Pengetahuan-Saya

Catatan Perjalanan Ke Bandung Tahun 2004


Di bawah ini adalah catatan perjalanan yang aku tulis untuk Devina, sahabatku, sembilan tahun yang lalu. Waktu itu aku baru turun dari Paiton, Probolinggo atau dengan kata lain baru mengundurkan diri dari kerja di sana dan kembali ke Jakarta sebagai pengangguran.

Berhubung orang tua tidak merestui pengunduran diriku, aku kos selama 1 bulan di rumah kawan di dekat Tugu Proklamasi. Untuk menyalurkan energi dan kemarahan, aku berwisata atau lebih tepatnya ngalor-ngidul di Bandung. Tidak ada tujuan mau mengungunjungi suatu tempat atau apapun, just walk my feet. So here it is.

15 Maret 2004

Menurut Devina gua perlu bikin jurnal perjalanan. Dia ingin tahu tempat yang gua kunjungi dan kesan-kesan selama perjalanan. Gua tidak merasa ada yang istimewa tapi melakukannya demi persahabatan.

13 Maret 2004.
Malam ini, gua memasang alarm untuk besok pagi dan menyiapkan perlengkapan yang perlu dibawa. Jangan terlalu berat, kan nggak nginep. Gua bawa jaket kulit yang super keren yang dibeli di sebuah mal di Surabaya, air aqua ukuran sedang, sikat gigi karena nanti makan di jalan, handphone tentu saja, perlengkapan sholat dan dompet. That’s it! Ternyata banyak juga. Walkman nggak dibawa karena dipinjem Iink, kawan kuliah yang juga kos di rumah Ira. Payung nggak usah bawa kali karena berat, lagian udah bawa jaket. Tapi harusnya gua bawa buku jurnal.

14 Maret 2004, jam 04:00.
Kriiiing! Dibangunkan alarm dan pada saat yang bersamaan suara adzan mesjid juga berbunyi. Langsung ke kamar mandi dan masya Allah, airnya kalo pagi itu dingin banget!! Padahal ini di Jakarta Pusat. Nggak sampe 5 menit, gua udah selesai mandi dan pake baju, bedak dan cek tas lagi. O iya, gua juga cek HP. Gua takut banget Devina membatalkan janji pada menit terakhir. Tapi nggak ada, no new sms come in. Bagus!
Jam 5-an ke toilet lagi dan memastikan di kereta nggak kebelet. Penyakit gua kan udah turunan, dibawa dari gen bokap, sakit perut. Untung levelnya belum parah kayak dia.

Jam 05:10.
Aku sudah ada di luar gang Talang. Tulalit. Sms dari Devina. Gua pikir: Ya ampun, Devi udah nyampe di Gambir. Eh, ternyata Devi malah bilang kalo sakit kepalanya kambuh dan nggak bisa ikut. Wah, hampir down tapi jiwa petualang gua mengatakan bahwa ini kesempatan bagus. Sempet mikir untuk batal berangkat tapi … nggak ah, rencana harus dijalankan. Nyetop taksi dan dalam beberapa menit sampe ke Gambir. Biayanya sih 7 ribu plus tiket parkir seribu = 8 ribu. Eh, sopirnya nggak ada kembalian, jadi gua bayar 9 ribu sama dia. Lagian waktunya agak mepet. Di terminal mampir ke Holland Bakery, beli roti isi keju, my favorite. Ukurannya kecil banget yang kalo di toko kaki lima paling dijual cuma gopek.

Beli karcis 45 ribu di loket lalu ke atas, ternyata gua salah jalur. Turun lagi dan naik ke jalan yang benar. Kereta Parahyangan berangkat jam 5.30. Sialnya gua dikasih nomor bangku yang nggak ada, petugas geblek! Sengaja mempermainkan gua? Cih. Nomor bangku gua 15B sementara nomor terakhir di kereta 13D. Gelo, segelo-gelonya! Akhirnya ada penumpang yang komplen dan gua ikutan komplen.

Perjalanan menuju Bandung naik kereta api memakan waktu 3 jam. Cukup membosankan karena gua nggak bawa walkman atau buku diary. Akhirnya gua cuma motret pemandangan yang kadang bagus, kadang enggak. Pemandangan dari kereta itu standar daerah pinggiran: rel di sana sini, rumah kumuh, jemuran berjejer, stasiun yang kusam dan bangunan yang tua yang tidak berpenghuni. Setelah makan 2 roti, gua gosok gigi. Gua suka menggosok gigi.

Jam 08:30.
Akhirnya sampe di stasiun Bandung. Sumpah, stasiunnya lebih bersih dan teratur daripada Gambir. Keluar dari stasiun, celingak-celinguk, ngikutin orang yang ada di depan. Sampe di jalan besar, bingung dan akhirnya tanya angkot yang ke ITB. Kenapa ITB? Ya, sulit menjelaskannya. Hehehe. Ternyata gua harus jalan ke lampu merah. Dari situ gua tanya kernet yang bilang gua harus nyambung, nggak tau bener atau enggak akhirnya gua naek angkot warna krem jurusan Lembang, turun di Pasteur. Di angkot itu sempet diliatin sama cowok. Ya, apalagi kalo bukan gara-gara tindikan bibirku yang seksi ini! Padahal penumpang yang lain enggak kok. Biasa dong, Bang! Atau gua yang ge er?

Dari Pasteur, gua nyambung angkot jurusan Cicaheum yang warna ijo norak. Maksudnya ijo tua ding! Lalu tanya perempuan berjilbab panjang gua harus turun dimana. Dia sempet nanya dengan wajah tersipu: Mbak, nanti memangnya mau ke ITB atau ke kebun binatang? Yikes! ITB sama kebun binatang kan jauh banget beda konsepnya! Gua dengan sangat yakin bilang: ITB. Ceweknya cuma senyum. Gua pikir, apanya yang lucu? ITB atau kebun binatang-nya atau gua? Apa gua ada tampang kayak orang mau ke kebun binatang? Ih, Niken sensi banget!

Ya udah, nggak usah emosi. Akhwatnya itu manis lagi. Kulitnya putih, bibirnya bagus. Merhatiin aja ya gua? Heran sama Niken! So what?

Akhirnya gua turun di suatu tempat yang deretan dindingnya ada coretan warna-warni dan ada tanaman yang dibentuk seperti gajah. Gua langsung menduga: pasti di sini kebun binatangnya. Kecele, tahunya bukan!

Sampe di suatu tempat yang gua nggak tau namanya, gua duduk sebentar dan kirim SMS ke Fish. Ini cowok ITB yang sebenarnya nggak nyambung sama aku tapi sering jadi pelampiasan emosi dan frustasi. I’m willing and he’s available. Great!

Bolak-balik gua kirim SMS. Gua juga kirim SMS ke Devina, dia khawatir banget gua akan kesasar. Niken? Kesasar? Of course!!

Karena kecele itu, gua masuk ke salah satu jalan. Terserah kaki aja. Di situ, arsitektur rumahnya model lama dan bagus-bagus. Gua pingin ambil foto tapi nanti takut disangka mau maling. Nggak berani ambil resiko. Apalagi ada satu rumah luas yang isinya dua BMW, Honda terbaru dan beberapa mobil lain. Gua bertanya dalam hati: mungkin nggak ini kosannya Fish! *Ngarep*

Setelah jalan beberapa lama dan masih kerasa lapar dan yakin kalo ini bukan jalan yang bener, gua berhenti dan mikir mau balik ke depan. Untungnya ada delman yang ke arah depan dan kosong. Gua stop dan tanya: ke ITB nggak? Dia bilang iya dan gua langsung boarding. Ceila, boarding! Ya gitu deh.

Enak juga naik delman, di Porong aja udah jarang. Jarak ke ITB lumayan jauh dan gua lihat ada angkot ke arah yang sama dan gua baca jurusannya kok Cicaheum, sama dengan yang tadi gua naikin. Gimana sih?

Akhirnya setelah dipikir-pikir di jalan tadi, gua pingin ke kebun binatang aja. Udah takdir kali. Zoo is the place where you belong, Niken. Lagian udah lebih dari 7 tahun gua nggak ke kebun binatang. Kayaknya kangen sama… Ya, pokoknya kangen!

Tarif delman 3 ribu. Awalnya gua kasih 2 ribu tapi dengan wajah memelas saisnya minta seribu lagi. Sebagai alumni UI gua harus meninggalkan kesan yang baik dong! Bayarlah sesuai tarif, Niken.

Gua akhirnya tau kenapa cewek tadi bingung dengan tujuan gua. ITB dengan kebun binatang itu deket banget. Tapi untungnya beda, yang satu isinya binatang, yang satunya berisi binatang yang sudah berevolusi.
Tiket kebun binatang murah banget, 6 ribu. Sama dengan parkir 3 jam di daerah Sudirman. Pas masuk, pikiran gua langsung ke Badak. Sayang, di sini nggak ada Badak. Padahal Bandung sama Ujung Kulon nggak jauh kan? Iya kan? *Maksa*

Gua jadikan binatang-binatang di sini sebagai objek foto. Tempatnya kecil, pastinya lebih luas di Ragunan. Jadi kangen sama Ragunan! Di Ragunan mungkin ada badak. Kalo lumba-lumba adanya di Ancol, Sea World. Ya ampun baru kepikir sekarang, kalo gua belum pernah ke SeaWorld!! Gua harus ke SeaWorld. Mudah-mudahan di sana ada Paus dan Hiu. Pasti seru!

Balik lagi ke kebun binatang ITB, maksudnya di Bandung, orang yang dateng biasanya bawa anggota keluarga. Biasanya mereka udah gotong tiker dari rumah, bawa nasi lengkap dengan lauk, air minum botol besar dan cemilan. Kalo tempat itu buka sampe malem, ada kemungkinan mereka bawa sleeping bag dan dijadiin jambore. Segala nenek, bude, saudara, anak dibawa semua. Ada yang bawa tenda warna-warni. Kurang apa coba?

Kandang binatangnya kotor. Udah gitu binatang yang kalo di TV kelihatan ganas dan buas, pas di situ mereka cuma tidur-tiduran dan bermalas-malasan. Mirip gua nggak sih?

Udah berapa lama binatang-binatang itu tinggal disitu, 4 tahun atau lebih mungkin? Kasihan banget. Jadi inget sama diri sendiri. Pasti bosen tiap hari ada di kerangkeng yang kecil dan nggak ada hal yang menantang. Am I an animal in a zoo?

Jam 11.00.
Setelah puas dan capek muter-muter melihat binatang yang hidupnya kurang bergairah, akhirnya gua keluar dan makan di warteg. Harganya semua 4 ribu. Abis itu ke jalan besar dan jalan menuju ITB.

Ada banyak anak kecil yang naik kuda. Kotoran kuda berjatuhan dimana-mana, begitu juga baunya. Gua juga melihat di halaman ITB ada beberapa kelompok cewek berjilbab yang sedang berdiskusi. Gua nggak tau apa mereka mahasiswa atau anak SMP/SMA. Tau sendiri, mahasiswa cewek kan emang badannya kecil-kecil. Jadi nggak bisa dibedain sama anak SMP.

Melihat pemandangan itu, gua jadi inget saat mengikuti pengajian di UI. Inget temen-temen pengajian, inget Yanti Sudiyanti, inget Mbak Eliza, inget perjalanan ke Sumedang, inget temen-temen dari Psikologi, inget Kampung Tengah, inget awal gua pake jilbab. Gua sempat termenung di depan pagar ITB, senyum sendirian. Gua sih sudah biasa senyum sendiri.

Sambil menunggu adzan Dzuhur, gua masuk ke kampus ITB. Tengok kiri, tengok kanan, tengok belakang. Memastikan tidak ada penguntit. Beres! Jalan terus ke sebelah kiri abis itu tarik kanan dan lurus. Tanya orang di situ, musholanya dimana?

Dari situ ambil jalan kanan dan masuk ke tempat yang mirip laboratorium yang diabaikan. Gua pikir itu tempat bagus untuk curhat, hehehe. Gua inget sama tempat gua dan Eneng, kawan SD, pernah mengubur pernyataan tertulis di halaman samping sekolah. Kita bersumpah supaya tidak bilang ke orang lain biar nggak ada yang tau. Dia juga masih inget, soalnya waktu gua dateng di pernikahannya, dia sempet ngungkit soal itu. Isi pernyataannya aja dia masih inget sementara gua lupa.

BTW, gua nggak tau di ITB punya taman atau enggak. Tapi sekilas kampus FISIP, FIB atau Ekonomi UI lebih bagus. Tapi enaknya di ITB ada lapangan tenis. Gua nggak sempat jalan jauh ke dalam. Padahal pingin banget. Tapi gua keliatan kayak orang kesasar dan turis lokal.

Kaki gua pegal banget. Ya iyalah, dari tadi muter-muter. Paha gua sangat sakit sampe berjalan pincang. Jadi gua keluar dan sholat di Mesjid Salman. Ruang wudhu cewek lebih bagus disitu daripada di UI. Kalo mesjidnya ya bagusan UI dong, kita kan ada danaunya! Makanan di kantin mesjid UI juga enak. Subjeknya sudah melebar banget!
Sholat dzuhur dan ashar gua jama’. Pas di mesjid, gua sempat liat cowok manis banget! Seneng ngelihatnya. Ciptaan Allah memang seru banget. Sempat bengong sebentar ngeliat dia dan akhirnya sadar, dia bukan tipe gua. Too sweet. Nikeeen!!!

Jam 12:55.
Terminal Lewih Panjang ternyata jauh dari ITB. Gua naik angkot muter-muter. Pingin aja sih nyoba naik bus meskipun stasiun kereta lebih dekat. Dari ITB naik angkot biru dengan tarif 3 ribu. Gua turun di perempatan dan nyambung sebentar naik angkot ijo tua dan bayar 500.

Terminal Leuwi Panjang, jam 14:10.
Sampai di Leuwi Panjang dan naik bis executive jurusan Lebak Bulus karena gua berpikir untuk mampir dulu ke tempat Devi. Gua pingin cerita-cerita biar dia ngiri. Pas di UKI ragu-ragu karena gua capek tapi terus aja, tanggung.

Terminal Lebak Bulus, jam 18:05.
Sampai di Lebak Bulus jam 6 sore. Lebih lama dari kereta tapi lebih murah (30 ribu) dan lebih dekat ke rumah Devi. Di tempat Devi gua numpang sholat dan ngobrol sebentar lalu keluar untuk makan. Gua kasih jajanan yang gua beli di Bandung; dodol dan makanan yang dilipet-lipet kayak wajik. Orang yang jualan di terminal bilang: Ini bikinan Bu Haji. Gua pikir, Bu Haji siapa? Bukannya banyak Bu Haji? Emangnya gua kenal?

Menu malam itu nasi uduk, lele dan ayam untuk Devi. Tau nggak, Devi nraktir gua lagi! Kenapa ya? BTW, kita ngobrol macem-macem. Dan salah satu isu pentingnya mengenai Yuan. Ternyata asal-usul sms heboh itu berawal dari chatting Devi sama Yuan dan Lira hari Jum’at pagi. Jadi Lira bilang ke Devi kalo menurut dia, gua suka sama Yuan. Dia bacanya dari body language gua. Udah gitu Yuan setuju pula. Dia juga mikir kalo gua sedang deketin dia. Ampun Dewa, Dewi! Gimana bisa sih?
Tapi gua akuin emang gua suka godain Yuan, bermanja-manja sama dia lewat email, udah gitu kalo ketemu sering “gimana gitu”. Gua sering berwajah malu-malu kalo ngomong sama Yuan. Padahal nggak ada maksud lain. Emang gua aja yang segan kalo ngomong sama dia. Tapi gua sudah menduga kalo Yuan mikir kayak gitu. Biarin aja! Sampe sekarang gua nggak ngerti kenapa hal yang di kantin itu dijadikan suatu rahasia. Gua berusaha nggak peduli karena udah niat bahwa urusan dengan Yuan tidak dibawa jadi masalah pribadi.

Terminal Lebak Bulus, Jam 20:30.
Abis makan cari bus AC 16. Berhubung sudah jam setengah sembilan malam, busnya sudah nggak ada. Akhirnya gua naik metro mini 72 jurusan Blok M. Perjalanan itu juga ada ceritanya. Supirnya ngetem sebentar di deket PI mal. Tau-tau ada seorang cowok naik dan mengoceh panjang lebar. Dia lalu bilang kalo dia salah naik mobil. Padahal nggak ada orang yang nanya. Abis itu cari rokoknya di bawah kursi, seingat gua dia nggak bawa rokok. Aneh kan?

Kemudian masuk lagi cowok dengan baju kumal dan bau dan dia mabok berat, atau seakan-akan mabok, gua nggak bisa bedakan. Badannya kurus dan nggak terlalu tinggi. Dia nyanyi sekenanya dan minta uang sambil mengancam. Yang dimintain uang ya cowok tukang ngoceh tadi dan dikasih seribu.

Abis itu cowok yang mabuk tadi cerita sama aktivis gereja di samping kursi gua kalo dia siap ditangkap, tinggal dibawa ke polres. Pokoknya ngaco banget. Untung dia turun cepet. Tapi si tukang ngoceh itu masih ada dan baru turun di terminal. Orang kalo nggak siap hidup di Jakarta kayak gitu kali ya. Mungkin gua juga akan seperti itu. Hayo Niken!

Sampai di Blok M, gua mau nyambung. Tapi karena gua nggak tau bis selain P.67 yang lewat Megaria, akhirnya naik taksi. Gua udah capek banget. Devi sempat kasih saran untuk balik ke rumah gua di Cijantung karena bus ke sana masih ada dan lebih dekat. Tapi gua nggak mau. Gua masih kesal sama ibu yang selalu nyuruh gua ikut wawancara ke tempat A dan suka ngomel kalo gua sering balik ke rumah.

Jalan Talang, Jakarta Pusat. Jam 21:05.
Taksi cuma sampe Megaria dan bayar 15 ribu. Dari situ gua harus jalan ke Talang, one way. Lebih murah begitu. Sampai di kosan ternyata ada Ira yang lagi menjelaskan soal pemilu sama tetangganya. Kader teladan tuh anak! PKS beruntung banget punya orang kayak Ira. Dia menyapa gua dan gua nggak peduli. Kaki gua sakit banget. Pas di garasi, Iink lagi ngobrol sama cowok. Kayaknya basa-basi. Cara rutin cowok PDKT.

Gua mau menjatuhkan diri ke kasur di dalam kamar. Gua naik ke lantai atas, buka pintu lalu buka baju, buang semua di kasur dan mandi. Sholat dulu lalu tidur.

Gua nggak berharap kalo besok masih inget perjalanan ke Bandung. Sebenarnya apa sih yang gua cari? Kenapa juga baru sekarang ditanyain, kenapa nggak sebelumnya? Ih, Niken mah dodol. Mungkin cuma membuktikan ke diri sendiri kalo gua bisa balik lagi atau sekedar buang sial di perjalanan.

Malang, 13 Juli 2013

Advertisements

One thought on “Catatan Perjalanan Ke Bandung Tahun 2004

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s