Pengetahuan-Saya

Suatu Waktu


Waktu berlimpah-limpah. Ide bergeletakan. Sunyi sudah basi. Aku masih terpekur dengan lima kata, belum jua terangkai dalam kalimat.

Komputer jinjing, mesin pencetak, mesin pemindai, telepon genggam, tetikus; kupandangi semua. Kunyalakan Rhythmbox, kupakai headset sambil mencari padanan kata tersebut dalam bahasa Indonesia di Google translate. Menulis bebas ternyata tidak semudah dengan terjun bebas. Kebebasan ternyata menyulitkan pikiran yang tidak lagi bebas.

Dulu. Dulu. SMP kelas 1. Aku kacau. Aku bisa dengan mudah melirik ekstasi atau sejenisnya. Aku bisa teler, seteler-telernya. Temanku seperti itu. Tapi dulu, sebelum SMP kelas 1, sebelum SD kelas 6, sebuah mobil perpustakaan keliling meraup hatiku. Aku teler dengan cara yang berbeda.

Melodi kata-kata mewadahi amarah dan geram. Syair lagu-lagu 90an melengkapi demam sakau. Syair paling cengeng dari Obbie Messakh pun bisa kupelototi dalam hati. Apalagi lagu Doddy Dores yang temponya lebih cepat. Satu Nusa Satu Bangsa yang menjadi langganan setiap upacara bendera pun bagian dari propaganda bahwa Indonesia adalah sebuah bangsa yang satu. Aku suka lagu itu.

Dulu. SMP kelas 2, aku masih kacau. Kalau waktu itu aku tahu tempat dugem di sekitar Blok M, aku akan meluncur ke dalamnya. Mau tahu aku lari kemana? Taman Mini Indonesia Indah; 2 kali naik angkutan umum dari rumah. Selemah-lemahnya iman, aku masih mengunjungi miniatur Indonesia yang dulu masih 27 propinsi. Di tempat itu, aku nggak mungkin bunuh diri. Aku takut naik kereta gantung.

Pesan yang ingin disampaikan melalui TMII adalah keberagaman menyatukan kita, bangsa Indonesia. Namun kemarahan pada masa pubertas melumat kepercayaan diriku sebagai bagian dari warga negara Indonesia. Kalau aku pikir sekarang, kok bisa-bisanya aku melakukan renungan spiritualitas di TMII.

Aku datang sendiri. Membeli tiket masuk sendiri. Selemah-lemahnya asa, aku tidak mau curang dengan menerabas masuk. Aku belum kenal out of the box atau crossing the line. Aku hanya tahu zebra cross.

Aku merasa kacau sendirian. Tidak tahu bercerita ke siapa. Teman-temanku tidak memberi respon yang dapat menenangkan. Sementara teman-teman pemakai pil penenang menjadi sangat tenang sehingga tidak bisa mendengarkan ceritaku. Kalau aku ke kantor guru BP (Bimbingan dan Penyuluhan), kemungkinan besar aku akan dicap sebagai siswa yang memerlukan bimbingan dan penyuluhan. Aku tidak ingin diperlakukan sama dengan petani atau nelayan anggota kelompencapir (Kelompok Pendengar, Pembaca, dan Pemirsa).

Aku anak kompleks yang baik dan pemalu. Itu pun tetap jadi bahan gunjingan tetangga karena aku sering jalan menunduk dan jarang membalas sapaan mereka. Aku sedang konsentrasi dengan hidupku yang membingungkan. Aku tidak tahu kalau hidup memang seperti itu. Aku mencoba memahami bahwa menyapa tetangga adalah perbuatan baik dalam kehidupan.

Waktu berlimpah-limpah. Menguraikan waktu-waktu yang sudah terjadi dalam bentuk kalimat seperti merajut sebuah baju. Dimulai dari memintal kapas dengan kesabaran kemudian memberi pewarna lalu dikeringkan di bawah terik matahari. Aku tidak punya pola. Aku tidak tahu harus memberi pewarna apa. Merajut hidupku tidak akan mudah.

Apakah jika aku dilahirkan di Desa Waung, Kecamatan Krembung, Kabupaten Sidoarjo di Jawa Timur seperti orang tuaku, hidupku akan lebih tenang? Hidup itu mengalir seperti air, begitu kata orang bijak. Tapi aku remaja 15 tahun. Buat apa hidup seperti air? Air adalah zat cair yang akan menyesuaikan bentuk sesuai wadah dimana dia ditempatkan. Aku nggak paham wadah tempat aku berada. Namun jika air dipahami sebagai zat cair yang tidak mempunyai rasa, warna dan bau, ya itu memang aku. Aku banget.

Tidak mudah mengingat suatu waktu yang lama dan penuh kegalauan. Suatu waktu menyimpan nama, pribadi, lokasi, emosi, dan imajinasi. Waktu yang lekang dan menyakitkan.

Ketika menulis puisi, aku tidak bermaksud untuk merekam hidupku. Sebatas pelampiasan, sebagai usaha untuk mengatakan, “Aku nggak paham!”

Aku tidak bermaksud melupakan. Aku tidak merasa masa lalu sebagai kesialan. Aku hanya merasa hambar.

Aku ingin menjadi dupa; santapan Dewa Dewi. Aku ingin menjadi asap josna, lidi yang ditempeli dupa dan dibakar ujungnya. Aku ingin berasa, berwarna dan berbau.

Malang, 3 Agustus 2013

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s