Pengalaman-Saya · Pengetahuan-Saya

Perjalanan Menuju Kastil


Ini adalah jurnalku selama perjalanan menuju ke Berlin.

Perjalanan dimulai pukul 17:30 dari Malang menuju Bandara Juanda di Surabaya. Pukul 20:00 tiba di Juanda dan alhamdulilah bagasiku bisa check-in through sampai ke Berlin, jadi aku tidak perlu memindahkan bagasi sendiri di Jakarta.

Berhubung kali ini aku pakai Garuda, aku menunggu di bandara Juanda internasional yang baru. Kelihatan banget kinyis-kinyis alias bau barang selesai dibangun. Bersih, rapi, cerah. Di sini hanya ada penerbangan lokal yang dioperasikan Garuda dan AirAsia dan penerbangan internasional. Desainnya bagus, ruang tunggunya besar dan kursi-kursinya warna-warni, seperti baru buka dari plastik.

Pesawat Etihad berangkat dari Jakarta pukul 01:40 dan sampai di Abu Dhabi pukul 06:35 waktu setempat. Proses menunggu bus Etihad untuk masuk bandara lama sekali. Masuk bandara jam 07:15. Cuaca Abu Dhabi cerah sampai sekitar 27 Celcius dan aku berharap cuaca di Berlin tidak jauh berbeda. Aku langsung menuju Gate 15 tapi belum dibuka. Aku menukar Rupiah ke Euro dulu di lantai atas. Sejak di Bandara Soekarno-Hatta aku melihat beberapa perempuan WNI berusia muda dan paruh baya berkumpul. Kelihatan sekali mereka bagian dari pekerja migran di Arab.

Seorang laki-laki Indonesia muda yang sepertinya sudah berpengalaman bekerja di luar negeri menghampiri mereka dan mengobrol. Dia sepertinya punya maksud baik tapi aku tidak suka nada bicaranya yang menggurui, kurang bersahabat dan sok tahu. Dia sepertinya tahu banyak dan sering ke negara Arab tapi penyampaiannya justru meremehkan pengetahuan pekerja migran ini. Dia meminta paspor mereka dan mencermati isinya seperti dosen. Sebagian dari mereka sudah bolak-balik bekerja di negara-negara Arab.

Laki-laki ini menganjurkan PM untuk melapor dulu ke KBRI di UEA dan minta majikan menjemput di sana. Dia juga sangat menyarankan PM mengetahui nama majikan yang akan menjemput. Selain itu dia minta PM jangan pernah memberikan paspor jika ada orang asing yang memintanya. Lah dia sendiri sebagai orang asing sudah melakukan hal itu dan hasilnya PM itu memberikan saja paspor mereka untuk dilihat-lihat. Apa perlunya dia sebagai orang asing mencermati paspor orang lain?

Sebagian PM sepertinya sudah tahu proses yang seharusnya dilakukan tapi hal itu tentu tergantung pada situasi mereka. Apakah mereka diberangkatkan dengan dokumen legal dan identitas asli? Apakah pihak KBRI akan memberi bantuan atau mempersulit? Apakah mereka menghargai PM sebagai warna negara atau justru bekerjasama dengan pihak penyalur yang memperlakukan mereka sebagai objek?

Ketika aku menukar uang di konter Money Exchange, perempuan yang melayani aku kurang ramah. Dia bertanya aku dari negara mana, Indonesia jawabku. Aku jadi bertanya, apakah karena aku orang Indonesia dan kebanyakan orang Indonesia bekerja sebagai pekerja domestik? Apakah dia sendiri mempunyai PRT (Pekerja Rumah Tangga) orang Indonesia?

Di pesawat Etihad aku baru tahu bahwa mereka menyediakan colokan listrik tapi yang kaki colokan tiga (pipih dan tebal). Kalaupun tidak ada, bisa mengisi baterai dengan colokan USB yang juga disediakan.

Di Bandara Abu Dhabi, sekitar 30 perempuan dan satu laki-laki berkumpul sehingga kelihatan sekali mereka rombongan PM. Mereka juga kelihatan bingung siapa yang akan menjemput, menunggu dimana, dsb. Ketika di dalam toilet ada yang salah masuk ke pintu dengan tulisan “Utility Room”. Dia dihardik temannya, “Kamu gak baca tulisannya?” Kalau cuma bisa baca tapi gak tahu artinya belum tentu kata-kata itu jadi bermakna.
Tidak lama Gate 15 dibuka dan aku masuk ke antrian. Seperti biasa harus membuka jaket dan ikat pinggang tapi untungnya tidak perlu mengeluarkan laptop atau melepas sepatu. Naik ke pesawat antri lagi dan sangat panjang karena bus mereka terbatas. Waktu keberangkatan juga telat.

Di ruang tunggu Gate 15 aku bertemu seorang perempuan Jerman paruh baya. Dia baru selesai liburan 3 minggu di Melbourne. Rupanya dia belum pernah ke Indonesia jadi aku ajak dia mengunjungi Indonesia. We have many beautiful beaches, kataku. Cuacanya juga bagus tapi bulan-bulan ini sedang musim hujan. Moga-moga dia jadi kepikiran ke Indonesia. Dia tipe backpacker. Dia pergi seorang diri dan membawa tenda. Kalo ke negara-negara Asia Tenggara dia biasa menginap di hostel. Dia suka membuat jurnal atau catatan perjalanan tapi tidak dipublish di blog. Untuk diri sendiri saja katanya.

Perjalanan Abu Dhabi ke Berlin menggunakan AirBerlin. Ruang duduknya sempit sama seperti Etihad. Kayaknya lebih nyaman SQ kalau soal tempat duduk. Tapi yang aku salut adalah pilot Etihad dan AirBerlin bisa melakukan pendaratan dengan halus. Etihad jauh lebih halus dari AirBerlin. Entah karena pesawatnya lebih besar dibandingkan Garuda rute domestik atau faktor cuaca dan landasan. Pengalamanku kalau naik Sriwijaya dan Garuda, berasa dibanting kalau mendarat dan ngeremnya kayak dipaksa narik rem tangan. Hehehehe.

Pengalaman selama mau mendarat ini juga luar biasa. Pesawat AirBerlin terbang di atas awan putih yang menggumpal tebal. Cuacanya cerah sekali di atas awan dengan matahari yang bersinar terang dan terasa hangat. Aku pikir, gila!! ini sih bukan winter. Aku senang banget. Yay, yay!! Lalu pesawat perlahan menembus awan abu-abu yang menggumpal tebal. Pesawat agak goyang. Di dalam awan aku tidak bisa melihat apapun. Gelap. Setelah keluar dari awan yang tebal, terlihat pemandangan tanah di bawah dengan cuaca yang sangat berbeda di atas awan. Selamat datang di dunia di bawah awan abu-abu.

wartinKontras. Cuacanya suram dan terasa dingin meskipun di dalam pesawat hangat. Aku masih melihat sungai mengalir, tidak beku. Menurutku pertanda bagus. Tiba saatnya keluar dari pesawat dan naik bus yang akan mengantarkan ke bandara. Waduh, mulai kerasa dinginnya. Dinginnya seperti di Bromo tapi anginnya itu bikin tanganku kedinginan.

Di Bandara Berlin hanya ada pemeriksaan paspor, bukan imigrasi. Pemeriksaan paspor dilakukan oleh petugas yang menggunakan seragam bertuliskan polizei alias polisi. Polisi di Abu Dhabi lebih ganteng-ganteng sih daripada di Berlin. Tergantung selera masing-masing. Are you bule lover or arab lover?

Selama di perjalanan, flu makin parah. Hidung seperti keran yang rusak, gak bisa ditutup, ingus mengalir terus. Kulit sekitar hidung perih. Belum lagi sepatu yang gak cocok. Alhasil jempol kaki kiri, terutama jempol kaki kanan sakit. Aku gak bisa pakai sepatu yang ujungnya mengecil.

Jam 17:45 waktu Berlin kami berangkat naik bus yang sangat nyaman ke penginapan di Schlos Wartin, Casekow. Sampai di lokasi jam 19:00 waktu setempat. Pakai acara kelewat dikit karena tidak ada petunjuk lokasi dan supir tidak tahu tempatnya. Ya gimana mau ketemu, jalan masuk ke Schlos Wartin gelap gulita. Penerangan temaram ada dari dalam lampu penginapan. Suasananya serem. Di undakan tangga luar penginapan ada beberapa labu. Ada peserta yang nyeletuk, “Wah di sini masih suasana halloween ya?” Hehehe.

Tiba di penginapan, panitia menyediakan pakaian, kaos kaki, jumper, dll untuk dipinjam peserta. Di akhir acara, semua harus dikembalikan. Dengan gaya sok tahan dingin dan sudah bawa pakaian lengkap, aku gak ngambil apapun. Aku cuma ambil yang diberikan panitia yaitu sandal dan scarf tipis. Setelah 5 menit di dalam ruangan yang masih terasa dingin, akhirnya aku menggigil dan mulai mencari kaos kaki, pakaian yang bisa aku pinjam. Aku cuma kebagian jumper 1 biji. Kaos kaki habis dipinjam.

Meskipun sudah sampai di penginapan, perjuangan belum berakhir. Cerita ini akan berlanjut.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s