Pengetahuan-Saya

Berbahasa Indonesia


Dengan menulis cerita ini, aku belajar kembali Bahasa Indonesia. Suatu bahasa dengan berbagai kata serapan dari bahasa dunia. Aku masih asing dengan bahasa ini sehingga perlu ditemani oleh kamus saku Bahasa Indonesia bersampul merah muda yang disusun Fikri Aditya seharga Rp 12.900, diskon 10 persen. Penerbitnya CV Cahaya Agency di Surabaya. Apa padanan bahasa Indonesia untuk agency? Aku membelinya di Toko Buku Siswa yang ada di dekat alun-alun Kota Malang.

Aku takjub dengan banyaknya kosakata yang tidak pernah aku dengar, pakai dan ketahui maknanya. Membaca kamus saku ini membuatku merasa belum sepenuhnya manusia Indonesia.

Sebagai orang Jakarta, aku tidak pernah belajar bahasa daerah. Hal ini berbeda dengan suami dan sepupu-sepupuku yang tinggal di Jawa Timur. Aku mengetahui dan menggunakan istilah Bahasa Betawi. Namun entah kenapa Bahasa Betawi waktu itu belum dianggap bahasa daerah.

Ketika masuk SMP, aku berkenalan dengan Bahasa Inggris. Suatu mata pelajaran yang tidak disukai oleh sebagian teman-temanku karena dianggap sulit. Tata bahasanya berbeda dengan bahasa sehari-hari yang mereka pakai yaitu campuran Bahasa Sunda, Bahasa Betawi, dan Bahasa Indonesia. Sementara menurutku Bahasa Indonesia jauh lebih sulit karena paling tidak dalam ujian Bahasa Inggris siswa tidak diminta untuk membuat narasi.

Dulu. Mungkin SD kelas 4, aku menyukai tugas mengarang. Bukan karena aku pintar Bahasa Indonesia tapi karena aku suka berkhayal dan menuliskannya seolah-olah itu pengalamanku. Mengarang menjadi ruang untuk menciptakan dunia lain yang aku inginkan.

Dulu. Sebelum aku masuk Sekolah Dasar, aku berkhayal dengan bantuan Lara, bonekaku yang berwarna merah muda. Awal masuk SD, aku berkhayal dengan bantuan cerita bergambar yang dimuat di Pos Kota dan koleksi komik lokal dengan tokoh Petruk, Gareng dan Semar. Biasanya komik-komik tersebut disewakan pada saat bulan Ramadhan. Selain itu, aku juga menyalurkan kemampuan berkhayal dengan main orang-orangan dari kertas. Aku akan memberi mereka nama, memakaikan baju dan berkomunikasi melalui mulutku. Ibu bilang, aku seperti orang gila karena suka ngomong sendiri. Menurutku, orang dewasa punya imajinasi yang berlawanan dengan anak-anak.

Bahasa menjadi bagian yang membentuk diriku seperti sekarang. Bahasa mengatur caraku berpikir, caraku menulis, caraku menyampaikan pendapat, caraku menjadi perempuan Indonesia. Bahasa menertibkanku dari penggunaan kata-kata yang tidak senonoh, dianggap vulgar, tendensius, dan menghina. Gabungan antara bahasa dengan sejarah membantuku menyusun realitas Indonesia yang aku anggap benar.

Dulu. Dunia hanya sejumput nusantara yang diapit 2 samudera. Damai gemah ripah loh jinawi. Bhinneka Tunggal Ika. Garuda dan Pancasila. DKI Jakarta Raya. Komplek POLRI Munjul, komplek perumahan polisi di Jakarta Timur.

Dunia seperti itu masih terbawa sampai sekarang. Bagaimana aku menolak bahasa? Orang dewasa saja menurut dan tidak melawan. Burung Garuda saja dibiarkan punah. Apalagi aku yang masih belajar berbahasa Indonesia dengan baik dan benar menurut Ejaan Yang Terus Disempurnakan.

Malang, 4 Agustus 2013

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s