Pengetahuan-Saya

Naughty feminist desire for passionate porn


Pertengahan 2012, seorang kawan memberikan informasi mengenai sutradara feminist porn. Dia tidak memberikan nama tapi menggambarkan bahwa film yang dibuat sutradara perempuan ini berbeda dari kebanyakan film porno yang banyak beredar. It’s a hard core porn that focus on women’s pleasure and women’s stories. Aku mencoba mencari sendiri di internet tentang istilah ini.

Aku mendapatkan nama Erika Lust, not her real name, yang membuat Lust Film Production. Dua filmnya yang terkenal dan aku punya adalah 5 Hot Stories for Her dan Cabaret Desires. Aku sangat suka karena memang berbeda dari beberapa film porno yang pernah aku tonton. Film dengan genre feminist porn ini ada yang mengatakannya woman-friendly, queer-friendly, atau lady-positive porn.

Beberapa hari ini aku mendapatkan lagi sebuah website yang tidak saja berisi foto adegan seks tetapi juga artikel dan kutipan yang sangat bagus. Aku senang dengan koleksi foto-foto yang diambil dari berbagai blog tumblr disertai link menuju artikel yang juga sangat bagus mengenai seksualitas, citra tubuh yang positif, kenikmatan, dan keberagaman tubuh perempuan. Website tersebut menunjukkan berbagai bentuk tubuh perempuan, berbagai bentuk payudara, puting susu, vagina, penis, testis, pantat, dsb. So sexual pleasure doesn’t come only with one ideal body shape and image. There is also wonderful link to an article about sexual relationship for people with disabilities. Pleasure is for everyone.

Aku ingin berbagi dengan pasanganku. Namun responnya agak mengecewakan. Dia mengaku sejak SMP sudah pernah menonton film porno dan dia tidak pernah tertarik. Aku mengatakan bahwa film ini berbeda tapi dia berkeras tidak mau menonton. Dia bahkan menilai aku “nakalnya telat” karena baru-baru ini saja menikmati dan mengoleksi film porno. Aku membela diri. Ketika duduk di kelas 5 SD aku pernah menemukan buku berisi foto adegan seks. Aku tidak begitu tertarik. Kemudian ketika SMP pernah menonton film porno tapi dengan adegan kekerasan di dalamnya. Adegan seksnya tidak menarik karena konteks di film itu adalah pemerkosaan. Jadi sebelum aku tahu tentang gender atau feminisme, aku merasa tidak nyaman dengan adegan kekerasan, meskipun dibalut dengan seks.

Jadi aku keberatan kalau kemudian dikatakan “telat nakal”. Even if it is true that I am a naughty woman, I don’t see anything wrong with that. Selain itu aku juga merasa menonton film porno, terutama film feminist porn, bukan sesuatu yang nakal selama aku memahami bahwa hubungan seks didasari atas perasaan saling percaya, saling suka, dan saling menghargai. Jadi dorongan seks yang aku rasakan tidak bisa menjadi alasan untuk memaksa atau melakukan kekerasan seksual terhadap orang lain.

Anehnya setelah melihat foto-foto adegan seks di website tersebut, aku merasa tidak terlalu menggebu-gebu lagi untuk berhubungan seks. I feel the pictures have speak out my desires. Am I being too easy to let go my desire? Or have the pictures replace my desire for sexual partner? Whoa!!

Malang, 2 Juli 2013

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s