Pengetahuan-Saya

Penyebab Kekerasan Seksual, bagian 1


Ada seorang teman yang bertanya mengenai faktor yang menyebabkan terjadinya kekerasan seksual setelah membaca isi konferensi pers yang dilakukan mitra FAMM di Kendari. (lihat http://famm.or.id/archives/2015/04/1054/).

Salah satu kalimat dalam konferensi pers tersebut berbunyi:
Various studies have actually showed that sexual violence is not triggered by certain appearance, thus reinforces the notion that regulation No. 18 year 2014 on Dressing Code is an example of discriminatory policy made by local government.

Orang tersebut tidak berhasil menemukan penelitian spesifik yang kami rujuk. Sebagai bagian dari aktivisme, inilah beberapa hal yang dapat saya sampaikan di tulisan pertama.

Ada banyak statistik dan penelitian terkait kekerasan seksual yang dapat diperoleh dari lembaga-lembaga yang dikelola PBB, universitas, LSM, dan pemerintah. Silakan dibuka beberapa dokumen ini:
http://www.unwomen.org/en/what-we-do/ending-violence-against-women/facts-and-figures
http://apps.who.int/iris/bitstream/10665/85239/1/9789241564625_eng.pdf
http://www.un.org/esa/socdev/ageing/documents/egm/NeglectAbuseandViolenceofOlderWomen/Violence%20against%20women.pdf

Dokumen-dokumen di atas tetap penting dicantumkan sebagai bagian dari rujukan. Masih banyak yang lainnya. Kesulitan untuk memahaminya bukan hanya dari segi bahasa, penggunaan beberapa istilah tetapi juga pemahaman dasar mengenai relasi gender itu sendiri. Oleh karena itu, keinginan memahami penyebab kekerasan seksual perlu diiringi dengan keinginan memahami tentang relasi gender dan relasi kuasa yang nantinya menjadi penghubung dari setiap simpul.

Bagi yang tertarik dengan kekerasan seksual, bisa dicoba dengan memahami apa yang dimaksud dengan frase tersebut. Kekerasan seksual secara umum mengacu pada aktivitas seksual dimana tidak ada persetujuan (consent) dari pihak yang terlibat atau persetujuan tidak diberikan secara sukarela. “Sukarela” di sini berarti tanpa paksaan, tekanan, ancaman, iming-iming, manipulasi atau penipuan. Lebih jauh mengenai aspek hukum dari kekerasan seksual bisa diawali dengan artikel di bawah ini. http://www.hukumonline.com/berita/baca/hol2472/kekerasan-seksual-mitos-dan-realitas

Lalu apa saja yang termasuk dengan kekerasan seksual? Silakan baca di sini.
http://www.komnasperempuan.or.id/wp-content/uploads/2013/12/15-Jenis-Kekerasan-Seksual_2013.pdf

Memang banyak bacaan sebagai rujukan. Paling tidak saya membantu memilah sehingga tidak perlu cari-cari lagi. Pemahaman yang bertahap jauh lebih baik daripada satu kali baca dan berharap langsung paham. Dibaca dan diendapkan.

Penelitian besar terakhir seputar kekerasan seksual yang saya ketahui dilakukan di 6 negara Asia Pasifik yaitu Bangladesh, Kamboja, Republik Rakyat Tionghoa, Indonesia, Sri Lanka dan Papua New Guinea. Hasilnya bisa dibaca di sini http://countryoffice.unfpa.org/timor-leste/drive/p4p-report.pdf

Lalu bagaimana memahami semua bacaan itu? Bagaimana menghubungkan satu dengan yang lain?

Kita bisa mulai dari berita yang sedang hangat di media Indonesia yaitu kasus pemerkosaan yang menimpa almarhumah Angeline. Bagi yang ingin membaca kisahnya bisa melihat http://daerah.sindonews.com/topic/7223/kasus-angeline. Kisahnya akan dihubungkan dengan data yang ada di taut paling pertama dari UN Women dan kembali pada premis “sexual violence is not triggered by certain appearance”.

Usia Angeline yang saya ketahui dari media massa adalah 8 tahun. Poin 6 dalam taut di atas menunjukkan bahwa kekerasan yang dialami Angeline terjadi secara luas di seluruh dunia. Apakah kekerasan ini merupakan kesalahan Angeline karena penampilannya yang seperti anak-anak pada
umumnya? Kalau contoh kasusnya anak-anak, biasanya banyak yang bersimpati pada korban. Apalagi kalau sampai terjadi pembunuhan.

Kasus Angeline terjadi dalam keluarga dan diduga dilakukan oleh seseorang yang dia kenal dalam lingkaran keluarga. Dengan kata lain terjadi kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Pada poin kedua data UN Women ditulis bahwa pada tahun 2012, hampir separuh dari jumlah perempuan yang meninggal dibunuh oleh pasangan atau anggota keluarga mereka. Kekerasan seksual ini biasanya dilakukan di luar dari alasan penampilan atau cara berbusana perempuan atau anak perempuan. Kekerasan yang dirujuk oleh UN Women merujuk pada kekerasan yang meliputi fisik,
psikis, seksual, verbal dan penelantaran ekonomi. Satu jenis kekerasan biasanya diiringi dengan bentuk kekerasan yang lain.

Mengapa KDRT bisa terjadi? Apa saja faktor penyebabnya?
Pertanyaan seperti ini lumrah ditemui. Sama dengan pertanyaan mengapa kekerasan seksual terjadi. Pertanyaan tersebut secara tidak langsung mengharapkan adanya beberapa poin atau bahkan individu dengan karakteristik tertentu yang bisa ditunjuk sebagai “sumber masalah”.
Pertanyaan tersebut juga menginginkan poin-poin solusi yang nyata (tangible) untuk mengatasi “sumber masalah”. Saya akan menjawabnya bertahap dan tidak tuntas di satu tulisan. So walk with me!

Kembali kepada kekerasan seksual. Kali ini saya mengambil cerita Huma, seorang anak perempuan yang dikawinkan pada usia 14 tahun di luar kehendaknya.
(http://www.violenceisnotourculture.org/content/humas-story-forced-child-marriage-abuse-torture-escape). Poin ke-4 dari UN Women menyimpulkan bahwa kekerasan seksual yang dialaminya bukan karena penampilan. Bisa jadi karena budaya, kemiskinan, tidak ada akses pendidikan, dan tidak ada akses pada keadilan. Kebanyakan kekerasan seksual justru dilakukan oleh orang yang mengenal korban, daripada orang yang tidak dikenal.

Mengapa kekerasan seksual banyak dilakukan terhadap perempuan?
Ita F. Nadia, seorang aktivis perempuan, mengatakan tentang adanya anggapan bahwa seksualitas perempuan yang terpenting adalah rahim perempuan. Rahim perempuan dianggap sebagai pusat dari reproduksi biologis, sosial, politik, dan bangsa. Oleh sebab itu, dalam pandangan tradisional, rahim perempuan menjadi hak milik dari keluarga, kelompok, etnis dan bangsa.

Ada tiga kata kunci di sana: seksualitas, reproduksi, dan hak milik. Tidak ada tentang penampilan atau cara berbusana. Ketiganya akan jelas terhubung ketika mempelajari analisis kekuasaan
dengan perspektif feminis.

Masih merujuk ke kisah Huma, kekerasan tersebut terjadi di wilayah konflik. Nadia sendiri mengungkapkan pernyataan di atas dalam rangka melaporkan hasil kunjungan ke beberapa perempuan korban pemerkosaan selama pemberlakuan Daerah Operasi Militer (DOM) di Aceh. Kekerasan seksual tersebut diyakini tidak dilakukan karena cara berpakaian perempuan Aceh dan Afghanistan.

Dalam kasus yang terjadi di Solo, korban adalah seorang perempuan dewasa berkebutuhan khusus. Beritanya bisa dibaca di sini. http://www.sragenpos.com/2014/pencabulan-sukoharjo-pelaku-pencabulan-difabel-divonis-3-tahun-penjara-488787
Perempuan dan anak perempuan penyandang disabilitas jauh lebih rentan menjadi korban kekerasan seksual bukan karena penampilan mereka melainkan karena “ketidakmampuan” mereka. Orang-orang dengan disabilitas dianggap tidak memiliki seksualitas, tingkat kecerdasan rendah, dan mudah dimanipulasi. Banyak di antara mereka juga hidup dalam kemiskinan.

Kiranya itu sebagian yang dapat saya berikan untuk saat ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s