Perjalanan-Saya

Egidia


Bulan Desember 2013, aku berada di Jakarta dan mampir ke rumah adik di Gunung Putri, Bogor. Dalam perjalanan, iparku memberitahu bahwa bulan sebelumnya Egidia meninggal. Aku terkejut. Egidia, kawan SMA-ku?

Aku mencari informasi di Google dan sebagai figur publik, kematiannya tentu diberitakan. Dia mengalami Arteriovenous Malformation (AVM) atau secara sederhana mengalami varises di bagian otak. Aku mencoba mengorek kenanganku dengan almarhumah.

Egidia bukan teman dekat. Aku kenal dia karena kami bersekolah di SMA 39. Aku sering melihat atau berpapasan dengannya. Dia salah satu pemenang model Aneka Yes, kalau tidak salah. Di zamanku SMA, pemilihan model di beberapa majalah remaja menjadi tren dan dianggap batu loncatan untuk berkarir di dunia infotainment baik sebagai aktor atau presenter.

Remaja yang terpilih sebagai model di majalah dianggap mewakili definisi kecantikan di masanya. Egidia salah satu sosok yang pas. Perawakannya tinggi, proporsional dengan berat badan, kulitnya putih mulus, rambutnya hitam lurus panjang melewati bahu dan sangat supel. Dia menjadi salah satu perempuan yang secara fisik dianggap ideal. SMA 39 juga sekolah yang dianggap punya disiplin bagus dan menerapkan nilai yang cukup tinggi untuk bisa terdaftar menjadi siswanya, jadi kurasa dia cukup cerdas.

Dibanding Egidia, apalah diriku. Cowok-cowok pun harus berkaca dulu sebelum mendekati Egidia. Status sebagai model di majalah remaja dianggap prestasi. Apalagi ketika bisa menjadi presenter atau pemain sinetron. Aku jarang menonton sinetron yang dia mainkan tapi pernah melihat dia menjadi presenter di sebuah acara televisi. Wajahnya tentu nyaman dilihat. Aku kadang berangan, “andaikan aku berada di posisinya, apa yang akan aku lakukan?”

Nama Egidia populer di sekolah. Namaku? Emm, ya hanya teman-temanku yang tahu. Semoga mereka juga masih mengingatku, hehehe. It’s the art of being a mediocre student. Breath it!!

Aku tidak memiliki kedekatan emosional dengan Egidia. I just knew her because we were in the same school and I think we’re born in the same year. Aku merasa usianya cukup pendek. Dia memiliki keluarga dan mungkin berencana melakukan berbagai kegiatan. Namun usia ditentukan oleh Yang Maha Kuasa. It could happen to me.

Aku turut berduka cita atas kepergian Egidia. Semoga karya-karyanya tetap dikenang.

Malang, 9 Maret 2014

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s