Pengalaman-Saya

Obsesi Mendapatkan Anak (Cucu)


Obsesi orang tuaku mendapat cucu seringkali menjengkelkan. Aku mengatakan obsesi karena cara mereka mendorong dan memaksa sangat terang-terangan. Kalau sebatas keinginan, masih wajar. Namun sejak awal terlihat mereka terobsesi dengan cucu. Sepertinya bukan cuma aku yang mengalaminya karena nilai anak atau cucu begitu besar, kuat dan mengakar. Aku juga curiga bahwa salah satu motif mereka mendorong aku menikah, ya supaya cepat punya anak. Karena pengalaman orang tuaku, 2 bulan setelah menikah, ibu langsung hamil. Jadi kenapa aku tidak?

Setelah menekan perasaan cukup lama, dua hari yang lalu aku mengatakan, sekali lagi secara asertif bahwa aku tidak ingin mengikuti program untuk punya anak. Aku tidak menggunakan kontrasepsi sehingga prinsipku, diberi anak silakan, tidak diberi anak silakan. I am very loose. Namun, ibu juga tetap pada pendiriannya bahwa prinsipku sangat tidak masuk akal dan mempertanyakan siapa yang akan mengurusku nanti jika sudah tua.

Ketika aku menceritakan bahwa beberapa temanku tidak menikah dan tidak punya anak, ibuku justru mengatakan bahwa mereka bukan contoh yang baik. Pikiran kami memang berbeda tetapi paling tidak aku sudah mengatakan prinsipku. Aku juga menyatakan bahwa ibu bisa terus mendorong aku punya anak, tapi aku juga bisa terus mengatakan tidak.

Ibu mertuaku yang sudah punya banyak cucu, ikut “mengompori” ibuku. Melalui ibuku, dia mengatakan bahwa aku harus memeriksakan diri karena aku kadang menceritakan bahwa mensku menggumpal. Ya iyalah darah mens pertama menggumpal. Kapan sih dia terakhir mens, udah lupa kali? Itu kan sesuatu yang wajar dan bukan indikasi bahwa aku “bermasalah”. Lagipula kenapa perempuan yang dianggap menjadi masalah?

Beberapa tahun yang lalu ketika masuk rumah sakit karena penyakit infeksi saluran kencing, aku sudah di USG oleh dokter spesialis kandungan. Dia menyatakan tidak ada masalah dengan rahimku. Aku sudah sampaikan hal ini ke orang tua dan mertua. Mungkin mertua menilai aku yang bermasalah karena saudara suamiku semuanya sudah mempunyai anak. Aku sangat bahagia dengan keponakanku yang banyak.

Sepertinya yang mengganggu orang tua adalah kenyataan bahwa aku dan suami merasa nyaman seperti ini, keluarga tanpa anak, pernikahan tanpa anak. Kondisi ini belum menjadi suatu norma tetapi aku ingin mereka tahu bahwa itu bagian dari pilihan hidup dan pilihan perkawinan. Mereka tampaknya kesal tidak dapat mengubah prinsipku dan memengaruhi aku atau suamiku. Mereka merasa kasihan denganku tapi pada saat yang sama heran bahwa kami merasa baik-baik saja.

Aku menyadari bahwa di belakang tuntutan dan obsesi terhadap anak atau cucu ada sebuah sistem besar yang sedang bermain. Sebagai perempuan, aku dituntut untuk melakukan peranku sesuai norma dalam sistem. Aku menolak.

Mungkin orang tua merasa malu karena aku dan adikku sama-sama tidak punya anak kandung. Ada reputasi tentang kesuburan, sebagai orang tua, dan sebagai muslim yang dipertaruhkan. Sepengetahuanku, mereka lebih peduli apa kata orang lain tentang mereka daripada pendapat anak mereka sendiri. Mereka lebih mengutamakan kepentingan sistem daripada kondisi personal. Sepertinya punya anak kandung itu sekuat-kuatnya iman.

Di saat masih banyak masalah tentang kemiskinan, kekerasan domestik, perdagangan orang, seksualitas, dsb aku dan banyak perempuan lain masih “bertarung” dengan keluarga sendiri mengenai pilihanku sebagai perempuan, anak perempuan, istri, dan anggota masyarakat.

Malang, 30 Agustus 2014

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s