Pengalaman-Saya

It takes the whole earth…


Ketika aku bekerja di Jogja, seorang kawan mengatakan bahwa dia mengenal seorang penjual makanan yang selalu kembali ke rumah pada siang hari ketika dagangannya habis. Penjual makanan yang tidak kuketahui jenis kelaminnya ini, tidak mau menambah jumlah barang dagangannya meskipun laris. Kemungkinan dia bisa memiliki keuntungan lebih banyak jika menjual makanan dalam jumlah banyak. Namun, penjual itu berpikir bahwa keuntungan yang dia dapat sudah cukup untuk menopang hidupnya. Dia ingin memberikan kesempatan bagi orang lain untuk mengambil keuntungan yang sama. Atau dengan kata lain, dia tidak ingin mengambil kesempatan orang lain berjualan dan mendapatkan penghasilan.

Kemudian kemarin aku membaca status seorang teman yang menulis atau mengutip “Masalah kita sekarang adalah bukan karena kita bercita-cita terlalu tinggi dan gagal; Kegagalan kita lebih sering disebabkan karena kita bercita-cita terlalu rendah dan berhasil. (The problem of human being is not that we aim too high and failed; Much more often we aim too low and succeed)”. Dengan komentar kawannya yang lain bahwa “…mostly Indonesian people many times think “to be not bad” (lumayan), rarely think “to be the best” (terbaik)”. Status tersebut diikuti dengan link video wawancara Elon Musk, CEO Tesla Motors, SpaceX dan mungkin sederet perusahaan lain.

Semua orang bisa punya pendapat. Aku juga ingin berpendapat. Kedua paragraf dan pengalaman memiliki konteks masing-masing. Aku melihat cerita paragraf pertama menunjukkan kesadaran anti monopoli dan keinginan maju bersama. Cerita pertama juga menunjukkan cara pandang dunia bahwa ambillah sesuai kebutuhan. Jika dengan sekeranjang makanan dan satu gentong air sudah cukup menghidupimu selama sehari dan simpanan untuk besok, kenapa mengambil lebih. Intinya jangan berhutang dan mandiri mencari penghasilan. Cara pandang ini juga dipercaya dan diterapkan pasanganku.

Cerita paragraf kedua menarasikan konteks yang melatarbelakangi perkembangan inovasi teknologi dan kewirausahaan dalam masyarakat industri kreatif. Seseorang dengan mimpi yang tinggi, ingin menjadi yang terbaik, tidak takut gagal, dan bekerja keras mewujudkan impiannya. Elon Musk ditampilkan sebagai sosok yang berhasil mewujudkan nilai yang dia yakini tersebut. Dia layaknya seorang inovator-motivator seperti Steve Jobs.

Aku sangat suka video motivator dari orang yang berani, inovatif dan melakukan pekerjaan secara maksimal. Aku punya beberapa kawan aktivis yang menurutku berhasil mengembangkan organisasi mereka dan membuat perubahan lebih baik bagi masyarakat dampingan. Mereka bercita-cita tinggi dan tidak takut gagal. Namun, apakah orang lain di organisasinya juga bersikap sama, perlu dicek kembali.

Namun, aku juga bertanya-tanya, mengapa kawanku meletakkan taut itu di dinding fb-nya. Apakah dia sedang mencari motivasi untuk menyelesaikan proyek rintisannya? Bagaimana menyusun indikator keberhasilan mimpi seseorang yang hidup dengan nilai “kesuksesan” yang berbeda?

Aku tidak sedang membela cara pandang cerita pertama. Kadang aku heran dan gemas melihat pasanganku yang sepertinya sangat lambat, kurang antusias, tidak ambisius, dan tidak memaksimalkan potensinya. Sepengetahuanku dia tidak punya penghasilan tetap, tabungannya sangat sedikit, tidak banyak bicara, dan kurang mau berdiskusi. Jadi kenapa aku hidup dengan dia?

Setiap orang di satu tahap akan memiliki konsep sebuah hidup yang ingin dijalani. Cepat atau lambat, disadari atau tidak. Sepertinya keberhasilan, mimpi, ekspetasi, kesuksesan dirasakan secara berbeda. Aku mungkin menilai pasanganku belum memaksimalkan potensinya. Tapi itu dari cara pandangku. Seorang blogger dan wirausahawan muda Indonesia yang tinggal di AS, merasa sangat sukses dengan bisnis ratusan ribu US Dollarnya. Kelihatannya dia memaksimalkan potensinya dan bagi orang lain terlihat berhasil. Bagi orang lain, apa yang aku lakukan juga masih sebuah perjalanan menuju kesuksesan. Tapi apakah sukses itu sebuah tujuan?

Beberapa analisis sosial dan sejarah juga membantu melihat sesuatu secara berbeda. Aku pernah membaca sebuah buku tentang stereotipe orang miskin. Kelompok majikan dengan akses pendidikan tinggi, ekonomi yang sangat baik, mimpi dan motivasi besar menilai kelompok imigran sebagai pemalas, tidak tepat waktu, dan tidak punya motivasi besar untuk “naik kelas”. Kemudian penulis mengikuti kelompok imigran dan menemukan bahwa alasan mereka terlihat malas adalah karena mereka bekerja di 2-3 tempat, kelelahan, mempunyai banyak anggota keluarga, tinggal di tempat yang jauh dari pabrik, minim akses kesehatan, dan dididik untuk menyesuaikan ekspetasi mereka dengan kondisi yang ada. Mereka bukan pemalas dan tidak punya mimpi, kata si penulis. Mereka kelihatan malas karena majikan tidak tahu pekerjaan mereka di luar pabrik dan tidak hidup di lingkungan kumuh di mana mimpi dan motivasi bukan sesuatu yang mudah didapat, ditempel di dinding, dan dipelihara.

It takes the whole earth, its people, and their values to understand the world we live in.

Malang, 17 April 2014

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s