Pengetahuan-Saya

Refleksi Hari Raya


Semalam aku sedang gundah. Setelah membatin terus, aku mengajak pasangan ngobrol di ruang tamu. Awalnya aku bingung mau bercerita dari mana. Lalu aku mulai dengan pertanyaan. Apa kamu merasa sebagai aktivis? Jawabannya, tidak. Dia belum merasa sebagai seorang aktivis. Baginya seorang aktivis adalah orang yang tinggal bersama masyarakat dampingan. Sementara sebelumnya dia bekerja di sebuah NGO yang memberikan support system pada lembaga atau NGO lain. Lembaganya kadang bersentuhan langsung dengan memberi pendidikan TIK ke masyarakat tapi frekuensinya terbatas.

Dia tidak menyukai tren aktivis online alias aktivis yang lebih banyak nge-tweet atau update facebook mengenai kegiatan mereka. Menurutnya, orang-orang seperti itu tidak bisa dikatakan sebagai aktivis.

Aku menjelaskan dari sudut pandangku bahwa ruang aktivisme sangat luas. Sulit membayangkan sebuah NGO bergerak di banyak isu menggunakan berbagai metode pengorganisasian. Alhasil ada NGO yang bergerak di advokasi anggaran, support system untuk TIK, penulisan, fundraising, peningkatan kapasitas, dan lain-lain. Bagiku secara langsung dan tidak langsung, NGO tersebut melakukan pengorganisasian menurut kapasitas dan di ruang yang berbeda. TIK merupakan salah satu alat pengorganisasian yang tidak bisa disepelekan karena jangkauannya yang luas dan cepat di masyarakat.

Dia sendiri memutuskan mundur dan tidak lagi terlibat dalam NGO. Dia membantu kawan-kawan muda Impala di almamaternya.

Aku sampaikan bahwa aku mengalami kejenuhan di lembagaku. Meskipun lembaga baru, belum ada 2 tahun, tapi aku merasa tidak menemukan keasyikan lagi. Aku tahu ada banyak kawan-kawanku, aktivis muda di lembaganya yang kemudian keluar dari sebuah lembaga karena kesibukan di tempat lain atau merasa sampai di titik jenuh. Namun, sebagian dari mereka meneruskan aktivismenya dengan cara lain, termasuk tanpa bendera suatu NGO. Misalnya dengan berkolaborasi dengan beberapa kawan yang memiliki perspektif yang sama sambil bekerja di sektor swasta. Mereka berusaha mengawinkan akvitisme dalam hidup keseharian.

Aku juga sampaikan bahwa kadang aku heran dengan dua orang aktivis senior di lembagaku yang lain. Mereka berdua sudah lebih dari 25 tahun, bahkan mendekati 30 tahun, melakukan pendampingan. Mereka tentu mengalami banyak kejenuhan dan kelelahan, tidak hanya secara pribadi tapi juga lelah menghadapi konflik internal lembaga dan di jaringan NGO yang kadang kacau. Namun, mereka bertahan. Aku berusaha merefleksikan pengalaman hidup mereka.

Aku lihat kedua aktivis senior ini pernah mengalami masalah dalam rumah tangga terkait posisi mereka sebagai perempuan, sehingga isu perempuan bagi mereka bukan sebatas wacana dan bukan lagi tentang analisis gender. Isu perempuan adalah diri mereka sendiri, tentang anak-anak mereka, tentang kekuasaan, perceraian, poligami, kekerasan, dan sebagainya. Aktivisme sudah menjadi bagian dari hidup dan perjuangan. Mereka akan terus berada di dalamnya ada atau tidak ada donor, ada atau tidak ada proyek, ada atau tidak ada staf. Aktivisme juga tidak selalu melihat ada atau tidak ada NGO.

Kalau mereka mau, kedua kakakku ini bisa berhenti dari aktivisme di NGO setelah 15 tahun. Kemudian mencari peluang di lembaga internasional karena pengalaman dan kapasitas mereka sudah sangat tinggi. Mereka menegosiasikannya dengan membawa aktivisme mereka di tingkat lokal ke tingkat nasional dan internasional. Namun mereka masih berada di lembaga awal, menjaga ruh aktivisme dari para pekerja dan aktivis muda. Ada yang merasa cukup menjadi direktur, ada yang masih mempersiapkan kader dan pola kepemimpinan.

Pasanganku mengeluhkan ada banyak direktur seumur hidup, atau menjadi direktur lebih dari 2-3 periode, di sebuah NGO. Kejadian seperti itu jamak terjadi. Tentu normal jika seseorang menginginkan suatu peran penting dalam lembaga. Dari pelatihan MBI (Movement Building Institute) yang aku ikuti di JASS, aku memahami kepemimpinan tidak lagi sebatas struktural. Kepemimpinan adalah kapasitas yang dapat digunakan dimanapun aku berada, di dalam berbagai masalah. Namun ruang kepemimpinan struktural tetap perlu diberikan kepada mereka yang muda.

Aku merefleksikan ke diriku sendiri. Aku tertarik dengan isu perempuan dan gender karena aku sendiri pernah mengalami pelecehan seksual, aku besar di lingkungan dimana kekuasaan bapak terlalu besar, aku mendengar kesaksian korban pemerkosaan di media yang justru melecehkan si korban. Kemarahan dan kekecewaanku sangat mendalam. It’s very personal. Ketika aku ingin membuat suatu komunitas kajian gender, tidak terpikir bahwa isu ini seksi atau tidak. Aku tahu bagaimana perasaan sesak ketika dilecehkan, perasaan marah ketika diancam diperkosa; dan perasaan itu memang tidak seksi.

Berjalan dengan waktu, aku mulai membuat jalinan antara isu perempuan dengan isu kemanusiaan yang lain sehingga aku bisa membuat peta yang lebih besar. Namun, isu perempuan dan gender akan terus menjadi pijakan di manapun aku berada; seksi atau tidak, didanai atau tidak.

Refleksi Eid Mubarak ini menjadi penting untuk mengingatkanku kenapa aku di sini, sekarang masih di sini, kemungkinan peran di masa depan, serta kemungkinan lain yang tidak aku sadari. It’s a wonderful moment of getting into your inner thoughts.

Malang, 12 Agustus 2013

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s