Pengetahuan-Saya

Kehamilan Tidak Diinginkan


Belakangan di media sosial sedang ramai kasus pemerkosaan yang dilakukan penyair laki-laki terkenal ke seorang mahasiswa FIB UI. Si pelaku berusia 48 tahun dan korban 22 tahun. Aku berusaha mencari informasi sebanyak mungkin dari berbagai penjuru. Awalnya aku tidak tertarik menanggapi sampai membaca komentar Retweet seseorang yang jika dilihat dari nama ID-nya adalah perempuan yang intinya menulis bahwa kecenderungan menyalahkan patriarki dalam kasus ini membuat perempuan seakan-akan tidak memiliki kapasitas berpikir dan memutuskan sendiri. Sepertinya komentar itu ditulis karena ada pendapat yang mengatakan bahwa hubungan seks tersebut dilakukan atas dasar suka sama suka. Namun, si perempuan saat ini sedang hamil 7 bulan dan mengalami depresi.

Pernyataan melalui twitter itu membawa aku pada stigma seputar pemerkosaan yang masih berkembang. Masih ada laki-laki yang mengatakan bahwa perempuan korban pemerkosaan mungkin menikmati hubungan seks dengan pelaku, bahwa ada perbedaan antara memperkosa perempuan baik-baik dan perempuan tidak baik-baik, bahwa pakaian dan bahasa tubuh perempuan menjadi pemicu bahkan penyebab terjadinya pemerkosaan. Masyarakat seperti ini juga yang kemudian menghujat dan menghukum perempuan yang melakukan aborsi atau membuang atau membunuh bayi dari kehamilan yang tidak diinginkan.

Jauh sebelum belajar feminisme dan kajian gender, aku tahu bahwa pakaian dan bahasa tubuh perempuan bukan penyebab terjadinya pemerkosaan. Aku pernah menjadi korban pelecehan ketika aku masih kecil, belum puber, juga setelah puber tapi masih dalam kategori anak-anak karena usiaku di bawah 18 tahun. Tidak pernah terpikir untuk menggoda anak atau laki-laki dewasa karena ada banyak hal yang jauh lebih penting untuk dipikirkan. Aku juga tidak pernah berpikir bahwa tubuhku seksi dan wajahku cukup cantik untuk menggoyahkan syahwat lawan jenis. Jadi, pelecehan atau pemerkosaan bukan tentang perempuan; berhentilah menyalahkan tubuh perempuan dan mulai mengotak-atik hasrat dan cara pandang laki-laki. Jarang yang mau melakukannya karena hasrat seksual laki-laki dianggap anugerah dari Tuhan yang memosisikan mereka lebih tinggi derajatnya sebagai manusia. It became a closed and finished matter.

Pembedaan perempuan baik-baik dan perempuan tidak baik-baik hanya permainan dari kekuasaan untuk memisahkan kelompok perempuan sehingga terpecah. Konsep tersebut juga digunakan sebagai pembenaran kekerasan yang dilakukan terhadap perempuan karena kriteria baik dan tidak baik berbeda dari waktu ke waktu, tempat satu dengan tempat yang lain, dan ditentukan oleh struktur kekuasaan yang sedang berlaku.

Perempuan memiliki hasrat seksual. Layaknya manusia, perempuan tidak pernah suka atau menikmati paksaan dalam segala bentuk. Tidak ada yang kuat atau lemah dalam seksualitas; we’re different, that’s all. Perempuan menikmati sentuhan dan hubungan seks. Perempuan juga tahu ketika dia tidak menikmati sentuhan dan hubungan seks.

Namun tidak semua perempuan tahu hubungan seks yang sehat karena tidak semua perempuan dilahirkan dari dan dibesarkan dalam hubungan yang sehat. Itu pun bukan kebetulan melainkan dikondisikan.

Tidak banyak orang tahu rasanya mengalami kehamilan tidak diinginkan. Begitu juga aku. Sampai suatu ketika sahabat perempuanku mengalaminya. Dia sudah menikah dengan 2 orang anak perempuan yang sehat. Kehamilan ketiga sangat tidak diduga apalagi direncanakan. Dia sempat bingung dan pada usia kehamilan awal sempat terpikir untuk memberikannya untuk adopsi. Namun pikiran itu membebaninya dengan perasaan bersalah dan berdosa. Setiap kali setelah melahirkan dia mengalami depresi post-partum. Berapa banyak yang tahu atau mau tahu?

Entah nantinya diputuskan sebagai kasus pemerkosaan atau suka sama suka, kehamilan yang tidak diinginkan bukan semata soal pertanggungjawaban laki-laki. Dalam kondisi depresi, perempuan sangat mungkin tidak ingin memelihara anak yang dikandungnya. Motherhood is not given. Kehamilan tidak otomatis membuat seseorang mempunyai naluri keibuan atau ingin menjadi ibu. Kehamilan yang tidak direncanakan terutama kehamilan akibat pemerkosaan bukan impian perempuan untuk menjadi seorang ibu. Meskipun perempuan yang memiliki rahim, bukan perempuan yang memutuskan hamil atau tidak. Itu pun bukan kebetulan.

Ketika perempuan menolak bayinya, stigma berlanjut. Perempuan sebagai seorang ibu yang baik adalah yang menyayangi anaknya, bukan membuangnya. Bagaimana dengan laki-laki yang baik-baik? We rarely scrutinize it because it’s unfamiliar and unimportant.

Aku berharap kasus ini dapat diselesaikan dengan mempertimbangkan kesehatan fisik dan psikis perempuan. Aku turut berempati.

Malang, 1 Desember 2013

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s