Pengalaman-Saya

Buku dan tubuh


Gender. Kata itu mulai masuk dalam kosakataku pada waktu SMA kelas 2 di pelajaran Sosiologi dan Antropologi. Sebuah kata baru yang tidak fenomenal. Aku menganggapnya sama dengan kata baru dalam bahasa Inggris seperti kata-kata lain.

Pada waktu kuliah, kata gender semakin sering muncul dan dibahas bersamaan dengan kata feminisme. Sekilas aku membaca dan mengetahuinya dari selentingan dan selebaran. Lalu tertarik memahaminya. Ketertarikan itu muncul di awal masuk kuliah dari sebuah buku berbahasa Inggris di perpustakaan pusat UI yang salah satu judulnya … Pornograffity. Aku masih ingat judulnya karena sederhana dan kontroversial. Aku tidak ingat secara persis isinya tapi buku itu membahas tentang seksualitas laki-laki dan perempuan yang ditampilkan di ruang publik. Termasuk membahas tentang tubuh, salah satunya tentu tubuh perempuan.

Waktu itu aku tidak paham tentang gender, ketidakadilan dan tubuhku sendiri; tubuh perempuan. Namun ketidakpahaman seringkali tidak disadari. Ketidaktahuan dan ketidakpahaman adalah sesuatu yang biasa karena buat apa seorang laki-laki atau seorang perempuan paham mengenai tubuh mereka. Untuk menggugat Tuhan atau nilai yang sudah ajeg? Untuk kesehatan? Gak penting!

Di buku itu ada cukup banyak foto yang terkesan sensual. Aku tertarik karena untuk seorang pemula bahasa Inggris, kalimat dalam buku itu tidak terlalu sulit dan cara bertuturnya menarik.

Aku ingat sekali, selama beberapa minggu aku kembali ke perpustakaan pusat UI hanya untuk kembali membaca buku itu. Aku tidak meminjamnya. Aku tidak tahu, mungkin aku belum punya keberanian untuk membawa buku itu ke dalam tas dan cara pandangku yang sangat terbatas.

Ada 2 alasan lain aku tertarik dengan buku itu. Pertama, aku dalam kondisi penuh dengan kekecewaan dan kemarahan terhadap tubuh perempuanku dan laki-laki. Meskipun aku belum sepenuhnya memahami konsep yang dibahas tetapi aku merasa pengalamanku hadir dalam buku tersebut. Aku juga belum tahu tentang seksualitas tapi aku pernah menonton film porno. Buku itu bercerita tentang porno dengan cara yang tidak aku ketahui sebelumnya.

Kedua, foto-foto di dalamnya menampilkan tubuh laki-laki dan perempuan secara close-up, tapi tidak dalam posisi atau pose menggugah hasrat seksual dan sebagian tanpa wajah. Aku jadi berpikir bahwa apa-apa yang telanjang belum tentu porno atau merangsang pikiran porno. I love the book! Aku ikut merasakan kebebasan penulis dalam mengekspresikan idenya. Bahkan di semester kedua dan ketiga aku masih membuka buku itu untuk bisa merasakan semangat, melihat kembali ilustrasi tubuh, dan merefleksikannya dengan tubuhku.

Aku belum paham gender tapi seluruh bagianku bergender; warna pakaian, rok, ruang sholat di mesjid, bentuk sepatu, jilbab, potongan rambut, aksesoris rambut, toilet, dll. Aku mengalami gender tanpa menyadarinya dan tanpa merasa perlu memahaminya. Buat apa memahami sesuatu yang dilakukan, dipakai, dan dialami setiap detik?

Ketika aku SMP kelas tiga atau SMA kelas satu, aku pernah membaca buku kumpulan pemikiran filsuf yang menjadi pakem ilmu filsafat. Penasaran saja karena sebagian nama mereka sering kubaca. Buku itu sebatas mendeskripsikan tentang inti pemikiran tiap filsuf. Sangat buku teks, tidak menarik, dan tidak ada ilustrasi.

Ketika aku membaca buku itu, aku juga membacanya dengan cara pandang yang bergender tapi tubuh dan seksualitas yang dibawakan dalam buku itu bisa menggugahku untuk bertanya tentang tubuh; tubuh yang berjenis kelamin, bergender dan berlekuk-lekuk. Memiliki tubuh bukan berarti seseorang memahami, menghargai dan mencintainya. Bisa jadi seseorang hanya menggunakan tubuh untuk menjalankan fungsi biologis dan sosialnya. Dan buku itu menampilkannya dengan baik.

Aku tidak ingat apakah buku itu mengungkit, menulis atau membahas tentang gender. Jika memang ditulis, aku juga tidak ingat atau bukan itu yang kuingat karena aku membaca buku itu bukan karena ingin belajar tentang gender, keadilan sosial, seksualitas, dll. Aku tertarik karena aku pernah menonton film porno dan merasa terusik atau tidak nyaman dengan kekerasan yang dianggap porno dan tidak nyaman dengan tubuhku sendiri. Aku ingin tahu pendapat penulis tentang porno dan tubuh.

Buku itu mengantarkanku jauh ke berbagai pemikiran. Kemudian aku terdorong ikut kelas feminisme. Kalau tidak salah dulu judulnya Paradigma Pemikiran Feminisme yang diampu Gadis Arivia dan Rocky Gerung. Kuliahnya menarik tapi lebih menarik buku Pornograffity tadi. Mungkin karena aku bisa membaca dan mengendapkannya pelan-pelan. Sementara perkuliahan sarat dengan muatan pencapaian dalam jangka waktu tertentu.

Aku ingin sekali menulis buku seperti itu; buku tentang aku dan tubuhku.

Malang, 30 April 2014

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s