Pengetahuan-Saya

Cuplikan dari Buku “Budaya Bebas”


Di bawah ini adalah cuplikan dari buku berjudul Budaya Bebas oleh Lawrence Lessig yang beberapa hari lalu selesai saya baca. Buku ini memberikan sejarah dan argumentasi dari budaya yang mengekang kreativitas dan penyebaran pengetahuan. Bagi yang ingin membaca lebih lanjut, buku elektroniknya bisa diunduh di internet. Saya membaca versi cetak dalam bahasa Indonesia. Berharga banget untuk dibaca.

Dampak blog bagi demokrasi adalah:
Dengan semakin banyak warga negara yang mengekspresikan apa yang ada di pikiran mereka dan mempertahankan argumen ini dalam bentuk tulisa, maka ini akan mengubah cara orang dalam memahami isu-isu publik. (52)

Disney merenggut kreativitas dari budaya di sekitarnya, mencampur kreativitas itu dengan bakatnya yang luar biasa, dan membakar campuran tersebut ke dalam budayanya. Merenggut, mencampur dan membakar (rip, mix and burn) (26).

Cerita atau berita dalam blog memiliki siklus hidup yang berbeda dibanding media arus utama. Perbedaan siklus ini terjadi karena tidak ada tekanan komersial di dalam blog. Mereka bisa terobsesi, fokus, dan serius menelusuri suatu peristiwa (50-51).

Jurnalis amatir dalam blog juga tidak memiliki konflik kepentingan atau konflik kepentingan itu akan mudah diketahui sehingga pembaca akan memahaminya dengan tuntas sebelum selesai membacanya. Konflik semakin penting ketika media semakin terkonsentrasi atau terpusat. Media yang terkonsentrasi dapat menutupi lebih banyak fakta dari publik ketimbang media yang tidak terpusat (51).

Perluasan literasi menjadi penting karena menurut Elizabeth Daley: Kesenjangan digital yang paling penting bukanlah pada akses ke alat penghantar (televisi, radio, dll) melainkan pada kemampuan untuk dapat memahami cara kerja bahasa yang digunakan alat tersebut … dan akhirnya kita tereduksi untuk menjadi sekedar pembaca (43).

Pendidikan adalah tentang bagaimana memberi siswa sebuah jalan untuk mengonstruksi makna. Kekuatan dari pesan tergantung pada keterhubungannya dengan bentuk dari ekspresi yang disampaikan (44). Semakin penting untuk memahami gramatika media karena masyarakat sejak kecil sudah terpapar dengan berbagai tayanan iklan, opera sabun, dll.

Literasi media menurut Dave Yanofsky:
Kemampuan untuk … memahami, menganalisis, dan mendekonstruksi pencitraan media. Tujuannya adalah untuk membuat [anak-anak] melek tentang cara kerja media, cara ia dikonstruksi, cara ia disampaikan, dan cara orang banyak mengaksesnya (41).

Kekayaan intelektual merupakan sebuah instrumen dan landasan bagi masyarakat kreatif dengan tetap tunduk kepada nilai kreativitas. Namun masyarakat Barat menjadi begitu peduli dengan perlindungan atas instrumen yang ada, sampai-sampai tidak bisa lagi memaknai nilainya. Kebingungannya ini terjadi karena hukum tidak bisa (belum peduli) untuk membuat perbedaan antara memublikasikan ulang karya seseorang dengan menambah atau mengubah bentuk karya tersebut (21).

Pada saat teknologi digital membuka begitu banyak ruang bagi kreativitas komersial dan nonkomersial, hukum justru membebani kreativitas ini dengan aturan yang sangat rumit dan tidak jelas dengan ancaman hukum yang sangat berat (22).

Teknologi digital memungkinkan membuat bricolage yaitu gabungan dari berbagai macam unsur yang menghasilkan unsur yang sama sekali baru atau kadang disebut kolase bebas. Contoh terbaik dari kolase ini adalah piranti lunak bebas (free software) sebuah kode dengan platform komunitas, anda mengutak-atik kode milik orang lain. Semakin anda mengutak-atiknya, semakin anda mengembangkannya (54).

Banyak dari pembajakan yang terjadi dan dijelaskan di bab 4 termotivasi oleh cara baru penyebaran konten, yang disebabkan oleh perubahan dalam teknologi distribusi. Maka, sesuai dengan tradisi yang memberikan pada kita Hollywood, radio, industri rekaman, dan TV kabel, pertanyaan yang seharusnya kita ajukan terkait dengan aktivitas berbagi file adalah bagaimana cara terbaik untuk mempertahankan manfaatnya sementara meminimalisir (sejauh mungkin) dampak buruk yang dapat diderita oleh si seniman. …Hukum seharunya mencari keseimbangan tersebut dan keseimbangan itu akan tercapai seiring dengan waktu (89).

Dalam kehidupan kedua, konten terus memberikan informasi, bahkan jika informasi tersebut tidak lagi untuk dijual atau kehilangan nilai komersialnya. Misalnya buku dalam bentuk cetak yang terjual habis, biasanya dapat dijual di toko buku bekas, dan pemegang hak ciptanya tidak mendapatkan apapun dari transaksi ini. Selain itu ia bisa disimpan di perpustakaan, dimana orang bisa membacanya dengan gratis. Kehidupan kedua sangat penting bagi penyebaran dan kestabilan budaya. …Banyak yang beranggapan bahwa kreativitas melemah begitu pasar komersial tidak ada (135).

Perpustakaan membantu kita mendapatkan pengetahuan sejarah dan menemukan kembali apa yang kita lupakan dengan mengoleksi dan mengelola konten baik untuk anak sekolah, peneliti maupun orang lanjut usia (131).

Dalam masyarakat yang bebas, dengan pasar bebas yang didukung oleh kewirausahaan dan perdagangan bebas, peran pemerintah bukahlah untuk mendukung salah satu cara berbisnis dan menekan cara berbisnis lainnya. Atau bahkan menentukan siapa yang menjadi pemenan dan melindungi mereka dari kerugian. Bill Gates para tahun 1991 pernah mengkritik hak paten pada piranti lunak, “perusahaan yang sudah mapan berkepentingan dalam menyingkirkan pesaing di masa depan.” (151).

Pada masa awal berlakunya hukum hak cipta di AS, pemilik hak cipta diwajibkan memberi salinan karya mereka ke perpustakaan. Salinan-salinan tersebut dimaksudkan untuk memfasilitasi penyebaran ilmu pengetahuan dan untuk memastikan kopi karya akan tetap ada walaupun batas waktu hak ciptanya telah usai, sehingga orang bisa mengakses dan mengopi karya tersebut. Aturan itu juga berlaku pada film. Tapi pada tahun 1915, Perpustakaan Kongres membuat pengecualian untuk film. Kopi tersebut kalaupun masih ada, hanya tersimpan dalam arsip perpustakaan perusahaan film yang bersangkutan (132—133).

Kontur hak cipta saat ini sangat sulit untuk dijelaskan secara sederhana, dalam pengertian yang lebih luas, hak tersebut praktis mencakup semua bentuk karya kreatif yang direduksi menjadi bentuknya yang berwujud. Hak cipta tersebut mencakup musik sebagaimana halnya arsitektur, seperti juga drama dan program komputer. Hak cipta ini tidak hanya memberikan hak eksklusif kepada pemiliknya untuk memublikasikan karyanya, tetapi juga hak eksklusif untuk mengontrol kopi karya tersebut. …yang paling penting adalah bahwa hak cipta memberikan hak eksklusif kepada pemiliknya untuk mengontrol tidak hanya satu karyanya melainkan juga karya turunan yang muncul dari karya aslinya. Dengan cara ini, hukum menjangkau lebih banyak hak kreatif… (162).

Budaya bebas bukan dimaksudkan untuk mendukung anarki atau serangan terhadap pencipta. Kekhawatiran kami adalah persoalan lingkungan kreativitas, dan kita harus memahami dampak dari tindakan-tindakan yang diambil pada lingkungan tersebut. … Singkatnya untuk membunuh agas, kita menyemprotkan DDT dengan resiko dampak yang jauh lebih merugikan bagi budaya bebas ketimbang kerugian yang dialami oleh seekor agas tersebut (154).

…dalam dunia sebelum internet, kopi merupakan pemicu paling jelas bagi hukum hak cipta. Tetapi berdasarkan refleksi, jelas kiranya bahwa di dunia dengan internet, kopi seharusnya tidak atau tidak selalu menjadi pemicu bagi hukum hak cipta (166).
Dicontohkan bahwa penggunaan buku tidak diatur dalam hukum hak cipta karena penggunaan tidak menciptakan kopi. Jika anda membaca sebuah buku, tindakan itu tidak diatur undang-undang hak cipta. Jika anda memberikan buku kepada seseorang, tindakan itu juga tidak diatur (hukum hak cipta secara jelas menyatakan bahwa setelah penjualan pertama sebuah buku, pemilik hak cipta tidak diperbolehkan lagi mengenakan persyaraan lebih lanjut pada kondisi buku tersebut). Jika anda menggunakan buku itu untuk bantalan kepala, menahan lampu atau membiarkan anjing anda menggerogotinya, itu semua tidak diatur (167).

Dalamkurun waktu dua puluh tahun terakhir telah terjadi perubahan dalam pemusatan dan integrasi media. Sifat kepemilikan media telah mengalami perubahan radikal yang disebabkan oleh perubahan dalam aturan legal yang mengatur media. …setelah perubahan yang diumumkan oleh FCC pada Juni 2003, kebanyakan orang beranggapan bahwa dalam beberapa tahun ke depan, kita akan hidup di dunia di mana hanya ada tiga perusahaan yang mengontrol lebih dari 85 persen media. Perubahan ini meliputi dua hal: cakupan dan sifat media itu sendiri (192).

Biaya transaksi yang dibutuhkan dalam budaya izin sudah cukup untuk menenggelamkan beragam jenis kreativitas. …Terbangunnya budaya perizinan, alih-alih budaya bebas, adalah langkah penting pertama dalam perubahan menuju semakin terbebankanya inovasi. Budaya izin berarti berarti budaya pengacara—budaya dimana anda perlu menghubungi pengacara sebelum menciptakan sesuatu (227).

Internet membuat penyebaran konten menjadi lebih efisien. …Namun dari sudut pandang industri konten, fitur ini adalah “hama”. Penyebaran konten yang efisien akan lebih menyulitkan distributor konten dalam mengontrol pendistribusian konten tersebut. Menurut respon yang demikian, jika internet memungkinkan ‘pembajakan’, maka kita harus melemahkan internet (228).

Contoh pelemahan yang sudah dilakukan terjadi pada radio FM. Potensi radio FM ini tidak pernah terwujud—bukan karena dugaan Armstrong tentang teknologi ini salah, melainkan karena ia menyepelekan kekuatan “kepentingan pribadi, kebiasaan, tradisi dan perundangan” dalam memperlambat kemajuan teknologi yang bersaing ini (232).

…waktu aktual bagi kehidupan komersial karya kreatif sangatlah pendek. …sebagian besar buku tak akan dicetak lagi dalam kurun waktu satu tahun. Hal yang sama juga berlaku pada musik dan film. Budaya komersial bersifat seperti hiu. Ia harus terus bergerak. Dan ketika sebuah karya tidak lagi diinginkan oleh distributor komersialnya, maka kelangsungan hidup komersialnya berakhir (266).

Kita tidak menyimpan buku-buku di perpustakaan agar bisa bersaing dengan Barnes & Noble, dan kita tidak membangun arsip film karena kita mengharapkan orang agar memilih antara menghabiskan malam Sabtu menonton film baru atau menonton dokumenter berita yang dibuat pada tahun 1930-an. Kehidupan nonkomersial budaya penting dan berharga, baik untuk hiburan, dan yang lebih penting lagi, untuk pengetahuan. Untuk memahami siapa kita, dan dari mana kita berasal, dan bagaimana kita melakukan kesalahan, kita memerlukan akses ke sejarah tersebut (266).

Kita telah kehilangan daya kritis yang membantu kita melihat perbedaan antara kebenaran dan ekstremisme. Suatu fundamentalisme kepemilikan tertentu, yang tidak berhubungan dengan tradisi kita, anehnya kini berkuasa dalam budaya ini, dan dengan konsekuensi yang lebih serius terhadap penyebaran gagasan dan budaya ketimbang kebijakan manapun yang pernah dan akan dihasilkan oleh masyarakat demokrasi seperti kita (310).

Creative Commons adalah sebuah korporasi nirlaba yang didirikan di Massachusetts, namun berasal dari Universitas Stanford. Tujuannya membangun laporan hak cipta yang masuk akal di atas ekstrem-ekstrem yang sekarang mendominasi. …caranya dengan memudahkan orang membangun di atas karya orang lain…melalui tiga faktor – lisensi legal, penjelasan yang mudah terbaca manusia dan tanda yang mudah dibaca mesin, melahirkan apa yang disebut lisensi Creative Commons (334—335).

…kebijakan hak cipta yang rasional dapat mendukung secara penuh sistem hak cipta tanpa harus mengatur penyebaran budaya secara sempurna dan selamanya, maka kebijakan paten yang rasional dapat mendukung secara penuh sebuah sistem paten tanpa harus memblokir peredaran obat-obatan ke negara yang tidak mampu untuk membeli obat dengan harga pasaran. Dengan kata lain, suatu kebijakan yang rasional harusnya menjadi kebijakan yang berimbang (310).

Fren von Lohmann, seorang pengacara, mengatakan bahwa:
jika anda dapat memperlakukan seorang sebagai seorang tersangka pelanggar hukum maka sebagian besar perlindungan kebebasan sipil yang mendasar, mendadak akan menguap sampai ke derajat tertentu…Jika anda seorang pelanggar hak cipta, bagaimana mungkin anda dapat berharap untuk memiliki hak privasi? Jika anda adalah pelanggar hak cipta, bagaimana mungkin anda bisa berharap bahwa komputer anda tidak akan disita? Bagaimana mungkin anda masih bisa berharap untuk tetap memiliki akses internet? …keberhasilan yang dicapai kampanye melawan sistem berbagi file ini ialah mengubah sebagian besar populasi pengguna internet di Amerika menjadi ‘pelanggar hukum’ (242).

Yang kita butuhkan ialah sebuah cara untuk mengatakan sesuatu yang di tengah-tengah—bukan “seluruh hak dilindungi” atau “tidak ada hak yang dilindungi”, melainkan “beberapa hak dilindungi” (some rights reserved). Dengan kata lain, kita perlu cara untuk mengembalikan kebebasan yang sebelumnya kita telah terima begitu saja (328).

Pikiran tentang privasi. Sebelum adanya internet, kebanyakan dari kita tidak perlu khawatir tentang data-data kehidupan kita yang kita siarkan ke dunia. Muncul internet, di mana biaya untuk melacak, khususnya merambah (browsing) menjadi cukup kecil (329).

Perubahan pada teknologi kini memaksa mereka yang percaya pada privasi yang sebelumnya diterima begitu saja untuk mulai mengambil tindakan afirmatif untuk mempertahankannya (330).

Taktik Stalman adalah memanfaatkan hukum hak cipta untuk membangun sebuah dunia piranti lunak yang dipertahankan tetap cuma-cuma. Piranti lunak yang dilisensikan di bawah Free Software Foundation GPL (Yayasan Piranti Lunak Bebas), tidak dapat dimodifikasi dan didistribusikan kecuali jika kode sumber dalam piranti lunak tersebut juga dicantumkan. Maka, orang yang membangun dengan piranti lunak di bawah GPL harus membuat bangunan mereka gratis juga bagi orang lain. Stallman percaya bahwa, hal ini akan menjamin sebuah ekologi kode yang terus berkembang dan tetap dibebaskan bagi siapapun yang ingin membangunnya. Tujuan utamanya adalah kebebasan; sedangkan kode inovatif dan kreatif adalah produk sampingannya (332).

Menurut Lessig telah terjadi penyusutan prinsip kebebasan yang tadinya diterima begitu saja. Hal itu terjadi pada jurnal ilmiah. Ketika jurnal ilmiah disebarluaskan dalam bentuk cetak, perpustakaan menyediakan jurnal ilmiah ke semua orang yang memang punya akses ke perpustakaan tersebut. Maka, pasien kanker dapat menjadi ahli kanker karena perpustakaan memberinya akses ini. Dengan begitu, kebebasan ini merupakan fungsi institusi perpustakaan (norma) dan teknologi jurnal cetak (arsitektur), karena sangat sulit untuk mengontrol akses atas jurnal cetak (333).

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s