Pengetahuan-Saya

Maskulinitas yang berbeda


Makna menjadi seorang laki-laki atau seorang perempuan berbeda bagi setiap orang. Prosesnya juga berbeda-beda. Pagi ini saya terusik untuk menuliskannya karena sekitar dua minggu yang lalu ibu saya berujar, “Kenapa ya kalo suami mau pergi, perempuan [istri] bisa ditinggal dak begitu aja tapi kalo istri yang pergi harus nyiapin dulu keperluan suaminya selama dia nggak di rumah.” Konteksnya adalah dalam beberapa hari ibu saya akan pergi umrah selama 9 hari dan sebelum dia berangkat dia harus mempersiapkan siapa yang akan melayani makan sehari-hari suaminya. Berhubung dia mengenal betul selera suaminya, dia merancang agar ada variasi supaya suaminya tidak bosan. Jadi selama beberapa hari ibu sudah memesan katering untuk mengantar makan ke rumah dan beberapa hari sisanya si suami bisa membeli makan di luar.

Awalnya saya setuju dengan ibu tapi lalu saya teringat pasangan saya sendiri. “Ah, enggak juga, bu. Itu R kalo aku tinggal pergi, nggak perlu dimasakin apa-apa. Niken nggak pernah mikir dia makan apa. Dia kan udah gede, kalau lapar pasti cari makan sendiri,” sanggah saya. Ibu saya pun manggut-manggut dan tertawa. Setiap laki-laki unik walaupun saya tidak menafikan bahwa memang sangat banyak laki-laki atau para suami yang mentalnya sama seperti bapak saya. Mereka sepertinya dididik dengan nilai bahwa mereka superior, perlu dilayani, pencari nafkah utama, dan berbagai nilai bias gender lainnya.

Itu hanya salah satu sisi dari maskulinitas yang dibangun masyarakat karena ada berbagai sisi maskulinitas lain yang belum banyak diangkat dan dihargai secara baik. Dulu, saya juga berpikir bahwa menjadi laki-laki adalah seperti yang saya baca dan lihat dari bapak, surat kabar, tetangga, TV, dongeng, dll. Namun apa yang saya lihat tidak semuanya dimunculkan dengan penghargaan yang sama. Misalnya karakter lembut dan penyayang yang seringkali lebih dilekatkan pada perempuan, padahal siapa sih perempuan yang mau berelasi dengan laki-laki yang kasar dan bukan penyayang.

Ada banyak dimensi dan realitas dalam maskulinitas yang dimiliki oleh laki-laki dan perempuan. Cara perempuan memaknai maskulinitas mereka pasti juga akan unik dari laki-laki. Pasangan saya adalah laki-laki dengan nilai dan karakter maskulinitas yang berbeda dari bapak saya. Seringkali ada perbedaan variasi antara maskulinitas (dan femininitas) arus utama dengan yang dihayati setiap individu. Menjadi seorang gay dianggap bukan laki-laki. Padahal banyak sekali gay yang masih kuat membawa nilai maskulinitas arus utama dalam dirinya dan berusaha menampilkannya dalam relasi sosial. Tekanan mengonfirmasi nilai gender arus utama menghambat mereka yang memiliki nilai gender berbeda untuk mengekspresikannya secara bebas.

Jika nilai gender berbeda tidak dapat diekspresikan secara bebas maka akan sulit pula untuk mengembangkan dan menyebarkannya ke komunitas yang lebih besar. Namun saya masih memiliki harapan karena saat ini ada banyak sumber alternatif dalam membentuk maskulinitas. Hanya perlu ada komunitas yang terus-menerus menggugat dan memberikan informasi bahwa ada banyak pemaknaan maskulinitas dan feminitas yang berkembang dan jauh lebih sehat bagi kebutuhan berelasi sosial. I say, let’s expand this way of knowing and the space where it can grows.

Malang, 6 Januari 2013

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s