Pengetahuan-Saya

Pilihan


Beragama itu seni. Beragama itu hak asasi. Itu keyakinan saya.

Ketika kemudian cara saya dan pasangan dalam memaknai agama berbeda, itu pun hak masing-masing. Kami saling menghargai dan saling mengamati. Ibu mertua dan ibu saya sendiri sering minta saya untuk menasehati dan mendorong pasangan untuk rajib beribadah. Saya percaya bahwa saling menasehati dalam kebaikan itu perlu. Caranya bermacam-macam. Saya tidak perlu mengajak secara verbal atau lisan. Pasangan saya juga sudah dewasa dan dia mengetahui apa yang dia lakukan.

Saya tertarik melihat dia cukup fleksibel dalam beribadah. Kala mengunjungi orang tua saya, dia kadang beribadah. Orang mungkin berpikir bahwa apa yang dia lakukan adalah riya’ atau melakukan suatu amalan karena ingin dilihat oleh manusia dengan harapan mendapat posisi, kedudukan, pujian, dan segala bentuk keduniaan lainnya. Riya’ dianggap sebagai karakter orang munafik dan ada yang menyebutnya sebagai syirik tersembunyi.

Saya mengakui riya’ sebagai bagian dari karakter manusia, termasuk saya. Namun saya melihat ibadah yang dilakukan pasangan bukanlah riya’. Dia melakukan ibadah bukan untuk dipuji oleh mertua atau mendapat kedudukan terhormat. Dia melakukannya untuk menenangkan orang-orang di sekelilingnya yang memiliki pemahaman agama lebih ketat. Saya pernah berada dalam posisi orang yang cukup fanatik sehingga kadang kala ketika melihat ada sesuatu yang berbeda dari agama yang saya pahami, saya akan resah, terheran-heran, bertanya-tanya, tidak tenang, ingin menegur, dsb. Menjadi orang yang agak fanatik atau merasa taat beribadah aja seperti itu, apalagi yang sangat fanatik. Mereka cenderung gelisah sendiri. Jadi saya sangat menghargai pasangan saya yang dengan caranya berusaha menenangkan hati orang tua atau berdamai dengan nilai normatif dengan kadang-kadang beribadah. It’s not about him, it’s about people around him.

Tentu itu tidak bisa dilakukan terus-menerus dan alhamdulilah di Indonesia ini saya dan pasangan masih cukup bebas memaknai agama yang saya cintai. Kadang kalapemuka agama atau komunitas agama menjadi part of the problem rather than part of the solution. Tidak jarang justru memperkeruh masalah. In this situation, I really respect the choice made by my man.

Malang, 17 Desember 2012

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s