai fenomena kekerasan seksual?

Saya tidak memberitahukannya mengenai metode penelitian berperspektif feminis. Jika dia benar-benar ingin tahu maka dia dengan mudah mendapatkan informasi di website. Saya  melihat masalahnya terletak pada perspektif bahwa dia tidak menganggap pengalaman perempuan sebagai sumber pengetahuan dan sumber data yang valid. Tentu ini bukan hanya masalah dia seorang, banyak sekali laki-laki dan perempuan yang juga berpikir sama. Selalu ada yang membenturkan antara obyektif dan subyektif dan bahwa pengalaman manusia perlu diperlakukan sama seperti meneliti gravitasi. Sementara sepengetahuan saya, percepatan gravitasi bumi juga tidak sama di seluruh permukaan bumi.

Di akhir surat, saya menyatakan bahwa saya menerima perbedaan cara berpikir. Meskipun awalnya dia bersikeras bahwa ini bukan tentang cara berpikir melainkan diskusi ilmiah berdasarkan bukti empiris. Masalahnya, ketika pengalaman perempuan yang muncul dalam berbagai penelitian yang saya rujuk tidak dianggap sebagai bukti empiris dan ilmiah, maka apapun bukti yang saya ajukan akan dianggap sebagai non-evidence. Tidak ada lagi yang bisa didiskusikan. Diskusi perlu dimulai bukan mengenai pertanyaan: bagaimana kekerasan seksual terjadi, melainkan mengenai “apa yang dianggap sebagai bukti ilmiah yang dapat diterima ilmu pengetahuan?”

Oleh karena itu, di akhir surat saya mengusulkan kepada kawan saya untuk mengubah pertanyaannya. Kadang kita tidak menemukan jawaban yang tepat karena kita belum menemukan pertanyaan yang tepat.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s