Pengalaman-Saya

Aku dan Tebu


Ketika aku berusia 5 atau 6 tahun, orang tua mengajak pulang kampung ke Waung, sebuah desa kecil di Kecamatan Krembung atau dulunya ditulis Kremboong. Krembung berada di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur. Melalui ritual mudik, aku dikenalkan dengan perkebunan tebu, lori, gula merah, palawija, Tulangan, pohon randu (kapas), lumbung padi, dan bahasa khas Jawa Timuran.

Dulu aku takjub dengan tanaman tebu. Orang tua memberitahu bahwa gula pasir dan gula jawa yang aku kenal di Jakarta berasal dari tanaman tebu. Sejak masuk Pertigaan Porong menuju rumah mbah di Waung terhampar perkebunan tebu.

Aku masih ingat sepupu-sepupuku datang dengan mengunyah batang tebu. Aku dan adik terheran-heran. Ibuku mengatakan rasanya manis, dulu pun dia mengunyah tebu. Apakah di sini tidak ada permen sehingga mereka mengunyah batang tebu? Sepupu memintaku mencoba menghisap batang tebu tapi aku takut karena terlihat kotor dan khawatir ada serangga yang menempel.

Kemudian sejak bekerja di Probolinggo akhir 2002, aku semakin sering berkunjung ke rumah mbah. Aku semakin terbiasa dengan pemandangan tebu. Setiap Lebaran, ritual mengunjungi keluarga di Desa Waung selalu diwarnai dengan hamparan tebu dan kapas di kanan dan kiri jalan. Termasuk kuburan Mbah Kakung di Keto, Krembung, juga dikelilingi oleh tanaman tebu.

Kenapa begitu banyak tebu? Apakah orang Indonesia begitu doyan dengan gula?

Perkebunan tebu dan kapas yang aku jumpai mendekatkan aku dengan sejarah. Sejarah yang tadinya sebatas mata pelajaran yang aku pelajari supaya mendapat nilai bagus dan syarat kelulusan menjadi satu hal yang sangat pribadi dan bagian dari sejarah keluarga. Kerja rodi kaum pribumi atau kulturstelsel dalam industri gula adalah sejarahku sendiri. Novel Tetralogi Pramoedya Ananta Toer yang mengambil setting Pabrik Gula Toelangan menjadi lebih hidup dan aku sendiri menapaki jejaknya.

Seorang saudara jauh yang bekerja di PLN Solo pernah mengatakan bahwa penggunaan listrik diawali oleh semakin besarnya kebutuhan energi dari pabrik tebu (gula). Aku kemudian penasaran dan mengumpulkan informasi. Dinamika industri gula mewarnai perkembangan industri lainnya. Bahkan setelah mengalami penurunan volume produksi, sebagian pabrik gula beralih fungsi menjadi ruang publik seperti kantor polisi, Pusdik Brimob, Puskesmas, Kantor Kecamatan, museum, dll. Bahkan aku baca kalau PG Kremboong pernah dimanfaatkan sebagai pabrik pembuatan senjata pada zaman penjajahan Jepang.

Sekarang pun ibuku menyewakan gogolan (istilah sawah bagi warga lokal Waung) ke petani dan pabrik gula untuk ditanami padi, tebu, dan palawija. Ibu menurunkan pesan Mbah Putriku bahwa selama seorang mempunyai (lahan) sawah maka orang itu tidak akan pernah miskin. Kedua mbahku memiliki sedikit sawah tetapi di masa sebelum dan sesudah kemerdekaan, sedikit lahan itulah yang menghidupi 7 anak-anak mereka (1 anak perempuan meninggal ketika kecil). Mbahku dari bapak dan ibu tidak lulus SD, bukan PNS, dan tidak memiliki keahlian khusus di luar bertani. Semangat bertahan dan berjuang mereka menjadi sumber inspirasi yang tidak ada habisnya.

Aku dan tebu menjadi bagian dari sejarah monokultur pertanian Indonesia yang dibentuk oleh kolonialisme.

Malang, 9 Agustus 2014

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s