Perjalanan menuju rumah


Keseluruhan acara Gender Tech di Casekow, Berlin berjalan dengan lancar. Tantangan dari panitia cukup berat karena mereka berusaha mengakomodasi berbagai budaya dan kebiasaan. Salah satunya adalah kebiasaan makanku. Bumbu masakan ala Casekow, Jerman jelas tidak cocok untuk lidah yang terbiasa dengan masakan Jawa Timur+Betawi+Padang. Bahkan potongan daging babi yang disajikan sendiri sangat tidak menggugah selera. Meskipun aku tidak makan babi tapi potongan tipis daging babi di Indonesia rasanya tidak akan disebut daging babi. Setahuku daging di Indonesia diberikan dalam potongan agak tebal bahkan terkadang “vulgar” dalam arti daging babi atau daging kambing masih digantung atau disajikan lengkap dengan 4 kaki mereka bersama lidah, telinga, termasuk otak mereka. That’s meat!

Salah seorang panitia berkebangsaan Spanyol mengatakan bahwa TacTech pernah menyelenggarakan pelatihan dengan peserta sebagian besar dari negara Afrika. Sebagian panitia dan peserta adalah vegetarian, jadi mereka  berusaha menyajikan baik masakan vegan dan daging. Namun daging ayam dan ikan yang disediakan bagi orang Afrika tidak dianggap sebagai daging. Daging dalam kebiasaan mereka adalah daging hewan besar seperti kerbau, sapi, minimal babi. Alhasil mereka kalap ketika melihat sosis daging sapi ketika dibawa jalan-jalan keluar camp. Menantang juga ya!!

Aku belajar tentang metode baru dari pelatihan ini. Tidak hanya bertemu orang-orang baru, aku juga merasakan semangat dan energi mereka yang luar biasa dalam melakukan pekerjaan masing-masing. Buatku, dua hal ini sangat penting. Sayangnya hubunganku dengan rekan sekamar, Jovana, kurang akrab. Kami berdua punya waktu tidur yang berbeda. Setiap hari GenderTech memiliki sesi malam. Aku hanya pernah satu kali mengikuti sesi malam secara penuh yaitu pada saat menonton film Citizen Four. Selebihnya habis makan malam aku beberes untuk tidur. Bekerja pun tidak bisa karena internet akan super lambat. Koneksi internet akan jauh lebih cepat di jam 2-6 pagi.

Nah, dari jam 9 atau 10 malam aku tidur sementara Jovana masih di luar bekerja atau mengikuti sesi. Jam 2 atau 3 pagi aku bangun atau terbangun ketika Jovana pulang untuk tidur. Aku langsung bekerja sambil menunggu waktu sholat subuh. Berhubung di luar dingin, meskipun ada pemanas, aku bekerja di kamar. Meskipun lampu padam, aku merasa kadang Jovana terbangun juga mendengar suara ketika keyboard atau suara langkahku bolak-balik kamar mandi. Untuk menebus rasa bersalah, aku memberikannya jilbab bordir berwarna ungu. Semoga dia bisa memakainya atau menggunakannya sebagai hiasan.

Jovana tidak punya sesuatu untuk diberikan. Aku minta dia mengirimkan postcard dari Macedonia, negaranya yang mungil di Balkan. Dia menyanggupi. Aku memberikannya kartu nama. Ah senangnya! Aku tidak sabar mendapat kartu nama dari Macedonia.

Akhirnya tiba juga waktu untuk berpisah dan kembali ke negara masing-masing. Banyak peserta yang merindukan matahari dan tempat tidur mereka yang tentunya lebih nyaman dari Wartin…hehehe. Pesawat AirBerlin telat 30 menit berangkat dan penumpang di sebelahku gelisah karena jadwal connecting flightnya sangat mepet. Alhasil pengaturan yang bisa dilakukan adalah memindahkan tempat duduk dia ke bagian depan ketika akan mendarat di Abu Dhabi agar dia bisa segera masuk ke pesawat selanjutnya. Ada baiknya juga jadwal pesawatku ke Jakarta beda 6 jam, aku tinggal menunggu 5 jam di Abu Dhabi. Meskipun aku tetap berasa lamaaaaaa nunggunya.

Di pesawat aku cuma tidur sebentar. Setelah bangun lalu makan, aku sulit tidur. Di dalam pesawat Etihad, aku juga sulit tidur. OMG. Please let me rest, I am tired.

Di Abu Dhabi banyak penumpangnya orang Indonesia dan banyak kursi yang tidak terisi.

Aku begitu bersemangat tiba di Jakarta, Indonesia. Oke, perjalanan masih jauh. Dari Jakarta, pesawatku selanjutnya ke Surabaya dan dari Surabaya aku harus naik travel ke Malang. Di Jakarta aku masih harus menunggu pesawat sore. Di Surabaya, aku juga harus menunggu travel ke Malang karena hampir semua travel ke Malang ngetem di terminal domestik yang berbeda. Gemesss aja pingin sampai ke rumah.

Begitu sampai di depan gang III, wuih legaaa sekali. Gang kecil ini yang aku tunggu. Gang kecil ini yang aku rindu. Gang kecil ini yang menjadi penutup perjalananku kembali ke rumah. Danke.

Malang, 25 Desember 2014

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s