Pengalaman-Saya

Balada Gigi Kedelapan


Aku sangat akrab dengan gigi kedelapan yaitu gigi geraham terakhir yang tumbuh saat seseorang dewasa. Dikatakan gigi kedelapan karena jumlah gigi normal di tiap sisi adalah 7 buah. Aku sendiri hanya punya 6 di tiap sisi karena pada waktu kuliah, ada 4 gigi geraham dicabut untuk bisa memasang kawat gigi. Menurut dokter, bentuk gigiku cukup besar sementara rahangku kecil. Jadinya berdesak-desakan.

Secara umum, gigi kedelapan sering disebut dengan gigi bungsu. Perjalanan hidupku dari satu tempat ke tempat lain tidak lepas dari gigi bungsu.

Pertama kali aku mengalami kasus gigi bungsu di tahun 2003. Waktu itu aku tinggal di Desa Paiton, Probolinggo. Aku harus memeriksakan gigi dan difoto di Kraksaan, kota terdekat dari Paiton. Gigi bungsu di geraham bawah tumbuh miring dan tidak bisa keluar dengan sempurna, hanya sebagian. Setelah dibius lokal, dokter gigi di Kraksaan mencabutnya. Tidak ada jahitan. Dia hanya mencabut dan memberi obat penahan nyeri. Alhamdulilah sakitnya hanya terasa 1-2 jam dan itu hanya perih biasa.

Dokter sempat mengatakan bahwa ada kemungkinan gigi bungsu akan tumbuh juga di bagian rahang yang lain. Aduh, aku sudah khawatir. Beberapa tahun berlalu sampai aku pindah ke Jogja tahun 2007. Bleh, ternyata ramalan dokter di Kraksaan benar terjadi. Gigi bungsu kedua tumbuh di rahang bawah sebelah kanan. Menurut dokter harus dicabut karena tumbuh tidak sempurna dan tidak ada pasangannya. Jadi supaya bisa berfungsi dengan baik, gigi geraham harus punya pasangan main untuk mengunyah. Mungkin karena gigi sama sekali tidak keluar atau hanya menyembul sedikit, maka dilakukan operasi kecil dan gusiku dijahit. Duh, bayangin gusi dijahit aja ngilu banget. Kejadiannya hari Sabtu di RS Muhammadiyah. Aku masih ingat betul harinya.

Segera setelah pengaruh obat bius hilang, aku merasakan sakit luar biasa di gusi. Sakitnya sampai ke kepala, nyut, nyut. Aku nggak habis pikir, kenapa sakit seperti ini. Kenapa kasus yang pertama tidak sakit? Apakah benar-benar perlu dijahit? Traumatis banget.

Hampir 6 tahun berlalu dan sekarang aku tinggal di Malang. Sampai empat hari yang lalu, aku merasa demam, pusing dan gusi bengkak. Aku pikir, mungkin terlalu lelah. Tapi gusi bengkak sangat mengganggu. Dengan pengalaman sebelumnya, aku punya firasat tidak enak. Aku pastikan dengan berkunjung ke dokter gigi di Puskesmas Arjuno. Bleh, benar firasatku. Ini memang gigi kedelapan alias lagi-lagi si bungsu keluar. Kali ini di bagian kanan atas. Darimana munculnya gigi ini? Bagaimana proses terbentuknya gigi? Apakah gigi bungsu bisa dicegah? Aku gemas dan penasaran.

Menurut info di website ini http://bit.ly/1cdIe31, gigi bungsu tumbuh sekitar usia 17-30 tahun. Lah usiaku sekarang 34 tahun. Apakah ini kewajaran atau penyimpangan? Sebel banget!! Aku menjadi tidak bebas bersuara. Sewaktu periksa kemarin, aku diberi obat amoxicilin, antalgin dan obat satu lagi yang sepertinya untuk penahan nyeri. Dokter menyarankan kalau sudah tidak sakit, dibuat makan agar merangsang turunnya gigi ke bawah. Mungkin dengan cara itu lebih mudah ditangani kalau harus dilakukan pencabutan.

Obat yang diberi dokter akan habis malam ini. Besok atau lusa aku akan ke dokter untuk kontrol. Gigi bungsu belum dicabut, aku sudah berpikir, apakah akan ada gigi bungsu lainnya? Karena bungsu di bagian kiri atas belum tumbuh. Aku masih trauma dengan operasi gigi bungsu di Jogja. Masak untuk cabut atau operasi gigi kudu ke Kraksaan di Probolinggo? Itu kan 4 jam perjalanan.

Aku akan coba dulu di Puskesmas Arjuno ini. Entah berapa biayanya. Aku agak takut karena punya pengalaman tidak menyenangkan pada waktu membersihkan karang gigi di tempat ini. Sudah bayarnya tidak beda jauh dengan di swasta, pelayanan dokter tidak bagus, alatnya sedang tidak berfungsi normal; enggak banget. Sepertinya periksa dulu di sana lalu penanganan mungkin bisa di Graha Puspa Husada yang hanya 10 menit berjalan kaki dari rumah.

Malang, 22 Desember 2013

Advertisements