Pengetahuan-Saya

Seputar penggunaan kultwit


Di sebuah pelatihan sehari mengenai social media di Jakarta, seorang narasumber mengatakan bahwa kultwit (kuliah via twitter) adalah fenomena khas Indonesia yang tidak ditemukan di negara lain. Dia juga mengatakan bahwa kultwit tidak efektif karena karakter twitter yang diperbarui dengan cepat dan hanya mengakomodir 140 karakter. Akan lebih baik jika pengguna memanfaatkan blog untuk tujuan yang sama yang dilakukan via twitter.

Aku jadi tertarik membahasnya di blog ini. Pertama, aku mencoba merambah untuk mencari tahu pendapat orang lain. Aku menemukan blog ini (http://paramitamohamad.com/2012/05/25/apa-yang-salah-dengan-kultwit/) yang secara runut menuliskan analisisnya dari sudut pandang ilmu komunikasi. Silakan dibaca sendiri.

Kultwit adalah sederetan tweet yang beruntun membahas 1 topik tertentu. Biasanya, untuk menandakan bahwa suatu tweet masih merupakan bagian dari suatu kultwit, sang tweeter akan menandai tweetnya dengan hashtag/tagar (simbol #), walaupun ada juga yang tidak menggunakan hashtag. Selain itu, tweet pada kultwit biasanya diberi nomor untuk menandakan urutan baca tweet. Kalau tweet tidak dibaca pada urutan yang tepat, kemungkinan besar hasil bacanya akan menjadi berantakan. Aku mengutipnya dari blog http://rizasaputra.wordpress.com/2012/10/15/kultwit-go-blog/ yang juga menjelaskan alasan kultwit tidak efektif, mengganggu, dan mengurangi kemampuan menulis secara utuh.

Dari kacamata ilmu komunikasi dan bagi mereka yang bekerja untuk melakukan strategi komunikasi melalui media sosial, aku setuju dengan argumentasi kedua penulis ini. Namun sebagai pemerhati sosial, aku melihatnya dengan ketertarikan yang berbeda. Coba dilihat lagi perkembangan lainnya.

Sekarang sudah ada layanan Chirpstory dengan tagline “Create stories from Tweets” yang jika lihat profilnya merupakan usaha milik Togetter Inc. yang berlokasi di Tokyo, Jepang. Aku sendiri belum tahu apakah fenomena yang sama terjadi di sana. 

Selain kultwit, ada pula live tweeting yang berarti to engage on Twitter for a continuous period of time—anywhere from 20 minutes to a few hours—with a sequence of focused Tweets. The focus can be a big live event that everybody’s paying attention to (e.g. a TV show or an award show) or it can be an event you create yourself. Terjemahan bebasnya: memperbarui Twitter untuk suatu topik di manapun untuk jangka waktu tertentu, mulai dari 20 menit sampai beberapa jam, secara terus menerus dan berurutan. Fokus atau topik bisa sebuah acara langsung yang besar  (misalnya acara TV atau acara penghargaan) atau acara yang Anda buat sendiri.

Bahkan di negara tertentu, seperti Amerika Serikat, selebritis menggunakan tweet untuk melakukan Q&A alias tanya jawab dengan fans. Aku merasa praktek ini kurang tepat masuk dalam kategori live tweet tapi aku belum tahu istilah lainnya.

Aku juga melihat beberapa kultwit yang sudah selesai kemudian diunggah dalam blog sebagai satu kesatuan. Mungkin ada sebagian yang melihat orang Indonesia malas untuk membuka dan membaca blog dan berusaha memanfaatkan twitter untuk mendapatkan perhatian awal yang dapat dikembangkan.

Dengan caranya sendiri, manusia menyesuaikan suatu teknologi untuk memenuhi kebutuhan dan/atau memecahkan masalah sosial, budaya, dan politik mereka. Ada saat-saat ketika seseorang atau sekelompok orang mulai melihat dan menggunakan teknologi dengan cara yang berbeda dari yang dilakukan secara umum. Dalam dunia fiksi ilmu pengetahuan yang kita jalani selalu ada cara-cara penggunaan teknologi yang kadang mengejutkan.

Orang Indonesia memiliki karakter sedikit berbeda dari orang/bangsa lain. Karakter yang khas orang Indonesia sendiri menurutku masih abstrak karena tiap suku bangsa di Indonesia memiliki karakter yang unik. Namun sekelompok orang dengan bebas bisa -bahkan biasanya ini yang terjadi- menyesuaikan penggunaan suatu teknologi yang pada akhirnya melahirkan suatu perbaikan fitur dari teknologi tersebut.

Aku juga melihat penggunaan kultwit mengalami perubahan. Ada beberapa akun twitter yang aku follow melakukan kultwit dan meskipun aku tidak mengikuti dari awal atau lompat beberapa nomor, aku masih bisa menangkap pesan yang disampaikan. Aku yakin perubahan itu akan terus terjadi sampai ada suatu kecocokkan dan kenyamanan dari para penggunanya. Kenyamanan ditentukan oleh kebiasaan dan konteks sosial geografis sekelompok orang. Seringkali pihak bisnis ikut menentukan apa yang kira rasakan sebagai kenyamanan. Ketika kehebohan facebook terjadi beberapa tahun yang lalu, aku salah seorang pengguna yang hampir tiap 2 jam mengecek timeline dan kadang update status. Aku sebenarnya dibuat tidak nyaman untuk selalu membaca timeline kawan-kawan atau orang yang tidak aku kenal. Namun menjadi bagian komunitas facebook yang besar dan misterius memberi “kenyamanan” tersendiri.

Salah satu praktek yang sering dilakukan di banyak acara besar adalah ketika peserta suatu seminar atau konferensi diminta memberi respon saat acara berlangsung dengan menggunakan hashtag. Respon mereka kemudian langsung muncul di layar di depan podium atau pembicara. Beberapa orang yang tadinya antusias dengan pola “interaktif” ini kemudian menyadari bahwa mereka tidak bisa fokus pada topik yang dibicarakan karena mata mereka melesat berlari dari speaker ke feed Twitter dan akhirnya ke ponsel masing-masing. Seorang peserta menceritakan pengalamannya yang merasa kelelahan mengikuti proses lintas percakapan tersebut. Baginya praktek itu tidak efektif bahkan mengganggu konsentrasi. Jangankan twitter, kadang ketersediaan koneksi internet 24 jam di rumah/kantor bisa menghambat proses kreatif dalam menulis.

Tepat atau tidaknya suatu penggunaan teknologi tidak ditentukan oleh beberapa pakar atau orang. Setiap dari kita akan menyesuaikan penggunaan berbagai fitur yang ditawarkan perusahaan besar seperti facebook, twitter, tumblr dan akun media sosial lain dengan kebutuhan, kebiasaan, dan pengalaman masing-masing. Saran untuk berhenti melakukan kultwit sah dilakukan. Keputusan berada di tangan pengguna. Teknologi sosial media dikatakan interaktif karena kita sendiri yang membentuknya seperti sekarang.

Malang, 26 Mei 2013

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s