Pengalaman-Saya

Mengembalikan Analisis Kekuasaan pada Keseharian


Bagaimana mengartikan power dalam bahasa Indonesia? Selama ini aku menghayati kata power sebagai kekuatan dan wewenang. Menurut http://kamus.orisinil.com/, kata power dalam bahasa Indonesia memiliki arti (kb.) kekuasaan, tenaga, daya, kekuatan, negara besar, kemampuan, wewenang. Aku coba menggali lagi.

Pemahaman tentang power aku hayati tanpa beban, seperti udara yang aku hirup. Power menjadi bagian dari siklus alami, seperti halnya seorang bayi menjadi remaja, dewasa dan renta. Power menjadi kata yang tumbuh, mengakar dan bercabang. Selain kekuatan dan wewenang, power menjadi identik dengan otoritas dan hirarki. Sebagai seorang manusia yang terlahir dan dibentuk sebagai perempuan, aku merasa power bukan kata yang pas untukku. Kekuatan, wewenang, otoritas dan hirarki bukan bagian dari kehidupan perempuan. Buku-buku filsafat yang aku baca di SMP membuktikan bahwa hampir semua filsuf adalah laki-laki. Buku-buku sejarah, hampir semua menampilkan tokoh sentral laki-laki yang memiliki posisi penting. Bagiku, power adalah satu hal yang perlu dipelajari, hanya dipelajari.

Penghayatan power aku peroleh pertama kali dari keluarga. Seperti udara, power tidak bernama, tidak berwarna, tidak berbau tapi ada dimana-mana dan memengaruhi mood atau suasana hati. Tidak itu saja, pada saatnya, aku memahami kalau power yang tertata rapi menjadikanku berpikir seperti perempuan.

Setiap orang memiliki momen mempertanyakan berbagai hal dalam hidupnya. Kemudian momen di mana dia beranggapan bahwa jawaban sudah ditemukan. Berlanjut pada momen ketika dia meragukan jawaban itu dan mengujinya lagi.

Konsep Tuhan sangat abstrak dan agak sulit dipahami tapi dalam perjalanan, aku menyukainya. Hal yang sama tidak terjadi dengan power. Kata itu masih mengganggu, tidak feminin, meminggirkan, dan membingungkan. Jadi ketika JASS dan FAMM, tempat aku berorganisasi, mengajak aktivis perempuan mengurai kembali konsep power, aku terheran.

Dari berbagai proses yang aku ikuti dan amati, mengurai kembali power, apalagi menganalisisnya, bukan sesuatu yang mudah dan disukai. Peserta yang sebagian aktivis perempuan pun sudah sering mengikuti berbagai pelatihan. Dalam salah satu tulisan di blogku berjudul “Berstrategi dengan pengetahuan” (https://forevernikn.wordpress.com/2010/10/18/berstrategi-dengan-pengetahuan/), aku mengutip beberapa pesan dari buku “Know Can Do: menerapkan pengetahuan anda ke dalam tindakan”.

Salah satunya adalah:
Kebiasaan menghadiri seminar atau membaca buku satu kali saja, untuk menyerap informasi baru, hanya akan membangun kebiasaan melupakan sesuatu. Dengan cara yang sama kita melatih diri untuk tahu dan bukan untuk melaksanakan.

Yang lain adalah:
Sebagian orang menyebut pengulangan berkala sebagai pengondisian perilaku atau penguatan internal. Bukan berarti langsung diulang melainkan nanti setelah diberi jeda waktu untuk refleksi.

Mengikuti lokalatih, seminar atau pelatihan adalah satu dari siklus yang perlu dilakukan yaitu refleksi dan menggunakan alat analisis baru dalam kehidupan pribadi. Dalam keseharian, power tidak dengan mudah dipisahkan dalam bentuk terlihat, tersembunyi dan tidak terlihat. Namun, sifat dari power dapat dipelajari dan dikenali untuk membantu berstrategi.

Ada kalanya power dalam bentuk kebijakan pun hampir tidak diketahui publik. Ada kalanya, atau sering terjadi, power yang tersembunyi sama kuat atau lebih kuat dari kebijakan tertulis atau lembaga negara. Dari berbagai pengalaman, sebagian orang merasa kondisi tidak berdaya (powerless) bisa menjadi titik perubahan untuk menjadi berdaya (powerful bukan empower). Setiap orang memiliki dinamika menghayati analisis power atau sering diterjemahkan sebagai analisis kekuasaan.

Aku pun awalnya bingung dengan analisis kekuasaan. Di tengah rutinitas bekerja atau mengikuti pelatihan lain, pembelajaran itu bisa terlupakan. Jika memahami dinamika kekuasaan bukan suatu kebutuhan dan tidak digunakan, aktivisme bisa jadi sebuah proses menyalin program.

Power yang sangat kompleks dan menyatu dalam diri membuatnya sulit untuk dikenali dan dipahami kembali, apalagi dengan cara yang berbeda. Tingkat kesulitan tiap orang berbeda-beda. Durasi 120 jam atau 3 hari membahas power bukan perkara mudah dan biasa, baik untuk fasilitator maupun peserta, aktivis atau bukan aktivis. Oleh karena itu, selain sebagai organisasi, FAMM juga sebuah ruang bagi anggotanya untuk berbagi dan menemani proses melihat kembali dan mengkritisi power.

Karena belajar tidak bisa dilakukan seorang diri dan Indonesia memiliki beragam konteks, maka FAMM menjadi ruang refleksi, tidak hanya keberhasilan tetapi juga kegagalan dan kesedihan pribadi. Karena pengorganisasian dilakukan oleh aktivis perempuan yang hidup di dalam keluarga, organisasi, institusi pendidikan, lembaga adat dan agama, maka memahami pertarungan nilai pribadi mereka menjadi kunci membuka kesadaran kritis. Belum lagi perjalanan aktivisme seringkali tidak heroik, dikelilingi dengan stigma, rasa skeptis, kompromi tuntutan ekonomi, dan pekerjaan yang sepertinya tidak pernah selesai. Mungkin tidak akan pernah selesai. Karena itu tadi, power, layaknya udara yang tidak terlihat, krusial bagi kehidupan. Udara kaya oksigen akan memberi kita napas yang plong, sementara udara dengan karbon dioksida membuat kita sesak. Manusia tidak akan berhenti bernapas, mencari oksigen, merangkul harapan sampai roh penggerak jiwa dan raga dikembalikan ke Yang Maha Kuasa.

Malang, 15 Mei 2014

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s