Pengalaman-Saya

Liburan di Lombok


Tanggal 15 November yang lalu saya memperpanjang masa tinggal di Lombok. Setelah selesai mendampingi tim JASS dan lembaga donor mengunjungi beberapa komunitas, saya mencari hotel atau homestay yang murah di sekitar Senggigi. Sebelumnya saya menginap di Hotel Sheraton, hotel bintang lima dengan pelayanan dan fasilitas yang baik serta lokasi yang oke banget, persis di bibir Pantai Senggigi. Berhubung budget backpacker, aku memutuskan pindah ke Ressa Homestay yang menjawab teleponku. Wisma lainnya sulit dan harganya sedikit lebih mahal.

Saya menginap 3 malam di homestay ini dan tidak merekomendasikannya untuk turis lokal maupun mancanegara. Di Lombok rupanya sering mati listrik. Hawa Lombok kan panas jadi tanpa kipas angin atau AC, sumpek banget. Belum lagi lokasi homestay yang masuk ke jalan kecil. Air di hotel juga kurang segar dan meskipun bening tapi agak berbau.

Pastinya saya tidak bisa jalan sendiri. Teman-teman saya di Lombok pun sibuk dengan jadwal kerja dan keluarga masing-masing. Alhasil saya mencari guide sekaligus mobil. Setelah merambah di internet, saya menemukan http://www.jelajahlombok.com dan menghubungi Pak Abdul, narahubung. Saya memesan satu paket guide dan mobil. Kalau tidak salah jam 8.30 dia menjemput saya. Sangat tepat waktu.

Mobil yang digunakan Avanza dan sangat nyaman. Pak Abdul sendiri orang yang ramah dan sudah berpengalaman. Setelah memasuki jalan raya, Pak Abdul langsung menceritakan mengenai sejarah Kota Lombok, tempat yang akan dikunjungi, prosedur kunjungan, tips ke guide lokal, dll. Di setiap tempat wisata Pak Abdul bekerja sama dengan guide daerah tersebut. Kemudian saya diminta memberi kontribusi. Besarnya antara 10 ribu – 20 ribu. Sangat jelas.

Seingat saya, tempat pertama yang kami kunjungi adalah Pura Lingsar. Tempat suci untuk berdoa masyarakat Hindu dan dikatakan sebagai Pura tertua di Lombok. Di dalamnya ada sendang yang cukup luas. Kemudian masuk ke komplek pure ada dua pancuran (sumber air). Pancuran yang digunakan masyarakat Hindu berbeda dan terpisah oleh tembok dari pancuran masyarakat Muslim. Di tengah-tengah pura ada sebuah kolam ikan. Sayangnya waktu saya ke sana, ikannya tidak mau keluar.

Dari sana kami ke Desa Banyumulek, sentra gerabah. Sebentar saja saya di sana karena sulit juga bawa oleh-oleh gerabah. Kemudian Desa Sukarare melihat orang menenun dan mencoba menenun sendiri. Saya mendapatkan tenunan yang saya suka. Lombok terkenal sebagai pengirim tenaga kerja migran ke luar negeri, tidak terkecuali di desa ini. Bahkan guide lokal saya menunjukkan rumah penduduk yang sudah permanen sebagai bentuk kesuksesan mereka merantau. Perempuan yang menenun juga pernah bekerja di Saudi tapi karena kawin dan melahirkan, dia tidak bisa berangkat lagi.

Guide lokal saya, seorang laki-laki paruh baya, mengakui bahwa uang merantau biasanya habis dalam waktu 3 bulan tapi di tengah kondisi wisatawan yang sepi dan sebagian juga tidak banyak belanja, penghasilan mereka tidak menentu. Dia sendiri mengakui bahwa dia berencana untuk ke Malaysia dalam waktu dekat. “Uangnya lebih pasti,” ujarnya. Ketika aku mengatakan tentang kasus kekerasan dan honor yang tidak dibayar, dia menganggapnya ringan. “Tinggal diadukan ke agen supaya honor bisa turun.” Semudah itukah?

Dari Desa Sukarare, kami ke Desa Sade. Entah urutannya benar atau tidak, tapi ini yang saya ingat. Saya dipandu guide yang berbeda lagi. Desa Sade terkenal sebagai desa yang masih mempertahankan adat mereka terutama bangunan mereka. Setelah itu saya diantar ke sebuah restoran untuk makan siang di dekat pantai. Kemudian kami mengunjungi Pantai Maun. Ada banyak turis lokal dan mancanegara. Sampai di Maun, rasanya pingin gelar tikar dan tidur.

Setelah istirahat di Pantai Maun, kami ke Pantai Kute dengan pasir merica yang khas. Pasir yang kasar sangat cocok untuk terapi kaki. Di Pantai Kute ada banyak anak-anak dan ibu-ibu yang menjual dagangan keliling. Kadang membuat turis menjadi tidak nyaman. Untungnya Pak Abdul sudah memberikan tips menghindari mereka.

Dari Pantai Kute, kami kembali menuju kota. Dalam perjalanan kami berpapasan dengan beberapa upacara adat perkawinan. Menjelang musim hujan dianggap waktu yang cocok untuk menikah. Adat pernikahan di Lombok salah satunya diarak keliling di jalan lengkap dengan musik live dan sound system super besar yang dibawa di mobil pickup atau motor roda tiga. Ada 4 konvoy yang kami temui di jalan dan saya sempat mendokumentasikannya.

Kami kemudian mampir di tempat jual kaos yaitu Lombok Exotic. Tadinya aku mau ke Gandrung tapi diarahkan Pak Abdul ke Lombok Exotic. Kalau saya dengar harganya lebih mahal tapi desainnya tidak pasaran dan sering diperbarui. Saya beli satu saja untuk suami. Kemudian kami singgah ke tempat oleh-oleh makanan. Saya beli sedikit, itu pun sudah mahal. Dari sana, saya diajak Pak Abdul mengunjungi tempat penjualan suvenir mutiara. Dari penjelasannya, di Lombok tidak ada mutiara air tawar, adanya mutiara air laut yang harganya sangat mahal, ratusan ribu sampai jutaan rupiah. Di tempat suvenir itu dijual juga mutiara air tawar. Saya tidak banyak bertanya karena sudah lelah dan ingin kembali ke homestay.

Perjalanan keliling Lombok sangat menyenangkan, terutama karena ditemani pemandu yang berpengalaman, ramah, dan memberi informasi yang jelas. Kendaraan yang digunakan juga nyaman. Masukan saya adalah ketika pelanggan meminta untuk berbelanja ke suatu tempat tertentu pemandu sebaiknya bisa mengakomodasi hal ini. Jadi tidak memaksakan lokasi tertentu kecuali diterima oleh pelanggan.

Malang, 20 Desember 2014

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s