Pengetahuan-Saya

Refleksi Tengah Tahun


Aku merasa harus menuliskan tentang refleksiku seputar pengungsi. Aku tidak tahu kenapa tapi beberapa bulan kemarin aku sering mencari informasi seputar pengungsi di Irak, Suriah, Afganistan, Rohingya, dan lain-lain. Aku membaca beberapa berita mengenai pengungsi Afganistan yang tertangkap di wilayah Indonesia atau warga Irak yang harus mencari suaka dan bermigrasi ke Swedia. Aku membayangkan diriku sendiri jika harus melakukan hal yang sama. Aku yakin akan sulit tapi dalam posisi mereka, kesempatan hidup jauh dari peperangan dan ancaman merupakan usaha yang layak diperjuangkan.

Aku tidak berada dalam kondisi seperti itu. Aku lahir dan besar di Jakarta, Indonesia, ibukota negara. Orang tuaku termasuk mereka yang pindah dari dusun ke ibukota karena tuntutan pekerjaan bapak. Aku lahir dan dibesarkan oleh Jakarta yang campurbaur. Nilai Jawa Timur masih ada, lidahku sulit lari dari masakan Betawi dan Sunda, aku takut dengan preman Ambon tapi suka bergaul dengan orang Batak karena sebagian kawan-kawanku keturunan Batak. Aku juga senang dengan masakan Palembang dan Padang. Sebagian kawan-kawanku juga keturunan kedua daerah itu. Sama seperti aku, mereka kafiran…hehehe. Sebagian besar tidak bisa bicara atau menulis bahasa daerah masing-masing, tapi kadang masih bisa paham jika mendengarkan.

Bagi orang tuaku, awalnya juga sulit untuk beradaptasi. Namun paling tidak mereka masih berada di negara sendiri. Tidak perlu mengurus visa, tidak perlu punya paspor, surat keterangan polisi, asuransi, dsb. Kalau mereka beremigrasi ke luar negeri, pasti beda lagi aturan dan budayanya. Jenis kekafiranku juga akan beda.

Aku berlangganan berita dari beberapa website seputar perkembangan situasi global dan secara khusus di Timur Tengah dan Afrika. Aku juga pernah menonton film “Turtle Can Fly” yang sedikit menggambarkan kehidupan anak-anak di pengungsian. Aku sering membaca tentang kesulitan makanan dan minim air bersih, cuaca ekstrim, penyebaran penyakit, tidak ada sekolah atau taman bermain, dan kekurangan berbagai sistem pendukung vital lain. Tentu kondisi serba kekurangan juga dialami di banyak daerah di Indonesia atau bahkan di negara industri. Namun perang, konflik sektarian, dan ancaman pembunuhan membuat perbedaan terhadap situasi di beberapa negara Timur Tengah dan Afrika. Di tengah keterbatasan tersebut, selalu ada kisah menarik

Dengan membaca berita-berita tersebut, aku merefleksikan ke kehidupan diriku sendiri. Aku bersyukur masih punya dua orang tua, bapak sering ada keluhan sakit tapi alhamdulilah dia punya ASKES. Aku masih bisa mendapatkan air bersih, meskipun tingkat higienitasnya juga aku kurang tahu, minimal tidak berbau. Kadang ada larva nyamuk di dalam air, itu tanda tidak boleh malas menguras tandon. Aku punya rumah dan kendaraan sendiri. Rumahku tidak kecil tapi bersahaja, lebih manis kedengarannya…hahaha. Aku punya pekerjaan dan bisnis sendiri. Aku punya tabungan dan kawan-kawan yang cerdas. Aku tinggal di Malang yang meski kadang macet tapi masih bisa disiasati dibanding Jakarta.

Kalau istilah orang bijak, proses seperti ini namanya “wanting what you already have” karena biasanya kita menginginkan sesuatu yang tidak kita perlukan dan tidak kita miliki. So here I am again. A mid-term reflection.

Malang, 11 Juli 2013

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s